
Sudah tiga hari Mira jatuh sakit. Tepatnya setelah hari dimana acara syukuran pernikahannya diadakan di rumah sang mama. Bukan sakit yang parah sih, hanya tifus atau tipes, yang membuat tubuhnya terasa lemah tak bertenaga.
Hari pertama ia habiskan dirawat di rumah Mamanya, tapi hari kedua dan ketiga ia mengikuti Athar untuk pulang ke rumah mereka.
Mira merasa terguncang akan sesuatu yang dilihatnya hari itu. Sebuah paket besar yang ternyata berisi sebuah boneka beruang putih dengan ukuran besar pula, namun dalam kondisi mengenaskan dan berlumuran darah. Bau anyir seketika menghambur ke dalam indera penciuman Mira. Ditambah dengan kenangan buruk akan tragedi Shelia beberapa waktu lalu membuat Mira lemas seketika.
Dengan gemetaran, ia langsung membungkus kembali box itu dengan rapat ditambah dengan semprotan minyak wangi. Lalu ia menyuruh bi Nani untuk membuangnya. Ketika asisten rumah tangganya itu bertanya pun Mira tak mampu memberitahu yang sebenarnya.
Sejak kejadian itu, kondisi tubuh Mira langsung drop. Ia benar-benar tak berdaya kala tak mampu bangkit dari tempat tidur.
Lalu bagaimana dengan Athar?
Jelas suaminya itu sangat khawatir dengan kondisinya. Bahkan amarah lelaki itu karena Ryo waktu itu telah sirna seketika begitu mendapati Mira yang dalam keadaan tak sehat. Athar terlalu khawatir untuk melanjutkan marahnya. Segera dipanggilnya dokter langganannya untuk datang memeriksa Mira.
Satu yang pasti, Mira belum mampu mengatakan kepada siapapun termasuk Athar, atas paket mengerikan yang diterimanya itu. Mira terlalu syok dan takut, hingga ia tak mampu menceritakannya.
Athar baru saja bersiap hendak keluar untuk meeting penting, saat Mira menarik tangannya.
"Abang ..." ucap Mira pelan. Tiga hari ini Mira hanya bergelut di tempat tidur karena tubuhnya masih lemas. Dia hanya akan beranjak ke kamar mandi, atau untuk berjalan sejenak karena bosan.
"Kenapa?" Athar meletakkan hpnya di dalam saku jasnya. Lalu dihampirinya Mira dengan duduk di tepian ranjang.
"Abang jangan kecakepan begitu ..."
"Hah?"
"Jelekin sedikit deh wajah Abang, biar aku gak cemas."
Athar meletakkan punggung tangannya di kening Mira. "Mending kamu istirahat deh ... tidur."
"Aku masih sadar ngomong apa barusan, Bang," pungkas Mira seraya menarik sedikit poni rambut Athar yang telah tertata rapi oleh pomade.
ah sial, udah diacak juga tetep ganteng. gimana dong?
"Kamu kenapa sih?" protes Athar. "Aku sudah rapihkan rambut loh."
"Abang nggak bisa turunin level ketampanan Abang gitu? Sekali-kali jelek kan gak dosa, Bang. Malahan nih ya, kalo Abang agak jelek, akunya jadi tenang."
Athar menatap Mira datar dengan sedikit kerutan di kening. Lalu ia menghela nafas. "Emangnya kenapa?"
"Zaman sekarang itu, cogan dimanapun bisa direkam sama siapa aja. Mereka itu minta jodoh lewat tiktok. Nanti kalo Abang kena rekam cewek-cewek yang ada di luaran sana, gimana? aku gak rela loh. Makanya Abang kurangin gantengnya. Jelekin sedikit aja,"
"Jadi kalo rambut aku berantakan udah keliatan jelek?"
Mira menggeleng pasrah. "Belooom ... Abang masih tetep ganteng ...."
Athar menyunggingkan senyum manisnya.
"Tapi aku bukan lagi muji Abang loh. Seriusan aku gak mau Abang dibidik sama kamera cewek-cewek lain," kata Mira lagi.
"Trus aku mesti gimana, Al? salah aku terlahir tampan? salah aku bikin mata cewek-cewek pada ngelirik?"
