AL-THAR

AL-THAR
#26. Gue Cuma Dayang-dayang.



"Kok lo pulang?" tanya Shelia kepada adiknya yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Emangnya gak boleh?"


"Ya bukan gitu. Kuliah yang bener lah, Mir. Jadi anak yang berguna. Jadi istri yang berguna. Hidup lo masih banyak peluang sukses. Jangan kayak gue,"


Mira melangkah perlahan dan menempati sisi ranjang dimana Sheli masih berada. Ya, kakaknya itu lebih banyak menghabiskan waktunya di atas kasur sejak kemarin. Bahkan saatnya makan malam pun dilakukannya di dalam kamar.


"Lo juga masih bisa sukses, Shel. Lo tuh masih muda. Lo pasti mampu. Kalau masalah anak, nanti pasti bakal ada jalan keluarnya. Lagian lo kan secerdas Ghani, jadi akan selalu ada tempat yang bakalan terima lo bekerja atau apapun rencana lo ke depannya nanti. Sedangkan gue? apalah-apalah,"


"Iya ... gue sudah mulai bisa terima takdir gue. Keadaan gue yang berbadan dua, gue akan berusaha mengatasi segalanya. Seperti yang lo bilang, gue pasti mampu mencari jalan keluarnya. Sayang dengan pendidikan dan keahlian gue kalau gue putus asa. Dunia gue belum berakhir dengan kehamilan ini. Gue pasti bisa meskipun gue mesti jadi single parent."


"Apa nggak sebaiknya lo kasih tahu Bryan ya?"


Shelia menggeleng. "Belum ada kepikiran itu buat sekarang ini. Gue gak mau merusak rumah tangga orang, Mir. Gak ada ceritanya gue jadi pelakor. Dih, amit-amit."


"Ya tapi kan ..."


"Nantilah. Nanti suatu saat pasti gue bakalan kasih tau dia. Karena emang cuma dia bapaknya anak gue. Perkara nanti dia bakal percaya atau nggak, ya nggak masalah buat gue. Toh gue emang gak ada niat buat minta pertanggung jawaban dia. Gue udah gak ada rasa sama dia."


"Yang sabar ya, Shel ..." Mira menepuk-nepuk pelan lengan kakaknya itu. "Yang tegar. Lo pasti mampu melalui ini semua."


"Iya, gue berusaha buat tabah dan bangkit. Karena gue yakin kalau gue mampu."


"Nah, bagus dengan sikap optimis lo. Tapi, btw lo dapat suntikan semangat dari mana nih?"


"Gue konsultasi by phone sama teman gue yang sosiolog. Dia ada di Singapura sekarang. Berkat dia, gue merasa lebih tenang dengan masalah yang gue hadapi."


"Oh baguslah," ujar Mira. "Trus kalau Mama, lo udah bicara baik-baik lagi, belum?"


"Udah."


Mata Mira melebar. "Serius? kapan?"


"Tadi sewaktu lo berangkat kuliah. Gue ke kamar Mama. Dan alhamdulillah, dia sudah mulai mau mendengarkan cerita gue. Ya walaupun dia masih belum bisa memafkan gue sepenuhnya. Tapi, gue bakalan berusaha terus supaya Mama dapat memafkan gue. Dosa-dosa gue ..."


"Iya, Shel. Usaha terus buat dapat maaf Mama. Lo kan anak kebanggaan Mama, sudah pasti lebih banyak kelebihan lo dibandingkan kekurangan lo."


"Bukan kekurangan, Mir. Gue mah buat aib. Lebih parah dari sekedar kekurangan."


"Perbuatan lo emang aib, Shel. Tapi anak lo bukan aib ya."


"Iya ... gue paham."


"Bagus."


"Lo kapan punya anak deh?" tanya Shelia.


"Hah?"


"Lo udah dibobol Athar, kan?!"


Mira berdecih. "Dih, bahasa lo nggak manusiawi banget. Ah tau ah, gue gak mau jawab."


"Gimana? sakit, gak?" Shelia menggerak-gerakkan kedua alisnya untuk menggoda Mira.


"Apaan sih, Shel? Gue gak mau jawab."


Shelia menghela nafas. Dia memang sedang berada dalam tahap untuk memperbaiki mentalnya yang terluka. Salah satunya dengan meledek Mira adalah sebuah pencapaian dia hari ini.


"Trus kenapa lo bolos kuliah? Gak mau wisuda emangnya? Mau keduluan sama Ghani, gitu? Emangnya Athar gak marahin lo yang pemalas ini?"


"Jangan buruk sangka sama gue deh. Gue tuh paksa pulang sama Bang Athar."


"Kok bisa?"


Mira mendesah. Dia mengingat lagi kebodohannya tadi di kampus. "Dia marah, gara-gara gue salah sangka."


"Lo cemburu nih ceritanya?"


"Bukan," gelengnya pelan. "Justru gue salah sangka temannya dia itu sebagai dia."


"Hah?"


