
Lanjut kuy!
ππππ
"Ternyata pengirim teror boneka waktu itu ... dari Dennis." Mira mengaduk es buah di hadapannya dengan pelan. Sesekali ia berhentikan dan seolah hendak disendoknya, namun urung.
Pandangannya lalu beralih kepada sepasang netra di depannya yang tengah menatapnya dengan lekat. Ia tahu, bahwa sepelan apapun ia mengungkap kenyataan itu, sudah pasti akan ada kemarahan yang diperlihatkan sorot mata Athar kepadanya.
"Aku tahu ..."
Tak dapat Mira menyembunyikan keterkejutannya atas ucapan Athar barusan. "Sejak kapan? Kok Abang gak kasih tahu aku?"
"Hm," lelaki itu meneguk sodanya. Awalnya Mira yang menginginkan minuman itu, tapi mereka tahu kalau soda kurang baik untuk wanita hamil. Maka sudah pasti Athar-lah yang mewakilkan sang istri meminumnya. "Sejak kamu cerita padaku, pastinya aku langsung bergerak, Al. Dan saat ini aku sedang mengumpulkan banyak bukti untuk segera menjatuhkan Dennis. Lebih tepatnya, aku akan menghancurkan Dennis tanpa ampun."
Mira menocoba mencerna kalimat Athar yang terdengar santai, namun jelas memiliki banyak arti. "Tapi, Bang ... Abang jangan berbuat yang aneh-aneh, plis. Aku kan lagi hamil. Aku gak mauβ"
"Kamu tenang aja, Al. Semua dalam kendaliku."
"Emangnya Dennis masih suka jahatin bisnis Abang ya?"
"Dia masih aktif jadi kaki tangan Garin. Walaupun sekarang mereka bermain halus, nggak kayak dulu. Tapi tetep aja, aku gak akan hidup tenang sampai mereka musnah."
"Tapi, 'kan, Bang ... kak Sabrinaβ"
"Sejak awal Sabrina sudah memutuskan untuk memilih siapa. Dan dia jelas tahu kalau keluarganya seburuk itu."
"Masa iya semua keluarganya?"
Athar mengangguk.
"Tanpa terkecuali?"
"Ada satu orang Om-nya yang saat ini berprofesi sebagai pemuka agama di Medan. Di sanalah Sabrina saat ini berada. Om-nya itu sudah gak diakui oleh keluarga Garin, begitupun dengan Sabrina yang sudah menjauh dari keluarga besarnya itu."
"Oh ..."
"Kamu tahu dari mana perihal teror itu perbuatan Dennis?" Athar bertanya dengan kening berkerut.
"Dia ... tahu-tahu duduk di depan aku waktu aku ke mall sama Abay."
Athar meletakkan botol minumannya dengan keras ke meja. "Kenapa kamu gak bilang aku?"
"Bilang kemana? Kan Abang blokir aku!" balas Mira dengan sindiran yang telak. "Aku sih pasrah aja walaupun takut banget kalo udah ketemu dia. Aku bisa apa, 'kan?!"
Athar terlihat mengepalkan tangannya yang ada di meja. Tatapan tajamnya menatap Mira, namun tertuju pada perbuatan musuhnya. "Maaafin aku, Al ..." sesalnya tiada tara.
Mira pun menggeleng pelan. "Udah lewat. Kan aku udah berusaha maafin Abang."
"Mulai sekarang aku gak akan pernah tinggalin kamu sendirian tanpa seorang pengawal pun. Mereka akan berada pada jarak yang gak terlalu mencolok, tapi tetap sigap andai si brengsek itu deketin kamu lagi. Termasuk si brengsek-si brengsek lainnya."
"Abang jangan ngomong kayak gitu di depan aku deh. Gak baik di dengar anak kita. Ya walaupun usianya masih janin beberapa minggu, tapi kan kita mesti memberi dia pelajaran dan pengaruh yang baik."
Athar turun dari kursi dan berlutut di depan Mira. "Maaf, Sayang ..." ucapnya sambil menatap Mira, dengan tangan mengusap pelan perut Mira yang masih datar.
Mira mengangguk saja.
"Aku berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan kalian dari bahaya,"
"Ya Abang juga jauhin bahaya dong," sela Mira. "Aku gak mau banget sebenernya denger Abang masih balas membalas dendam. Kayak yang Bang Dirga bilang, membalas itu gak selalu pakai kekerasan. Banyak cara cerdasnya, yang gak membahayakan nyawa."
"Sekalipun kita memakai cara halus, itu gak menjamin balasan dari mereka akan halus juga, Al."
"Ya kalau gitu gak usah balas-balasan lagi," pungkasnya. "Selesai. Jangan ada dendam. Biar hidup kita semua damai."
