AL-THAR

AL-THAR
#8. Insomnia.



Happy Reading!


Pukul satu malam saat Mira melirik pada jam di nakas. Tapi kesadarannya masih seratus persen, padahal ingin sekali ia terlelap.


Sebenarya, sudah dua malam ini dia susah untuk tidur di malam hari. Mira hanya bisa pasrah kapan saja matanya sudi untuk terbang ke alam mimpi. Karena kalau dia paksakan pun amat sangat sulit. Matanya mungkin terpejam, tapi Mira masih sadar sesadar-sadarnya.


Semua itu bukanlah tanpa sebab. Semenjak tidur Mira tak sendiri lagi, alias sejak pernikahan resminya kemarin, maka ini malam kedua dirinya berbagi ranjang dengan sang suami. Merupakan sebuah adaptasi baru yang mesti Mira jalankan, dan tentunya hal itu tidak serta merta dapat diterimanya dengan mudah. Sebuah kebiasaan yang biasanya dilakukannya sendiri, kini mestilah berdua. Jadi wajar, bila Mira memerlukan waktu untuk membiasakan diri.


Perlahan ia melepaskan sebelah tangan Atahr yang entah sejak kapan telah melingkar cantik di perut ratanya. Sebagai gantinya, kini Mira malah fokus pada wajah Athar yang tengah terlelap itu. Ia merapihkan anak rambut yang menjuntai berantakan di dahi Athar, dan membelai lembut sebagiannya.


Orang kalo terlanjur ganteng tuh gini ya, biarpun rambutnya berantakan, tetep weh ganteng. Mutlak. Hakiki. ck, bikin iri.


Tiba-tiba ...


Pendengaran Mira menangkap sebuah suara. Entah itu suara apa, yang pasti sekarang Mira mencengkram lengan Athar seraya berkata, "Abang bangun ..."


Namun masih belum ada pergerakan dari Athar.


"Ya ampun, Abang, bangun kenapa sih!" Mira ngegas karena panik. Di pikirannya kini sudah banyak adegan-adegan film horror yang mampir. Dia menepuk-nepuk pipi Athar dengan kuat. Pokoknya suaminya itu haruslah bangun.


"Abang ... bangun, Bang ... Bang Athar! Woi! ih, bangunnya susah amat sih? Bangun, gak?"


Perlahan Athar membuka matanya dengan berat. Langsung saja ditariknya tubuh Mira untuk didekapnya, di atasnya.


"Abang udah bangun, kan?"


"Apanya yang bangun?" suara Athar bertanya dengan malas. Dia se-ngantuk itu untuk membuka matanya lebih lebar.


"Abang! ish!" Mira menepuk-nepuk pipi Athar hingga cowok itu membuka mata lagi.


"Kenapa, Al?"


"Jangan tidur!"


Athar mengerutkan kening. "Kenapa?"


"Pokoknya gak boleh. Temenin aku yang gak bisa tidur."


"...."


"Abang ..." Mira merengek seperti biasa. "Jangan tidur duluan ya. Aku yang harus tidur duluan, baru Abang belakangan."


"Ya udah tidur ..."


"Aku gak bisa."


"Kenapa?"


Mira menggeleng. "Insomnia."


Athar menghela nafas. "Ya udah, sini aku usapin kepala kamu biar kamu cepet tidur ya."


"Iya ..."


Athar baru hendak memejamkan matanya lagi dan segera dicegah oleh Mira. "Tapi Abang gak boleh tutup mata!"


".... berat ya, Al?"


"Apanya?"


"Jangan tutup mata di saat kita mengantuk itu berat loh."


Mira memberengut. "Pokoknya Abang gak boleh tutup mata."


Lagi, Athar menghela nafas. "Kamu kenapa sih emangnya?" tanyanya sambil mengusap kepala Mira. "Apa yang kamu pikirin sampai kamu gak bisa tidur, hm?"


"Gak ada. Eh– bukan gak ada. Aku jadi kepikiran macem-macem gara-gara gak bisa tidur. Dari kemarin loh aku begadang. Sejak ada Abang."


Mira mengangguk.


"Kamu pengen sesuatu dari aku? Malam pengantin kita? Kan kamunya masih datang bulan, Al,"


"Dih, bukan itu!" pungkas Mira. "Abang mah otaknya malah nyambungnya kesana. Aku tuh gak biasa tidur berdua cowok. Makanya, aku jadi susah buat tidur kayak biasanya. Adaptasi aku lumayan buruk. Beda sama Abang yang gampang-gampang aja."


Sebuah senyum tersungging di bibir Athar. "Ya makanya mulai sekarang biasakan. Sini-sini," ia memeluk Mira lebih erat lagi. "Enak gini, Al. Tidur jadi ada yang nemenin kan?! Ada yang dipeluk. Kenapa malah gak bisa tidur sih?"


"Ya nggak tau,"


"Kamu belum kepengen kan?!"


Mira menampar pelan dada bidang Athar. "Itu mulu sih ngomongnya."


"Ya wajarlah ... kalau aku sih kepengen," bisik Athar yang membuat dada Mira berdebar. "Makanya, demi menghalau rasa yang harus tertunda itu, aku harus tidur cepat. Kan kalau udah nempel kayak gini, aku bisa apa lagi kalau aku malah jadi kepengen?"


Ini obrolan dua satu plus-plus. Dan gue ... deg-degan parah. aduh gimana ini?


Seketika Mira mendorong tubuh Athar. "Ya udah, jangan nempel-nempel!" ucapnya setengah panik.


Athar malah tertawa dan menarik tubuh Mira lagi untuk dipeluknya. "Udah ah, kita tidur aja yuk, sebelum aku gak kuat melawan rasa," ucapnya dengan santai.


Dengan berani Mira mengecup bibir Athar singkat, hingga Athar kini malah menatapnya dengan dalam. "Tau artinya yang kamu lakuin barusan?"


Mira menggeleng.


Athar menarik nafas, lalu membuangnya. Kemudian dia memejamkan matanya dengan rapat.


"Loh, kok Abang malahan tidur lagi?" Mira protes.


"Kamu bikin aku pusing."


"Pusing kenapa?"


"Al ..."


"Bukannya banyak cara ya?"


"Cara apa?"


Mira tak menyahut. Athar yang penasaran kini membuka matanya. Dilihatnya Mira yang menatapnya dengan tatapan menggoda.


"Siapa yang ajarin kamu?"


Mira malah tersenyum misterius. Dan itu malah membuat Athar semakin penasaran. "Al, siapa yang ajarin kamu?"


"Apa sih, Bang?" Mira melepaskan diri dari pelukan Athar dan memakai selimut lalu hendak tidur memunggungi cowok itu.


"Kamu belajar dari mana, hm?" Athar menggelitik perut Mira dan membuat Mira tertawa karena geli.


"Aku nggak belajar. Serius."


"Trus? Tahu dari siapa?"


"Google."


"Hah?"


****


Ini part apa sih? 🙈😂😂😂😂


jangan lupa like, komen, dan vote ya.


*