Mira semakin kecil hatinya. Dia hampir mewek saat Athar mengecup kepalanya dengan sayang. "Udah, kamu gak usah berpikiran macem-macem deh. Mending kamu istirahat aja. Biar cepat sembuh, biar kita bisa olah raga malam lagi. Oke?"
Athar bangkit dan benar-benar berangkat untuk meeting di luar.
...• • •...
"Hallo,"
"Hei, Mir."
Mira menjauhkan hpnya dari telinganya, dan ia memastikan suara siapa di sebrang sana. Karena barusan ia mengangkat telpon tanpa melihat dulu nama si pemanggil. Sebab Mira memang sudah memejamkan matanya dan berniat untuk kembali tidur setelah meminum obat.
"Iya, Yo? Ada apa?"
Mira tak dapat berbohong kalau ia cemas sekarang. Memang sih Athar telah pergi dua puluh menit yang lalu, tapi kan ... anak buah suaminya itu banyak di dalam rumah. Ya meskipun kamar mereka ini adalah ruangan sekaligus lantai privasi yang mana tak sembarang orang boleh menginjakkan kakinya.
Mira saja bila memerlukan bantuan bi Lilis maka ia memiliki telpon khusus agar asisten rumah tangga itu dapat membantunya dalam hal apapun.
"Ini kan sudah empat hari sejak di pantai itu, Mir. Kenapa kamu gak telpon aku?"
"Telpon kenapa, Yo?"
Terdengar dengusan pelan di sebrang. "Kamu gak khawatirin aku? Aku yang paling banyak kena pukul sama dia loh."
"Hm," Mira tak tahu mesti menjawab apa. Dia memang ada sedikit khawatir, dan dirasanya itu adalah hal yang wajar. Tapi, rasanya akan tidak baik kalau ia benar-benar memperlihatkan kekhawatirannya kepada Ryo, mengingat masalah sudah besar karena kesalahannya yang berduaan dengan sahabatnya itu. "Kamu baik-baik aja?"
"Yah, gak terlalu baik. Untung aja syutingku sudah beres. Dan jadwal pekerjaanku baru ada dua minggu lagi. Karena apa? wajahku adalah asetku sebagai artis, Mir."
"Ya udah, kita gak usah pergi berduaan kayak gitu lagi ya, Yo. Bang Athar gak kasih izin. Dan memang sudah gak sepantasnya lagi kan?! Karena aku sudah memiliki suami."
Tak ada jawaban langsung di seberang. Mira sudah berniat dalam hati untuk mulai tegas menjaga jarak dengan Ryo. Dan tega tidak tega, ia harus memulainya sekarang juga.
"Kenapa aku mesti peduli dengan suami kamu?"
"Yo ..."
"Kalau begitu siapa yang akan peduli sama aku, Mir? Bahkan sejak dulu kamu gak pernah peduli dengan perasaanku. Maka ketika aku sudah muak dengan mengalah, kenapa kalian seolah menyalahkan aku?"
"Karena memang salah, Yo. Aku sudah memiliki ikatan. Dan itu gak bisa dirubah. Jodohku sudah ada, Yo ... dan kamu mesti terima kalau itu bukan kamu."
"Aku gak terima, Mir!"
Mira memijat pelan keningnya. Ia tak menyahut saat Ryo memanggilnya beberapa kali.
"Tau gak ... aku kangen dengan Ryo yang dulu. Sahabatku yang dulu itu baik, amat baik. Tapi sekarang–"
"Dia gak ada."
Hening. Ryo tak menyahuti Mira. Lalu keduanya tetap terdiam untuk beberapa saat, tapi entah kenapa Mira yakin kalau Ryo masih ada di seberang telepon, sibuk dengan pikirannya.
"Kamu apa kabar?"
"Ha? ah, yah gitu. Agak gak enak body sih," Mira pikir percakapannya telah berakhir. Tapi rupanya Ryo masih berniat untuk melanjutkan obrolannya.
"Jangan sakit, aku gak pernah bermaksud buat kamu untuk sakit, Mir. Aku cuma ... aku cuma pengen kamu kembali. Kita kembali seperti dulu. Ya memang sih itu gak mungkin, tapi aku cuma berusaha untuk diriku sendiri, Mir. Siapa tahu kan takdir bisa berubah ketika kita telah berusaha."