"Aku bukan membalas, Al. Aku hanya sedang mempertahankan apa yang kumiliki, termasuk kamu ... dan calon anak kita. Karena apabila aku lengah dan lalai, maka aku pasti akan menyesal."
"Trus, seminggu kemarin Abang gak lalai gitu?"
Athar terdiam sejenak. Wajahnya mensejajari wajah Mira. Tangannya bergerak untuk menyingkirkan anak rambut yang menjuntai hingga ke pipi Mira. "Aku gak sepenuhnya lepas kamu kok. Aku sudah titip kamu sama Ghani. Karena aku percaya adik kamu itu mampu menjaga kamu, Al."
"Emangnya Kiara kenapa?"
"Ah males bahasnya. Ini kan kita lagi bahas kerjaan Abang."
"Kerjaan aku?"
"Ya maksud aku tuh, aku pengen Abang bekerja yang baik-baik aja mulai sekarang. Gak usah terlibat sama yang berbahaya. Aku gak suka pokoknya. Aku gak mau jadi khawatir. Karena aku lagi hamil, Bang. Aku jadi lebih sensitif. Pikiran aku bergerak kemana-mana semaunya. Tanpa bisa aku kendalikan."
"Iya ... kamu jangan khawatir berlebihan sama aku. Kamu mesti hamil dengan bahagia, oke?"
Mira berdecak. "Ya ampun, aku gak menyangka kalau Abang berbuat kayak di cerita-cerita novel."
"Perbuatan aku yang mana?"
"Bikin aku hamil."
Athar tersenyum. "Sejak awal aku kurang suka dengan kontrasepsi yang kamu mau itu, Al. Aku emang setuju dengan rencana awal kita untuk menunda, tapi aku kurang setuju dengan obat yang masuk ke dalam tubuh kamu." dia menggeleng. "Pokoknya gak perlu untuk saat ini."
"Iya-iya ... aku kan udah hamil juga," ujar Mira datar.
Kemudian Athar mengecup singkat pipi Mira dan berdiri setelahnya, tanpa melepaskan tangan Mira dari genggamannnya.
"Oh ya, Bang, aku boleh gak bantu-bantu di cafe Abang?"
"Hah? Gimana?"
"Ya aku pengen punya kegiatan aja kalo lagi gak ada kuliah atau gak ada tugas. Sekalipun ada tugas kan bisa aku bawa ke cafe. Pokoknya aku kepengen melakukan sesuatu gitu, Bang. Boleh ya? Aku janji gak bakalan bikin masalah deh. Kan aku gak ngerti apa-apa juga. Lagian, aku lagi suka banget bau kopi. Pengen nempel-nempel sama mesin kopi kayaknya," cengirnya di akhir kalimat.
"Boleh," sahut Athar dengan santainya.
Mata Mira melebar saking senangnya. "Serius? Ih asik!" dia memeluk perut Athar yang kini ada di depannya. Karena posisinya adalah dia duduk di kursi, sedangkan Athar berdiri di hadapannya. "Makasih ya."
"Hm ... tapi gak boleh capek loh, Al. Aku gak bakalan lepas pantauan ke kamu."
"Sip, bos. Beres, juragan!" tangan nakal Mira kini menepuk-nepuk bok*ng Athar karena saking senangnya.
Namun tiba-tiba Athar melepaskan tubuh Mira dari tubuhnya.
"Al."
"Ya? kenapa?"
"Es buahnya kamu habisin?" Athar mengangkat dan menatap gelas yang tadi Mira minum darinya.
"Iya," jawab Mira dengan anggukan. "Kan aku gak boleh soda, walaupun kepengen banget. Ya mau gimana lagi kalo Abang nyuruh aku minum es buah? kan aku nikmatin aja sampai habis."
"Tapi gak dihabisin juga, Al," ucap Athar dengan getir. "Aku tuh tadi kepengen banget waktu melihat kamu minum sama makan buahnya. Tapi aku gak mau ganggu kesenangan kamu. Aku juga udah yakin kalau kamu gak bakalan habisin minumannya. Tapi ternyata ... kosong?"
"Ya udah beli lagi,"
"Tapi aku maunya yang tadi, Al. Yang kamu minum."
"Ya kan udah abis. Trus gimana dong?"
Athar tak menyahut lagi. Dalam hatinya sedang amat ngenes karena menginginkan yang sudah habis.
"Aku pengen banget tahu, Al," ucapnya lirih.
Mira gak tahu mesti bilang apa lagi. Dia hanya bisa menduga kalau ... "Jadi Abang ngidam es buah?"
"...."
"Ya ampun. Abang lebih baperan sih dari pada aku? Kan aku jadi kesel!"
...* * * * *...
Likenya semakin sedikit π