AL-THAR

AL-THAR
#38. Kamu Di mana?



Selamat malam dan selamat membaca! Paling enak bacanya itu sambil rebahan. #eh apasi 😂


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Lo mau kemana?" tanya Mira saat melihat kakaknya itu ngeloyor pergi meskipun telah bertubruk mata dengannya yang berjalan di arah yang berlawanan.


Shelia cengengesan. Di tangannya saat ini ada sebungkus makanan ringan yang berjenis chiki-chikian Mira tebak. "Gue mau pergi lihat bule."


"Hah?"


"Gue ngidam lihat bule masa."


Mira gak habis fikir. "Dih, kok bisa?"


"Ya bisalah. Kangen kayaknya udah lama gak lihat bule. Si baby ... mungkin kangen bapaknya." ada nada murung nan getir di akhir kalimat Sheli. Tapi segera dia melupakannya dan kembali membuat raut wajahnya ceria kembali. "Biasa, kalau bumil itu gampang bapereu."


"Hey, Tae gue–"


"Anak gue bakalan mirip sama Tae."


Mira gak terima. "Enak aja!"


"Kenapa? lo pengen juga? udah ada jabang bayi belum?"


Mira menggeleng.


"Nah, mending sana cetak dulu, baru deh nanti kita buktikan anak siapa yang lebih mirip sama Tae. Anak gue, atau anak lo?"


Sekarang Mira menghela nafas. "Seolah Tae yang hamilin kita ya,"


"Ho oh, gak guna banget omongan kita. Lagian, anak lo ya bakalan mirip sama Athar kali. Sama bapaknya. Ngapain jadi fitnah Tae? Udah ah, gue mau cus dulu–"


"Eh eh, nanti kalau ada Dennis lagi gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana. Orang Dennis biasa aja ke gue."


"Serius dia gak ada mengancam lo, kan?"


"Nggak. Berapa kali sih lo mesti nanya begitu, Mir? Seriusan si Dennis cuma tegur sapa biasa ke gue. Dia ramah."


"Trus lo nya?"


"Gue ya sebodo amat. Bukannya gue gak mau ada di pihak lo. Tapi, gue mesti menjaga hati gue agar supaya nggak membenci dia. Kan kalau nanti gue benci dia trus anak gue jadi mirip sama dia bisa berabe. Malahan kagak ada bapaknya."


"Ya udah sih, yang penting lo gak diapa-apain dia. Gitu aja menurut gue."


"Kan yang dia taksir tuh lo, yang bakalan dikejar ya lo, eh–" Sheli menutup mulutnya dan celingukan. "Bodyguard lo mana? Barusan gue salah omong deh,"


"Bang Athar lagi ngobrol sama tamunya."


"Oh, biasanya kan kalian itu selalu nempel dimanapun kalian berada. Bikin iri aja."


"Dia yang nempelin gue,"


"Eleh, sama bae." Shelia baru saja hendak melangkah, saat disadarinya wajah sang adik yang agak ... suram. Dia urung melanjutkan langkah dan lebih mendekat ke arah Mira. "Komuk lo buram sih?"


Refleks Mira memegang wajahnya. "Muka gue ngeblur ya?"


Shelia tertawa. "Kenapa lo? Jelek banget ih!"


Mira mencebik. "Gue lagi cemburu."


"Duile, cemburu. Gue tebak Athar tamunya cewek nih pasti? Kalau udah tahu ada saingan, kenapa lo tinggalin dia? Nanti dia dicaplok sama betina garong kan repot."


"Tamunya dia cowok sih, cuma sama cewek juga emang," Mira enggan membahas hal yang membuat moodnya buruk. Karena ternyata tadi di pantai ia tidak berhalusinasi. Nyata, cewek itu nyatanya ada.


"Ya udah, sana jagain laki lo dari sambaran geluduk."


"Nggak ah, gue mau nyariin Mama aja."


"Lah kenapa?"


Mira menggeleng pelan.


"Oh ya terserah."


Sheli yang sudah berjalan dua langkah, tiba-tiba Mira memanggilnya karena teringat akan sesuatu yang terasa amat penting. "Sheli."


"Apa lagi?" ia menoleh ke arah Mira kembali.


"Kapan lo mau ketemu sama Bryan?"


"Kenapa lo bisa tiba-tiba tanya kayak gitu?"


