AL-THAR

AL-THAR
#36. Honeymoon



Ada yang nungguin gak yah?


...🍑🍑🍑...


Mira memberengut kepada Athar. Berulang kali ia mengguncang tubuh suaminya itu, tapi tetap tak ada niatan sedikitpun bagi Athar untuk benar-benar bangkit dari tempat tidur. Maka kini Mira langsung turun dari tempat tidur dan berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Bangun, Bang!" serunya untuk yang kesekian kalinya. Sebal, kesal, gondok menjadi satu.


Seketika Athar terduduk dengan mata berbinar. "Kamu mau lagi?"


Mira melempar bantal ke wajah Athar sebagai jawaban atas pertanyaan lelakinya itu. "Abang!" protesnya. "Kita baru tidur dua jam loh,"


"Nah itu, kenapa kamu malah merengek sedangkan kita masih mengantuk?" Athar kembali rebahan. Ditepuknya pelan sisi kasur di sebelahnya. "Sini yuk, kita bobo lagi."


"Gak mau!"


"Ishhh jangan teriak begitu, Sayang,"


"Aku mau jalan-jalan!"


"Iya, nanti. Tenang aja, Al. Nanti kita pasti jalan-jalan. Mendingan sekarang kita–"


"Nggak ada naik ke tempat tidur lagi! Aku gak mau! Kalau Abang gak mau ya udah aku jalan keluar sendi–"


"Jangan harap!"


"Tuh kan," Mira yang awalnya berwajah kesal kini menampilkan ekspresi malangnya. Persis seperti seorang teraniaya. "Abang mah jahat,"


Athar menghela nafas.


"Dari malam sampai subuh. Sehabis subuh sampai matahari naik, tapi Abang gak berhenti-berhentinya minta–"


"Kan kita lagi honeymoon, Sayang."


"Honeymoon sih honeymoon, tapi kan nggak di kamar doang kayak gini. Aku juga butuh udara segar. Butuh cuci mata,"


"Maksudnya cuci mata?" Athar memicing. Kini dia duduk bersandar di kepala ranjang dengan kedua tangan seperti Mira juga. Sedangkan Mira masih setia berdiri di dekat tempat tidur.


"Melihat laut, langit,"


"Itu laut," tunjuk Athar dengan dagunya ke arah pemandangan luar hotel. Setelah ia mendapatkan cerita Mira mengenai Dennis yang datang menemuinya, maka Athar langsung memutuskan untuk mencari hotel baru yang eskslusif, dan lebih diperketat lagi penjagaannya pastinya. Namun hanya ia dan Mira saja yang pindah hotel, sedangkan keluarga mereka semua masih berada di hotel sebelumnya. "Langit juga kelihatan," ucapnya datar.


"Udara."


"Tinggal buka jendelanya, maka kamu akan menghirup udara dengan segara tanpa perlu repot-repot berjalan–"


"Tapi aku maunya repot-repot berjalan."


"Katanya sakit kalau jalan," Athar menatapnya penuh arti.


"Tadi sih iya, sakit. Sekarang udah nggak."


"Bagus, kalau begitu kita bisa–"


"NGGAK BISA, ABAAAANG!"


"Kalau dua ronde, bisa dong?" Athar masih berupaya melakukan penawaran.


"Nggak."


"Satu. Oke, satu aja gak apa-apa."


"Nggak mau." Mira melangkah. "Ya udah kalau Abang gak mau, aku bakalan pergi sendiri."


Mira menunggu reaksi Athar. Tapi ternyata tak ada reaksi atau pergerakan apapun dari suaminya itu.


oh jadi boleh nih gue jalan sendirian? asiklah. kuy kita cuci mata melihat pemandangan indah yang–


Mira sudah senyum diam-diam saat akhirnya tangannya menyentuh kenop pintu. Rupanya oh rupanya, pintu terkunci. Itulah mengapa Athar tak bereaksi atas ucapan Mira barusan.


Mira menggedor-gedor pintu seolah dia sedang terjebak di sarang penjahat dan tengah berupaya melarikan diri. "Buka pintu!"


"Al, jangan aneh-aneh deh!"


Mira tetap menggedor pintu tanpa peduli dengan larangan Athar. Dia tak peduli. Yang dia inginkan sekarang adalah keluar dari kamar. Kalau dengan berbuat keributan dan memalukan bisa membuatnya keluar dari kamar, maka ia rela melakukan apapun.


Namun, tidak dengan Athar, Mira. "Al!" Athar memperingati.


Mira adalah Mira yang keras kepala.


Sekejap saja Mira merasakan kalau tubuhnya melayang dan mendarat dengan bumi berputar kedudukannya dengan langit. Dia menjerit.


