
"APA SIH, MIR? LO BIKIN GUE KAGET AJA!" seru Abay terkejut hingga menginjak remnya tiba-tiba. Dia mendelik pada cewek hamil yang bisa jadi masalah besar kalau sampai kena lecet. Tentu masalah itu datangnya dari sang juragan yang statusnya adalah sebagai calon ayah. Kebayang, 'kan, gimana murkanya Athar andai ia berbuat salah?
"Itu, Bay. Kasian anak-anak bebeknya. Mereka mau nyebrang, tapi lo hampir aja tabrak mereka. Nggak berperi kebebekkan tau gak lo."
"BODO AMAT! GAK PAKE NGAGETIN JUGA, KALI!"
Mira menyengir lebar. "Iya, maaf. Gue kan refleks. Naluri seorang ibu di diri gue udah mulai tumbuh dan bersemi walaupun mereka adalah anak-anak bebek. Mereka juga berhak hidup, Bay."
"Semerdeka lo, Mir! Gara-gara bebek hampir aja gue kena masalah," gerutunya. "Jalan gak nih? Apa kita antar aja itu kumpulan anak-anak bebek? Takutnya, mereka main kejauhan trus kesasar. Nanti lo pusing deh."
"Kok gue? Yang pusing ya pemilik mereka lah."
Abay menghela nafas sejenak sebelum kembali melajukan mobilnya. "Ini mau belok kanan atau kiri?"
"Kemana ya?" Mira malah balik tanya sambil menoleh memperhatikan jalan.
"Belok kanan ke kahyangan, kalo belok kiri ke jurang."
plak.
Mira mengeplak lengan Abay sekuat tenaga. "Kalo ngomong itu yang baik-baik."
"Iya-iya ... lagian lo mau kemana sih? Dari sejak jalan gak kesebut juga tujuan lo. Apa jangan-jangan lo gak punya tujuan? kalo iya, wah ... lo udah berhasil memberi pelatihan kesabaran buat gue."
"Tenang aja ... gue punya tujuan kok. Cuma gue lupa jalannya aja,"
"Emangnya sejak kapan lo ingat jalan? Mir, yailah, bumil ... lo kan juaranya kesasar. Plis deh. Balik aja kuy?"
"Gue mau ke rumah kakak ipar gue, Bay," Mira memberitahu. "Cuma gue lupa jalannya. Pernah berapa kali ya kesana ... lupa juga."
"Trus? Jadinya?"
"Bentar tunggu balesan dari kakak ipar lah," Mira mengamati baik-baik hp nya yang belum juga ada balasan dari Sabrina.
💙
💜
"Gue turut berduka cita," ucap Athar kepada kakak iparnya yang baru saja menempati sebuah kursi di depan meja makan.
Memang dia belum bertemu sang Mama mertua juga kakak ipar. Semalam, tengah malam tepatnya saat ia tiba dan dibukakan pintu oleh Ghani. Kebetulan adik Mira itu juga baru pulang.
Shelia mengangguk malas. Dia sudah menerima nasibnya, dan sekarang setelah hati dan fikirannya tenang, ia hanya ingin fokus pada kandungannya yang sebentar lagi memasuki usia 7 bulan.
"Emang belum waktunya gue merried kan. So, gak perlu gue ratapi terus. Lagian juga gue lebih dari mampu buat merawat dan membiayai anak gue seorang diri. Emang udah takdirnya dia yang gak boleh jadi bapaknya anak gue."
Athar mendengarkan saja. Dia sudah mendengar penjelasannya dari Linggar perihal yang terjadi dengan kakak iparnya.
"Nanti pasti bakalan ada jodoh lo,"
Shelia tersenyum sinis. "Gue nggak se-desperate itu dalam berharap jodoh, Thar. Kan udah gue bilang, gue sih gak niat merried dalam waktu dekat. Hamil ya udah, bakalan gue rawat anak gue baik-baik. Ada dia atau nggak, ya gue bakalan mampu menghidupi anak gue sendiri. Cuma yang bikin gue sedih ya ... gitu deh. Complicated."
Athar mengangguk paham. Dia menyesap kopinya dengan tenang. Toh, anak buahnya telah sigap mengikuti kemana istrinya hendak pergi. Dia hanya perlu memantau, dan actiom bila sudah saatnya tiba.
"Btw kapan malam gue liat si Mira lagi nangis tuh." Shelia merubah topik obrolannya. "Lo apain dia hayo?"
Athar berdehem sekali sebelum menjawab, "Dia kangen sama gue."
Wanita di hadapannya itu berdecih, "Kangen apaan? Bohong banget. Yang gue denger nggak gitu deh."
"Dengar apa?"
"Teriakan Mira di balkon."
"Teriak?"
