AL-THAR

AL-THAR
#20. Oleh-Oleh



Selama lima hari ini Mira bolak-balik ke rumah sakit dan menjaga Shelia, dan tentunya ia bergantian dengan Ghani. Secara keseluruhan fisik, Shelia terlihat jauh lebih sehat dibandingkan dengan hari pertama kedatangannya ke rumah sakit. Hanya saja, dari segi mental sepertinya Shelia masih terbilang suka oleng. Ia masih terlihat sering melamun dan tak mendengar kala Mira memanggilnya. Tentu hal itu wajar terjadi, mengingat seberapa parah kehancuran yang kakaknya itu rasakan. Saat Ghani menawarkan kakak mereka untuk mendapat konseling, jelas Shelia menolak. Menurutnya, ia hanya butuh waktu untuk memulihkan kepercayaan dirinya dalam hidup.


Selain itu, hal yang sedang Mira dan Ghani khawatirkan saat ini adalah bagaimana reaksi sang mama. Wanita yang melahirkan mereka itu akan pulang dari Bandung tepat pada hari ini.


"Sheli pulang hari ini?"


"Iya. Ghani lagi jemput. Semoga mereka pulang sebelum mama pulang."


"Kalian tetap berniat jujur kan ke mama?"


"Iya. Itu sudah seharusnya. Sepahit apapun yang terjadi, kami harus jujur sama mama."


"Oke. Kalau butuh aku langsung telepon aja ya,"


Mira mengangguk. "Ya udah, aku turun dulu," dia baru saja membuka seatbelt saat ia mengingat sesuatu. "Abang nggak ke kantor yang di Jakarta lagi ya?" tanyanya bingung. Karena bila Athar pergi ke Jakarta, maka lelaki itu akan berangkat setelah subuh dan Mira akan diantar jemput oleh sopir.


Ada jeda sesaat dari Athar sebelum tersenyum tipis dan berkata, "Akhirnya kamu perhatikan aku juga."


"Ya?" Mira tertegun.


Athar tersenyum lagi, tapi kali ini terlihat lebih lebar senyumnya dan lebih manis. "Nggak apa-apa," ucapnya seraya mengusap kepala Mira dengan sayang. Lalu sebuah kecupan singkat diberikannya ke bibir Mira. "Aku sedang rencana membuat cafe lagi di sebuah lokasi gak jauh dari kampus kita. Makanya, aku sibuk di sini lagi."


"...." tiba-tiba Mira merasakan sebuah perasaan bersalah. Apakah dia tidak memperhatikan Athar?


"Kok malah melamun? Udah sana turun, siap-siap mesti bicara yang lembut sama mama. Karena mama pasti sangat syok mendengarnya."


"Oh– iya, sih," Mira membuka pintu mobil. Sebelum ia menurunkan kakinya, ia menoleh lagi ke Athar dan merengek, "Abaang ..." maaf ...


"Apa?"


Mira menggeleng. "Nggak. Dadah."


* * *


"Wuih senangnya deh Mama selama di sana. Mamanya Donny itu baik banget. Mama sama Mbak Desi –tetangga kita– diservis full deh. Setelah acara mereka selesai, kami diajak jalan-jalan ke perkebunan milik Mamanya Donny. Pengen deh suatu hari Mama punya rumah di Bandung juga." begitu kira-kira cerita Mama sepanjang makan siang tadi bersama ketiga anaknya.


Tumben banget kan semuanya berkumpul?! pastinya itu semua memiliki alasan seperti bagaimana Ghani rela tidak pergi jalan-jalan bersama anak-anak sejurusannya, dan lebih memilih untuk membantu saudaranya yang bermaksud jujur menghadapi sang mama di rumah.


"Beli, Ma," sahut Mira asal menanggapi padahal. Fikirannya juga gak terlalu fokus dengan cerita mama karena ia selalu membalas lirikan Shelia yang terlihat gugup dan takut. Jelas sekali kalau kakaknya itu seakan tak sanggup menelan makan siangnya, tapi terpaksa ia lakukan demi tak membuat ibu Pertiwi curiga.


"Apaan?"


"Apa?"


"Kamu ngomong apa sih?"


"Mama yang ngomong apa?"


Mira melirik Ghani yang menghela nafas, sedangkan mama saat ini tengah menatapnya dengan aneh. "Kamu gak dengerin cerita Mama?"


