
Katanya masalah rumah tangga itu kan gak boleh dibawa keluar rumah, ya kan?! Nah, makanya Mira juga berupaya sebisa mungkin untuk menutupi kalau cekcoknya dengan sang suami agar tak sampai pada telinga selain, bi Nani, pak Teguh dan para bodyguard yang ada di rumahnya. Sudah pasti orang-orang yang Mira sebutkan tadi mengetahui masalahnya dengan Athar, hanya saja mereka diam dan mengetahui batasan untuk tidak ikut campur.
Maka dengan keluarganya sendiri, Mira pun menjaga agar tak satupun dari mereka yang tahu masalah antara dirinya dengan Athar.
Hari ini, pukul sebelas adalah acara open house yang Mira gelar untuk mengundang warga kampung, teman-teman, maupun kenalan yang belun datang ke acara resepsinya. Ya wajar mereka belum datang, lha wong acaranya di Bali. Maka cuma segelintir orang yang bisa terbang kesana.
Acara open house ini diadakan di rumah sang mama, tentu atas persetujuan baik itu dari mama, Mira, maupun Athar. Maka, ketika Mira harus tampil seolah tanpa masalah dengan Athar, itu cukup membuatnya frustasi. Bagaimana bisa, padahal dua jam yang lalu ia masih menangis karena pertengkarannya dengan Athar, kini ia mesti tampil senyum di depan semua orang. Dia harus nampak bahagia, karena ini acara masih dalam rangka perayaan pernikahannya kan?!
Begitupun dengan Athar, saat Mira diam-diam memerhatikan ekspresi wajah suaminya itu kala tiba di rumah mamanya, wajah Athar tampaklah biasa-biasa saja. Memang ahlinya kan cowok itu tanpa ekspresi seperti Ghani juga.
"Tuh bibir kenapa kayak hidungnya pinokio sih?" Shelia tiba-tiba nongol di samping Mira sambil memakan sebuah apel.
"Heh, amit-amit lo lagi hamil ngomongnya yang nggak-nggak."
"Iya ya, amit-amit deh."
"Gak tulus amat sih amit-amitnya,"
"Ini kita lagi bahas amit-amit gitu?" Shelia jengah. "Perasaan gue pengen komentarin kenapa mulut lo dari tadi gue perhatiin itu gerakannya gak manusiawi banget."
Mira berdecak. Emang, Shelia adalah orang paling peka kalau masalah mood Mira sedang tidak baik.
"Gak papa. Cuma lagi bete aja."
"Bete kenapa?"
"Pengen makan es krim sambil ditemenin sama beruang kutub, tapi gak kesampean."
"Woah, jangan-jangan lo hamil?"
Mira menggeleng keras. "Nggaklah. Gue baru kelar halangan dua hari yang lalu."
"Trus, kenapa lo pengen yang aneh-aneh?"
"Nah itu, gue juga gak ngerti. Makanya gue jadi kesel sendiri." Mira bergerak untuk mengambil buah-buahan yang akan dikeluarkannya sejam dari sekarang."
"Eleh, bilang aja lagi tengkar sama Athar," ucap Shelia datar. "Pake pengen ketemu sama beruang kutub segala. Noh, temen lo si Abay adalah beruang kutub masa kini." Shelia pergi dari dapur dan meninggalkan Mira yang terbengong.
"Hebat, Sheli itu emang punya bakat dukun sejak dulu."
.......
.......
"Mimiiiiirrrr!"
Mira menoleh. Suara yang amat dihapalnya itu telah memenuhi taman belakang, dimana pesta kecil-kecilan itu diadakan.
Rido dan Ilyas berlari mendekat kepada Mira. Keduanya antusias dan memandang takjub sahabat selebor mereka.
"Gila, gue gak nyangka. Lo yang jadi kandidat terakhir dapat jodoh malah duluan, yang pertama ... gila, gila, gila, demi Nurlela, gue masih gak percaya." Rido bergeleng-geleng dengan wajah yang masih nampak ragu.
"Lo gak settingan, kan?! Bikin konten? Atau lagi ngeprank kita-kita?" Ilyas seirama dengan Rido.
"Siapa gue pake settingan segala? artis bukan, anak pejabat juga bukan. Ngapain juga mesti ribet-ribet ngeprank lo lo orang," sahut Mira jengah. Emang ya, teman masa kecilnya itu gak pernah berubah.
"Ya kan mestinya urutan dapet jodohnya tuh gue dulu," kata Rido. "Trus Ilyas, trus Lukman, trus lo deh."
"Lo bukan Tuhan, Do. Yang ngatur jodoh itu Tuhan, kelles."
"Iya sih," temannya itu menghela nafas. "Seriusan cogan yang waktu itu datang ke rumah Lukman yang jadi suami lo, Mir? dih anjr gue gak percaya bakalan nyebut pake mulut gue; suaminya Mira. Mira punya suami? ya ampun, keajaiban dunia telah terjadi di depan mata gue."
"Ish, bawel banget sih lo. Hadapi aja kenyataan. Makanya jangan remehin itik. Karena itik lama-lama berubah wujud jadi angsa. Odet. Eh btw, mana si Emus ketimus? Lo gak ajak? trus si Lukman kemana juga ini? Masa gak datang?"
"Mereka naik mobil by the way," sahut Ilyas. "Gue sama Rido motoran."
"Lukman bawa mobilnya si Diva. Lo jangan kaget kalo sekarang mereka akrab."
