AL-THAR

AL-THAR
#34. Bang Den



Selamat membaca, pemirsah semua!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"B-bang Den ... nis."


Mira menahan gugup yang melanda. Ia tahu kalau suatu hari ia mesti dipertemukan dengan Dennis dalam keadaan sendiri, maka ia harus mampu menjaga agar ketakutannya tidak nampak di permukaan.


Setelah mengetahui dua sisi Dennis yang berbeda, mau tak mau itu membuat Mira tak ingin bertemu cowok itu lagi, andai bisa. Dan bila dalam keadaan terlanjur seperti ini, maka ia harap akan ada satu orang saja bodyguard Athar yang menemaninya.


"Apa kabar, Mir?"


"B-baik."


"Sudah berapa lama ya kita tidak bertemu? Rasanya lama banget."


nggak selama itu deh. Sebelum gue nikah kan dia udah datang ke rumah.


Mira terdiam karena takut. Ya, dia setakut itu kala Dennis berada di dekatnya kini. Akan selalu ada kekhawatiran saat seseorang yang nyatanya mampu berbuat jahat ternyata tiba-tiba datang menghampiri kita. Hilang sudah Dennis yang ramah dan lucu, yang Mira kenal sebelumnya. Yang ada hanyalah Dennis yang mengerikan bagi Mira.


Mira mengalihkan matanya kemana-mana agar tak terlalu tepat melihat pada netra cowok tampan tetapi jahat itu. Ia juga berupaya tak menanggapi ketika mata Dennis tengah menatapnya lekat untuk beberapa saat lamanya.


"Kamu tega sih," Dennis membuka suara. "Baru aku tinggal sebentar aja, kamu malah sudah menikah dengan Athar. Sebegitu takutnya ya kamu kehilangan dia?"


Mira menelan saliva. Mungkin nada bicara cowok itu terdengar ramah, pelan, dan baik. Namun entah mengapa Mira merasakan kalau ada suatu arti saat Dennis berkata begitu. Hal tersirat yang sebenarnya ingin diucapkan namun tergantikan oleh kalimat yang lain, yang berbeda maksud dan tujuan.


Bahkan hingga detik ini Mira takut untuk mengeluarkan suara lagi.


Dennis mengerutkan keningnya. "Kenapa sih? Kok kamu kelihatan takut gitu? Padahal udah cantik gini juga,"


Mira menggeleng singkat. "Kok Bang Dennis tahu gue di sini?"


kemana para bodyguardnya Bang Athar sih? gue takut gini juga,


Sebuah senyum manis Dennis layangkan untuk Mira. "Aku kan ..." cowok itu terdiam sesaat seperti sedang mencari sebuah jawaban yang tepat. "Yah, aku beruntung aja melihat kamu sedang ada sini. Kan emang tujuanku datang kesini ya untuk datang ke pesta kamu, walaupun nggak kamu undang."


"Oh, itu ... gue gak tahu Bang Dennis ada dimana. Trus, kok akhirnya Bang Den bisa tahu?"


"Kan banyak teman-teman aku yang kalian undang. Pastinya aku bakalan tahu juga kan?!"


oh iya juga.


"Hm ya udah, Bang Den ke lokasi acara aja. Gue masih mesti nungguin Sheli yang ada di–"


"Shelia hamil ya?"


Ha? KOK DIA BISA TAHU?


Dennis tersenyum simpul. "Ada deh. Tenang aja, aku bisa menjaga rahasia kok."


Ini bener-bener aneh. Gimana dia bisa tahu sedangkan kami sekeluarga bahkan menutupinya. Jangan orang lain, Pram atau Puput aja gak ada yang gue kasih tahu.


Sekarang Mira benar-benar tak mampu berkata-kata lagi di depan cowok yang tak bisa dianggap remeh itu. Setahu Mira, bahkan Dennis tetap datang ke pestanya meskipun ia bermusuhan dengan Athar dan Dirga.


Bang Athar di mana sih?


"Ayo kita turun," ajak Dennis yang bermaksud menuju lokasi bersama dirinya.


"Bang Den duluan aja,"


"Ayolah, Mir," bujuknya dengan nada manja. "Aku gak mau sendirian kesananya. Nanti kalau Athar lihat aku trus marah sama aku, gimana?"


ya siapa suruh lo datang?


"Tapi gue–"


Dennis meraih tangan Mira yang belum sempat Mira elak saat tangan cowok itu mendekat. Seketika Mira merasakan takut yang luar biasa. Meskipun terlihat ada beberapa cctv di tiap sudut hotel, tapi saat ini ia sedang sendirian.


"Bang Den lepas–"


"Ayolah, Mir. Kamu sudah tinggal aku buat menikah sama Athar, masa untuk jalan bareng aja kamu keberatan?"


Mira menggeleng cemas. Dia berupaya melepaskan tangannya yang berada dalam cekalan Dennis, tapi itu tak semudah yang dikira.


Lalu disaat kecemasan dan khawatirannya memuncak, sebuah suara menginterupsi dan membuat dirinya serta Dennis menoleh. Betapa leganya hati Mira saat melihat Ryo di sana. Dapat dikatakan kalau sahabatnya itu datang di saat yang tepat.


"Lepasin, Bro!" Ryo menatap tajam Dennis.


Mira menyentak tangan Dennis yang syukurnya kali ini berhasil ia lepaskan. Buru-buru ia berlari ke arah Ryo dan berdiri di belakangnya.


Dennis tersenyum getir menatap Mira yang telah meninggalkannya. "Kamu setakut itu sama aku, Mir?"


"Ya takutlah, Bro. Lo gak pantas melakukan itu kepada pengantin."


"Melakukan apa?" tantang Dennis. "Gue gak ngapa-ngapain sih sayangnya. Dan lo ... lo siapa yang berhak buat bersikap begini ke gue?"


Ryo tak menyahut. Bahkan ia masih terdiam saat Dennis menyeringai. "Ah ... gue tahu. Mira itu kasih tak sampai lo kan?!"


dia pikir dia nggak gitu?, bathin Mira menyahut.


"Ayo, Mir." Ryo menarik tangan Mira untuk berbalik badan dan segera pergi dari tempat itu. Dia menahan Mira agar tidak menoleh bahkan saat Dennis memanggil-manggil namanya.


...* * *...