"Ya gara-gara jaketnya kembaran sama jaket yang dipunya Bang Athar, gue kira temannya itu adalah Bang Athar. Trus gue ... lompat,"


"Ya bukan," pungkasnya sebal.


"Ke mana dong? Lo ceritanya slow motion sih bibirnya."


"Julid lo ya sama gue! nanti anak lo bakalan mirip gue, tau rasa!"


Shelia menggeleng keras. "Nggak-nggak! Enak aja anak gue mirip sama lo. Anak gue ya mesti mirip gue lah. Cantik dan cerdas. Bukan lo yang mukanya pas-pasan, trus kecerdasan masih otewe."


kalo bukan orang bunting, udah gue lakban si Sheli mulutnya.


"Semerdeka lo, Shel! Gue mah cuma dayang-dayang. Lo mah selalu benar. Apalagi calon ibu, udahlah gue cuma remahan-remahan rengginang."


Shelia tertawa ringan. Dan itu terjadi setelah seminggu yang lalu penuh darah. "Lo tadi mau lompat kemana deh?" tanyanya setelah puas tertawa.


"Ke belakang punggungnya si Romeo, temennya Bang Athar. Eh, pas banget lagi, Bang Atharnya datang."


"Marah dia?"


"Murka. Kayaknya badan gue yang nempel ke temennya tadi tuh mau disiram air kembang tujuh rupa."


Shelia tertawa lagi. "Masa sih?"


"Ya iya. Mungkin kalau belum jadi istri mah, bukan disiram air kembang omongannya. Gue yakin dia bakalan steam gue di tempat pencucian motor."


* *


Athar telah menyelesaikan urusan singkatnya di kantor Dirga. Dia yang hendak menuju cafe miliknya tapi mesti tertunda saat dilihatnya Romeo sedang berdiri di dekat mobilnya di parkiran sambil melayangkan cengiran lebarnya.


"Mana file gue?" Romeo menghabiskan minuman kalengnya, lalu ia berjalan menuju tempat sampah terdekat untuk membuang kalengnya.


"Di rumahlah. Lagian ngapain lo kemari? kan gue suruh ke rumah," Athar bersandar juga di sisi mobilnya.


"Ntar kalo gue ke rumah lo trus ketemu istri lo, lo marah lagi?"


"Nah itu lo tahu!"


Romeo memutar bola matanya jengah. "Tapi gue butuh file itu hari ini juga. Gue mau ke Tangerang nih. Biar ada yang gue bawa."


"Mau ke cabang? Ngapain?"


"Yailah, caper dikit sama sekretarisnya Pak Ridwan. Kali aja jodoh!"


Athar tak menyahut. Dia malah sibuk membalas email yang masuk di ponselnya.


"Btw, si Mira ternyata enteng ya padahal–"


Athar melempar topinya ke wajah Romeo dengan wajah kesal. "Sialan lo!"


Romeo terkekeh. "Gue mah rezeki ditemplok cewek–aduh!" tulang keringnya perih karena ditendang menggunakan sepatu oleh Athar. "Yailah, sorry, Thar. Kan bukan salah gue," protesnya tak terima.


"Gak usah dibahas kalau gak mau bonyok!"


"Iya-iya," Romeo masih terkekeh diam-diam. Bagaimanapun juga dia tak pernah melihat Athar sebucin ini terhadap perempuan. Kalau dengan pacar-pacarnya yang dulu, Athar nampak biasa-biasa saja dalam menjalin sebuah hubungan. Tak ada tanda-tanda dia bucin dengan cewek-cewek itu. Lain halnya ketika Mira hadir dalam hidup Athar. Sahabatnya itu terlihat lebih hidup, bahagia, dan nyaris ... tanpa luka yang tak pernah ia ketahui asalnya.


* *


Makan malam masih di rumah mamanya, ternyata Mira hanya berdua Athar saja di meja makan. Shelia dan Mama masih enggan keluar dari kamar dan lebih memilih makan malam di kamar masing-masing. Sedangkan Ghani belum pulang entah kemana rimbanya.


Kini, suasana canggung menyelimuti Mira. Bagaimana tidak, Athar hanya menyahut sekedarnya saja sejak ia datang setengah jam yang lalu. Niatnya, setelah makan malam Mira akan kembali pulang ke rumahnya dengan Athar.


"Abang masih marah ya?" tanya Mira pada akhirnya.


"Hm."


yah dia jujur masih marah. Gue kudu apa coba?


Athar tidak menatap mata Mira. Dia fokus mencabik-cabik ayam yang ada di piringnya. Lalu ketika ponselnya yang ada tak jauh dari piringnya berbunyi dan menampilkan sebuah nama, kini Mira lah yang merasa moodnya memburuk.


* * *


Makasih buat yang udah kasih vote, kasih hadiah. Makasih banyak ya. Dukungan kalian itu sangat berharga. 😘


Jangan lupa like, komen, or vote or hadiah ya. 😉