AL-THAR

AL-THAR
#32. Kamu Adalah Anakku.



Ya ampun, tiga bab! 🙈


❤❤❤❤❤❤❤❤


Ketika seseorang yang takdirnya sudah tampan dan berubah statusnya menjadi seorang artis, entah mengapa seseorang itu malah nampak lebih tampan lagi. Begitu kira-kira menurut pikiran Mira. Seberapa kerennya Ryo sekarang membuat Mira berhayal andai Ryo memainkan film yang diadaptasi dari serial anime Jepang zaman dulu. Samurai X.


cakep bener si Ryo sekarang. Apa artis mesti gitu ya ...


kalo dia jadi Khensin kayaknya pas buanget deh. Dududuh ... gue ngefans nih jadinya.


"Jangan kelamaan natap aku-nya, kalau kamu jatuh cinta sama aku kan bisa jadi masalah." ucapan Ryo yang saat ini tengah menatap laut di kejauhan membuat Mira terkesiap.


perasaan gue gak natap dia deh.


halu dia tuh pasti. Hooh, mana mungkin gue natap dia.


Ryo menoleh dengan senyum geli yang merekah di bibirnya. "Tau gak, aku tuh sudah merasa cukup banget walau cuma berada di dekat kamu, Mir. Hanya dengan berdekatan, mengobrol, dan bercanda kayak dulu. Hanya itu mauku."


Mira mengerjap. maksudnya apa?


"Kamu cantik,"


Refleks Mira tersenyum hangat. "Makasih."


kalau gue boleh maruk? ups, nggak deh. gue cuma cinta sama Bang Athar seorang. Hehe ...


"Serius kamu cantik banget hari ini. Aku juga merasa sangat senang bisa ngobrol berduaan sama kamu."


Rasanya waktu seakan terhenti saat ini. Mira seolah mendapat sejuta kenangan kembali yang telah lalu di masa sekolah dulu. Ryo yang resek dan jahil sekaligus manis disaat bersamaan, kini telah berubah menjadi sosok cowok yang tampan, keren, dan ... dia cowok Jepang yang bisa membuat cewek-cewek jadi gila.


Mira menepuk ringan lengan Ryo sambil berkata, "Entah kenapa aku merasa kalau kamu adalah anakku, Yo."


Ucapan absurd Mira membuat Ryo tercengang dan mengangkat kedua alisnya. "Ha?"


"Iya. Kamu tuh kayak anak yang aku besarkan. Soalnya dulu itu kamu masih resek, jahil, dan nyebelin. Lalu sekarang, kamu sudah tumbuh menjadi sosok dewasa yang tampan, dan baik hati. Aku kayak semacam ikut membesarkan kamu, tau gak. Bener-bener seperti seorang ibu."


Ryo terkekeh pelan. "Bukannya kita seumuran ya? Bahkan aku lebih tua bulan dari kamu loh."


"Gak taulah, Yo. Semenjak menikah, aku merasa sudah dewasa. Kayak auto tua gitu."


Sekarang Ryo tertawa. Sebuah tawa yang terlihat manis, lepas, dan bahagia mewakilkan apa yang dirasa oleh pemiliknya.


"Kamu itu Malika versi kerennya, Yo," lanjut Mira "Serius, aku merasa seperti yang dirasakan Nyonya Ayumi kayaknya."


Ryo mengusap lembut kepala Mira yang terdapat hiasan bunga di sana. Senyum tak luput juga dari bibirnya. "Mestinya, kamu cuma anggap aku sahabat, gitu, Mir. Saat kamu menolak aku, maka kita cuma sampai sahabat doang statusnya. Gak lebih. Harusnya sih gitu ya ucapan kamu. Tapi kenapa kamu malah anggap aku anak? aneh banget tau gak sih!"


"Masa?" gue kan jujur ya,


"Tapi itulah yang aku rindukan dari kamu selama beberapa bulan ini. Keanehan kamu, keunikan kamu ... dan yang aku paling suka dari kamu itu adalah waktu melihat kamu kesal. Entah kenapa itu lucu di mataku."


Pantesan dulu dia sering banget bikin gue marah, jengkel, dan pengen makan orang.


"By the way kita lagi ngomongin apa sih? Gak jelas banget ih," Mira merapihkan kembali rambutnya yang baru saja diusap Ryo.


"Kita sedang membicarakan kebahagiaanku."


"Hm?"


"Cuma seperti ini pun aku sudah bahagia, Mira. Aku gak mampu berharap lebih dari kamu, tapi hanya sampai batasan inilah yang akan aku perjuangkan mulai sekarang."


Mira mencerna. "Maksud kamu?"


"Nggak ada yang patut untuk diperjuangkan dari istri orang lain." Athar dengan suara dalamnya tiba-tiba sudah berdiri di dekat Mira, dan memegang tangan Mira dengan eratnya.


Mira yang terkejut kini hanya bisa melirik Athar dengan takut-takut. Dia lupa kalau Athar telah memberikan syarat untuknya saat Ryo datang. Yakni, tidak ada obrolan empat mata dengan sahabatnya itu.


Kini Athar dan Ryo saling menatap tajam dengan ekspresi wajah dingin yang dibuat seolah tenang namun mematikan.


...* * *...


"Kamu tahu salah kamu apa?" Athar bertanya penuh intimidasi kepada Mira.


Mira hanya bungkam. Kalau hanya mengobrol merupakan sebuah dosa besar, maka Mira tidak berniat untuk mengulanginya kembali. Hanya saja ... sorot mata kesedihan sekaligus kesepian dari Ryo membuat hatinya terenyuh. Seperti seorang ibu yang iba dan sayang kepada anaknya.


fix, Ryo adalah anak gue.


