
"Haha," Mira tertawa garing. "Bohong banget lo, Pram."
dijodohin sama Ryo? mana mungkin.
"Seriusan, Mir. Gue gak bohong kali ini," jawab Pram. "Ini semua bermula sejak lo merried. Nyokap gue ketemu sama nyokapnya Ryo. Dan ternyata mereka adalah anggota arisan yang sama dua tahun yang lalu. Tepatnya sebelum Ryo dan nyokapnya pindah ke Jepang. Makanya waktu itu mereka senang banget berhasil ketemu lagi setelah sekian lama."
Mira masih melongo tak percaya. "Apa sih, Pram? Seriusan lo dijodohin sama Ryo?" Mira mengulang hal yang belum diyakininya.
"Gue juga nggak mau, Mir. Gue gak suka sedikitpun sama Ryo. Gue tuh cintanya sama Raihan. Titik."
Baru kali ini Mira melihat seberapa menggebunya Pram dalam berbicara. Bahkan dalam pelajaran saja Pram tak seantusias itu. Tapi begitu menyebut nama Raihan, gadis itu berubah. Dia nampak bersemangat.
"Ry-Ryo cakep kok, Pram." Ada sedikit rasa keberatan di hati Mira saat memikirkan bagaimana bila Pram benar menjadi jodohnya Ryo. "Baik lagi."
Pram menggeleng keras. "Gue tau Ryo sebaik itu, sesabar itu, bahkan setelah lo tolak pun dia tetap gak marah. Tapi mau gimana lagi, hati gue mentok di Raihan. Gue maunya Raihan, bukan Ryo!" tegasnya.
Mira mendesah pelan. "Ada baiknya lo coba dul–"
"Stop! Lo jangan ikut-ikutan orang tua gue yang maksa jodohin gue sama Ryo. Hati gue gak ada rasa sama sekali sama dia. Jadi percuma kalaupun lo setuju gue sama dia. Bener-bener ya, gue tuh melihat Ryo cuma sebagai teman doang. Gak lebih."
"Iya-iya," Mira menyeruput minumannya. "Segitunya, ntar cinta datangnya terlambat gimana hayo?"
"Jangan doain yang buruk. Masalahnya gue udah punya pacar yang gue suka. Jangan bikin drama-drama baru dalam hidup gue deh." Pram kini mengamati raut wajah Mira. "Ada juga gue yang curiga. Jangan-jangan lo masih ada rasa gitu sama Ryo?"
Mira mendongak. "Sejak kapan gue punya rasa sama Ryo?" protesnya. "Mungkin iya sempet ada rasa-rasa naksir sedikit, tapi itu dulu. Sebelum Athar menguasai hati gue yang bodoh ini."
Pram berdecak. "Ya ya ... semoga langgeng deh ya sama jodoh lo."
"Ya aamiin lah. Semoga nanti sampai selamanya." Senyum Mira merekah.
...* * *...
Ryo menghampiri Hinata yang saat ini menunggunya di kursi taman. Gadis yang selalu terlihat cantik itu memngulurkan sebuah botol minuman dingin kepadanya.
"Terima kasih."
"Iya."
Setelah menenggak hampir separuh botol minumannya, Ryo menoleh singkat kepada Hinata yang saat ini tengah menatapnya.
"Ada yang salah?"
Hinata menggeleng. "Tidak. Aku hanya kagum seberapa tampannya kamu sekarang."
"Ah, sudah berapa lama ya aku syuting?"
Menggunakan jarinya, Hinata terlihat berfikir. "Dua bulan."
"Secepat itu?"
"Iya. Kenapa?"
"Sudah dua bulan pula aku terlihat lebih tampan, bukan?"
Hinata tersenyum manis. "Ah iya. Betul sekali. Sudah dua bulan ini kamu terlihat tampan." ia setuju. "Lalu kapan syutingmu berakhir?"
"Lusa. Lusa adalah scene terakhir bagianku."
"So, setelah itu? Kamu jadi liburan?"
