AL-THAR

AL-THAR
#101. Seminggu



Terkejut bukan main, Mira merasa kalau jantungnya bergerak sangat cepat kala mendengar suara keras itu. Sebelah tangannya segera menyentuh dadanya yang terasa menggila. Di tambah dia mesti menjaga agar kakinya tetap tegak berdiri walau nyatanya ia merasa lemas karena khawatir. Bukan perkara mudah untuk mempertahankan kekuatan baik itu fisik maupun mental di saat tengah hamil besar seperti dirinya.


"Siapa ..." lirihnya dengan nafas tercekat. Bayangan buruk melintasi kepalanya dan memaksa air matanya nyaris tak terbendung.


Namun semua itu tertunda saat sudut matanya menangkap pergerakan Roy yang beralih ke belakangnya. Lantas dengan gerakan lambat kepalanya pun menoleh walau hatinya bergetar hebat karena takut dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Bang–" mata Mira melebar.


Bukan. Bukanlah Athar yang Mira lihat tergeletak di sana. Meskipun seseorang itu meringkuk, tapi Mira yakin kalau itu bukanlah suaminya.


Ini bukan drama. Cerita yang sedang Mira alami sekarang adalah kenyataan. Bagaimana bisa kisah hidupnya terjadi tidak hanya seindah cerita film, melainkan ia mesti mengalami hal-hal yang membuat adrenalin terpacu dengan cepat.


Kakinya melangkah pelan menuju seseorang yang tak berdaya itu, yang ia yakini akibat dari suara keras tadi, yakni suara yang berasal dari senjata api. Salah seorang pengawalnya membalikkan si korban dan menelentangkannya hingga Mira dapat memastikan kalau itu bukanlah Athar.


Mira menutup mulutnya karena terkejut.


Benar. Itu sama sekali bukanlah Athar.


Lalu,


Bagaimana bisa ini terjadi? Bagaimana mungkin?


Akan tetapi ...


Air mata yang sejak tadi bergelayut di pelupuk matanya kini melaju deras tanpa terkendali. Sosok itu memang bukanlah suaminya, namun walau begitu kenyataan tetaplah nampak mengerikan baginya saat ini.


"RYO!" jerit Mira sekuat tenaga sembari berlutut dan segera mengangkat kepala Ryo agar menghadap ke arahnya. "Ryooooo ..." tangisnya mengeras seiring sesak yang ia rasakan memenuhi hatinya. "Kenapa, Ry ... kenapa bisa?"


Ryo bersimbah darah dalam pangkuan Mira. Ia yakin kalau senjata api tadilah penyebabnya. Meski begitu, Mira tetap tidak mengerti dengan adanya Ryo yang menjadi korban di tempat ini.


Mira tidak tega, mendapati Ryo dalam keadaan hampir sekarat tidak pernah ada dalam bayangannya. Bukan karena Mira memiliki rasa istimewa, akan tetapi walau bagaimanapun juga Ryo adalah temannya semenjak sekolah dulu. Sudah banyak cerita yang mereka lalui meski harus ada kerenggangan pada akhirnya.


Bagi Mira, Ryo tetaplah Ryo yang pernah menjadi sahabatnya di masa lalu.


Ketika dia terisak, dia melihat kalau Ryo –yang ternyata masih setengah sadar itu– sedang mencoba menghadirkan sebuah senyuman karena mendapati Mira yang berada di sisinya.


"Mir ..." susah payah suaranya menyebut nama Mira.


"Kenapa kamu di sini, hah? Kenapa?" tanya Mira melemah. Dia masih menangis dan rasa-rasanya tak sanggup berkata lebih sebab darah yang nampak keluar dari dada Ryo terlihat semakin banyak saja.


Di lihatnya Ryo yang mencoba mengatakan sesuatu di sela-sela kesadaran yang Mira yakini sudah tidak seratus persen. Mira yakin kalau rasa sakit saat ini tengah dilawan dan ditahan oleh Ryo, agar mampu mengucapkan apa yang ada dalam pikirannya.


"Aku ..."


Mira buru-buru mengangguk. "Iya, kenapa? kamu kenapa bisa di sini sih? kamu kenapa, Ry ..."


"Aku ... dikasih tau ... Diva ...."


Ya Allah, kenapa begini?


Diva, apa yang dia bilang ke Ryo?


"Non–" Roy menyela karena mengkhawatirkan Mira. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini–"


Hanya gelengan keras sebagai jawaban Mira atas ucapan Roy barusan. Dia memang merasa lemah. Dia merasa tak berdaya menyaksikan Ryo yang seperti itu keadaannya. Tapi Mira merasa kalau sekarang bukan waktunya ia harus pergi.


"Ntar dulu, Roy ..."


"Orang ini akan kita bawa ke rumah sakit."


Oh


"Seb ... bentar ..." itu Ryo yang bicara. Tentu saja membuat Mira menatapnya segera. "Ma ... af, Mir ...."


"Kenapa, Ry?" tanya Mira dengan derai air mata. Ia hampir tidak sanggup bertahan dengan guncangan hatinya.


