
...Happy Reading!...
...---...
"HAH?" Mira tak menampik keterkejutannya. Bagaimana bisa? Bukankah cerita itu sudah berlalu? Sebab keduanya yang sama-sama menolak keras perjodohan. Itu yang Mira ketahui. "Kok bisa, Pram?"
Sahabatnya itu menghapus air mata lagi. Dia mengangguk pelan.
"Bukannya–"
"Ryo jahat!" Pram berseru murka. "Entah apa yang terjadi sama otak dia tiba-tiba. Tadi pagi nyokap gue bilang di depan gue sama Raihan kalo ... kalo Ryo berniat menikahi gue. Menikah?! What the hell, 'kan?! Bayangkan, Mir, seberapa hancur hati gue sama Raihan? Dasar penjahat! Ryo bener-bener penjahat."
Mira mencerna dengan baik. "Jadi, ini kemauan Ryo?"
"Iya, katanya. Brengsek tuh orang! Gue telepon tapi gak nyambung-nyambung. Coba lo yang telepon, Mir,"
Bukannya nggak mau. Tapi Mira sudah mengambil langkah lebih baik untuk tidak berhubungan dengan Ryo lagi. Karena akan banyak masalah yang terjadi bila sekali saja ia buka kesempatan itu.
"Jangan gue deh, Pram,"
"Siapa lagi?"
"Ya gue kasih nomor dia yang gue punya, trus lo hubungi dia pake hp lo aja. Gue udah bener-bener berupaya mencegah terjadinya masalah, Pram. Karena mencegah lebih baik dari pada memperbaiki. Plis ngertiin gue, 'kan gue lagi berbadan dua gini, Pram."
Pram paham betul mengenai sahabatnya itu yang sudah lebih tegas dalam mengambil sikap. "Ya udah, sini nomor dia."
Segera Mira mengeluarkan hpnya dan mulai mencari nomor ...
"Loh, nggak ada, Pram." Mira menggulir ratusan kontak yang ada di hpnya, dan diperhatikannya kembali dengan cermat. "Serius udah nggak ada nomor Ryo di kontak gue. Bahkan di riwayat panggilan telepon pun nggak ada. Mendadak raib masa! Waduh, kok bisa ya?"
"Ya bisalah kalo lo masih punya suami semacam Bang Athar."
Bibir Mira terbuka. "Ha? Oh iya bener. Jangan-jangan emang Bang Athar yang sudah hapus kontak Ryo di hp gue. Belakangan ini hp gue emang sering dipegang dia sih, selagi gue gak minat dan lebih memilih ngemil makanan yang aneh-aneh."
"Makanan aneh apaan? sate biawak?"
"Ya nggak itu juga kali, Pram. Makanya gue bilang aneh, karena gambar di google yang gue temukan selalu makanan yang bukan dari dalam negeri. Jadi terlihat aneh saat bener-bener hadir di depan mata gue. Gitu loh."
"Oh," Pram telah menghentikan tangisnya. Ia masih sesenggukan namun berupaya tenang untuk memikirkan masalahnya.
"By the way, nyokap lo nggak bilang alasan Ryo yang tiba-tiba berubah pikiran?"
"Nggak. Mama cuma bilang begitu. Karena dia lebih fokus memutuskan hubungan gue sama Raihan–" lagi, air mata meleleh di pipi Pram. "Sesakit apapun hati gue, gue yakin kalo Raihan lebih sakit lagi."
"Raihan bilang apa?"
"Dia bijaksana banget, Mir. Dia bener-bener menghormati dan menghargai Mama. Walau sebagian hati gue protes karena dia lebih memilih nurut sama Mama gue dari pada memerjuangkan hubungan kami, tapi jawaban dia membuktikan kualitas akhlaknya, Mir. Dia bilang ... gue gak boleh melawan sama orang tua. Menurut dia, restu orang tua adalah modal yang utama untuk sebuah hubungan. Karena bila suatu hari nanti dia memiliki anak, maka dia harap anaknya pun kan patuh terhadap dirinya."