Anggukan Ryo membuat Hinata sadar kalau harapannya agar sahabatnya itu mengisi liburan bersamanya kandas sudah. Sahabat tetap akan menjadi sahabat, begitu pikirnya. Meskipun keegoisan di hatinya tak dapat ia pungkiri kalau rasa berbeda itu ada.
Tangan Ryo terulur untuk membelai kepala Hinata dengan lembut. "Don't be sad! Aku akan membawakanmu oleh-oleh. Kamu mau apa, hm?"
aku mau kamu. "Apa saja. Asalkan tidak merepotkan."
"Oke. Tapi ... bagimana bila aku enggan untuk pulang kesini lagi?"
"Maka aku akan menyusulmu," jawab Hinata langsung.
Kedua alis Ryo terangkat. "Serius?"
"Tidak." Hinata murung. Kehilangan Ryo adalah hal terakhir yang diinginkannya. "Aku memiliki kehidupan di sini."
Ryo mengangguk setuju. "Aku tahu."
"Bagaimana dengan ibumu?"
Ibu? Ryo sudah tak terlalu memikirkan bagaimana ibunya akan berulah ataupun bertingkah. Selama satu hal itu ia menuruti, maka sang ibu tak akan menyusahkannya dengan hal lain lagi.
"Dia akan melakukan apa yang dia mau. Dan aku juga akan melakukan apa yang aku mau."
"Lalu dengan perjodohan itu?"
Ryo tersenyum manis untuk menenangkan. "Jangan pikirkan masalahku! Gadis itu adalah sahabatku. Jadi, aku akan menangani urusan yang menjadi urusanku. Dan sisanya, biar ibuku yang menanggungnya."
Mata Hinata sedikit tercengang. "Apa maksudmu, Ryo?"
"Ah, tidak ada."
...* * *...
"Perut lo udah buncit aja, Shel?" Mira memandangi lekat-lekat perut sang kakak yang ada di hadapannya itu.
"Gak berasa ya udah empat bulan aja. Woah, hebat!"
"Apanya yang hebat? Makanya, lo segera nyusul punya anak juga. Biar gendut juga lo saingan sama gue."
Mira bergidik diam-diam. Baik dirinya maupun Athar sama-sama masih menikmati pacaran setelah menikah. Dan mengenai urusan anak, tak menjadi prioritas mereka dalam waktu dekat. Athar baru saja wisuda. Fokusnya kini sudah pasti dengan karirnya. Sedangkan Mira, masih menjalani kuliah yang terasa menyenangkan karena dunia masa mudanya seolah tak kan pernah berakhir.
Athar pun selalu mengawasinya secara ketat bagaiamana ia menjalani sekolah tinggi itu dengan sungguh-sungguh.
"Santuy gue mah. Kata bang Athar, yang penting gue sarjana dulu. Banggain Mama dan almarhun Papa. Serta dapat membuktikan kalau gue menjadi anak yang dapat bertanggung jawab dalam hal pendidikan. Kan lo tahu seberapa beratnya pelajaran berlari-larian di dalam otak gue. Maka wisuda adalah satu pencapaian yang mesti gue gapai."
"Pikiran lo begitu?"
Mira menggeleng. "Nggak. Pikiran Bang Athar kan gue bilang."
Shelia mendesah. "Ya iyalah, bagus. Kan emang sudah menjadi cita-cita Papa kalau ketiga anaknya akan lulus menjadi sarjana. Bagusnya juga, Athar lebih mengerti ketimbang diri lo sendiri."
"Iya sih," ucapnya jujur.
"Trus resepsi lo udah berapa puluh persen persiapannya?"
"Sembilan puluh sembilan persen bereslah kata WO nya."
"Lha sisanya?"
"Ada undangan yang belum gue sebar."
"Itu sih bukan urusan WO. Kan temen-temen di kampung lo doang kan yang belum lo undang? itu juga tinggal si Lukman sama Ridho yang belum ketemu rimbanya di mana."
"Iya. Yang satu persen itu milik Tuhan, Shel."
"Bagus deh. Gue lega. Seenggaknya kalau lo udah resepsi, tinggal mikirin masalah gue sendiri aja."
"Kenapa resepsi gue jadi lo yang mikirin?"
