
"Kak Bryan!" Mira memanggil nama seseorang yang diyakininya yang kini tengah berada beberapa langkah di depannya. Lelaki itu tidak sendirian, melainkan sedang bersama dengan beberapa orang laki-laki juga, yang Mira tebak mungkin saja adalah teman-temannya.
Baru saja Mira hendak melangkah, saat dirasanya lengannya sudah tertahan. Ia menoleh dan mendapati Athar di sana. "Biar aku ajaโ"
Mira menyentak tangan Athar. "Aku lebih pantas buat melakukannya, Bang." ia berjalan cepat menghampiri si terduga Bryan.
"Almira?" ternyata cowok itu mengenali Mira.
Nah benar kan, dia memanglah Bryan, begitu pikir Mira. Meskipun model rambut berbeda, tapi Mira masih ingat dengan jelas kalau cowok bule itu adalah ... ayah dari keponakannya.
wah, udah kebayang seberapa cakepnya keponakan gue nanti.
"Hai, Kak Bryan." Mira menyapa dengan senyum dan mata yang berkaca-kaca. Entah mengapa dia yakin kalau cowok di depannya ini adalah jodoh Shelia, kakaknya. Ya walaupun Shelia sendiri bilang sudah tidak memiliki rasa sama sekali, tapi kan demi anak maka siapapun orangnya mestilah rela berkorban. Iya kan?!
"Kamu lagi di sini?"
Mira mengangguk. Rupanya Bryan masih sefasih itu dalam berbahasa Indonesia, meskipun dengan aksen yang berbeda. So, Mira gak perlu bingung bagaimana bercerita. "Aku mau ngobrol sama Kakak ... berdua."
"Bertiga," ralat Athar yang telah berdiri di dekat Mira.
Tanpa menoleh, Mira yang tetiba sejelek itu mood terhadap suaminya, diam-diam ia memutar bola matanya dengan malas.
"Hey, tidak sopan," tegur Bryan dengan senyum geli. Karena ia tahu bahwa bukan karena dirinyalah Mira melakukan itu.
Mira sedikit terkejut saat wajahnya dipalingkan oleh tangan besar milik Athar. Matanya kini bertatapan dengan mata Athar yang menatapnya tajam.
"Apa?" tanya Mira.
"Kamu ngapain?"
Mira menggeleng cepat. Ia tak berani mengaku perbuatannya yang terasa sepele itu, namun bagi Athar itu adalah hal yang tak sopan dilakukan kepada sang suami. Dan rupanya bagi cowok macam Bryan pun menganggap hal serupa.
Setelah melepaskan tangan Athar dari wajahnya, Mira kembali menatap Bryan. "Ayo, Kak. Ada hal penting yang mesti aku ceritain ke Kakak."
"Al," suara Athar memperingati.
Maka Mira mulai merasa kesal. "Apa lagi sih, Bang? Udah deh, Abang gak usah ikutin aku dulu. Urus aja tuh teman Abang."
"Teman yang mana?"
Mira menunjuk, "Yang it ... tu," tak ada siapa-siapa di sana. waduh, yang tadi itu siapa? bukan penampakan kan?! Masa iya siang-siang ada penampakan?
"Kak Bryan ..." Mira ingin berucap, tapi moodnya seketika anjlok. Karena Bryan terlihat begitu jauh.
"Ya?"
"Pindah kesini,"
"Nggak bisa," potong Athar.
"Tapi aku mau bicara sama Kak Bryan, Abang."
"Tinggal bicara aja, apa susahnya?"
"Ya tapi kan ... kenapa Abang mesti duduk di tengah-tengah begini?" Mira mengungkapkan kekesalannya. Sudah beberapa kali posisi duduknya berubah dan gak bisa benar, hanya gara-gara Athar tak mengizinkan dirinya untuk duduk berdekatan dengan Bryan. Padahal kan, pembicaraan yang hendak dibicarakannya itu adalah hal yang serius. Jadi mestilah dengan suara pelan-pelan. Karena menyangkut aib besar keluarganya. Tapi kalau jaraknya dengan Bryan tidak boleh dekat-dekat sesuai keinginan Athar, maka pembicaraan gak akan menjadi rahasia.
Bah!
Mau ngomong aja susah!
Athar yang mengesalkan, bathin Mira meronta-ronta ingin berteriak.
Padahal mereka hanya duduk di atas pasir pantai sekarang. Karena Mira khawatir keluarganya akan menemukannya bersama Bryan kalau ia memilih tempat bicara di sebuah restoran. Bukan gak boleh Shelia ataupun Mama dan Ghani menemukan Bryan, masalahnya Bryan juga harus tahu lebih dulu kejadiannya, sekaligus tahu waktu yang tepat untuk menampakkan dirinya di hadapan keluarganya nanti. Ya meskipun kesalahan bukan hanya salah seorang dari mereka, melainkan salah keduanya. Baik itu Shelia maupun Bryan.
"Shelia hamil anak lo," ucapan Athar yang to the point kepada Bryan membuat Mira menganga. Padahal Mira saja sedang berupaya mencari kalimat pembuka agar ceritanya terdengar masuk akal, tidak terkesan murahan, marah, dan sebagainya. Namun ternyata Athar malah mengucapkan langsung ke pokok masalahnya tanpa beban, tanpa kesusahan, dan tanpa aba-aba.
Serius, Mira masih menganga.
"What?" Bryan mengulang. Ekspresi wajahnya masihlah datar dan belum terlalu nyambung dengan ucapan Athar. Atau mungkin cowok itu juga butuh mencerna hal tak terterduga seperti halnya para cewek?
"Kak Bryan," Mira yang sudah menguasai hatinya kini bersuara juga. "Sheli hamil anak Kakak. Aku gak bermaksud, bukan cuma aku, tapi juga kami, aku dan Sheli gak bermaksud untuk meminta pertanggung jawaban Kak Bryan. Karena kami gak berniat merusak rumah tangga Kakak. Aku kasih tahu ini cuma untuk sekedar kasih tahu doang sama Kakak. Bahwa anak yang dikandung oleh Sheli selama empat bulan ini adalah anak Kak Bryan. Cuma itu."
...* * *...
bersambung.
Sedikit aja dulu. ๐Yang belum terjawab ya sabaaar ... nanti bakalan terjawab juga kok pada akhirnya. Nikmatin aja perjalanan tiap partnya. Mau manis, asem, asin, pahit, manis atau kecut. ๐
Saranku, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan atas setiap part ya. Karena apapun bisa terjadi ๐
tengkyu udah baca.