"Yo, plis ... jangan bilang begitu. Aku gak mau merubah apapun takdir aku sekarang. Aku sudah bersykur, aku sudah bahagia,"
"Tapi aku belum bahagia, Mir ..."
...• • •...
Sejujurnya Mira mengalami insomnia sejak paketan itu datang. Ya, ia masih tak menemukan jawaban tentang siapa kira-kira yang membencinya dan mengirim teror itu.
Mungkin banyak orang yang gak suka dengan dirinya, terlebih karena pernikahannya dengan Athar. Maka Mira pusing menduga-duga siapa gerangan si peneror yang berhasil membuatnya hampir terkena serangan jantung.
Itu terlalu mengerikan.
Mira berniat menceritakan hal itu kepada Athar malam ini. Ya, saat dirinya tidak bisa tidur alias insomnia, maka dia akan bercerita kepada Athar apa yang terjadi. Semoga lidahnya sanggup untuk berkata-kata, mengingat seberapa syoknya dirinya beberapa hari ini.
"Kamu belum tidur?" Athar masuk ke dalam kamar setelah tadi membicarakan mengenai perbaikan taman belakang kepada Pak Teguh.
Mira menggeleng. "Gak bisa tidur," jawabnya jujur.
"Ya iyalah, belum ada aku makanya kamu gak bisa tidur."
"Ada Abang juga aku gak bisa tidur,"
"Kok gitu?" Athar telah menaiki ranjang dan langsung membawa Mira ke dalam pelukannya dengan posisi keduanya yang masih duduk bersandar di kepala ranjang.
"Gimana kalo Abang agak buncit aja?"
"Random banget sih. Ini pasti bukan lagi bahas kamu yang gak bisa tidur kan?!"
"Iya, ini masih tentang Abang yang terlalu tampan. Dan aku mohon Abang jangan jadi artis. No, gak boleh. Aku gak sudi lihat Abang peluk-pelukan sama Nikita Willy atau Amanda Manopo. Gak boleh!"
"Siapa yang mau jadi artis sih, Al?"
"Nah itu, sebelum Abang berniat, aku sudah lebih dulu mencegah. Karena mencegah lebih baik dari pada mengobati."
Athar mencubit pelan hidung Mira. "Gak ada kayak gitu. Lagian, kalo misal perut aku buncit, emangnya sudah pasti aku bakalan jelek gitu?" tantang Athar menggoda Mira.
iya juga ya, belum tentu dia jadi jelek juga.
"Trus Abang jeleknya gimana dong?"
"Kamu kepengen banget aku jelek gitu?"
Mira mengangguk. "Seenggaknya, aku jadi gak cemas karena takut Abang diembat orang. Dih, pelakor-pelakor jaman sekarang itu mengerikan tau, Bang?! Makanya aku gak akan pernah pasang foto Abang di medsos aku. Karena aku gak mau ada cewek-cewek yang ngiler waktu lihat foto Abang."
Athar pura-pura berfikir. "Kayaknya susah deh, Al. Aku tercipta dengan tampan always and forever tampan."
Mira berdecih sambil mencubit perut Athar. "Abang narsis banget sih!"
"Itu kenyataan."
"Ah tau ah, pusing. Pusing ya punya suami tampan. Bawaannya pengen kekepin sendiri di rumah selamanya."
"Boleh. Aku bisa kok kerja dari rumah," ujar Athar santai sambil memainkan rambut Mira.
oke, kayaknya udah cukup deh pemanasananya. Ya walaupun itu juga bagian dari sumber kepusingan gue. Tapi, ada hal yang mesti gue omongin kan?!
"Hm, Bang,"
"Apa? Kamu sudah siap?"
"Siap apa?"
"Begadang."
"Kan aku emang sering insomnia."
"Bukan itu,"
"Trus?"
"Begadang sama aku melalui malam yang panas–"
Mira membungkam mulut Athar dengan telapak tangannya. "Aku belum siap. Masih lemes banget."
Athar cemberut. Dia melepaskan pelukan Mira, "Ya udah deh, tidur aja," katanya setengah merajuk.
"Ntar dulu, Abang," cegah Mira.
"Apalagi? Masih liburkan kita?"
"Iya. Tapi ada hal penting yang mau aku ceritain ke Abang."
...* * *...
Tengkyu buat yang udah nungguin! 😘
*