
...Happy Reading!...
...----...
"Di mana?" Mira mengulang pertanyaannya untuk memastikan lagi pendengarannya.
"Jakarta," ulang Athar dengan sabar.
"Main basket doang sampai sejauh itu?"
"Jakarta itu dekat, Al."
"Lebih dekat lagi lapangan yang ada di rumah samping, 'kan?!"
"Tapi ini kesepakatan bersama. Karena hari itu, lebih dari setengahnya orang-orang yang bertanding sedang berada di Jakarta." Athar menjelaskan dengan sabar.
"Termasuk Ferrow?" Mira sengaja menggoda suaminya itu.
Athar menatapnya jengah. "Ferrow mau merried sama Cassandra tiga bulan lagi. Gak usah ngefans sama dia yang jelas-jelas ketampanannya masih di bawah aku, suami kamu."
"Jeh, mengyombong sekali anda, Gan. Walaupun itu benar." kemudian Mira menyadari sesuatu dari kalimat Athar barusan. "Merried sama Cassan? Serius?" mata Mira melebar. "Beruntung banget si @$#*#!/@," gerutunya sebal.
"Kamu ngomong apa?"
"Omonganku aku sensor barusan. Supaya anak kita gak dengar kalau ibunya sedang mengumpat."
Benar-benar Athar tak habis pikir dengan tingkah istrinya itu.
"Kok Ferrow mau nikah sama si Cassan sih? Udah habis ya stok cewek baik hati?" Mira masih menyuarakan ketidakpercayaannya.
"Ya namanya jodoh, Al." Athar yang sedang memakai jam tangannya itu kini menghampirinya. "Kayak kita begini. Mau apapun kata orang yang nggak suka, tetap aja kalau kita sudah takdirnya berjodoh, ya merried."
"Tapi nggak Ferrow juga ..."
Athar membuang nafas pendek. Dia mengembalikan topik pembicaraan. "Jadi kamu berniat ikut aku ke Jakarta atau nggak?"
"Abang nawarin doang sekedar basa-basi nih?" tuduhnya. Matanya memicing tak senang dan bibirnya cemberut. "Gak beneran ngajak aku ikut."
"Aku sebenernya bingung, Al. Aku kepengen kamu ikut, tapi gak mau memaksa juga karena melihat perut kamu yang nggak kecil begini. Aku khawatir, tapi egois. Gimana dong?"
Mira diam sebentar. Benar juga sih. Dia mesti memikirkan kandungannya juga. "Tapi aku mau ikut, Abang Sayang," putusnya yakin.
"Yakin gak apa-apa? Nanti kita tidur di hotel semalaman untuk istirahat ya. Besok paginya baru kita pulang."
Sambil membuang nafas, Mira memutar bola matanya, walau yakin itu membuat Athar tak suka.
"Gak sopan."
tuh 'kan.
"Lagian, Abang. 'Kan tadi Abang sendiri yang bilang kalo Jakarta itu dekat. Ya walaupun aku sedang hamil, tapi nggak segitunya juga kali. Naik mobil pula, bukan motoran. Udah deh, masih dua bulan lagi HPL aku. Masih bisa keliling Indonesia Raya."
"Ya udah, tapi kalo ada rasa capek atau keluhan sedikitpun, bilang aku ya?"
Dia menggangguk yakin. "Iya, Sayang. Aku gak bakalan capek kok. 'Kan aku mesti jagain kamu biar gak dilirik lebah-lebah genit di sana."
"Ha?"
Mira mesem-mesem penuh arti. Tahu sendiri, 'kan gimana kerennya cowok-cowok yang sedang bermain basket? Bukan mustahil kalau macem suaminya bakalan bikin perawan-perawan di luar sana jejeritan. Maka Mira, mesti menjaga suaminya dari apapun jenisnya betina yang mencoba mendekat. Lihat saja nanti, perut buncitnya adalah bukti nyata kalau cogan satu ini sudah ada pawangnya.
Eh tapi ...
Yang namanya ancaman itu gak peduli status 'kan?!
waduh, tetiba gue merasa insecure.