"Teriak sambil menangis. Dia bilang gini; 'emang cuma lo yang bisa hidup seenaknya? gue juga bisa. Blokir dibalas blokir. Pergi dibalas pergi. Peluk dibalas peluk. Biarin, gue pelukan aja terus sama Ryo. Abaaang ... nyebelin banget sih!' gitu yang gue dengar," tuturnya seraya memperagakan cara bicara sang adik, berikut nada kesalnya.
Athar merasa tak terima dalam hatinya. "Dia bilang begitu?"
"Iya. Gue jadi cukup paham garis besarnya masalah kalian. Jadi lo pergi bukan karena kerjaan, 'kan?!" tuduhan Shelia dibalas tatapan tajam Athar.
"Marah aja terooos, biarin, jauh deh lo dari anak sama istri. Emang enak! Eh– lo udah tau, 'kan kalo lo bakal jadi bapak-bapak?"
Sebenarnya ia gak setuju dengan pemilihan kata dari iparnya itu, tapi ia mesti sabar menghadapi bumil yang perutnya besar.
"Ya tau lah."
"Ehhh ... kirain gak tau. Kan lo blokir si Mira."
kakak sama adik sama aja, blokir terus yang dibahas.
"Mama kemana?" Athar mengalihkan pembicaraan tentang masalahnya dengan sang istri.
"Mama lagi menginap di Jakarta dari kemarin. Tetangga sana ada yang hajatan."
"Oh ..."
"Trus ini si Mimir kemana juga?"
Lalu Athar berdiri sambil menjawab, "Ini gue mau susul dia."
"Ke?"
"Rumah Dirga."
🍎
🍅
"Orangnya gak ada?" Abay mengulang apa yang baru saja didengarnya.
Mira mengangguk. "Iya. Kakak ipar gue lagi di negara Timur tengah gitu lah. Kalo istrinya lagi di Medan. Nah trus, gue kan abis nanyain semalem, apa di rumah mereka ada jacuzzi apa nggak. Dan ya ... ternyata mereka punya."
Abay mencerna. "Jadi lo mau ke rumah kakak ipar lo cuma buat berendam?"
Mira mengangguk yakin. "Iya banget. Gue emang lagi pengen berendam di rumah orang yang punya Jacuzzi. Ini jabang bayi gue masih nagih berendam di tempat nikmat itu. Kan klo pergi ke hotel mulu, bisa boros. Ya walaupun kartu yang Abang kasih itu unlimited, tapi kan gue mesti berakhlak dalam menggunakannya."
"Dih, lo punya akhlak juga?"
"Sialan! Dasar ... sholeh! Abay anak sholeh!"
"Sholeh? Saha? Gue?"
Mira mengangguk. "Iya terpaksa gue fitnah lo 'sholeh'. Kan gue lagi bunting nih, so gue gak boleh berkata kasar lagi. Gak baik buat janin. Makanya gue jadi fitnah lo, Bay."
"Anjr dah. Sialan si Mimir."
"Heh lo mau kemana?" tanyanya saat Abay berbalik badan. Padahal mereka masih berada di depan pintu saja.
"Pulang. Tugas gue nganter doang, 'kan?! Masa iya lo minta temenin gue berendam di Jacuzzi? Ya emang sih gue penasaran seberapa kinclongnya peralatan orang kaya itu,"
"Iya juga ya," sahut Mira. "Ya udah deh."
Tanpa buang waktu, Mira segera saja memasuki rumah sang kakak ipar yang dalam keadaan sepi itu. Tidak benar-benar sepi dalam artian masih ada beberapa anak buah yang menjaga di luar. Berhubung Mira telah mendapatkan izin untuk berkeliaran di rumah itu, maka langkahnya mulus saja hingga ia sudah benar-benar berada di dalam kamar yang biasanya digunakan oleh Athar di rumah itu.
"Di sini, di rumah kakaknya ada Jacuzzi, sedangkan di rumahnya sendiri malah gak ada," gerutu Mira dengan maksud adalah sang suami yang tak memiliki benda mewah itu meskipun mampu.
Setelah ia meletakkan tasnya di kasur, maka Mira langsung memasuki kamar mandi di sana. Matanya berbinar karena melihat kamar mandi super mewah yang dimiliki oleh Dirga, sang kakak ipar.
"Kalo gue bandingin mereka, kakak sama adik berdasarkan hartanya, kok rasanya gue matre banget ya." Ia melihat perutnya melalui pantulan cermin yang ada di kamar mandi. Sebuah cermin yang cukup besar dan panjang. "Padahal, 'kan gue gak matre ya?" Mira mengus perutnya. "Ini masa kamu yang matre sih, Cil? dih, amit-amit."
Mira sudah mulai menikmati acara berendamnya selama setengah jam ketika pintu kamar mandi ada yang mengetuknya.
...💘💘💘...
**ya ampun, aku gak semangat banget. Apalah part ini jadinya. Pengen kusudahi Althar segera deh.
Plis ya, seenggaknya kasih aku like tiap update. Biar aku semangat. 😂**
Kalo sambutannya rame, itu bikin pengen up terus loh.