AL-THAR

AL-THAR
#59. Siap



Semangat buat akuuuh!


**************************


Pagi itu bolak-balik Mira memperhatikan layar pintarnya. Berulang kali ia letakkan, berulang kali pula ia ambil dan tengok apakah ada pesan masuk atau notif lainnya. Siapa lagi kalau bukan Athar yang ia tunggu kabarnya?


Semalam suaminya itu telah mengabarkan kalau kepulangannya besok dibatalkan alias diundur satu hari. Karena masih ada pekerjaan yang mesti diselesaikan di sana.


Mira sendiri memiliki rencana sebenarnya. Sejak ia mengetahui kehamilannya, maka dalam hatinya ia ingin mengabarkan langsung kepada Athar di Surabaya. Yeah, Mira berniat menyusul Athar di hari kepulangan suaminya itu alias saat pekerjaan lelaki itu telah selesai. Dan rencana Mira adalah memberi kabar secara langsung, dengan kedatangannya yang mengejutkan. Double surprise gitu ceritanya. Barulah setelah itu dia ingin merengek agar Athar mengajaknya jalan-jalan di sana selama dua hari, mumpung kuliahnya libur.


"Kamu kapan mau ke dokter, Mir?"


Mama terlihat keluar dari dalam rumah, sedangkan Mira sendiri saat ini tengah duduk di kursi teras samping. Sejak tadi dia memperhatikan dan memandori Mang Kliwon yang sedang menanam pohon jambu Jamaica. Itu pohon request Mira yang pengen melihat aneka jambu di kebunnya.


"Besok aja deh, Ma, sekalian sama bang Athar."


"Serius kamu mau nyusul ke Surabaya ntar siang?"


Mira mengangguk. "Iya dong. Kan tiket pesawat udah siap. Ya serius lah."


Mama menempati kursi lainnya. "Kamu gak kasih tau Athar gitu? Biar nanti dia jemput kamu dari bandara."


"Kan kejutan, Ma, masa dikasih tau dulu?"


"Iya sih,"


"Mama tenang aja, aku udah tahu mesti kemana kalo sudah di sana. Linggar sudah kasih tahu aku semalam."


"Linggar atau si siapa deh itu," mama berfikir sejenak. "Leo atau Aldo?"


"Roy, Ma."


"Nah iya, si Roy. Kamu gak sama mereka gity? kayaknya Mama lebih tenang kalo kamu perginya sama pegawainya Athar itu. Kan kamu itu hobinya nyasar, Mir. Jadi Mama cemas."


"Jangan cemas, Ma. Aku kan udah gede. Ada maps, ojol, dan taksi. Juga kantor polisi. Masa aku masih kesasar juga?"


"Athar kalo tau bisa marah loh,"


"Tapi kan demi kejutan, Ma. Aku kepengen banget kasih kejutan pokoknya."


Pertiwi menghela nafas. "Ya udah terserah kamu. Tapi kamu janji mesti telpon Mama kalo sudah sampai sana loh ya."


"Iya, Ma. Tenang aja deh." tiba-tiba Mira merasakan mual. "Kayaknya aku mau berendam dulu deh, Ma," katanya seraya bangkit dari kursi dan menutup mulutnya.


"Mual lagi?"


Mira hanya mengangguk. Setelah itu dia buru-buru berjalan masuk ke dalam rumah.


"Aneh banget anak itu, mual kok bukan muntah, malahan pengen berendam."


...🐻🐻...


Shelia melangkah gugup saat Bryan menelponnya beberapa saat yang lalu kalau saat ini cowok itu sudah berada di restoran di tempatnya bekerja.


Namun yang membuat Shelia gugup adalah Bryan mengatakan kalau dirinya tak datang sendiri, melainkan dengan dua orang yang ingin sekali bertemu dengan Shelia. Mereka adalah kedua orang tua Bryan.


Selama hampir setahun ia dulu pacaran dengan Bryan, itu hanya sekali saja ia pernah bertemu dengan kedua orang tua Bryan. Sekali itu pun hanya berlangsung sebentar saja. Karena memang kedua orang tua Bryan yang super sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Bisa ia simpulkan, memang Bryan tak terlalu diperhatikan pergaulannya mengingat cowok itu dianggap sudah dewasa, dan kedua orang tuanya yang memiliki karir cemerlang pada usia yang tak lagi muda. Sehingga komunikasi antara orang tua dan anak memang terlalu sedikit.


Lalu kini, bagaimana Shelia mesti menghadap mereka yang notabene adalah kakek nenek dari anak yang dikandungnya sekarang?


Bryan tersenyum menyambutnya tatkala dia telah sampai pada meja dimana keluarga Bryan berada. Maka Bryan segera bangkit dan menarik kursi untuk Shelia duduki.


"Thank you."


"My pleasure." lelaki itu tersenyum hangat dengan tatapan penuh cinta.


Cinta?


Shelia tertegun dengan pemikirannya sendiri. Ketika sebuah tangan terulur ke hadapannya, maka dia segera mengakhiri lamunan singkatnya tentang rasa.


"Nice to meet you ...?"


"Shelia."