"Kenapa? Kok mukanya gitu? Gak semangat lagi nih?" tanya Athar bingung.
Mira menggeleng pelan.
Sebuah kecupan Athar layangkan di pipi Mira. "Kenapa emangnya? Bilang sama aku, apa yang membebani pikiran kamu."
Di tatapnya Athar dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Abang tuh ganteng,"
"Iya, tahu."
Tuh 'kan. Mira mencebik seraya mencubit pinggang suaminya. Lalu Athar hanya terkekeh geli karena senang sekali menggoda sang istri.
"Abang itu ganteng," ulang Mira. "Pake banget. Muda, cakep ... gak gendut lagi. Kalo orang-orang mengira Abang masih mahasiswa ya gak heran. Bahkan, kalo Abang mengaku masih SMA pun aku rasa semua orang percaya aja."
"Makasih, Sayang, atas pujiannya." lagi-lagi Athar mencuri kecupan, dan kali ini bibir Mira sebagai sasarannya.
"Tapi coba lihat aku," Mira yang tak terpengaruh dengan ciuman singkat Athar melanjutkan kegalauannya. "Udah wajahku biasa aja, lagi gendut buncit gini pula."
"Kamu cantik, Al. Coba sesekali puji diri sendiri. Kamu itu cantik di mataku. Dan yang membuat perut kamu membesar begini, 'kan aku. Jadi semua orang mesti lihat, siapa yang paling dibuat bahagia oleh keadaan perut kamu ini."
Mira menatap Athar berharap keyakinan akan kesungguhan dari ucapan suaminya itu. "Begitu?"
Otak cantik Mira mencerna. "Abang narsis," ucapnya datar.
Athar tertawa geli. "Memang begitu kenyataannya, 'kan?!"
Mira bangkit dari sofa. Dia berjalan menuju kamar mandi. "Iya deh, iya. Udah ah, aku mau mandi."
"Oke." Athar menyusul langkah istrinya itu. Hingga membuat Mira menghentikan langkahnya. "Eh, aku mau mandi sendiri, Bang."
"Gak usah repot-repot, Al. Sini aku yang mandiin,"
"Gak mau."
"Kamu gemesin banget deh. Yuk mau yuk, aku mandiin ya ..."
"Aku bisa sendiri."
"Eleh, kemarin-kemarin selalu minta aku mandiin. Sebentar-sebentar minta dimandiin, 'kan ..."
Mira merasakan wajahnya memerah. Memang, entah mengapa dua bulan ini ia merasa lebih ingin bermanja-manja dan selalu ingin menempel dengan suaminya itu. "Tapi sekarang nggak mau."
Athar menatapnya lekat dan penuh arti. "Tapi sekarang aku yang mau."
Haduh.
...-----------------...
"Gak puas lo jahatin Mira, gangguin rumah tangga dia ... dan sekarang lo jahat sama gue. Lo hancurin kebahagiaan gue, lo berbuat sesuka hati lo."
Suara tajam Pramita yang sudah ditahannya sejak dari Bogor, kini akhirnya keluar juga.
Luapan emosi gadis itu tak mampu memprovokasi Ryo untuk membalas dengan sama sengitnya. Melainkan sebuah ketenangan yang cowok itu tampakkan dengan alaminya.
Seulas senyum tipis terbit dari sana. "Benar. Semua memang sesuka hatiku. Aku mau apa, aku berharap apa, maka itu yang akan terjadi."
"JANGAN GILA!" jerit Pram sembari melempar tas kecilnya ke tubuh Ryo, yang bahkan sama sekali tak berpengaruh apapun. "JANGAN BAWA-BAWA GUE ATAS PIKIRAN JAHAT LO! KENAPA HARUS BIKIN GUE BENCI SAMA LO, RYO?"
