AL-THAR

AL-THAR
#94. Duo Racun



Mira duduk di kursi yang ada di teras rumah Lukman, setelah tadi dia menjenguk ibunya Ridho satu jam lamanya. Mira tidak sendirian, dia bersama Lukman dan Ilyas saat ini. Kedua sobatnya yang selalu care itu menemaninya mengobrol sembari istirahat untuk menunggu Athar yang katanya akan menyusulnya.


"Gila banget ya ... bisa gitu si Mimir hamil segede gaban begini ...." komentar Ilyas seraya menatap perut Mira dengan takjub.


Mira tak merasa tersinggung. Dia sedang sibuk mengemil jajanan yang dulu pernah ia hina saat Shelia hamil dan menggemarinya.


"Kayak gak percaya ya, Yas," Lukman menimpali. "Anak laki kok hamil."


"Gue wanita, sodara-sodara ..." sahut Mira santai. "Gue wanita yang bisa hamil juga."


"Nah itu. Sulit dipercaya."


"Pengin gue berkata kasar ya sama kalian. Tapi itu nggak baik buat anak gue yang sudah bisa mendengar suara Mamanya ini."


Lukman dan Ilyas tergelak. "Jiah, Mira jadi emak-emak!"


"Lucu ya."


"Banget. Kayak anak-anak punya anak."


"Tadi gue dibilang anak laki, sekarang anak-anak," Mira menyahuti masih sedatar itu.


Ilyas menyahut, "Lah intinya lo emang masih anak-anak, Mir."


"Semerdeka kalian deh ya. Gue anggap kalian adalah netijen nyinyir kelas dewa. Anggap aja gue artis–"


"Najis!" Lukman berlagak muntah.


"Tapi Mimir emang cakep kok sekarang, Man. Terlebih pas hamil gini. Entah kenapa gue melihat Mira versi yang beda."


"Udahan deh mengagumi guenya ..."


"Rasanya gimana, Mir?" tanya Lukman.


"Rasa apa nih? Rasanya diperawanin, rasanya dihamilin, atau rasanya hamil?"


Lukman berdecak atas pertanyaan balik dari Mira barusan. "Yailah, ngomongnya. Pake saringan dikit napa."


Mira terkikik karena reaksi temannya itu. "Berhubung gue udah jadi emak-emak muda, gue udah merasa biasa aja ngomong kayak gitu."


"Hadeeh ... gue cuma mau nanya, gimana rasanya hamil. Udah, itu doang."


"Lo mau hamil juga, Man?"


"Plis deh, kalian bahas apaan sih?" Ilyas menyela. "Mending lo suruh duduk deh, Mir, mereka-mereka itu ... gak capek gitu mereka berdiri dari tadi?" Ucapan Ilyas merujuk pada bodyguard yang berdiri di depan pagar rumah Lukman. Penampilan mereka memang biasa aja, alias tanpa oufit hitam-hitam seperti biasanya. Tapi perawakan mereka yang terlihat sangar itu tetaplah tidak bisa dianggap biasa.


"Yakin lo mau mereka bergabung sama kita?"


"Why not?"


"Ya udah." Mira melepas chikinya dan meminum jusnya sedikit. Kemudian dia memanggil, "Jim, Tob, sini yuk! Minum dulu ..."


Kedua orang yang disebut namanya oleh Mira itu hanya menoleh kepadanya dan mengangguk singkat. Setelah itu kembali pada posisi semula seperti tak terpengaruh sedikitpun.


"Nah, 'kan. Mereka cuma kayak gitu doang kalo gue ajakin mabar, alias makan bareng. Sana gih, Yas, paksa mereka."


"Ih ogah."


"Tadi lo mau mereka gabung."


Ilyas hanya menggeleng tak setuju. Rupanya itu bukan ide yang bagus.


"Mereka selalu begitu waktu jagain lo, Mir?" Lukman penasaran.


"Iya. Tapi nggak juga. Sesuai tempat aja sih. Kalo ikut nge-mall trus gue makan, ya mereka ikut ambil tempat dan makan juga. Supaya gak kentara banget jagain guenya."


