
...Happy reading!...
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
"Loh?" Mira terkejut saat mendapati Ryo yang menjadi sopir grab-nya sekarang. "Kok bisa?"
Ryo tersenyum penuh misteri. Sebelum ia mengeluarkan suara kembali, segera ia menjalankan mobil untuk segera menjauh dari area kampus.
Tak jauh dari kampus dilalui, Ryo menepikan mobilnya dan menoleh kepada Mira. "Duduk di depan dong," pintanya.
Mira mengerjap sesaat lalu mengangguk. "Oke."
Agak gugup sebenarnya perasaan Mira. Ia khawatir kalau-kalau Athar sampai tahu dengan hal tak terduga seperti ini.
"Kok bisa, Yo?" Mira tak tahan untuk tak bertanya. Bagaimana bisa ini terjadi? Perasaan dia sudah memesan grab sesuai aplikasi. Normal. Dan berjalan biasa saja.
Ryo melempar senyum sekilas sambil menjalankan mobilnya. "Bisa dong. Yang namanya jodoh itu gak akan kemana."
Mira menelan saliva. Ini terasa kurang tepat. Tapi perasaannya masih dapat santai karena ia mengerti dan mengenal dengan pasti bagaimana sahabatnya itu.
"Kok diam?" tanya Ryo dengan menoleh sesaat.
"Ya aneh aja," ucap Mira jujur. "Otakku gak sampai untuk mencernanya, Yo."
Ryo terkekeh pelan. "Gak usah dipusingin. Kan sudah kubilang kalau kita berjodoh ... untuk bertemu hari ini."
gue deg-degan. Berasa kayak lagi selingkuh. Tapi, jalannya bener kok ke arah rumah Mama. Secara, dia emang gak tahu kan rumah Bang Athar di mana.
"Teman aku itu adalah driver yang kamu pesan. Ini juga mobil dia. Kebetulan aku melihat hpnya, trus aku baca nama kamu dan aku yakin itu kamu, ya udah, aku ambil alih buat jalanin job dia. Tenang, aku cuma pengen senang-senang aja hari ini."
"Oh gitu,"
"Kita jalan-jalan ya."
waduh
"Jangan, Yo. Nanti Bang Athar marah."
Ryo masih dengan senyum manisnya yang teramat lebar. "Aku gak peduli, Mir. Aku pengen bahagia hari ini."
"Kamu bahagia? lah aku sengsara, Yo," keluh Mira protes. "Bisa perang dunia ke tiga nanti di rumah."
Ryo menghentikan mobil saat mendapati lampu merah menyala. Dia menoleh kepada Mira sambil menatap serius. "Kalau gitu nanti aku yang bicara sama dia. Aku yang bakalan menghadapi dia,"
Mira segera menggeleng keras. "Nggak, Yo. Jangan," mana mungkin Mira membiarkan hal itu terjadi. Sama saja dengan menyuruh kedua cowok itu untuk baku hantam. Setidaknya itu sudah pasti dapat Mira bayangkan bila melihat dari sudut pandang Athar.
"Kenapa? Aku gak akan biarkan kamu disakitin dia loh,"
"Pokoknya aku gak mau kamu sama Bang Athar bertemu. Cukup aku yang akan menghadapi masalahku sendiri."
"Jadi dia sebuah masalah?" Ryo seakan menemukan sebuah kata yang dinantinya, yang akhirnya keluar dari mulut Mira ... sesuai dengan harapannya.
Mira tertegun. "Bukanlah. Maksud aku bukan kayak gitu. Andai aku akan mendapat masalah karena pergi sama kamu, maka aku akan menyelesaikan sendiri masalahku. Gitu."
bukan andai, udah pasti Bang Athar marah. deudeuh ...
"So?" Ryo meminta kepastian.
"Apa?"
"Kita jalan?"
Mira menggeleng pelan. "Antar aku pulang aja, Yo ..."
"Tapi aku mau bersama kamu hari ini, Mir. Sebentar aja." Ryo memandang lurus ke depan. Tapi Mira tahu kalau pikiran cowok itu entah sedang berada di mana. "Aku ingin menjadi orang yang egois dalam hidup ini mulai sekarang. Aku bosan menjadi baik ... karena kalau aku tetap menjadi diriku yang baik dan menyenangkan, maka aku tidak akan pernah bahagia."
...πΎπΎ...
"Mau ngapain?" tanya Shelia dengan juteknya. Saat ini mereka masih sama-sama berdiri di depan pintu. Dirinya dengan orang di hadapannya kini adalah musuh. Ya, sepertinya itu yang Shelia rasakan.
"Mau nengokin anakku lah," sahut Bryan dengan senyuman.
"Gak usah senyum! Aku benci lihatnya."
Senyum Bryan semakin lebar lagi. "Anakku apa kabar?"
"Gue bukan anak lo, kali," gerutu Shelia. Dia benar-benar sudah tidak dapat menyembunyikan rasa bencinya yang semakin menjadi entah kenapa.
"Anakku berada di dalam perut kamu, Sheli."
