
Lanjutkan sajaaah!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mira menangis lagi di dalam pelukan Athar ketika suaminya itu telah sampai di dekatnya. Dia tumpahkan lagi semua rasa yang ada di dadanya meskipun tadi ia sudah banyak menangis.
Athar pun membiarkan Mira menangis sebentar, sambil tangannya mengusap kepala Mira dan bibirnya mengecup kepala istrinya itu sesekali.
"Kita duduk dulu ya," bisik Athar yang diangguki oleh Mira.
Setelah keduanya duduk di kursi, Mira sadar akan sesuatu, "Loh, Ghani kemana?" tanyanya sambil celingukan.
"Dia masuk ke kamar ini," Athar menunjuk kamar rawat Shelia pastinya. "Kamar siapa ini? Ayo cerita, aku harus tahu."
Mira mengangguk pelan. Dia menerima sodoran sebotol air mineral dari tangan Athar. Setelah meneguknya beberapa kali, dia pun mulai bercerita. "Sheli ... dia ..." tak mudah bagi Mira untuk mengatakan apa yang dilihatnya tadi. Kejadian itu sedikit banyak membuat trauma di dirinya. Mengenai darah, Shelia yang terluka, terpejam, dan tenggelam ... dengan terbata ia ceritakan kembali kepada Athar tentang peristiwa yang terjadi keada kakaknya. Kemudian Athar yang langsung memeluk dirinya di akhir cerita.
"Ssssshhhh ... jangan nangis, Al ...."
"Kebayang gak kalo aku gak ke kamarnya, Bang ... apa yang terjadi sama Sheli .... bayinya .... hiks,"
"Nanti aku cari tahu siapa yang menghamilinya. Kamu tenang aja,"
"Iya ..." Mira mengangguk. "Kita masuk yuk, siapa tahu Sheli udah sadar. Aku pengen pastiin dia gak papa. Aku harus menghibur dia, terlebih syukur-syukur kalau dia mau terbuka sama kita."
"Ya udah, kamu aja yang masuk. Aku tunggu di sini aja."
"Loh kenapa? Abang gak mau masuk ke dalam nih?"
"Biar Sheli tenang dulu, dia pasti hancur banget kan perasaannya sekarang. Semoga kamu bisa menghibur dia, lalu membuat dia dapat terbuka dengan kalian adik-adiknya, baru nanti aku bakalan menyusul masuk."
Mira mengangguk mengerti. "Ya udah, aku ke dalam dulu."
Athar mencium kening Mira singkat. "Jangan menangis lagi. Aku gak suka lihat kamu menangis loh. Aku tunggu di sini ya."
.
.
Mira mengusap lembut kepala Ghani. Entah mengapa dia paham apa yang Ghani rasakan saat ini. Posisinya sebagai satu-satunya laki-laki dalam keluarga, yang otomatis menggantikan almarhum Papa untuk menjaga ketiga wanita dalam keluarga mereka, pastilah membuatnya terpukul dengan apa yang dialami oleh Shelia. Kalau Mira sekarang telah memiliki seseorang yang bertanggung jawab atas dirinya, maka lain halnya dengan Shelia.
Sudah sejak lama kalau Mira ingat lagi, betapa Papa menginginkan Shelia untuk segera menikah. Dia paham perasaan sang Papa yang khawatir akan anak gadisnya yang berada jauh di negeri orang. Namun satu-satunya alasan pendidikan dan cita-cita masa depanlah yang membuat Papa terpaksa mengizinkan putri sulungnya itu untuk hidup di tempat yang jauh dari pandangan matanya.
Sudah menjadi rahasia umum kalau kehidupan di luar negeri itu seperti apa. Tapi selama ini Shelia selalu dapat meyakini kedua orang tuanya, dan adik-adiknya kalau dirinya adalah anak yang dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Dia dapat menjaga diri lahir bathin dari kehidupan liar dunia yang jauh dari pengawasan keluarganya. Maka berkat ucapannya yang selalu dapat meyakinkan keluarganya itulah, selama ini semua berjalan terkendali sesuai dengan kemauannya.
Lantas mengapa sekarang Shelia malah hancur seperti itu? Mira merasakan pedih di hatinya. Kini tangannya beralih dari kepala Ghani menuju tangan sang kakak yang terdapat perban untuk menutupi luka sayatannya.
"Dia belum sadar?" tanya Mira lirih, bermaksud kepada Ghani.
"Belum."
Mira menghela nafas dalam diam. Dia tak tahu bakalan seperti apa derasnya air matanya nanti saat Shelia akhirnya bangun dari tidurnya. Ia sudah bertekad, seberapa pahit kenyataan yang akan diungkap kakaknya itu, maka Mira tidak akan menghakimi apapun takdir Shelia. Setelah selama ini, sejak mereka kecil dan tumbuh bersama, Shelia-lah yang mengalami lebih banyak kebahagiaan dan keberuntungan hidup dibandingkan Mira. Maka ketika akhirnya derita hidup miliknya itu datang ... sungguh luar biasa, pikir Mira. Sesuatu yang tak pernah ia duga akan terjadi pada seorang Shelia.
Sebulir air mata tiba-tiba mengalir dari pipi Shelia yang terlelap, dan itu tak luput dari mata Mira.
Ya Allah, Shel ... kenapa hidup lo bisa begini? kenapa, Shel? Lo yang takdirnya selalu mendapat hal-hal yang bagus ... kenapa mesti harus mencoba membunuh diri lo? Bahkan bukan cuma lo yang bakalan lo bunuh, Shel ... tapi anak lo juga ....
Seketika saja ia merasa kalau tangisnya pecah tanpa suara. Ia menjaga agar hanya ada derai air mata yang mengalir deras itu terus dalam kebisuan. Hingga tanpa ia sadar, saat akhirnya suara isakkannya lolos juga begitu saja dari mulutnya.
Ghani memegang tangan Mira yang saat ini berada di atas tangan Shelia. "Jangan nangis ..." suara lirih Ghani malah membuat Mira ingin menangis sekencang-kencangnya.
Papa ... maafkan kami anak-anakmu ... kami yang tak mampu menjadi anak-anak yang baik setelah kepergianmu ...
"Gue gak sanggup, Ghan ..." Mira menutup mulutnya dan berbalik langkah cepat untuk segera keluar dari ruangan itu.
* * *
Sekarang kalau mau vote pakai koin, lewat hadiah ya bentukannya. Jadi mesti beliin Althar bunga atau kopi ya, itu kalau pakai poin. 😂😂
Makasih. 😘
Buat yang udah kasih tips lagi, vote lagi, dan hadiah lagi .... tengkyuuuuu 😘😘😘
*