"Dan apabila memang Tuhan sudah memutuskan bahwa kami berjodoh," Pram melanjutkan. "Maka sekuat apapun manusia berusaha untuk memisahkan kami, itu gak akan ada gunanya. Jadi, inilah yang terjadi." Pram tak dapat membendung lagi kesedihannya yang mendalam. "Berakhir. Gue sama Raihan berakhir. Bahkan dia masih bisa tersenyum menenangkan gue sebelum pergi. Sedangkan gue– gue gak rela melepas dia. Gue jadi pengen mati ...."
Kini Mira bergerak untuk membawa Pram ke dalam pelukannya. Jangan, jangan mengatakan hal seperti itu lagi di telinga Mira. Ia masih mengingat jelas bagaimana Sheli –kakaknya– yang menginginkan kematian karena putus asa. Dan Pram, bukan orang yang Mira harap akan mengatakan itu juga.
"Jangan bilang gitu, Pram ... sumpah, gue sayang sama lo. Lo gak boleh putus asa sekalipun hidup lo berat banget. Belajarlah dari gue. Gue ini senior lo dari banyak masalah yang menyakitkan. Jadi plis ... tabah. Sabar, Pram. Semua ini pasti ada hikmahnya.
...-------...
Mira menatap kayar televisi dengan setoples kue kering yang menemani malamnya. Dia bahkan tak terlalu menyadari Athar yang baru saja selesai mandi sepulang dari kantornya. Ia mengerjap dari lamunannya tatkala merasakan kalau kedua kakinya kini telah diangkat dan diletakkan di atas pangkuan suaminya. Dengan gerakan yang membuatnya nyaman, jari-jemari Athar telah sibuk memijat-mijat pelan kedua kakinya.
"Mikirin apa sih, Sayang?" tanya Athar lembut tanpa melepas kegiatannya. Perut Mira yang terlihat mulai membuncit, sesekali diusapnya dengan sayang. "Jangan stres dong, kasihan calon anak kita ..."
"Emangnya aku kelihatan stres ya, Bang?"
"Mikir apa?"
"Mikirin Pram."
"Kenapa dia?"
"Ryo minta menikah sama dia." Mira menatap Athar setelah menjawab. Dia tidak berharap ada perubahan raut wajah sang suami, karena dia baru saja menyebut seseorang yang telah diblock dari hidupnya.
Tangan Athar terhenti dari gerakan memijat. Tatapannya lekat kepada Mira seraya berkata, "Kamu gak suka kalo mereka menikah?"
"Ya–" waduh, mesti dijawab dengan hati-hati nih supaya gak ada salah paham. "Ya kasihan Pram-lah, Bang. Dia 'kan cinta mati sama Raihan. Tadi sore dia datang ke sini dan nangis gak berhenti-berhenti. Dipaksa putus dari pacar yang amat disayang itu pastinya berat banget. Aku gak tega deh lihatnya. Pram 'kan cewek tahan banting banget, mental sekeras baja, dan mandiri. Tapi tadi– dia hancur banget."
"Ya tapi kamu jangan sebegininya juga mikirin Pram. Pikirkan juga kandungan kamu. Gak boleh stres loh, Al."
Mira menyunggingkan senyum. "Iya-iya ... aku berusaha rileks lagi deh. 'Kan abis dipijitin Abang, jadinya nyaman banget."
Athar tertular senyum Mira sehingga ia pun tersenyum. "Nah gitu. Calon jagoanku mesti sehat sejak dalam kandungannu."
"Jagoan? Eish, kita belom USG loh ya. Berarti belom tentu jagoan."
"Aku yakin jagoan kok, Al."
"Tapi aku maunya princess. Biar nanti Fathia ada teman buat nyalon bareng."
"No no. Baiklah, besok kita bakalan tahu kalau calon anak kita itu jagoan atau princess. Tapi feelingku, yang di sini adalah jagoanku," katanya sambil mengusap perut Mira.
"Huh, sok tahu!"
...******...