
...Happy Reading!...
Note dulu deh dari sekarang. Kalo nanti endingnya gak sesuai ekspektasi, maafkeun ya. π
apa sih udah ngomongin ending padahal belum nyampe eps terakhir... π
...π»π»π»π»πΌπΌπΌπΌ...
"Ciee ... yang mau tunangan ...." suara Mira ketika orang yang ditunggunya akhirnya menampakkan diri juga.
"Ciee ... bumil ... makan terus ...." Donny menyusul untuk menempati sofa di ruang tengahnya itu. Dilihatnya Mira yang tengah asyik dengan buah-buahan, pempek, kue-kue dan lainnya.
"Gue sedang memberi makan anak gue, Don,"
"Iya, ngerti."
"Bagus deh. Eh serius ini pempek enak banget loh." sejak memasuki rumah Donny, Mira langsung ngiler melihat banyaknya rupa-rupa pempek. Feelingnya jelas tepat. Di rumah Donny saat ini memang tengah banyak makanan. Karena keluarga Donny yang lain sedang berkumpul membahas masalah pertunangannya, sudah pasti banyak makanan tersaji di sana. Bahkan Mira sampai bingung ingin memakan yang mana.
"Itu dari kakak ipar gue."
"Oh asli Palembang?"
"Iya."
Entah sejak kapan tepatnya, Mira telah benar-benar telah mampu memafkan masa lalunya, dan menerima Donny di dalam kehidupannya sebagai tetangga sekaligus teman. Sehingga Mira sudah sesantai itu untuk mengobrol dengan Donny. Mungkin lebih kepada kalau Donny itu sudah seperti saudara kembar Ghani. Nah, 'kan. Mira serasa memiliki dua adik.
Butuh waktu lebih dari dua tahun sampai keikhlasan untuk memaafkan itu tiba. Dan sekarang, setelah semua yang terjadi antara dirinya dan Donny baik dulu maupun setelah menjadi tetanggaan, akhirnya Mira merasakan lega. Kebahagiaan telah datang untuk hidupnya. Jadi melupakan salah satu rasa sakit hati seakan seperti membuang sebagian beban yang menghalangi hati untuk bahagia.
"So, calon lo mana nih?"
"Ada di rumahnya. Emang kenapa?"
"Yah, gue pengen kenalan kali, Don." Mira penasaran dengan wajah pacarnya Donny yang kata mama Mira lebih tua dua tahun itu.
"Ya nanti juga lo bakalan kenalan, Mir. Ikut acara gue ya?"
"Kalo diundang ya gue usahain datanglah. Emangnya di mana acara lo?"
"Padang."
Mira menganga. "Kurang jauh, Don. Lo kira bumil gede begini bisa lari-larian kayak biasanya? huh, mana mungkin Bang Athar kasih gue ijin."
Donny terkekeh geli. "Di Padang itu nanti, kalo gue jadi merried. Kalo besok tunangan ya di rumah ini doang."
Rupanya Donny cuma bergurau, dan itu sukses membuat Mira semakin semangat memakan makanannya. "Gue 'kan nanya acara tunangan lo, Dona. Bukan merried." Nah, 'kan, keluar lagi deh panggilan khas Mira untuk cowok di depannya itu.
"By the way ..." Donny mengeluarkan ponselnya. "Gue ketemu Diva beberapa hari yang lalu."
Mira menoleh. Pembahasan mengenai Diva adalah salah satu tema yang tak ingin ia dengar di usia hamil trimester ketiga ini. Dia khawatir jadi stres karena mengingat kembali ucapan menyakitkan apa saja yang telah Diva lemparkan kepadanya.
Saat tak ada sahutan dari Mira, maka Donny pun mendongak dari layar ponselnya. "Diva."
"Ya trus kenapa? Gue gak mau denger tentang dia, Don. Kalo tentang keluarganya sih gak papa, tapi kalo tentang Diva ..." Mira menggeleng pelan tak melanjutkan kalimatnya.
"Hubungan kalian bener-bener belum baik, ya ..."
"Jangan bahas dia gue bilang!"
"Iya-iya ... lagian gue juga gak segitu tertariknya ketemu sama dia. Cuma gak sengaja aja waktu itu. Dan yang bikin gue sedikit terganggu itu karena dia selalu menyebut nama lo, Mir."
Mira menghela nafas. Hilang sudah ***** makannya. "Biarin aja."
Donny beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Mira, "Eh iya, lo kenal sama cewek ini?" tangannya menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya kepada Mira.
...-----...
