AL-THAR

AL-THAR
#25. Perkara Jaket ... lagi.



Saat situasi canggung ini terjadi dalam hidupnya, Mira menduga kalau Athar bakalan langsung balik kanan dan ngambek untuk menjauhinya. Namun, yang terjadi rupanya adalah ...


Langkah lebar Athar yang tahu-tahu sudah menghampirinya, lalu menarik tangannya dan membawanya pergi dengan sekali tarikan dari area kantin kampus berjalan menuju parkiran.


"Bang Athar, aduh–" Mira terseok-seok mengikuti langkah lebar suaminya itu. "Abang– aku–" upaya protesnya tak berhasil.


"Masuk!" perintah Athar dengan tegas agar Mira memasuki mobilnya.


"Tapi sejam lagi aku ada mata kul–" elaknya yang tak berhasil membuat Athar mengurungkan niatnya.


brak.


Athar tak peduli dengan ucapan Mira sekalipun itu mengenai kuliah. Dia menutup pintu mobilnya dengan kasar dan segera menempati kursi pengemudi untuk langsung menjalankan mobilnya.


Mira terdiam hingga beberapa menit dalam perjalanan. Ia tak berani berkata-kata karena melihat mode sangar Athar sekarang, yang apabila ini terjadi pada zaman mereka belum menikah waktu itu, maka Athar akan membentak-bentaknya dengan panjang kali lebar hingga membuat mereka berseteru tanpa henti. Untunglah status mereka yang telah berubah, membuat Athar amat sangat mengurangi bentakannya–


"NGAPAIN KAMU PELUK-PELUK ROMEO DI DEPAN MATAKU?" sembur Athar sambil fokusnya berada sebagian di jalan raya tempat ia menjalankan mobilnya.


Rupanya Mira salah.


ah sial gue dibentak lagi. kirain udah khatam bentak-bentaknya. ternyata ... ugh!


"A-abang kalau lagi mengendarai jangan marah-mar–"


"JAWAB, AL!"


Mira tersentak hingga tergagap. "I-itu ... anu ... aku gak sengaja,"


"GIMANA GAK SENGAJA? KAMU SUDAH LUPA SAMA AKU? HARUM TUBUH AKU? WAJAH RUPAWAN AKU, HAH? AKU BEDA DARI ROMEO!"


Iya-iya, gantengan Abang kemana-mana dibandingkan Romeo mah. Tapi kan–


"Jaketnya ..." cicit Mira. Padahal pengennya sih dia balas teriak-teriak juga, tapi Mira takut melihat Athar yang marah karena dirinya sendiri memang bodoh dan salah.


"JAKETNYA APA?"


cukup!


"ABANG GAK USAH TERIAK-TERIAK, BISA?" balas Mira tak kalah sewot dan tinggi suara. "AKU KIRA KAN YANG PUNYA JAKET ITU YA CUMA ABANG. MAKANYA AKU SALAH NEMPLOK!"


Athar menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia mendelik tajam ke arah Mira dengan amarah yang tak berkurang. Hanya saja, ia mengurangi satu oktaf nada suara bentakkannya yang selanjutnya masih ia keluarkan untuk Mira.


"Aku gak suka lihat kamu nempel begitu di gendongannya Romeo. Itu artinya Romeo sudah kamu peluk, dan dia ... dia ...."


"Apa?" tantang Mira dengan otak polosnya yang tak sampai dengan pemikiran Athar. "Bang Romeo kenapa?"


kamu sudah nempelin dada kamu di punggungnya. Itu yang hendak dikatakan oleh Athar. Namun kalimat itu tak mampu ia ucapkan, dan hanya tertahan di pangkal lidahnya. Karena mengingat kenyataan itu malah membuatnya semakin murka saja. Bagaimana bisa miliknya, haknya, malah tersentuh oleh sahabatnya sendiri walaupun hanya sekilas saja, tak sengaja pula. Ia benar-benar tidak rela.


"Nanti kamu bakalan aku mandiin."


waduh!


Ini kenapa otak gue sudah mendahului hati gue? Otak? kamu sudah dewasa? iya? tapi hati gue belum dewasa loh,


otak? ish ish ish, kamu kotor!


Padahal dalam fikiran Athar adalah bagaimana caranya ia menghilangkan jejak-jejak Romeo di tubuh Mira. Walaupun jejak itu hanyalah sesaat dan sekilas saja.


"Mulai hari ini kamu gak akan melihat aku pakai jaket itu lagi. Bakalan aku bakar jaket sialan itu."


"Ya jangan dibakar dong, Bang," cegahnya. "Sayang loh, masih bagus. Mending kasihkan aja ke Pak Teguh. Atau si Linggar, atau siapa ..."


"Trus kamu nanti lompat ke arah mereka kalau mereka pakai itu di rumah?" balas Athar tajam.


"Ha?" dia mikirnya gitu sih ya, "Ya nggaklah. Masa aku begitu," elaknya.


"Buktinya tadi kamu begitu!"


Mira berdehem. Ia menyadari kebodohannya yang sudah mendarah daging. "Ya udah sih terserah Abang mau dibuang kemana, asal jangan dibakar aja. Dulu sendal jepit aku dari Ryo udah Abang bakar juga. Abang suka banget ya bakar-bakar,"


"Bagus. Aku bahkan lupa untuk membuang sisa bakaran sendal sialan itu ke laut."


ya ampun lebaynya. Udah kayak film India dia buang abu sisa kremasi ke laut. Padahal ini kan cuma sendal jepit doang kali.


"Perkara jaket doang, Bang ..."


"Jaket doang? Kenapa tadi kamu gak berfikir kayak gitu? Cuma jaket doang yang sama, bukan orangnya."


"Ya kan gak kelihatan dari belakang!" Mira masih membela dirinya. "Kalau kelihatan juga mana mungkin aku lompat ke gendongan Bang Romeo. Untung dia gak panggil aku Juliet ya," gumam Mira di akhir kalimatnya. Dia geli sendiri dengan pemikirannya yang absurd itu.


Athar yang masih kesal tapi sudah kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan kekesalannya, kini hanya bisa memijat-mijat pangkal hidungnya.


"Segitu pusingnya Abang ya sama kejadian gak sengaja kayak gitu," celotehan Mira membuat Athar merentangkan kelima jarinya di hadapan Mira.


"Cukup. Diam! Aku masih marah sama kamu," katanya datar dan memalingkan wajahnya.


"Kan katanya Abang mau mandiin aku?" ada kode yang Mira berikan di balik kalimatnya.


Athar menatap Mira singkat, lalu menyeringai samar, dan berpaling menghadap ke jalananan lagi untuk melanjutkan mengendarai mobilnya.


waduh, godaan gue gak diterima. Apa gue gak semenarik itu? perlukah gue beli bikini? Lingerie lagi?


hei otak! Jalang bener deh kamu!


Perkara jaket yang kedua kalinya dalam hidup Mira, kini membuatnya mesti berhati-hati dengan yang namanya jaket. Kalau dulu jaket Donny yang dibawanya pulang membuatnya viral seantero kampung, kini perkara jaket juga membuat Mira mesti ribut dengan sang suami.


Hufft, hidup!


* *