AL-THAR

AL-THAR
#58. Ngidam



Semangatkuuu, plis kembalilah!


😴


Happy reading!


...👻👻👻...


"Yang satu makan terooos, yang satu lagi ... kayak cucian," keluh Ghani sambil menyendok nasi di meja makan siang itu.


Shelia menoleh pada adiknya itu, "Gila, lemper bikinan Mama enak bingit loh,"


"Makan lemper kok pake mecin."


"Ini chiki, bukan mecin."


"Sama aja."


"Ya beda lah! Eh– emang si Mira ngapain? kok kayak cucian?"


Ghani yang telah siap makan siang yang kesiangan, alias sudah lewat dari jam makan siang pun menjawab, "Berendam."


"Iya dari kemarin gue juga perhatiin, tuh anak gak jauh-jauh dari kamar mandi. Katanya, kalo dia berendam itu gak akan terasa mual."


"Aneh."


"Kalo gak aneh bukan Mira namanya."


Ghani tak menyahut lagi. Sekarang dia fokus memakan rendang di hadapannya selama beberapa menit dalam keheningan, ditemani Shelia yang sedang mengemil jajanan anak alias snack ukuran besar seperti biasanya. "Ini pasti ulah salah satu diantara kalian," kata Ghani sekonyong-konyong.


"Apa?" Shelia yang sibuk mengunyah sambil scroll medsosnya pun menoleh.


"Ini," tunjuk sang adik kepada daging-daging yang ada di hadapannya. "Sejak makan malam semalam, trus sarapan pagi, dan sekarang makan siang, gue selalu dikasih makan rendang. Kalo ntar malam kalian cuma punya rendang, mending gue makan di luar. Bilang gitu ke mama."


Shelia meringis. "Iya sih. Itu si Mira ngidamnya makanan padang. Gue sih oke aja, selagi itu bentuknya makanan. Kalo lo eneg ya wajar. Gue juga udah mulai bosen."


"Dia ngidam makanan padang, dan lo ngidam makanan mengandung mecin."


Shelia seakan tersadar. "Iya juga ya. Ngidam gue gak berkelas banget sih. Seenggaknya makanan Jogja kek gitu, atau apalah,"


Ghani cuma menggeleng malas. Nggak penting memang berurusan dengan cewek-cewek yang sedang hamil berjamaah.


Tak berapa lama turunlah Mira yang datang dari lantai dua. Dia menghampiri kedua saudara dan saudarinya untuk bergabung di meja makan.


Karena hari ini sang mama sibuk dengan kateringnya di luar, maka makan siang mereka yang ada di rumah pastilah tidak berbarengan. Tidak seperti saat ada mama di rumah. Itu sudah biasa.


Mira yang sudah duduk di salah satu kursi kini mengambil garpu dan langsung menusuk sepotong rendang untuk disantapnya dengan suka cita. Serius, dia tuh emang ngidam masakan padang sejak kemarin pulang dari kampus.


"Lo gak juga ke rumah sakit?" tanya Shelia. Sudah pasti yang ditujunya adalah Mira. Perihal periksa ke dokter yang tak kunjung Mira lakukan.


"Males ih. Besok aja deh kalo mama udah sempat." Padahal rencana periksa ke dokternya adalah kemarin sepulang dari kampus. Tapi rupanya sang mama ada urusan penting dengan kliennya masalah menu buat acara hari ini. Begitu kira-kira kurang lebihnya cerita mama. Maka Mira yang memang enggan untuk bertandang ke dokter, apalagi hanya seorang diri, sudah pasti dia tidak akan pernah pergi.


"Males. Panas ih, gue pengen berendem lagi tapi bosen."


"Lo jangan kebanyakan berendem, Mir. Kasihan anak lo. Nanti kedinginan."


"Air anget kali ah!"


"Ya walaupun air anget."


"Tenang aja deh, gue lagi bosen juga pengen sesuatu yang wah,"


Ghani hanya diam menikmati makan siang dengan obrolan duo hamil di dekatnya.


"Maksud lo?" Shelia membuka bungkusan chiki yang baru lagi.


"Gue pengen berendam di atas hot tubs, whirlpool gitu. Jacuzzi?"


Shelia melongo. Sedangkan Ghani berhenti mengunyah dan menoleh kepada Mira. "Lo bukan lagi ngidam, kan?!"


Mira tak tahu mesti menjawab apa. Lain dengan Sheli yang kini bertepuk tangan. "Hebat! Ngidam lo berkelas banget. Salut gue. Kalo gue ngidam makanan mengandung mecin, maka lo ngidam nasi padang. Kalo gue ngidam jalan kaki keliling komplek, maka lo ngidam berendam di jacuzzi. Anaknya Athar anak sultan ya. Beda sama gue yang bapaknya bule padahal, ehh ngidamnya malahan versi rakyat jelata. Jangan-jangan si Bryan bule gadungan lagi."


"Ya gue gak tau," sahut Mira. "Tiba-tiba kepengen aja."


"Sana bilang sama Bang Athar," suruh Ghani. "Bapaknya anak lo itu pasti mampu ganti bathtub lo jadi jacuzzi yang mahal."


"Yailah, ngapain repot-repot beli yang mehong," pungkas Shelia. "Mending ke hotel gih! lebih terjangkau. Eh tapi kalo Athar mau sih terserah ye. Bucin gila gitu."


"By the way bang Athar belum gue kasih tau, hehe ..." Mira cengengesan sambil menusuk daging lagi.


"Masa?" tanya Shelia tak percaya. "Lo mau bikin kejutan gitu? Mentang-mentang lusa dia pulang."


"Ya gitu deh." Mira bangkit dari kursi setelah menelan potongan daging ketiga. Diminumnya singkat air putih yang tersedia di meja.


"Lo mau kemana deh? Udah bawa tas gitu?" Shelia baru sadar kalau Mira sudah menyampirkan tas kecil sejak tadi.


"Gue mau ke restoran padang."


"Hah?"


"Gue suka banget bau masakan padang. Kayak lagi di syurga gitu. Baunya haruuuuum banget. Pokoknya, kalo mau nyari gue maka carilah gue di rumah makan padang, atau restoran padang terdekat."


"Tadi lo bilang panas, gak mau ke dokter, eh sekarang malah mau merantau ke rumah makan padang."


"Beda lah. Ini sih kemauan si janin. Yuk ah, dadah babay."


...💜💜...


maaf ya, sedikit dulu 😂 besok lanjut lagi 😉


.