Mata Mira melebar. "Serius? jadi Lukman berhianat sama gue?"
"Nggak juga sih, Mir," jawab Rido. "Sejak gue ditolak Diva, entah kenapa si curut itu suka banget disuruh-suruh sama Diva. Ya mentang-mentang Lukman kerja sampingan sebagai ojol. Jadi apa-apa tuh Diva percaya banget sama Lukman."
"Gue mencium aroma-aroma jealous ini sih," ujar Ilyas sambil melirik Rido.
Mira malah tertawa. Sambil memegang lengan Ilyas dia berkata, "Kayaknya bakalan ada cinta segitiga nih, Yas."
"Bukan segitiga, Mir. Tapi segi delapan."
"Kok bisa?"
"Yang naksir Diva banyak sih."
"Ah iya ... gak heran sih gue–"
"Ehem!" suara deheman seseorang membuat ketiganya menoleh. Di tengah-tengah Mira dan Ilyas kini berdiri Athar dengan tampang datarnya.
"Widih, Bang Bro!" Rido langsung menyalami Athar. "Selamat ya. Ya ampun, kenapa bisa sih nikahin pacarnya yang biasa ini–aduh–" Rido meringis sekaligus melotot kepada pelaku penginjak sepatunya. "Sepatu baru ini, Mir. Jangan dibikin cacat dong,"
"Gue istrinya, bukan pacarnya."
"Iya-iya. Santuy dong!"
Lalu giliran Ilyas yang menyalami Athar. "Selamat ya, Bang."
"Makasih."
"Perasaan kalian belum kasih selamat buat gue deh dari tadi," protes Mira. "Yang ada gue malah dikatain gila, gila, gila doang."
Rido dan Ilyas menyengir lebar. Namun saat keduanya beralih menatap mata Athar, baik Rido ataupun Ilyas paham tatapan Athar yang tak suka, berbeda dengan beberapa saat yang lalu.
"Dih Mimir, jangan bahas yang nggak-nggal deh," Rido langsung mengambil tangan Mira dan berucap, "Selamat ya, Mimir kami yang sebening angsa. Selamat menempuh hidup baru. Selamat berbahagia. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warrohmah."
"Aamiin sih, tapi gue gak setuju sebening angsanya, Do. Emang angsa bening?"
"Gak usah protes, Bu. Ntar gue cancel nih doa gue."
...🍉🍉🍉...
Mira memperhatikan tamu-tamunya yang sebagian besar datang dari kampungnya yang dulu. Dia juga memperhatikan bagaimana sang mama yang melepas rindu dengan tetangga-tetangga mereka zaman dulu. Terlebih, kenangan sewaktu masih ada Papa yang paling teringat jelas diantara semuanya.
"Gak usah banyak-banyak makannya," suara Athar tiba-tiba di sampingnya. Nada suara cowok itu masihlah ketus ketika mereka berdua saja. Beda saat mereka berada di sekitar tamu-tamu, maka Athar akan berlaku manis, sewajarnya seorang pengantin baru.
Saat ini Mira memang tengah menikmati bakso untuk mangkuk yang kedua. Dia menoleh dan protes, "Kenapa nggak boleh? Biasanya juga boleh. Lagian, terserah aku mau makan sepuluh mangkuk sekalipun," balasnya jutek.
Oke, Mira tak dapat menghindarinya. Perasaan marah yang terpaksa mesti dipending dulu ya begini jadinya. Jatuhnya jadi sinis, marah-marah, sensi, tapi mesti pura-pura manis di hadapan semua orang. Andai saja acara ini berlangsung seminggu yang lalu, maka Mira yakin kalau keromantisan Athar bakalan membuat para tamu jadi envy.
Tapi sayangnya, acara terjadi saat dia sedang memiliki masalah dengan Athar. Maka begitu susah payah dia menekan perasaan sedihnya agar tidak nampak ke permukaan dan bisa membuat jadi bahan gosip para tamu.
Masa pengantin baru udah cekcok? Punya anak juga belum masa udah kena badai rumah tangga?
"Kebanyakan, Al, perut kamu nanti sakit."
"Ini cuma bakso, Bang. Bukan mangga muda yang bisa bikin perut aku sakit karena terlalu asam–"
"Mangga muda?" sahutan mama yang datang dari belakang Mira membuat keduanya menoleh. "Kamu kepengen mangga muda? Jangan-jangan kamu–"
"Nggak, Ma. Belum. Aku belum isi, sumpah," sambar Mira buru-buru.
Mama yang awalnya tersenyum semringah kini lenyap senyumnya. "Eh, Mama kirain."
kenapa mama segitunya pengen gue hamil sih? kan udah ada Sheli yang lagi hamil.
"MBAK TIWIIII!" seruan seseorang datang dari luar memanggil mama Mira.
"Tante Wirda ya, Ma, kayaknya?" tanya Mira yang mengekor sang mama berjalan ke taman.
"Iya kayaknya."
Dengan mangkuk bakso yang masih berada di tangan, Mira dan mama kembali ke taman tempat acara diadakan. Benar saja, di sana telah ada Tante Wirda dan beberapa teman arisan mama dulu di kampung. Suasana menjadi riuh dan ramai seketika.
Tapi yang membuat fokus mata Mira teralih bukanlah kepada tamu-tamu mamanya itu. Melainkan, ada sebuah rombongan yang baru saja datang dan seorang diantaranya yang langsung bertubruk mata dengan Mira.
...* * *...