"Ya kan gue gak enak sama ipar gue, kali, si Athar. Gara-gara masalah gue, resepsi kalian jadi tertunda."
"Nggak apa-apa, Shel. Tenang aja."
Sheli mengangkat kedua kakinya ke sofa agar bisa ia luruskan. "Btw, si Pram yang undang Ryo?"
Mira mengangguk.
"Yakin lo Ryo mau diundang? Athar udah gak masalah?"
"Gue udah yakinin dia. Dan Bang Athar kasih izin dengan satu syarat."
"Apa?"
"Gue gak boleh ngobrol banyak sama Ryo. Cukup terima salam dan ucapan, nggak lebih. Nggak ada empat mata ataupun mendekati."
Shelia terkekeh. "Ternyata Athar masih siaga ya walaupun kalian sudah menikah."
Mira mengangguk setuju. "Iya. Seolah Ryo berpotensi menjadi pebinor. Padahal Ryo nggak ada bakat kesana. Dan gue juga udah biasa aja."
"Ya bersyukurlah lo yang telah mendapatkan jodoh sebaik dia."
gue bersyukur kok. Bersyukur banget malah.
"Iya. Gue udah banyak bersyukur dengan hidup gue. Termasuk dengan hadirnya keponakan yang Tuhan kasih dan saat ini masih berada di dalam perut lo."
Shelia tersenyum. Tak kalah dengan yang dipikirkan oleh adiknya, maka Shelia pun kini bersyukur dengan anak yang dikandungnya meskipun tanpa seorang ayah. Apalagi dengan sang Mama yang walaupun terkadang masih suka menyindir, tapi keadaannya sudah dapat menerima dirinya dan jabang bayinya.
"Debay, ini Tante ya. Kamu jadi anak manis kalau bundamu sedang bekerja. Okey?" Mira mendekatkan wajahnya ke dekat perut Shelia dan mengajak ngobrol calon keponakannya.
"Anak gue mah anak baik. Dia selalu tenang kalau gue lagi kerja."
"Lo nggak masuk dapur kan kerjanya?"
"Nggaklah. Bisa muntah gue kalau kerja di dapur. Ya untungnya bagian pembukuan ada posisi yang kosong. Jadi selain gue memberi ide pada menu-menu, gue juga bantuin Mbak Hazel mencatat laporan. Mungkin akhir bulan ini kalau mual gue sudah berlalu, baru deh gue kembali ke dapur lagi."
"Apapun ya, Shel, apapun yang baik-baik mesti dijalani. Hidup itu baik kalau kita memilih yang baik. Dan hidup juga bisa menjadi buruk kalau kita memilih yang tidak baik."
"Sok tau! Jangan sok nasehatin gue! Lebih jenius otak gue dibandingkan lo!" Sheli sudah kembali menjalani perannya menjadi bawang merah, setelah tadi ia kerasukan ibu peri.
Mira memutar bola matanya. Ia bangkit dari sofa dan berjalan menuju pintu.
"Tumben lo semangat banget mau pergi kuliah?" tanya Sheli sebelum Mira mencapai pintu.
Mira menoleh kembali kepada kakaknya dan menyunggingkan senyum semangatnya yang mengandung banyak arti.
"Semangat dong! Setelah kemarin Pram, Puput sama Abay nyebar undangan gue di kampus, maka hari ini gue penasaran gimana sih sambutan kaum hawa dan kaum sosialita di kampus yang selama ini matanya cuma bisa melihat wujud bang Athar doang tanpa bisa melihat dan menerima takdir kalau gue adalah cewek yang beruntung, yang dapat bersanding dengan senior nomor wahid di kampus. Gue pengen melihat reaksi mereka, dan membuat mereka melotot dengan kenyataan kalau gue merried dengan Bang Athar." kalimat panjangnya yang menggebu-gebu diakhiri dengan tertawa lantang yang membuat Shelia mengusap-usap perutnya.
...* * *...
Jangan lupa like, komen, n vote ya.
Oh ya, part Ryo itu sebenernya terucap dalam bahasa Jepang ya, tapi udah aku translate. 😆
*