Athar menampar bok*ngnya dengan gemas. Saat itu Mira tersadar kalau dirinya digendong Athar dengan posisi terbalik, dengan dirinya menyangkut di bahu suaminya itu.


"Kamu jangan bikin malu deh!"


"Abang, turunin aku! Kepala aku pusing. Darahku turun ke otak semua nih."


"Makanya, jangan berbuat yang aneh-aneh."


"Apanya yang aneh? Nggak tuh. Aku kan cuma mau keluar."


"Iya, sabar. Nanti kita keluar."


"Tapi aku maunya sekarang."


"Aku juga maunya sekarang."


"Beneran?"


Athar membanting Mira ke kasurnya yang empuk dan nyaman. "Tapi aku mau yang satu ronde lebih dulu," katanya dengan kedipan sebelah mata.


.... . ....


"Uwaaahhhh." Mira berlarian sepanjang pantai sambil berteriak senang. Rasanya sudah lama semenjak dia merasa selepas ini. Kata Athar, dia boleh basah-basahan air laut. Toh, hotel mereka gak jauh dari bibir pantai dimana mereka berada sekarang. Ditengoknya Athar yang berjalan santai dengan kaus dan celana selututnya, beserta kacamata hitam serta topinya.


Keren yah, suami gue. Bangga sih ... tapi jadi minder.


Mira melirik celana panjang yang digunakannya, namun ia gulung hingga batas sebetis. Lalu atasan kaus biasa yang penting terasa nyaman dikenakannya. Sebab tadi, awalnya ia hendak memakai dress bunga-bunga yang nampak feminim, manis, cute, dan segar sesuai dengan usianya. Tapi sayang Athar malah tidak setuju. Dengan jelas kalau suaminya itu mengatakan kalau dirinya tidak boleh menggunakan rok yang mudah terbang tertiup angin.


yailaaaa, plis deh..


Terkadang menurut Mira kalau Athar itu seperti bapak-bapak yang menjaga anak gadisnya. Apa-apa serba gak boleh.


"Abang, fotoin aku ya," ucapnya sambil menghampiri Athar dan menyerahkan hpnya.


"Buat apa?"


"Yaelah, plis deh. Foto buat apa sih emangnya? udah ah, jangan memulai drama deh."


"Enak aja, kamu tuh yang banyak drama."


"Abanglah,"


"Kamu."


dia gak mau ngalah banget sih?


"Ya udah aku. Iya aku. Puas? Dah sekarang fotoin aku."


nanti gue mau edit pakai fotonya Tae–


"Tapi gak boleh edit-edit."


Mira mengerjap. Wah, dia bisa membaca pikiran? "Abang kayak bukan anak muda aja deh."


"Aku muda, tapi pikiranku dewasa."


"Iya, percaya." pantesan maunya adegan yang dewasa mulu hhhhh.


Mira berpose dengan berbagai gaya yang terkadang malah nampak aneh dan membuat Athar tak bisa menahan senyum gelinya. Lalu tak sedikit juga foto yang mereka ambil dengan berdua, bahkan menempel seperti yang Athar mau.


Fokus Athar tiba-tiba tersita ketika ada seorang gadis muda yang berjalan menghampiri mereka. Gadis itu menggunakan dres panjang tanpa lengan, dengan topi yang melengkapi tampilan manisnya. Senyum lebarnya menghiasi bibirnya meskipun jarak antara dirinya dengan Athar dan Mira masih beberapa langkah lagi.


"Hai, Kak!"


Refleks Mira melirik Athar yang barusan dituju sapa oleh gadis manis itu. Dan entah mengapa Mira menyadari ada sesuatu yang berbeda dari cara Athar melebarkan matanya saat menatap gadis itu, dan senyum spontan yang dilayangkannya. Namun seakan seperti tersentak karena mengingat kehadiran Mira, lantas Athar langsung menoleh ke arah Mira dan tersenyum manis seolah sedang mengatakan; aku masih di sini.


Mungkin Mira yang terlalu lebay atau sensi istilahnya. Hanya saja, beberapa detik tadi bagai setitik noda pada kebahagiaan yang sedang dijalaninya. Akankah noda itu akan menghilang atau malah semakin melebar, Mira tidak pernah tahu rahasia takdir. Ia hanya mampu pasrah saat setitik rasa kecewa itu singgah di hatinya.


Belum sempat ia melanjutkan pikiran yang memenuhi kepalanya barusan, seketika mata dan fikirannya teralihkan oleh seseorang yang dilihatnya di kejauhan.


* * *


Siapa yang kemarin kebanjiran? aku aku aku. 28 jam hidup tanpa listrik itu rasanya sesuatu banget ya. 😂😂 aku gak mau lagi. serius! 😂


Makasih buat yang masih setia di sini. 😘


* * *