"Ya nanya aja sih ..."


Shelia terlihat berpikir. "Hm ya ... ntar dulu deh. Biar gue chat dulu, basa basi dulu. Baru nanti gue bakalan ketemu dia, mungkin."


Sebenernya Mira bingung, ia harus memberitahu siapa lebih dulu. Apakah Sheli ataukah mama karena ternyata Bryan saat ini sedang berada di tempat yang sama dengan mereka.


Namun sebuah keputusan mestilah segera dilakukannya.


.


.


Saat ini Athar yang telah menyelesaikan makan siang setengah jam yang lalu, kini ia masih menempati di salah satu meja yang ada di sana. Di hadapannya ada Martin, salah seorang adik kelas sekaligus anak dari rekan bisnisnya sejak lama. Ia datang mewakili sang ayah yang saat ini sedang berada di luar negeri. Di sana juga duduk seorang gadis yang akan selalu menarik perhatiannya seperti dulu, saat mereka masih menjalani masa putih abu-abu.


"Kenapa sih, Kak? Dari tadi lihat jam terus," gadis manis yang kini tengah menatap Athar itu segera dibalasnya dengan senyum manis.


"Nggak apa-apa."


"Aku kangen ih sama Kakak," gaya manjanya memang tak akan pernah berubah, meski statusnya sudah bukan anak SMA lagi.


"Kamu udah ngomong berapa juta kali sih, Lis?"


"Gak usah pake aku kamuan deh, Mar. Plis deh, kita kan gak sedang pacaran."


"Jailah, jaim dikit di depan Bang Athar kali. Dia aja aku kamuan sama istrinya."


"Ya wajarlah sama istri. Lah kita?"


"Calon suami istri," ucap Martin dengan setengah bercanda.


"Gubrak! Calon dari mananya? Dari dulu gue kan udah sukanya sama Bang Athar," ucapnya sambil tersenyum lebar. Kedua tangannya menopang dagu dan menatap Athar dengan berbinar. "Bang Athar itu makhluk Tuhan Yang Paling Seksi."


"Dasar betina! Kemarin sama Bang Andre juga bilang begitu,"


"Masa?"


Refleks Athar mengusap pelan kepala Larissa. "Jangan ribut mulu, nanti jodoh sama Martin, gimana?"


"Marta?" mata Larissa membola. "Idih, najis amit-amit."


"Heeeh,"


"Hehe ... aku kan maunya sama Bang Athar. Kenapa Bang Athar gak tungguin aku aja sih? kan aku sedang menyiapkan diri menjadi calon istri."


"Kamunya main melulu,"


"Iya sih. Ah itu kan gara-gara teman-teman aku," keluhnya. Ia menyeseli dirinya yang mudah terlena dengan acara main-main anak seumurannya, dan melupakan bahwa ia juga memiliki seseorang yang istimewa buatnya. Dasar gue anak-anak!, bathinnya.


"Gue aduin ke Gea loh ya," ancam Martin berpura-pura.


Larissa mencebik. "Jangan jadi penghianat. Kita-kita itu sahabat forever."


Martin membalas hanya dengan menggerakkan kedua alisnya sesaat.


"Eh tuh kan, aku salfok lagi." Larissa menatap Athar lagi. "Aku jadi istri kedua aja deh, Bang. Hehe ... buka lowongan gak nih?"


.


.


Athar sudah memeriksa kamar hotel, tapi tak ada jejak Mira di sana. Kini ia tengah sibuk memerintahkan beberapa anak buahnya yang ada bersamanya, untuk lekas mencari keberadaan Mira di tiap sudut lokasi mereka saat ini, bahkan kalau perlu seluruh Bali.


Tak bisa ia menerima andai saja ini adalah ulah dari Dennis sebagai dalang dari hilangnya Mira. Kalau sampai itu terjadi, maka tak akan pernah ada kata maaf untuk Dennis hingga keturunannya nanti. Athar benar-benar akan murka semurka-murkanya.


"Gimana, Thar?" Shelia yang turut panik kini tak sabar mendapat kabar darinya.


Perihal hilangnya Mira sudah dua jam ini memang hanya diketahui oleh Athar serta Mama, Shelia, serta Ghani. Bahkan Dirga yang posisinya masih berada di Bali namun telah pindah hotel bersama Sabrina, istrinya, tidak Athar beritahu.


