
Lanjut yuk ah!
Mira berusaha berlari sekuat tenaga sepanjang lantai dua. Dia mesti segera menemukan tangga yang akan membawanya menuju lantai dasar. Entah kenapa, spontan keinginan untuk kabur dari Athar terlintas begitu saja di fikirannya tadi. Ditambah dengan sayup-sayup suara lari yang menyusul di belakangnya membuat dirinya berlari semakin kencang lagi.
Ah gila, dia ngejar gue kayaknya.
"Sorry! Sorry!" teriaknya saat mau tak mau malah menyenggol kasar orang-orang yang menghalangi larinya. "Maaaaf ... gue minta maaf ...."
Mira terus saja berlari hingga akhirnya ia berhenti di depan taman. Dia ngos-ngosan sambil mencari kursi yang akan digunakannya untuk beristirahat.
"Capek ... hah ... aduh, gila ... gue capek banget ...."
Namun baru saja Mira duduk selama beberapa detik, matanya melebar ketika melihat sosok Athar di kejauhan yang celingukan mencarinya.
"Ah sial," langsung saja Mira bangkit lagi dan berlari ke arah berlawanan dengan kedatangan Athar.
Mira yakin kalau dia sudah berlari sekuat tenaga dan menjauh sejauh mungkin, tapi ketika dia berbelok, rupanya tubuhnya segera ditangkap dan tak dilepas oleh sosok yang menangkapnya. Siapa lagi kalau bukan Athar?
Mira menjerit sesaat saking terkejutnya. Dengan mata melebar dan nafas yang terengah-engah, dia menatap Athar yang tengah menatapnya dengan tajam.
Bagus. Ketangkep kan gue. Mampus ajalah
Athar mendekap Mira semakin erat saat Mira berupaya melepaskan diri dari kungkungan itu. "Abang ... lepas ...."
"Kenapa kamu lari?"
"Salah Abang. Kenapa Abang kejar aku?"
"Kenapa kamu lari?" desisnya yang membuat Mira merinding juga.
"Olah raga. Aku tuh lagi olah raga," katanya beralasan.
"Al," jelas sekali kalau Athar terlihat gemas karena menahan kesal atas tingkah Mira.
Mira menyengir garing. "Abang lepasin aku dulu, malu ih ...."
"Gak mau."
Tatapan Athar perlahan berubah, yang tadinya menatap Mira dengan tajam, kini menatap Mira dengan dalam.
Aroma aromanya ini sih mau ada adegan kiss gitu. Tapi,
"Bang," Mira berupaya mendorong Athar. Karena tempat mereka berdua berada saat ini mulai ramai oleh bisik-bisik tetangga. "Lepas," bisiknya.
"Cium dulu."
Mira melotot. "Ya nggak maulah. Di kampus kita tuh sekarang ... Abang sadar dong," bisiknya lagi. Dia malah mencubit-cubit pipi kanan Athar.
Cukup lama saat Mira menahan tatapan Athar yang entah berapa banyak artinya itu. Yang pasti setelah menghela nafas pelan, Athar berkata dengan setengah berbisik, "Kalau datang bulan itu berapa lama?"
"Hah?"
Ya ampun ya ampun ya ampun
Mira merasakan kalau wajahnya merona karena malu. "Lepas dulu, nanti aku kasih tau."
Athar menggeleng tanpa suara.
"Plis, Abang ... malu tau diliatin orang-orang,"
"Biarin aja."
"Ya udah, ya udah, aku bakalan jawab. Tapi setelahnya bisa lepasin?"
"Oke." Athar memegang tangan Mira dengan erat seraya melepaskan pelukannya.
"Ki-kita ngobrol di kantin aja yuk!" bujuknya. Siapa tahu kan Athar mau diajak nongkrong.
"Kenapa mesti di kantin? Restoran, cafe banyak di luar. Kenapa harus di kantin?"
"Ya gak papa. Yang terdekat aja sih,"
"Ayo," Athar menggandeng tangan Mira dan membawanya berjalan menuju kantin. "Siapa yang tadi duduk di depan kamu?"
Oh, rupanya dia lihat Ubay.
"Incerannya Sheli." Mira berhenti sejenak dan memukul pelan betisnya. "Aduh, aku capek banget ya, Bang."
"Siapa suruh kamu lari-larian segala, hah?"
"Siapa tau kan bisa kabur," gumam Mira yang ternyata didengar Athar dengan jelas.
"Kamu gak akan bisa kabur."
Mira menghela nafas pelan. Entah apa yang ada dipikirannya tadi sebelum berlari. Kejar-kejaran di kampus seperti anak kecil? Nyatanya Mira memang masih berfikiran seperti itu. Jiwa mudanya tidak dapat dibohongi.
"Sudah kubilang tungguin di lantai dua, malahan lari pas lihat aku. Kamu tuh mikirnya apa sih?"
Kok dia tau kalo gue ke lantai dua?
Mira celingukan. Jangan-jangan orangnya Athar masih suka ada yang ngikutin dia diam-diam. Tapi ... gak kelihatan.
"Ya aku kan gak berniat langsung pulang, tapi Abang malah nyuruh aku pulang. Makanya aku kabur."
"...."
"Kenapa coba?"
"Aku gak suka aja kamu nongkrong sama temen-temen cowok kamu."
"Teman cowokku siapa sih, Bang? Palingan Abay doang sebiji."
Athar menggeleng. "Pokoknya aku gak suka kamu nongkrong di manapun kalau gak ada aku. Ngerti?! Bisa aja seribu makhluk kayak si Dodo itu tiba-tiba berkembang biak menjadi banyak."
