
Happy reading!
"Ah gilaaaa ... nikmat mana lagi yang kau dustakan, Abaaayy!" teriak Abay kepada dirinya sendiri ke arah laut.
"Jeh, udik!" celetuk Pram yang diabaikan oleh Abay.
"Nikmat benerrrrr ya, Puuuuut?" Puput melakukan hal yang sama seperti Abay, yaitu berteriak untuk dirinya sendiri.
"Liat dong temen kita lagi mewek nih." Pram menoleh pada Mira yang sedang meminum jus sambil bercucuran air mata. "Udah dong meweknya, nanti orange jus lo jadi tawar rasanya. Gara-gara kecampur sama air mata."
"Gue lagi pedih, Pram,"
"Iya, tahu. Kan udah gue bilang, biarin aja si Athar, Mir. Nanti dia pasti nyesel karena udah ninggalin lo gitu aja."
"Tapi kata Pak Teguh gue gak ditinggalin kok,"
"Kalo gitu lo digantung."
Mira menangis lagi. Memang benar, apapun namanya yang jelas saat ini Athar telah meninggalkannya. Dan itu terlalu pedih terasa.
"Makasih ya Mimir," ucap Abay setelah duduk kembali di kursi. Begitu pula dengan Puput. "Lo emang terbaik deh. Hebat bener gue dibeliin tiket pesawat ke sini. Eh tapi btw, pulangnya dibeliin lagi, kan?!"
Mira menggeleng dengan air mata yang masih mengalir. "Nggak. Gue sengaja buang lo di sini. Pulangnya semampu lo. Mau naik bus, kereta, atau pesawat, atau jalan kaki sekalipun ya terserah. Gue gak mikirin."
Kemarin, sewaktu Mira merasa tak berdaya dengan kenyataan bahwa Athar, suaminya, telah terbang ke New York begitu saja tanpa bilang apa-apa. Satu-satunya agar pikiran Mira bisa waras dan bisa kembali pulang ke Bogor adalah dengan menghubungi teman-temannya agar menyusulnya dengan membelikan ketiganya tiket pesawat pagi tadi.
"Dih, jahara amet, Bu. Jangan sensi dong. Iya-iya gue ada di pihak lo kok. Gue juga jadi sebel sama bang Athar. Serahin semuanya sama gue deh."
"Lo mau nyariin bang Athar ke New York?"
Abay menggeleng. "Ya nggak mungkin lah, Mir. Tiket pesawat kesini aja gue berdasarkan belas kasihan lo. Apalagi ke negerinya uncle Sam, gue mesti ngemis kemana buat beli tiketnya coba? belum buat napas di sananya nanti. Bahkan oksigen di sana mehong loh. Fix, jadi gembel gue di sana."
"Trus, lo mau bantu gue dalam hal apa?"
"Ya kalo cuma antar jemput buat kuliah kan bisa. Eh, lo masih pake sopir pasti nih?"
Mira menggeleng lagi. "Nggak. Gue mau mandiri mulai sekarang."
"Dih, jangan gitu amat sih hidup lo. Kasihan gue jadinya."
"Serius lo kasihan sama gue?"
Abay mengangguk pasti.
"Kalo gitu lo pasti mau kan cariin gue asinan Bogor?"
"Gampang itu mah–"
"Sekarang."
Seketika temannya itu melotot. "Kan kita bermukin jelas di Bogor ya. Udah pasti mudah cari asinan di Bogor saat kita pulang besok. Masa gue kudu berpetualang di sini?"
"Gak mungkin gak ada kan, Bay?" tanya Mira polos. "Pulangnya kita naik kereta bareng deh. Sekalian jalan-jalan. Gimana?"
Lantas Abay segera bangkit dari kursi dan menghela nafas. "Ya ampun, untung lo gak minta mie Aceh yang belinya di Aceh ya, Mir? Bisa berabe gue. Ngidam aja belum padahal," Abay misuh-misuh.