"Emangnya laki lo lagi nyalon presiden ya? Kok bisa begininya lo dikawal."


Mira enggan menjelaskan lebih lanjut. Bukannya apa, dia hanya terlalu malas untuk bercerita panjang lebar kali ini. Kemudian dia bangkit perlahan setelah mengosongkan gelasnya. "Gue mau ke warung Bude Ratih ah."


"Mau beli apaan?" tanya Ilyas.


"Apa aja. Udah lama gak ke sana."


"Gue beliin aja deh, Mir. Kasihan gue liat lo susah payah bawa perut. Ya ampun, Mimir yang lagi hamil, gue yang ngilu lihatnya. Eh, ngilu apa lucu ya?"


"Gak usah, Yas. Gue mau jalan sendiri aja. Karena gue emang kudu banyak jalan. Nanti kalo Bang Athar ke sini, suruh duduk ya. Tungguin gue yang lagi jajan chiki."


.......


.......


Awalnya Mira duduk santai sembari menunggu jus Mangga yang dibuat Bude Ratih siap. Tentu saja dia menunggu dengan semangkuk soto ayam berikut sambalnya yang sudah lama dia rindukan. Akan tetapi, ketenangan itu tak berlangsung lama.


"Kok makan di sini, Mir? Ke rumah gue yuk! Nyokap gue nanyain lo tuh."


Mira urung menyuap soto karena mendengar suara seseorang yang begitu familiar di telinganya. Mendadak selera makannya berkurang. Padahal, dia pikir dengan Diva yang tiba-tiba mendapat panggilan telepon saat dia datang ke rumah Ridho tadi, maka dia bebas dari mantan temannya itu. Tapi kenapa sekarang dia malah bertemu dengan Diva lagi?


Diliriknya Jimmi dan Tobi yang berada tak jauh darinya, kini bersikap waspada namun masih tidak kentara.


Oke, gue masih aman karena ada Jim sama Tob.


gak papa, gue baik-baik aja.


Diva bukan ancaman ....


"Mami kangen sama lo. Lo disuruh ke rumah."


Bukan salah Mira kalau ia mencerna baik-baik setiap kata sekaligus ekspresi Diva saat mengucapkannya. Apakah Mira curiga? Sudah jelas. Curiga kepada seseorang yang dapat dikatakan sebagai pembenci kita bukankah itu hal yang wajar?


Apa katanya barusan? Tante Dewi ingin bertemu dengannya? Itu beneran atau cuma karangan Diva? Atau mungkin jebakan?


"Gue ...."


"Santai, Mir. Gue nggak segitunya bisa nunjukkin kebencian gue di depan mami. Tenang aja. Gue masih tau privasi. Masalah kita yang antara kita berdua aja."


Masalah 'kita' dia bilang?


"Gue nggak bisa," putus Mira. Lebih baik menghindar dari pada melakukan hal yang berpotensi menyakitkan hati, ya 'kan?!


"Lo gak mau ketemu Mami gue?"


"Bukan gak mau." sekarang Mira ragu. Rasa hutang di masa lalu terhadap orang tua Diva kembali lagi memenuhi hatinya. Tante Dewi sudah terlalu baik dan akan selalu menjadi sosok yang baik karena jasanya terhadap keluarga Mira di masa lalu. Hal itu tidak akan bisa dirubah walau sejahat apapun Diva, dan sebenci apapun baik Mira maupun Diva.


"Ya terserah lo sih. Gue cuma menyampaikan amanat Mami gue. Kalo lo gak mau, ya udah."


Diva hendak berbalik.


"Lain kali gue mampir. Salam buat Tante Dewi."


Diva tak peduli. Dia melangkah saja. Namun saat langkahnya baru bergerak dua langkah, dia berhenti dan menoleh kembali kepada Mira.


"Oh ya, ada yang mau gue kasih tahu sama lo."


Mata Mira refleks menatap Diva sekarang. Dia mesti siap akan apa saja yang hendak dikatakan oleh cewek itu.


