
Mira menatap lesu pada Athar yang telah turun dari mobil, tanpa mempedulikannya. Bahkan sepanjang perjalanan dari Jakarta tadi, Athar tak sekalipun bersuara meski beberapa kali Mira mencoba mengajaknya bicara.
Sungguh besar rasa penyesalan Mira yang telah membuat Athar marah kali ini. Tapi dia juga tak berdaya kan, sekalipun ia telah memohon kepada Ryo agar diantar pulang, nyatanya ia malah tak mampu menolak lebih keras. Ada bagian dalam hatinya yang tak mengizinkan untuk menyakiti Ryo lebih jauh lagi. Bagaimanapun, kebaikan Ryo telah banyak tertoreh dalam hidupnya selama ini.
Hanya saja, di lain sisi, yang bahkan sisi sebenar-benarnya mesti ia pedulikan, malah telah ia lupakan sesaat. Dan kini, Mira hanya mampu menyesal atas ketidaktegasannya.
Hari sudah malam, namun Mira tak ada keinginan untuk makan malam. Ia langsung menyusul Athar yang diyakininya sudah berada di lantai dua, alias wilayah privasi mereka berdua yang tak dijamah oleh penghuni rumahnya yang lain, yaitu para bodyguard dan pekerja rumah tangga. Hanya Pak Teguh yang kalau sudah terlalu penting urusannya maka ia datang mengunjungi lantai dua.
Benar saja, saat Mira memasuki kamarnya, dilihatnya Athar yang sedang rebahan di sofa, dengan lengan menutupi matanya.
Bahkan dia gak buka sepatunya atau bajunya.
Perlahan Mira melangkah mendekati Athar dsn berhenti saat jaraknya sudah dekat. Ditekuknya kedua kakinya hingga ia duduk bersimpuh dan memandangi sang suami yang memejamkan matanya.
"Abang ..." ucapnya lirih. Sekuat tenaga Mira menahan air matanya yang ingin mengalir. "Aku obatin ya lukanya,"
Namun sayang, Athar tak menyahut. Barangkali lelaki itu memang sengaja masih tidak ingin menyahut, pikir Mira.
"Abang ..." Mira mewek sekarang. "Maafin aku ... aku udah menolak dia, tapi dia gak mau pulangin aku ... aku juga gak tau kalo grab yang aku naikin malah dia sopirnya ... sumpah aku gak tahu sama sekali ...."
Mira menghapus air matanya yang membanjir. Dengan sesenggukan ia melanjutkan kalimatnya. "Abang, aku benar-benar minta maaf. Aku ... aku menyesal, huaaa ...."
Yang dilakukan Athar kini malah bergerak untuk membelakangi Mira dalam tidurannya. Dia benar-benar enggan melihat kepada istrinya itu untuk kali ini.
"Abang jangan diemin aku kayak gini. Mendingan Abang marah-marah, bentak-bentak aku kayak biasanya. Dari pada diemin aku kayak giniโ"
Dibentak juga gak enak sih, tapi dari pada didiemin kan?!
Kemudian Mira mencoba untuk menyentuh Athar,
baiknya gue sentuh apanya ya? Tangan? Kaki? muka? bokong? aduh, plis deh, otak!
Maka yang dipilih adalah untuk menyentuh lengan Athar yang saat ini lengan bajunya telah digulung hingga ke siku. "Abang mandi dulu deh,"
Athar menarik lengannya yang disentuh Mira, masih dalam keadaan diam memunggungi. Sedangkan Mira yang telah tertolak kini menarik tangannya lagi.
"Ya udah deh, aku aja yang mandi duluan," katanya seraya bangkit. Setelah langkahnya baru beberapa saja, Mira menoleh ke Athar lagi "Abang gak berniat mandi bareng nih?" tanyanya sedikit memancing. Namanya juga usaha, siapa tahu kan dengan rayuan yang paling Athar suka itu, maka Athar dapat melunak hatinya. Akan tetapi,
Masih tetap tak ada sahutan.
Ya udah, kalo masih marah juga, terserah.
...๐๐๐...
"Gila, ada bule cakep banget, Shel," ujar Renita, rekan kerja Shelia di sebuah restoran. Kalau Shelia sudah dapat terjun ke urusan dapur, maka Renita adalah manager yang berteman baik dengan Shelia semenjak dirinya bekerja di sana.
"B aja deh perasaan," Shelia menanggapi dengan santai. Karena memang bukan pertama kali kan restoran mereka didatangi oleh bule. Dan lagi, "Renita, heloow, kok anda lebay?"
Shelia yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya itu masih sibuk mengunyah makanan yang tadi dibuatnya di dapur bersama koki yang lain.
"Seriusan, Shelia. Kali ini bulenya cakep bingit. Masih muda pula. Cuma ya itu, sama cewek datangnya."
"Nah kan udah ada pawangnya. Rasain deh kamu, Renita Wijaya."
Renita hanya mengendikkan bahu. "Abis cakep sih. Boleh dong cuma suka ngeliatinnya."