"Gak usah kepo deh,"
Bryan sedikit mengerutkan keningnya, tapi tak mengurangi wajahnya yang cerah. "Perasaan, terakhir kali kita bertemu di York, sikap kamu masih bersahabat denganku. Kenapa sekarang malah berubah, Shelia?"
"What?"
"Udah deh, Bryan, mending kamu pergi dari sini sekarang juga. Aku gak mood lihat kamu. Aku benci banget lihat kamu," Shelia mengungkapkan apa yang ada di hatinya.
Gue tuh pengennya lihat Ubay. Gue ngidam lihat Ubay. Bukan lo!
"Why? Kenapa begitu? Apa salahku, Shelia?"
"Salah lo ya karena lo bikin gue hamil!" serunya kesal. Masih berani tanya salahnya apa? dasar sinting.
Bryan menggaruk kepalanya. "Iya sih, mungkin aku telah menaruh saham sebanyak 55% yang telah membuat kamu hamil,"
"Kenapa jadi lebih banyak saham kamu? fifty-fifty lah. Enak aja. Aku yang merasakan hamil, masa sahamnya lebih sedikit," gerutu Shelia sewot.
Bryan tersenyum. "Nah itu. Saham kita jumlahnya sama besar. Makanya, kesalahan ada pada kita berdua. Bukan hanya aku sendiri. Karena kalau cuma ada sahamku tanpa saham kamu, maka itu tidak akan pernah bisa menjadi sebuah janin."
Shelia tak mampu membalas perkataan Bryan. Makanya, dia jadi melebarkan matanya dan semakin marah saja rasanya.
"Jangan marah," larang Bryan dengan raut khawatir. "Ibu hamil tidak boleh stres, tidak boleh marah, dan tidak boleh kesal."
"Makanya lo pergi dari hadapan gue sekarang juga!" serunya. "Lo yang bikin gue marah, kesal, dan stres. Paham gak sih, lo?"
Bryan terdiam beberapa saat sembari membalas tatapan sebal dari Shelia, dengan tatapan yang hangat. Ya, sebahagia itu dia sekarang karena mendapati kenyataan kalau dirinya akan menjadi seorang ayah.
"Aku masuk ke dalam ya," kata cowok bule itu sambil melongok ke dalam rumah Shelia. "Mama kamu ada? Aku mau ketemu."
"Gak ada Mama! Mending kamu pergi, Bryan. Aku mau sendirian," Shelia lebih dari jengkel. Makanya ia memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
Bryan yang khawatir segera mendekatinya dan memegang lengannya. "Kamu kenapa? Aku gendong ya,"
Shelia mendelik dan menghempaskan tangan lelaki itu. "Aku mau istirahat. Jadi lebih baik kamu segera pulang. Kamu cuma membuat aku stres, Bryan."
"Oke," sahut Bryan langsung. "Aku akan pergi setelah memastikan kamu tidur di kamarβ"
"Gak perlu. Aku bisa sendiri!"
Shelia segera berbalik kanan dan menutup pintu dalam hitungan detik tanpa menatap ke wajah lelaki itu lagi.
Dihembuskannya nafas agar emosinya reda dan pernapasannya kembali teratur. Matanya memejam sesaat sambil memijat pelan keningnya yang masih terasa nyut-nyutan.
Anehnya ia merasakan sebuah gerakan berasal dari dalam perutnya.
Seketika Shelia membulatkan matanya dan menganga. Ditatapnya Bi Nani yang berjalan tanpa suara menghampirinya.
"Bi ..." bisiknya penuh arti.
"Kenapa, Neng?"
"Perut aku ... terasa ..."
"Terasa apa, Neng?" Bi Nani terlihat cemas. "Sakit? Bibi telponin ibu ya? Apa si Aa? Atau Neng Mira?"
Shelia menggeleng. "Nggak sakit, Bi ..."
"Trus kenapa, Neng?"
"Ada yang gerak di dalam sini, Bi," tunjuknya kepada perutnya.
Si Bibi menghela nafas lega. "Iya atuh, Neng. Geraklah pastinya di jabang bayi Eneng."
"Kok bisa?" Shelia masih takjub dengan perasaannya yang ... entah, sulit untuk dijabarkan. "Habis ketemu Bapaknya dia bergerak?"
"Mana Mas Bule nya, Neng?" Bi Nani celingukan ke arah belakang Shelia.
"Sudah kuusir."
"Lah?"
Shelia berjalan meninggalkan Bi Nani yang masih terbengong. Sedangkan dirinya sedang merasa amazing dengan apa yang baru dirasakannya.
Kenapa, Cil? kenapa bergerak-gerak dan bikin Mommy kaget? Apa karena Ayah kamu?
Shelia merasakan kembali pergerakan itu. "Kamu tendang, Mommy?" ia berbicara sendiri. Bukan, ia berbicara dengan jabang bayi di dalam perutnya. "Kamu beneran pengen ketemu Daddy kamu? No, Sayang. Jangan sekarang. Tidak. Mommy belum siap untuk berdamai."
...πππ...
Like
Komen
Dan hadiahnya ya π