"Belva itu ... sepupu gue loh."


...---...


Sudah tak sabar rasanya Mira menceritakan tentang kunjungannya kemarin ke rumah Ridho. Awalnya sang Mama dan Shelia berniat ikut juga, tapi mendadak Mama ada masalah dengan kateringnya, dan Shelia yang memang sedang sibuk mengurus dua pernikahan sekaligus. Alhasil, Mira pergi sendirian menjenguk ibu temannya itu. Lusa katanya Mama Pertiwi baru bisa pergi kesana.


"Serius?" Shelia tak percaya dengan yang Mira bilang barusan. "Kok gue gak pernah kenal ya? Bukannya sepupunya dia itu Sinta, Kiki, Chandra, Rudi ... dih, banyak banget deh kayaknya sepupu Diva tuh. Tapi kalo yang ini, Bang Irwan pun kayaknya gak pernah cerita deh. Atau gue-nya yang terlewat?"


"Sepupu jauh kayaknya. Gue beberapa kali pernah denger sih Tante Dewi juga Bang Irwan cerita tentang saudara jauh mereka. Cuma gak pernah menyangka aja kalo itu si Belva."


"Bisa gitu ya ... duo racun."


"Racun apa?" Athar tiba-tiba telah menghampiri kakak beradik itu. Dirangkulnya sang istri dengan sayang.


"Keong racun," jawab Mira. "Sheli mau pelihara keong racun kayaknya, Bang."


"Enak aja." Kakaknya itu tak terima. "Udah ah, gue cabut dulu. Titip Tia ya."


"Iyeh."


Shelia pergi dengan urusannya. Sedangkan Mira sedang selonjoran di sofa di lantai dua. Sembari dia menunggu kalau-kalau baby Tia yang sedang tidur di kamarnya, terbangun. Baby sitter Tia sedang ke mini market sebentar katanya.


"Abang besok jadi ke Bandungnya?" tanya Mira pada suaminya yang sudah menggenggam tangannya possesif.


"Jadi dong. Ini tender penting banget, Al."


"Sama dia?"


"Siapa?"


"Nanda. Siapa lagi emangnya." dia bete banget rasanya kalau Athar membahas cewek seksi itu. Padahal dia sendiri yang menyebut nama yang membuatnya sensi sendiri.


"Bukan cuma dia yang pergi, beberapa orang yang memang posisinya penting memang mesti datang. Kamu jangan bete gitu dong, lagian 'kan cuma dua hari. Kamu juga mesti inget, lusa jangan lupa ngajuin cuti. Aku gak mau kamu pergi ke kampus disaat kamu hampir melahirkan."


"Belumlah. Masih ada tiga atau empat minggu lagi melahirkannya. Tapi bisa maju, juga bisa mundur. Kadang-kadang udah terasa Braxton hicks alias kontraksi palsu."


"Tuh 'kan. Ya udah kamu gak perlu ke kampus lagi deh. Biar aku aja yang urus cuti kamu."


"Jangan ih, Bang. Aku 'kan mau ketemu sama temen-temen dulu. Mau nongkrong dulu,"


"Al."


"Sebentar nongkrongnya. Beneran gak lama deh."


"Awas ya kamu," Athar mencium pipinya gemas.


Saat itu ponsel Mira berbunyi notif sebuah chat. Setelah ia menengoknya, rupanya chat dari Pram yang mengatakan akan menunggunya di cafe nanti siang.


"Pram ajakin aku nongkrong di cafe Abang ntar siang," ucapnya bermaksud memberitahu Athar. Hari ini baik dia maupun Athar memang tak ada yang berangkat, baik itu kampus dan kantor.


"Boleh. Tapi gak boleh lama-lama."


"Sip. Trus Abang ada rencana apa?"


"Ya ikut kamulah."


"He?"


"Mana bisa aku lepasin kamu selagi aku punya waktu buat jagain kamu, Al."


...---...


Semakin mendekati ending yang ... gitu deh. 😁