"Aku mau ganti baju dulu, Bang–"


"AKU BUTUH JAWABAN!"


jahat, bathinya. Tak butuh waktu lama saat air mata Mira meleleh begitu saja. Selain karena rasa bersalah dengan Athar, Mira juga merasa iba kepada Ryo.


"Abang boleh bentak aku lagi, tapi ntar dulu. Aku lepas dulu baju pengantinnya. Tega banget sih bentak-bentak pengantin yang bahkan masih pakai baju pengantin! Untung akadnya udah lama. Coba kalau baru, AKU BAKALAN BUNUH DIRI GARA-GARA DIBENTAK ABANG!"


Mira menangis meraung menuju kamar mandi. Hal itu membuat penyesalan besar di hati Athar. Kontan saja langkah lebarnya langsung menyusul Mira dan,


"Kok dikunci?" tanyanya entah kepada siapa. Diketuknya pintu kamar mandi dengan suaranya yang memanggil-manggilnya istrinya. "Al! Buka pintunya!" suaranya lembut dan memohon. Lenyap sudah keinginannya untuk marah setelah melihat Mira menangis diiringi ucapan yang menampar hatinya.


"Al!" lagi, Athar mengetuk pintu dengan tidak sabar.


"Gak mau!" teriak Mira dari dalam kamar mandi.


"Eissh, buka dong! Aku mau ikut ganti juga!"


Mira yang saat ini tengah berupaya membuka gaun yang ternyata tak mudah itu hanya mencibir saja dan enggan untuk menyahut lagi. Rupanya, gaun dengan resleting di belakang itu adalah bencana. Dia sudah mencoba membukanya dari tadi tapi gagal terus. Bahkan tangisnya telah berubah dari yang menangis karena sedih atas sikap Athar, kini ia menangis karena kesal pada gaunnya yang sulit untuk dibuka.


"AL! BUKA!"


"Masa bodo," gumamnya pelan. "Enak aja bentak-bentak di saat gue masih pakai gaun cantik gini. Judulnya aja resepsi pernikahan. Masa belum selesai acara, istrinya udah dibentak-bentak? Mestinya ntar, tunggu sama-sama ganti baju dulu. Biar gak pedih kan," gerutunya dengan kesal. "Ini baju minta gue gunting apa ya? susah bener dibukanya. Masa kudu minta bantuan? tengsin lah! udah ada drama wanita teraniaya, masa mesti butuh bantuan?"


"AL, BUKA PINTUNYA! KALO NGGAK AKU BAKALAN DOBRAK SEKALIAN!"


"Waduh, nekat amat sih dia." Mira melangkah juga untuk membuka pintu. Habis mau gimana lagi, dari pada bikin drama yang lebih besar dengan judul 'Pengantin yang ribut hebat di hari resepsi pernikahannya', maka lebih baik dia mengalah. Dengan wajah sebalnya, Mira menatap sang suami yang berada di balik pintu. "Jangan marah-marah dulu! Biarin aku ganti baju dulu!" serunya dengan keras.


Athar menggeleng cepat. "Aku nggak berniat marah, Al. Aku juga mau mandi trus ganti baju. Jas ini rasanya udah lengket banget."


Mira membelakangi Athar. "Bukain dulu resleting baju aku!" pintanya dengan ketus.


Athar mengulum senyum. Kemudian tangannya meraih belakang gaun Mira. "Makanya jangan marah dulu, kan susah buka–"


"ABANG YANG MARAH-MARAH DULUAN! BENTAK-BENTAK AKU! LUPA? AMNESIA?"


Gue yang marah, tapi dia lebih marah lagi, bathin Athar.


"Iya, Sayang. Maaf."


"Gak ada sayang-sayangan!" Mira hendak berjalan keluar dari kamar mandi namun tertahan oleh tangan Athar yang mencekal lengannya.


"Kamu mau kemana? Belum mandi kan?!"


"Gak mau mandi! Males! Bete!"


"Eh eh eh ... gak baik ah kalau gak mandi. Sudah berapa jam pakai gaun, emangnya kamu gak gerah?" bujuk Athar.


"Nggak."


"Trus mau ganti pakai gaun malam tanpa mandi? Yakin? Orang-orang pasti udah mandi loh. Masa pengantinnya nggak mandi?" bujuk rayu Athar memiliki maksud dan tujuan yang jelas, yang Mira sudah paham arahnya. Udang dibalik bakwan itu nampak melambai-lambai di telinga Mira, pada tiap kata yang diucap oleh Athar.


mandi gak ya? udah pasti ini mah mandi plus-plus. Lagian siapa suruh dia bikin gue kesel? bikin gue gak mood banget sama dia.


"Ya udah, aku mau mandi. Sana Abang keluar! Gantian."


"Efisiensi waktu, Al. Mending kita mandi bareng, biar cepet beres. Kan kita mesti pesta makan malam lagi setelah ini."


Mata Mira memicing saat dilihatnya wajah Athar yang nampak amat sangat meyakinkan perkataan dan bujuk rayunya. Padahal sebenarnya Mira khawatir kalau–


"Ayo," Athar sudah menarik lengan Mira.


"Tapi cuma mandi loh ya," Mira mewanti-wanti waspada. Takut-takut kalau babak mandinya menjadi beberapa ronde.


"Iyaaa, Sayang." Athar tersenyum yang diusahakan nampak semanis dan sewajar mungkin.


Karena serigala mestilah menunggu waktunya keluar ketika domba telah berhasil menjerat hasil umpan perburuannya.


...* * *...


Suami istri tuh gitu ya, seringkali pertengkaran berakhir dengan .... ya itulah. 🙈🙊😆