
Buat yang sabar aja baca cerita aku ini .... 😜
...💟💟💟...
"Ah ya ampun!" Mira amat terkejut dengan kedatangan Athar yang tiba-tiba di kamar mandi. Untung saja itu suaminya, coba kalau orang lain, kan bisa auto pingsan dia. "Abang kalo mau masuk tuh ketuk pintu dulu dong," protesnya.
"Buat apa? Istri sendiri kok,"
Mira berdecih pelan. Lalu dia mengabaikan keberadaan Athar yang sejujurnya membuat hatinya berdebar. Kenapa? Karena rindu yang mesti ia tekan di saat ia. masih mengedepankan ego.
Langkah Athar yang semakin mendekat ke arahnya, membuat Mira mengumpulkan busa-busa agar lebih menutupi bagian tubuhnya.
"Udah berapa lama?" tanya Athar yang ternyata telah berjongkok di sisinya.
"Apanya?"
"Ya kamu berendamnya."
"Gak lihat jam,"
"Ya udah, sekarang selesai."
"Maksudnya?"
"Jangan lama-lama, Al ... gak baik buat tubuh kamu. Apalagi kamu sering begini, 'kan?!"
"Emangnya kalau kelamaan kenapa? Aku bakalan ngembang, gitu?"
"Kalau masuk angin?"
"Nggak lah. Ini tuh nyaman," ia bersikeras.
"Segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik, Al. Dengerin aku,"
"Tapi aku maunya kayak gini. Apalagi kalau mual itu datang. Cuma berendam yang bikin rasa eneg itu hilang. Abang gak akan ngerti deh. Udah sana, jangan ganggu aku!"
Mood Mira berantakan. Selagi rasa kesalnya padahal masih ada, mengenai tingkah seenaknya Athar seminggu kemarin, kini malah ditambah lagi dengan mengganggunya sang suami atas kesenangannya.
"Tapi jangan kelamaan, Al. Setengah jam sudah lebih dari cukup."
Mira mendelik. "Gimana kalo Abang aja yang hamil? Gak enak loh rasanya mual. Mau belajar pun aku jadi gak mood. Mau makan serba gak enak. Yang enak tuh cuma kayak gini."
Athar menarik nafas dalam sebelum menyahut lagi. "Oke, sekarang kita pulang."
"Apa sih, Bang?" Mira tak terima. "Tau-tau ngajak pulang. Bisa gak sih gak gangguin aku dulu, hah?"
"Kamu berendamnya di rumah kita aja," Athar mencoba bersabar menghadapi istrinya. "Gak akan aku biarin kamu di sini,"
"Tapi aku maunya–"
"Di rumah kita ... ada. Kamu pasti suka. Makanya sekarang kamu udahan, dan ayo kita pulang!"
ada apaan maksudnya? Jacuzzi kah?!
Mira enggan untuk melanjutkan perdebatannya. Sekarang perutnya memang baru terasa lapar, setelah tadi ia melewatkan sarapannya karena mual melanda. "Ya udah, Abang sana keluar! Aku mau bilas dulu," sahutnya ketus.
"Kenapa aku mesti keluar?"
"Abang mau nontonin aku mandi gitu?"
"Hah?"
Keduanya saling bertatapan dalam diam. Mira yang masih belum bisa memaafkan kejadian kemarin, kini hanya bisa menggerutu dalam hati. Gak akan dia terpancing pada kode yang diberikan oleh sang suami, meskipun ia juga merindu.
dasar cowok! Udah lupa dia sama masalah kemarin. Sedangkan gue, rasanya bakalan terus inget masalah kemarin ... selamanya.
Athar mengusap pelan kepala Mira sebelum beranjak. Baru saja dua langkah ia berniat meninggalkan Mira, terdengar teriakan dari sang istri yang membuatnya menoleh dan menghambur seketika.
"AWW!"
Mira oleng ketika kakinya keluar untuk menapaki lantai kamar mandi. Ia terpeleset, namun sebelum berakhir dengan kejatuhan yang beresiko banyak, untungnya tangan Athar telah lebih dulu menggapai tubuh polosnya.
"Hati-hati, Al!" seru Athar cemas. Di bawanya Mira ke dalam pelukannya. "Kamu itu ngapain sih? Nggak bisa ya kalo nggak ceroboh, hah? Kamu tuh mesti ingat kalau kamu sekarang nggak sendirian lagi. Ada nyawa yang masih rentan yang mesti kamu jaga baik-baik. Kurangi cerobohnya, Al!" rentetan omelan Athar yang bernada khawatir itu membuat Mira melelehkan air mata. Bukan hanya karena ucapan Athar yang benar adanya, tapi juga karena rasa marah yang kini meluap begitu saja bersama air mata.
"Jangan sampai kamu terjatuh dan membahayakan calon anak kita ... ngerti?"
"Kemarin Abang kemana aja ..." isaknya di dada Athar. "Abang melewatkan suka cita aku dengan pergi begitu aja. Abang yang ceroboh," tangannya memukul-mukul punggung Athar. Rupanya, pelukan tadi pagi tak mampu membuatnya mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Kini, setelah kejadian yang cukup membuat hatinya sendiri pun merasakan cemas yang luar biasa. Maka akhirnya sesak itu berhasil keluar juga.
"Iya, Sayang. Maafin aku ..." bisik Athar yang kini sedang mendekap Mira dengan erat, lalu mengecup mesra kepala Mira. "Aku yang salah, aku yang ceroboh ...."
"Makanya dengerin dulu penjelasan aku," lanjut Mira di tengah isakkannya. "Bukannya langsung pergi begitu aja. Aku kangen sampai mau mati rasanya. Aku pengen kasih tahu Abang kabar bahagia, bukannya mencari duka. Aku pengen kasih kejutan kayak orang-orang, tapi malah aku yang dapat kejutan. Abang tega sengaja peluk dia di depan mataku. Aku– aku sakit hati, tau ...."
"Sshhh ... ampuni aku, Al ... aku yang egois memang. Aku yang salah ...."
Mira hanya sesenggukan saja. Dalam hati entah kenapa rasanya lebih lega sekarang, setelah air mata duka itu mampu ia keluarkan.
"Bahkan Abang pergi di saat aku masih menangis waktu itu ..." lirih Mira dengan getir.
Athar yang tak mampu menahan rasa bersalah itu, kini menciumi kepala Mira bertubi-tubi. "Aku salah, Sayang. Aku emang salah. Plis kamu jangan nangis lagi. Aku gak kuat dengernya."
Keheningan menyelimuti keduanya. Dengan posisi berpelukan, Athar yang berpakaian lengkap, sedangkan Mira polos tanpa sehelai benang pun, kini masih syahdu meresapi nikmatnya melepas rindu.
"Kita baikkan ya?"
Masalah itu ada untuk membuat hubungan keduanya menjadi lebih manis lagi. Ketika keduanya berhasil melaluinya, maka yang terbentang di hadapan mereka kini adalah apa yang disebut dengan kebahagiaan.
"Al ..." bisik Athar dengan suara seraknya yang mendamba.
"Hm ..."
"Baikkan ya?!"
"Hm ..."
"Al ...."
"Hm ..."
"Kita mandi yuk!"
Plak.
Mira menampar keras bok*ng Athar.
...* * *...
...💝💝💝...