"Dengar, Ma. Mama mau kebun kan?! Nanti aku bilang sama Bang Athar agar beli kebun buat Mama. Bang Athar pasti gak keberatan."


"Semprul! Mama tuh bukan kepengen kebunnya, tapi Mama bilang kalau Mama kepengen punya rumah di sana suatu hari nanti."


"Oh ..."


"Ah oh, ah oh ... kamu tuh kapan pinternya sih, Mir? Dengerin cerita Mama aja gak sanggup mencari ide pokoknya. Untung gak ada Athar di sini. Kalau ada suami kamu itu, pasti kamu bakalan bikin dia malu."


"Ya lagian kamu," ibu Pertiwi hanya bisa geleng-geleng kepala jengah. Memang ya, anaknya yang paling istimewa itu gak pernah berubah walaupun sudah menikah. "Eh, Ghan, Mama belikan kamu jaket loh."


"Ghani terooooss," cibir Mira dengan suara pelan.


Tapi Mama mendengarnya. "Kamu minta sama Athar ajalah. Sudah punya suami kok masih minta sama Mama."


"Kok aku serasa dibuang sama Mama ya ..."


"Lebay deh lebaaay ..." mama mengambil sesuatu dari dalam tasnya yang diletakkannya di meja yang berada tak jauh dari meja makan. "Mama gak kasih kamu oleh-oleh ... tapi bohong," ucapnya dengan cengiran lebarnya. Ditatapnya anak-anaknya satu persatu. "Nih, jaket kamu, Ghan,"


"Hm." Ghani menerima dan meletakkannya di pangkuannya langsung.


"Kamu gak lihat dulu?"


"Ntar aja, Ma. Kan lagi makan."


"Oh iya." Mama menyodorkan sebuah paper bag kepada Shelia. "Nih buat kamu, kamu pasti suka deh sama bajunya."


Shelia mencoba menarik sudut bibirnya. "Makasih, Ma."


"Hm. Tumben kamu pendiam hari ini," ujar Mama yang tanpa menunggu tanggapan Shelia, dia malah berbalik untuk menatap Mira dengan sorot mata jahil. "Yang ini buat kamu,"


Mira sumringah. Ternyata mamanya tidak setega it–


"PEUYEUM?" tanyanya setengah berteriak.


Sang mama tentunya tersenyum amat sangat manis sambil mengangguk.


"Ghani dibeliin jaket, Sheli dibeliin baju, masa aku cuma dibeliin peuyeum? Mama tega! Mama gak adil."


"Apa salahnya sih, Mir? kamu kan doyan makan. Berarti Mama gak salah dong?"


"Inilah yang disebut dengan Ibu kandung rasa Ibu tiri–"


"Sembarangan!" seru Mama sambil mengeluarkan sebuah kresek. "Ini Siomay, seblak, dan cireng. Masih kurang puas juga? Nih," sebuah paper bag dikeluarkan Mama lagi dan diberikan kepada Mira. "Ini baju tidur, khusus buat kamu yang Mama beli dari butiknya Mbak Renata yang ada di Bandung. Tapi jangan dibuka di sini, ini hadiah buat kamu sekaligus buat menantu Mama. Biar kalian tambah harmonis." Mama tersenyum jahil di akhir kalimatnya.


Mira tersedak air minum yang sedang diminumnya barusan, karena paham dengan maksud mama. Ini pastilah bukan baju tidur biasa yang dikatakan mama barusan. Dan itu membuat wajah Mira bersemu merah karena menahan malu. Akhirnya, tanpa banyak bicara ia mengambil semua oleh-oleh mama dan memindahkannya ke meja, termasuk semua makanan tadi.


Mama mah banyak bener jahilnya, ujung-ujungnya malah bahas gituan di depan Ghanu sama Sheli.


Sheli?


Mampus gue lupa kalo Sheli punya masalah besar yang Mama mesti tahu.


"Ma ..." suara Shelia memanggil Ibu Pertiwi.


Mama mendongak dan menunggu Shelia melanjutkan ucapannya.


Apakah ini saatnya?


oke, gue mesti beri kekuatan buat Sheli sekaligus Mama. Gue sama Ghani mesti bisa menjaga keduanya dari kehancuran.


* * *