"Ya siapa tahu ada jabang bayi yang sedang bersemayam di perutnya Mimir, Bay," kata Puput.
Memang, Mira belum memberitahu perihal test pack nya kepada sahabat-sahabatnya itu. Nantilah, bila dia sudah benar-benar memastikannya di dokter maka kabar bahagia itu baru akan ia beritahu kepada semuanya.
"Udah jalan sana, hush hush," usir Pram kepada Abay. Maka Abay segera berangkat sambil menggerutu.
"Tega bener, bu Bos ya ..."
.
.
"Posisi Abay di mana deh?" Mira bertanya kepada Pram yang asik menekuni layar pintarnya. Apa lagi kalau bukan chatting dengan Raihan tercinta.
"Gak jauh dari mall kok. Dia tungguin kita di McD katanya. Kan asinannya udah dia dapetin."
"Bagus deh." Mira kembali menatap luar kaca taksi yang saat ini mereka naiki, dengan Puput duduk di kursi depan, di samping sopir.
Namun tiba-tiba ...
"Kepala gue pusing banget," keluh Mira seraya bersandar dengan mata terpejam. "Aduh duh ...."
Pram dan Puput seketika panik. "Lo kenapa deh? Pucet, Mir," kata Pram sambil memegang kening Mira. "Tapi nggak demam sih,"
"Ya udah kita mampir ke dokter yuk," usul Puput.
"Iya oke," Pram langsung menyetujui.
Tapi Mira malah menolak. "Apa sih? Kalian jangan lebay. Masa cuma pusing gue mesti dibawa ke dokter?" suaranya pelan menahan nyeri di kepala yang mendadak itu.
Taksi yang mereka tumpangi tak lama kemudian telah berhenti di depan sebuah Klinik dan Rumah Bersalin. Tentu itu tempat pelayanan kesehatan terdekat yang mereka dapati. Dan tanpa buang waktu, Pram dengan Puput langsung memapah Mira untuk segera mendapat pertolongan dokter yang ada di sana.
"Gue kayak sakit apa sih," keluh Mira karena tak setuju dengan perlakuan kedua sahabatnya. "Gue cuma pusing kali. Tapi kayak mau melahirkan mesti dibawa ke klinik bersalin."
"Bawel banget lo! Diem aja! Nurut sama gue!" tegas Pram.
Syukurnya klinik dalam keadaan sepi saat mereka datang. Setelah tadi seorang pasien keluar, kini rupanya telah giliran Mira yang masuk ke ruangan dokter untuk diobati. Tadi Pram yang melakukan pendaftaran, selagi Mira duduk di kursi tunggu bersama Puput.
Mira menjawab apa saja pertanyaan dokter seputar keluhannya. Namun akhirnya dia mengatakan juga perihal test pack garis dua yang telah didapatinya beberapa hari yang lalu.
Kemudian dokter wanita yang ternyata cukup ramah itu menyuruh Mira untuk pindah ke ruangan yang terdapat mesin USG, agar pemeriksaan rahimnya nampak lebih jelas lagi.
Mira berdebar entah mengapa. Rupanya ia memang betul-betul sedang hamil berdasarkan mesin USG itu. Dan janinnya berusia sudah 4 minggu di dalam perutnya.
Air matanya luruh seketika. Bagaimana bisa ia malah mengandung di saat hubungannya dengan Athar sedemikian buruknya. Athar sedang menggantung hubungan mereka. Tapi kenapa mesti ada anak yang hadir sekarang?
"Kenapa?" tanya dokter itu. "Apa ini ... hasil dari hubungan dengan kekasih kamu?"
Mira mewek. Tangisnya pecah tanpa malu. "Mending pacar, bu dokter. Lah dia udah jadi suami saya. Gimana dong?"
"Lho kok malah menyesal karena punya suami?" dokter wanita itu malah bingung dibuatnya.