"Aku ... masih ... sayang kamu ...."


Tangisan Mira memang karena keadaan temannya yang tragis itu. Maka kalimat Ryo barusan tak terlalu mengusiknya sebab bila ia mesti memikirkannya maka Pram adalah satu orang yang akan ia utamakan.


"Sampai mati ... aku ... tetap–" Ryo meringis karena kesakitannya. Sedangkan Mira menggeleng keras. Ia tak mau mendengar apapun lagi. Karena yang terpenting saat ini adalah Ryo yang mesti diselamatkan nyawanya.


"Roy, bawa dia,"


"... Mira ..."


Pengawal Mira itu segera mendekati Ryo dari sisi yang satunya. Namun, tangan Ryo yang berlumuran darah kini meraih tangan Mira. Kepalanya menggeleng keras sembari menatap Mira dengan memohon.


"Kenapa, Ry? Kamu harus segera ke rumah sakit." melihat tatapan Ryo yang bersikeras membuat Mira semakin putus asa dan emosi. "Ryo!"


"A ... aku ... selalu ... cinta ... kamu ...."


Mira menutup mata walau air matanya itu tak surut-surut sejak tadi. Mengapa harus mengatakan hal seperti itu di saat temannya itu sudah menikahi sahabatnya? Bagaimanapun tetaplah salah. Bagaimanapun tetaplah Pram yang mesti dipikirkan oleh lelaki di pangkuannya kini.


Tiba-tiba bau anyir darah Ryo semakin menusuk indera penciuman Mira. Segera ia membuka mata dan menatap Roy. "Ayo bawa dia, Roy–"


"Non,"


"Kenapa?"


Arah mata Roy menuju pada Ryo, maka dari itu mata Mira pun turut merunduk pada temannya yang sedang terkulai lemas.


"Ryo ..." bisiknya getir.


Mata itu ... tak bergerak lagi. Terbuka namun tak berkedip sama sekali. Refleks Mira menepuk-nepuk pipi Ryo sembari menyebut nama sang teman dengan kalap. "Ryo! Ryo bangun, Ry! Ryo! Lihat aku! Ryo! Nggak boleh, nggak boleh begini," dia menoleh kepada Roy, "Ayo Roy, tolongin Ryo! Ayo kita bawa–"


Gelengan pelan Roy membuat Mira tersadar akan sesuatu, hingga dia terduduk dengan tubuh Ryo yang telah dipegang oleh pengawalnya dan segera diletakkan di tanah.


"Mana mungkin ..." teriaknya dengan deraian air mata yang kembali deras. "Ryooooo ..."


...---...


flashback dua jam yang lalu


Setelah mendapat chat panjang lebar dari nomor yang mengaku sebagai Diva, maka tak butuh waktu lama bagi Ryo segera memutuskan untuk pergi ke suatu tempat itu.


"Mau kemana lo?" tanya Pram saat melihat Ryo tengah bersiap dengan jaket dan helmnya.


Senyum manis tersungging dari bibirnya manakala menatap perempuan yang statusnya sudah sah sebagai istrinya itu, akan tetapi juteknya tidak pernah berubah sedikitpun semenjak zaman putih abu-abu dulu.


"Tumben istri aku peduli."


"Gak usah nyindir dan seolah kita itu harmonis ya. Kita itu masih penyesuaian dan belajar untuk menerima takdir. Tapi buat gue pribadi, kalo takdir gue sama lo cuma seminggu ini aja ya udah. Gue gak akan memaksa."


"Yakin cuma mau ngerasain nikah seminggu?" godanya.


"Yakinlah. Kenapa nggak? Hati gue belum berubah. Masih ada orang lain di sana."


"Maksudku, yakin udah siap jadi janda seminggu setelah merried?"


"Kenapa nggak? Gue nggak peduli status. Mau buruk atau baik, itu terserah orang yang mau menilai. Bukan urusan gue. Karena yang terpenting bagi gue itu adalah isi hati kita, perasaan kita."


"Jadi kamu sudah gak tahan sama pernikahan kita ini?"


"Gue nggak ada bilang begitu ya."


"Lalu?"


Pram tergagap. "Gue cuma ... ya cuma nawarin solusi atas masalah kita."


"Jadi menurut kamu pernikahan kita adalah masalah?"


"Jelas. Tentu. Absolutely."


Ryo pura-pura berpikir. "Hm, seminggu doang nih jadinya?"


"Masih nanya juga."


"Ya udah, aku pikirin ntar kalo sudah pulang," putus Ryo seraya berjalan menuju pintu. Saat ini mereka masih berada di rumah Pram sebelum rencana selanjutnya akan bagaimanakah hidup keduanya.


"Heh, lo mau kemana sih?"


"Penasaran?" Ryo menggerak-gerakkan kedua alisnya yang membuat Pram menatapnya sengit.


"Penasaranlah. Gue penasaran gimana rasanya jadi janda padahal baru seminggu merried," balas Pram.


...****...


Raju besok ya.