"Anda gak sedang menanam bibit pelakor di dalam hati kan?!"
"Ya ampun deh. Ya nggaklah, Shel. Aku kan sudah punya tunangan. Alhamdulillahnya aku masih setia."
"Bagus deh, Ren. Ya udah ah, cus kuy kita pulang! Makanan aku sudah abis."
"Dih si bumil satu ini, makaaan mulu."
"Debay aku yang makan mulu. Aku sih cuma nurutin doang."
"Duh irinya. Kapan gitu aku punya debay,"
Shelia yang sedang melangkah tiba-tiba berhenti dan menoleh tajam pada temannya itu. "Hei, Ren. Jangan kepengen punya debay sebelum menikah. Aib, tau!"
"Oh bagus." Shelia melanjutkan jalannya yang diekori oleh Renita.
"By the way suami kamu kapan pulangnya sih, Shel? Nggak kasihan gitu lihat kamu kerja di sini?"
"Kan dia juga lagi kerja di York sana."
Memang, sejak awal Shelia menceritakan kalau suaminya, alias pria yang menghamilinya, saat ini tengah berada di luar negeri untuk bekerja. Makanya, dengan cerita seperti itu, Shelia masih memiliki kehormatan di mata rekan-rekan tempatnya bekerja.
Sekarang mereka sengaja melewati dalam restoran. Meskipun ada pintu yang lain, Shelia memang menyukai melewati pintu restoran. Ngidamnya kali ini dimaklumi oleh para petinggi di restoran tempatnya bekerja.
"Arah jam 3 si bule yang tadi aku ceritain," bieik Renita.
Maka Shelia yang enggan pun hanya berniat untuk melirik saja. Karena dia sudah bosan sebenarnya untuk melihat bule-bule yang awalnya terlihat wah ketika ia pertama kali ke luar negeri. Tapi sekarang, semua terasa biasa saja. Bahkan ada satu yang membuatnya muak.
Bryan.
Astaga, itu Bryan? Dia di sini?
Shelia menghentikan langkahnya.
"Ya kan, oke punya. Tapi udah buruan jalan lagi, gak boleh ngeliatin tamu kayak gituโ"
Renita belum selesai bicara saat dilihatnya Shelia yang berjalan menuju meja dimana Bryan berada dengan seorang wanita.
"Loh loh, Shelia," Renita mengekori rekannya itu. Untuk ukuran seorang ibu hamil, rekannya itu terlalu bar-bar dalam bertingkah laku. "Mau ngapain?
Shelia tak mau mendengar panggilan Renita. Ia terus saja berjalan hingga menghampiri meja dimana Bryan berada. Diambilnya sebuah kursi di sana dan duduk dengan kedua tangan menyilang di depan dada sambil menatap Bryan dengan sengit.
Maka heran Bryan terlihat terkejut mendapati kehadirannya di sana yang tiba-tiba.
"Shelia?"
"Ya. Ini aku. Kenapa?"
Senyum terkembang di bibir Bryan yang meraih tangan wanita di sampingnya, bukan tangan Shelia.
"Ini Aleah, kerabatku yang berada di Indonesia. Ibunya menikah dengan adiknya ayahku di masa lalu. So, kami adalah keluarga."
Bryan yang dengan tenangnya memperkenalkan wanita itu, malah membuat Shelia semakin mengerutkan keningnya. "sejak kapan? Kenapa dulu-dulu kamu gak pernah cerita?"
"Aku pernah cerita, Shelia. Mungkin kamu yang lupa. Karena Aleah ini sibuk kuliah di New Zealand, makanya selama ini dia gak ada kabarnya."
"Oke, cukup sudah menceritakan aku," sela Aleah. Gadis yang nampak muda dan cantik itu memang terlihat blasteran Indonesia. "Sekarang kamu mesti memperkenalkan aku kepada ibu dari anakmu ini."
Shelia cukup terkejut dengan raut yang ia sembunyikan. Rupanya Aleah telah mengetahui mengenai dirinya.
Renita yang terkejut kini tengah menutup mulutnya tanpa suara.
"Kamu sudah tahu?" Shelia bertanya kepada Aleah.
Gadis itu tersenyum yang nampak menyenangkan di mata orang yang melihatnya. "Tentu saja. Buat apa kami makan malam di sini kalau tidak sedang memiliki maksud?"
"A-aku ..." kini Shelia tergagap karena bingung harus berkata apa.
"Jadi ini suami Shelia?" Renita menyela tanpa sadar. Dia sudah menahan rasa penasarannya sebisa mungkin, tapi gagal.
Sheli menoleh pada Renita. "Ini loh, Ren ... aku ... dia ...."
"Iya, aku suaminya Shelia. Datang kesini untuk memberi kejutan," Bryan menjawab dengan senyuman.
"Wah," Renita mengulurkan tangan. "Aku rekan kerjanya Shelia di sini."
"Bryan, suami dari Shelia."
suami? kenapa gue jadi punya suami? nyesel banget duduk di sini ya ampun.
...* * *...