"Tenang aja, Shel, gue bakalan cari lebih teliti lagi."


"Ya ampun, itu anak raib kemana sih," gumam Shelia yang tak mampu menutupi rasa khawatirnya. "Gak mungkin diculik kan?! Rugi penculiknya. Makannya si Mira kan banyak." ia melirik Athar saat disadarinya kalau ucapannya barusan adalah hal yang tak baik bila didengar oleh Athar.


Benar saja, kontan Athar melangkah pergi meninggalkan Shelia begitu saja.


Athar kini telah berjalan menyusuri pantai dengan tangan tak henti-hentinya melacak hp Mira yang mendadak hilang dari radarnya. Tak pernah rasanya hatinya sekalut ini, setakut ini akan terjadinya hal buruk pada seseorang. Dalam hidupnya, tak pernah ia seserius ini dalam mempercayai dan mencintai wanita. Hal yang tak pernah terduga akan dialami oleh hatinya.


Ia mengingat lagi bagaimana perasaan bencinya dulu, ketika pertama kali bertubrukan dengan Almira. Seorang cewek yang terlihat terlalu biasa dalam standar seorang Athar dalam menilai wanita. Serius, ia sebenci itu kepadanya. Karena fikirannya kala itu sedang kacau balau, karena keluarga Garin lagi-lagi mampu mematahkan jebakannya. Dan pertemuan ketidak sengajaan dengan Almira merupakan sebuah kutukan, disaat sendal jepit adalah hal yang membuat otaknya langsung mengingat dengan jelas seberapa bentukan wajah gadisnya kala itu.


Sungguh Athar sangat membenci Almira saat itu dengan sepenuh hati.


Namun ketika akhirnya situasi lagi-lagi membawanya pada takdir buruk untuk ditemukan oleh seorang penghuni kampus dalam keadaan hampir mati, adalah merupakan hal yang sangat terpaksa dilakukannya untuk berdekatan dengan Almira lagi. Sekalian, niatnya dulu itu adalah untuk membalas atas sendal jepit sialan yang masuk menjadi pengganti rotinya yang berharga.


Athar menggeleng pelan. Senyum bahagianya terbit begitu menyadari betapa ia menikmati saat-saat pertengkarannya dulu dengan Almira di rumah sakit. Wajah polos dan lucu itu mampu membuat hatinya bertekuk lutut dalam waktu singkat. Dirinya yang terbiasa dengan tingkah Almira malah membuat sisi egois hatinya yang tak mampu untuk menampik lebih lama rasa itu. Rasa takut akan kehilangan seseorang. Rasa untuk segera memiliki dan bersama selama sisa hidup.


Baru hitungan bulan ketika akhirnya takdir memang menghendakinya untuk berjodoh dengan Almira. Mungkin terlalu dini bila ia mengatakan kalau hidupnya kini terasa bahagia, pilihannya terasa benar bersama Almira. Ah, apalagi memangnya kalau bukan bahagia?


Athar tahu kalau kebahagiaan apapun yang dimilikinya suatu saat nanti akan dapat dengan mudah terenggut dan hilang dari genggamannya. Terlebih, ketika salah seorang musuhnya mengetahui letak titik lemahnya kini dan itu sungguh membuat sudut hatinya tak pernah berhenti untuk mengingatkan agar tidak lalai dan tidak lupa kalau ia mestilah siaga atas segala kemungkinan.


Apakah benar Dennis pelakunya? atau orang suruhan keluarga Garin lainnya? atau mungkin Ryo, si bocah sialan yang kini terang-terangan merasa memiliki Almira dalam bentuk porsi yang lain?


Entahlah, Athar sedang tak mampu menduga-duga. Semua bisa saja terjadi. Dan ia tak mampu membayangkan hal buruk apa yang sedang dialaminya kini, sedang dialami istrinya kini.


Langkahnya terhenti untuk menghadap deburan ombak di kejauhan. Padahal baru saja hitungan jam ia merasakan kehilangan, namun entah mengapa rasanya sudah seperti hitungan tahun saja.


Athar terlalu khawatir hingga seakan ia tak sanggup untuk bernafas. "Kamu di mana, Al?" bisiknya bersama angin.


...* * *...


Kencengin dwonk semangatnyaaaaaa 😆😆😆


*