Waduh emangnya si Dodo jenis apa sampai berkembang biak segala?
"Cuma Dodo kali, Bang."
"Tetap aja aku gak suka."
Mira hanya mencebik. "Ya udah, berarti tiap aku mau nongkrong, Abang mesti ikut gitu?"
"Lebih tepatnya, kalau ada aku, maka kamu baru boleh nongkrong."
Mira menganga. "Kok gitu? Curang ih,"
Sekarang Athar merangkul bahu Mira dan membawa tubuh Mira merapat kepadanya sambil berjalan. "Nurut deh sama suami," bisik Athar di telinganya. Begitu doang pun Mira udah merona.
"Ya dosa."
Haduh.
"Abang aja deh yang nurut sama aku ..."
Athar memutar bola matanya jengah.
...----π----...
Mata Mira mencari-cari keberadaan Shelia dan Ubay tadi, ketika ia dan Athar telah sampai di kantin. Belum lama saat ia tinggalkan kantin dan sekarang kakaknya itu sudah tak ada di sana.
"Cari siapa sih?" tanya Athar. Dia menarik kursi untuk Mira duduk.
"Sheli. Tadi kan dia sama Bang Ubay di siniβ"
"Bang siapa?" nada suara Athar terdengar keberatan. Tapi Mira gak pernah peka kalau urusan hal kayak gitu sih.
"Ubay. Itu loh, ustadz Baihaqi yang sepupunya Ryo."
Mira bungkam sejenak. Berkaca pada pengalaman tentang seberapa pencemburunya Athar terhadap Ryo, bahkan hanya karena Mira menyebut nama Ryo saja Athar bisa marah, maka sekarang Mira menyesal kalau membuka topik yang berkaitan dengan sahabatnya itu.
"Aku gak tau," ucap Athar dengan datar.
"Ehm, dulu tuh sewaktu masih di kampung, di rumah lama, Bang Ubay pernah jadi pengajar ngaji di dekat rumah aku. Waktu aku masih butek banget deh pokoknya. Ya trus aku sempat naksir monyet gitu sama dia," di kamus hidup Mira bukan hanya ada cinta monyet, tapi juga ada istilah naksir monyet. "Tapi yang Mama mau jodohin ke dia itu malah Sheli, bukan aku."
Maksud Mira bercerita seperti itu sih, hanya sekedar cerita ya. Tapi Athar malah menanggapinya dengan lain.
"Berarti aku gak akan pernah suka kalau kamu berada di jarak dekat dengan orang itu."
Yah, kenapa jadi begini sih reaksinya.
"Sheli lagi naksir Bang Ubay ituβ"
"Bisa gak usah pakai 'Bang' nyebutnya?"
"Loh, emang kenapa?"
"Aku gak suka. Gak enak di telingaku tuh."
Lah trus?
Mira jadi bingung. "Ustadz ... Ubay ..."
"Gak usah bahas dia lagi."
"Sekalipun Sheli lagi naksir cowok itu?"
Athar mengangguk.
"Ya udah." Mira fokus ke lemon tea yang ada di hadapannya kini.
Dia jadi berfikir, kenapa Athar sampai segitunya possesifin dirinya? Memangnya dia secantik apa sampai Athar harus begitu? Mira merasa gak pantas, seolah bakal ada cowok yang suka dengannya selain Athar, Ryo, dan Dodo.
Ini possesif? atau bucin?
Entahlah. Mira gak ngerti.
Mira membuka hpnya yang terdapat notif chat kalau Pram menanyakan keberadaan dirinya. Setelah selesai membalas chat dari Pram, Mira mendengar suara Athar di sebelahnya yang berkata, "Kenapa ada lagi?"
"Hah?" ia menoleh bingung.
Tangan Athar yang hendak merebut hpnya, kalah cepat dengan gerakan tangannya yang spontan menjauhkannya dari jangkauan Athar. "Abang mau apa?"
"Hapus gambar itu."
"Apa?" Mira menoleh ke hpnya, dan ... ia paham. "Taehyung itu ... seperti vitamin aku, Bang. Wajahnya yang blasteran membuat hatiku berbunga-bunga." Mira dalam mode fangirl begini nih.
"Aku juga blasteran."
Mira kembali menoleh ke Athar lagi. "Oh iya ya. Ah tapi beda, kali."
"Apanya yang beda?"
"Kalau Abang kan blasteran Indo - Amerika. Nah, kalau Taehyung itu ... blasteran Korea - syurga."
Krik krik
"Aku hitung sampai tiga kalau gak dihapus juga maka kita bakalan buat video plus plus di sini."
Mira memberengut. "Abang mah gitu." terpaksa, dia mesti menghapus sekarang juga. Dan nanti ... bakalan dia pasang lagi.
"Athar."
Cassandra menempati kursi di samping Athar. Dia bahkan tidak peduli dengan keberadaan Mira di sana. Baginya, Mira bukanlah seorang saingan yang patut untuk diperhitungkan.
"Kenapa?"
"Kita bikin janji sama profesor Rahardi yuk! Malam ini, gimana? Di resto favorit kita?"
Woi woi woi, gue sekarang udah gak bayangan lagi, woi! Kenapa lo gak lihat wujud gue?
Jujur Mira sebal banget sama senior yang satu ini. Turunan lampir yang entah kenapa mesti lestari jahatnya. Siapa sih yang melestarikannya? Siapa?
Mira berasa pengen makan orang gara-gara melihat bagaimana caranya skinship dari Cassandra kepada Athar.
Ge
O
En
De
O
Ka
GONDOK.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa like, komen, dan vote seikhlasnya ya. ππππ