Maka Mira hanya menggeleng saja. "Lagi ada masalah rumah tangga, bu. Ehhh ... saya malahan hamil. Makanya saya jadi sedih begini."
"Justru dengan hadirnya buah hati di tengah-tengah kalian, itu akan membuat rumah tangga kalian lebih baik lagi, lebih bahagia lagi."
"Gitu ya, bu?"
"Iya."
"Tapi kok saya bisa hamil ya, bu? kan saya udah suntik KB tuh sejak menikah. Maksudnya sih mau menunda sampai saya lulus kuliah dulu, baru deh punya anak."
"Yang namanya KB itu buatan manusia. Sebagus apapun, sesempurna apapun buatan manusia, itu gak akan bisa mencegah ketentuan sang Pencipta. Jadi KB itu hanya semacam usaha manusia, tapi yang berhak memutuskan ya hanya Tuhan."
.
"Lo sakit apa? Kasih tau gue," cecar Pram begitu Mira keluar dari ruangan dokter tadi.
"Gue gak sakit."
"Ah masa? Mana mungkin. Orang tadi lo pucet banget, ya, kan Put?"
"Iya," Puput setuju. "Jalan aja sempoyongan dan mesti dipapah sama kita-kita, masa nggak sakit? Trus lo ngapain lama banget di dalam sana? Main congklak dulu sama bu dokter, hah?"
Mereka telah keluar dari klinik dan menunggu taksi lain yang akan membawa mereka menuju mall, di mana Abay telah menunggu.
"Gue abis curhat sama bu dokter."
"Ih wow, kiran nobar drakor sama bu dokter," Pram mulai jengah.
"Tau gak ..." ucapan Mira membuat keduanya menoleh dan menunggu kelanjutan kalimatnya. "Gue hamil. Huaaaaa ...."
...🍑🍑...
Mira memutuskan untuk tidak memberitahu apa pun masalah yang sedang di hadapinya kepada keluarganya. Begitupun dengan masalah rumah, maka ia tidak berniat pulang ke rumah Athar dalam waktu dekat. Atau lebih tepatnya hingga Athar kembali dan membawanya pulang.
Saat Mira menyadari bahwa tak ada lagi bodyguard yang menjaganya bahkan setelah ia tiba di Bogor kembali, maka saat itulah keputusannya untuk tidak pulang ke rumah suaminya yang saat ini tak ada tuan rumahnya di sana. Karena dengan ketiadaan bodyguard seperti biasanya, Mira dapat menyimpulkan bahwa Athar memang tengah menggantungnya, atau mungkin melepasnya.
Untuk menyiasati dari keluarganya bahwa ia sebenarnya tidak pulang ke rumah Athar, maka Mira memutuskan untuk menumpang di rumah Pram yang ibunya secara kebetulan akan berada di Jakarta untuk merawat sang nenek dalam waktu yang tak dapat ditentukan. Sedangkan hanya ada ayahnya yang setiap hari pergi bekerja. So, rumah Pram adalah tempat yang paling pas untuk Mira bersembunyi dari keluarganya.
"Seriusan orang-orangnya Athar gak ada nyariin lo sejak kemarin?" tanya Pram.
"Pak Teguh ada telpon gue beberapa kali. Tapi kan gue bilang kalo gue mau di rumah mama dulu sementara waktu ini."
"Trus dia percaya gitu aja?"
Mira mengangguk yakin. "Buktinya dia gak ada telpon gue lagi."
"Trus ... sekarang lo mau kemana tuh?" tanyanya saat dilihatnya Mira sudah rapih.
"Mau pulang," sahut Mira sambil memakai sepatunya. "Hari ini Sheli nyuruh gue buat nyobain baju."
"Baju buat?"
"Oh iya, gue belum cerita. Sheli bakalan menikah minggu depan."
...💘💘💘...
Selamat menjalankan ibadah puasa buat yang menjalankannya. 😊
.