Bukan tanpa adab Pram bertamu ke rumah orang, bila di dalam rumah tersebut ada seorang saja yang dituakan. Beberapa saat yang lalu, begitu pintu rumah Ryo terbuka, maka kalimat yang muncul pertama kali di bibirnya adalah menanyakan dimana Tante Ayumi berada. Sebab, bila saja wanita itu ada, maka Pram akan mengajak Ryo keluar untuk menerima amukannya. Ya, Pram seniat itu untuk bertarung.
"Lo hancurin kebahagiaan gue," lanjut Pram dengan nada lebih pelan, tapi pedih. Air mata tak sanggup ia tahan lagi. "Salah gue apa, Yo? Gue membela Mira dengan batasan, dengan semampu dan sewajarnya kapasitas gue sebagai seorang sahabat. Apa dengan pembelaan gue kepada Mira membuat lo jadi dendam sama gue? IYA, BEGITU?"
Ryo tak langsung menjawab. Gelengan samar, tanpa menatap mata Pram, lalu dengan tenang ia berkata, "Aku gak punya dendam sama kamu."
"Lantas? Random, gitu?"
"Hm, gak juga. 'Kan sudah pasti kamu sahabat terdekat Mira. Aku hanya mencari jalan terdekat dan terakurat agar aku bisa terus berada di sekitar Mira. Itu aja."
Mata Pram membelalak. Benar dugaan yang sebenarnya selalu ia sangkal. Ternyata cowok gila itu tega menggunakan dirinya demi terus dapat mendekati Mira. "Sakit jiwa."
Ryo tersenyum geli.
"LO BENER-BENER SAKIT JIWA!"
"Hey, calm, Pram. Ini cuma pernikahan. Bukan sesuatu yang besar."
Sebelah tangan Pram memijat keningnya dengan keras. "Cuma lo yang bilang kalo pernikahan adalah bukan suatu hal yang besar. Dan gue sedang berusaha supaya otak gue menerima kalo cowok sakit jiwa kayak lo memang ada di bumi ini. Lalu sayangnya, gue-lah yang mesti mendapat takdir buruk karena ketemu lo."
Pram membanting tubuhnya di sofa. Dia sakit kepala. Berbicara dengan Ryo bukanlah hal yang mudah. Bisa-bisa ia malahan ikut sakit jiwa.
Cowok itu menyusul Pram untuk mengambil tempat di sofa yang lain. Pergerakannya yang selalu tenang berbanding terbalik dengan Pram yang terasa ingin membunuh mantan temannya itu.
"Jalani saja hidup ini, Pram. Jangan terlalu memaksakan yang bukan jodoh–"
Seketika Pram mengangkat wajahnya dan melotot tajam kepada Ryo. "Kata-kata itu mestinya buat lo. Sudah jelas Mira bukan jodoh lo, kenapa lo mesti maksain keadaan, hah? Ngaca, Yo! Ngaca! Segala cara lo lakuin buat deket sama Mira. LO YANG MEMAKSAKAN CEWEK YANG BUKAN JODOH LO!"
Gemas. Kalau boleh, Pram ingin menendang Ryo ke luar bumi. Keluar dunia kalau perlu.
"Aku nggak memaksakan Mira, Pram. 'Kan aku sudah bilang kalo aku tidak akan berupaya merebutnya ataupun menghancurkan rumah tangganya. Suaminya aja yang lebay. Aku cuma ingin berada di dekat Mira, itu aja. Kenapa kalian semua gak bisa mengerti?"
"Satu-satunya orang yang gak ngerti adalah lo, Yo. Cuma lo orang gila yang gak ngerti tentang batasan."
"Semua orang berhak untuk berteman, Pram."
"Tapi nggak dengan istri orang! Ikatan resmi mereka sudah pasti mengalahkan hubungan yang lain, apalagi cuma pertemanan."
Ryo tak menyahut. Pram mencoba membaca raut wajah cowok itu, sekaligus berharap kalau pernikahan main-main yang Ryo minta tak akan pernah terlaksana.
Lama Pram menunggu cowok itu membuka suara. Hingga setelah keheningan berlangsung selama beberapa menit, ia mendengar suara Ryo.
"Tapi kamu ... bukan istri orang, Pram."
...-----...
Sorry for typo.