"Oh ya, Shelia." Seorang wanita bermata sipit yang Shelia yakini adalah ibunya Bryan, yang keturunan asli Korea. "Aku Felicia Bentley. Dan ini suamiku, Erick Bentley."


So far Kelihatan baik sih ekspresi wajah mereka sama gue.


"Nice to meet you too, Mr and Mrs. Bentley."


Mr. Erick yang bertampang bule asli Amerika itu bertanya lebih dulu kepadanya, "Kamu bekerja di sini?"


"Iya."


"Sous chef."


Ayah Bryan itu terlihat manggut-manggut menghargai. Dan syukurlah segala obrolan basa basi mereka di awal berjalan dengan lancar. Setelah menanyai pekerjaan Shelia, maka pembicaraan selanjutnya adalah mengenai kandungan Shelia.


"So, jadi benar kamu mengandung cucuku?"


deg.


Ini yang Shelia cemaskan. Bahwa kedua orang tua Bryan akan meragukannya. Lebih tepatnya meragukan janin yang tengah dikandungnya sebagai darah daging dari anak mereka.


"Dad," sepertinya Bryan paham dengan nada keraguan yang disiratkan oleh sang ayah.


"Ya," jawab Shelia tegas. "Tapi aku gak pernah berharap agar Bryan bertanggung jawab terhadapku, terhadap anakku. Sungguh, bahkan aku tidak pernah berharap untuk bisa bertemu Bryan lagi."


"Kenapa?" masih, dengan suara menuntut, Mr. Erick menatap Shelia dengan lekat.


"Aku wanita mandiri. Aku mampu membesarkan anakku sendiri," hanya saja gue gak mampu menjaga kehormatan keluarga gue sendiri. "Dan aku siap menjadi seorang single parent bagi anakku."


"Lalu Bryan? Kau ingin melupakan ayah dari anakmu?"


eh? bukannya mereka .....


Felicia menyentuh punggung tangan Shelia dengan lembut dan tersenyum. "Jangan katakan hal seperti itu. Seakan kau tidak membutuhkan Bryan dalam membesarkan anakmu. Aku percaya kalau itu benar cucuku. Dan aku sangat sangat berterima kasih karena kamu tetap mempertahankannya bahkan dengan mental untuk menjalani dan merawatnya seorang diri. Maka, please ... terima niat baik putraku yang ingin bertanggung jawab terhadap anaknya."


"Kalian menikahlah secepatnya." Mr. Erick menambahi ucapan sang istri.


Shelia kini menatap pada Bryan yang tengah tersenyum. "So? kapan kamu siap, Shelia?"


...🌿🌿...


Mira sudah siap dengan koper kecilnya dan duduk di ruang tengah sambil menunggu sang mama yang bertandang ke rumah tante Renata. Saat itulah bel berbunyi yang langsung segera dibuka oleh Mbak Nani.


"Neng Mira, ada yang nyariin ibu nih,"


Maka Mira segera bangkit dan berjalan menuju pintu. Dilihatnya seorang wanita seumuran mama seperti sedang menanti jawaban.


"Ibu kamu ada? Atau lebih tepatnya, apa anak saya ada di sini?"


"Anak ibu yang mana?"


"Ibram. Kata anak saya yang lain, kalau kakaknya itu seringkali main ke sini, betul?"


Mira menghela nafas. "Oh betul, Bu. Ibram itu temannya adik saya. Mereka memang sering berlama-lama di sini."


"Kalau begitu apa sekarang Ibram ada di dalam?"


"Nggak ada, Bu. Adik saya juga gak ada. Mungkin mereka pergi main kali, Bu. Tenang ajalah, nanti pasti mereka bakalan pulang juga."


"Masalahnya Ibram sudah seminggu gak pulang ke rumah, Nak. Ibu jadi khawatir."


Mira melihat sang mama yang baru saja berjalan menghampiri mereka. "Nah, ini mama saya, Bu. Coba ibu tanyakan saja langsung. Barangkali mama saya ini pernah tau."


"Ini siapa ya?"


"Saya ibunya Ibram, Bu. Apa ibu ini ibunya Ghani ya?"


"Iya, betul, bu. Mari masuk kalau begitu."


Berbalik langkah, Mira segera menarik kopernya dan berpamitan dengan sang mama. "Aku berangkat dulu ya, Ma." dia menghampiri dan mencium tangan wanita yang melahirkannya itu.


"Iya, kamu hati-hati di jalan. Memang grab sudah datang?"


"Sudah sampai kayaknya. Tadi udah ada di depan komplek soalnya."


"Ya udah, jangan lupa telpon Mama sebanyak mungkin. Jangan kesasar, jangan jajan sembarangan, jangan jelalatan lihat toko-toko, jangan mampir-mampir gak jelas. Jangan lupa istirahat–"


"Aku kayak mau pergi perang deh. Banyak banget kata 'jangan' nya."


"Itu namanya Mama khawatir."


"Iya, Ma, iya. Santuy aja sih ..." Mira menyunggingkan senyum lebarnya agar sang mama percaya dengan dirinya kali ini. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam.


...***...


maaf semalam aku sakit perut 😔


.