"Papah ngambek, Dek," Mira mengelus-elus perutnya dengan sayang, sembari menggoda Athar yang terdiam di sisinya. "Kira-kira, Papah kamu maunya apa ya biar gak ngambek lagi ..."
Athar menoleh tajam dengan singkat. "Mau main basket lagi di Gor Jakarta."
"Nggak boleh!" seru Mira segera. "Kecuali itu deh,"
Maka Athar melengos lagi, dan kembali menatap jalan di balik kaca mobil di dekatnya.
"Nanti, Abang nanti boleh main basket di sana lagi. Tapi ... setelah Abang punya jenggot, kumis, dan perut buncit. Kalo sekarang, haram!"
"Pasti salah seorang bodyguard itu tukang gosip deh."
"Itu tugas mereka, Al."
"Bergosip?"
Athar membuang nafas. "Laporan, bukan bergosip. Mereka harus selalu melaporkan kegiatan kamu, Al."
"Sama aja gosip. Padahal aku numpang makan di rumah Donny, bukannya yang nggak-nggak."
"Memangnya di rumah Mama gak ada makanan?"
"Ya ada-lah. Cuma 'kan aku sekalian bergosip sama Donny. Hehe ..."
Athar menatap istrinya jengah. Walaupun dia sudah tahu tentang kisah Donny di masa lalu Mira, juga hubungan keduanya yang telah saling memaafkan di masa sekarang, tetap saja Athar tak menyukai fakta bahwa istrinya datang ke rumah mantan. Fakta itu tidak akan berubah.
"'Kan, ternyata kamu yang bergosip."
"Kalo tentang itu ... ada yang mau aku kasih tahu ke Abang."
"Iya, sama. Aku juga ada kabar yang mau kasih tahu ke kamu, Al. Kabar penting yang semoga bikin kamu tenang untuk selanjutnya."
Perkataan Athar rupanya jauh lebih membuat Mira tertarik, dibandingkan keinginannya untuk bercerita. "Apaan? Abang duluan aja deh yang cerita."
Athar menimbang sejenak. "Sebaiknya kamu duluan yang cerita. Aku ragu dengan ceritaku akan memberikan efek tidak baik buat kamu. Jadi, infoku ini aku tunda sampai kamu melahirkan, alias dua bulan lagi.
Kontan saja Mira memberengut. "Mana ada cerita yang ditunda setelah dikasih spoiler."
"Aku belum kasih kamu spoiler, Al,"
"Ya tadi Abang bilang aku bakalan tenang kalo dengar kabarnya. Tapi kemudian berubah jadi takut ada efek gak baik. Ini yang bener ceritanya gimana sih, Bang? Gak jelas banget."
"Selagi aku mempertimbangkan, gimana kalau kamu duluan yang cerita?"
"Abang duluan aja ih. Aku udah terlanjur kepo parah."
Athar menggeleng tegas. Rupanya, keberatannya akan hal itu masih ada. Maka Mira sudah pasti kalah.
Ya sudahlah.
"Ternyata Belva kenal sama Diva. Donny diam-diam memfoto Diva yang bersama seorang cewek sewaktu papasan sama dia," ucap Mira cepat. "Nah, sekarang gantian Abang yang cerita."
"Kamu yakin itu Belva?"
"Yakinlah. Jelas kok foto yang Donny kasih lihat ke aku. Jadi mereka rupanya saling mengenal. Tapi aku tetep gak bisa menebak apakah itu hal yang gak disengaja atau sebaliknya. Karena jelas-jelas dua-duanya benci banget sama aku."
Kepalanya melayang memikirkan berbagaj kemungkinan. Sebentar saja, kemudian dia ingat lagi dengan kabar yang akan dikatakan oleh suaminya itu.
"Gantian, sekarang Abang yang cerita."
Athar hanya menatapnya lekat. Dia masih dalam keadaan mempertimbangkan.
"Kalo Abang gak jadi cerita, aku mogok makan," ancamnya.
Tentu saja Athar tak punya pilihan selain mengatakan apa yang diketahuinya, dan sedikit banyak menyangkut istrinya.
"Tapi kamu jangan kaget ya,"
"Iya. Aku nggak kagetan kok orangnya."
"Jangan mikir kejauhan. Kasihan anak kita, Al."
Dia mengangguk gemas. Rasa penasaran membuatnya hampir frustasi.
"Abang buruan cerita!"
Melihat Mira yang amat penasaran, maka Athar menyerah. Dia gak tega juga. Setelah menghela nafas sekali, Athar pun berkata, "Kabarnya Dennis telah meninggal."
...***...
Ini tuh udah otewe ending. Sabar-sabar ya.
.