
Haaaaiiii.... aku kambek! 😆 Maafkeun sebab sudah hiatus berapa lama ya? lupa 😂
Marilah kita lanjutkan Mimir dan Athar yang menuju ending...
Padahal belom pasti kapan endingnya. 😴
okelah kalo begitu, happy reading.... 😉
...----------------------------------------------...
...***...
Athar diam saja ketika Pak Teguh mengobati luka yang ada di tangannya. Bukan hanya satu atau dua luka, melainkan banyak lebam. Malah ada beberapa bagian yang berdarah.
"Apa nggak sebaiknya saya panggilkan dokter Safar saja, Mas Athar?" tanya lelaki paruh baya itu sambil terus memberi antiseptik pada luka-luka majikannya. "Mumpung dokter Safar belum pindah ke luar negeri."
"Udah lima kali Pak Teguh bilang begitu."
"Ya habisnya, 'kan lebih baik dokter yang menangani luka Mas Athar. Biar sekalian dikasih antibiotik."
"Gak perlu, Pak. Saya gak butuh." Athar memejamkan matanya dengan kepala yang disandarkannya di sofa.
"Gak sakit memangnya?"
Athar hanya bergumam pelan. Ini bukan pertama kalinya. Bahkan kejadian yang lebih parah dari ini pun pernah ia alami. Jadi kalau hanya sebatas luka memar dan berdarah, dirasanya itu bukanlah apa-apa.
"Sejujurnya saya gak suka melihat Mas Athar terluka begini. Bahkan saya gak akan pernah berharap kalau kejadian waktu itu sampai terulang kembali," lelaki itu menggeleng pelan. "Jangan pernah lagi ..." nada sendu tak dapat ia sembunyikan. Sebab sebegitu berharganya baginya, anak muda yang ada di hadapannya kini.
Athar tak menyahut.
"Mas Athar belum aja bertemu dengan seseorang yang bakalan merubah Mas Athar–"
"Kenapa saya harus berubah karena seseorang?" sahutnya tanpa membuka matanya.
"Harus. Supaya Mas Athar lebih mencintai diri sendiri."
"Pak Teguh tuh bicara apa sih ... kayak gak kenal saya aja."
"Justru karena saya terlalu mengenal Mas Athar, makanya saya bicara begini."
"Pak Teguh tenang aja, semua pasti akan berakhir bila mereka semua telah lenyap. Atau sebaiknya, doakan supaya mereka bertaubat dan segera angkat kaki dari negara ini. Supaya saya tenang karena gak perlu berurusan dengan mereka lagi."
Lelaki paruh baya itu selesai mengurusi luka-luka majikannya. Dirapihkannya kembali kotak obat yang ia letakkan di meja sejak tadi. "Memangnya mereka tahu kalau Mas Athar telah membeli tanah yang ada di Jakarta itu? Tanah sengketa itu?"
"Sudah pasti mereka tahu, Pak. Mereka selalu mengintai pergerakan kita, begitu pun sebaliknya. Cuma ada satu yang belum berhasil saya temukan,"
"Apa itu?"
"Penyusup yang ada di kampus."
...- - - - -...
Athar melangkah terburu-buru karena kuliahnya sebentar lagi dimulai. Sudah tidak ada waktu bila ia hanya berjalan saja menuju lantai dua. Maka akan lebih baik kalau ia berlari agar tidak terlambat dan membuat telinganya sendiri panas karena mendengar ocehan tak penting dari dosen. Dia sama sekali tidak takut, dia hanya enggan membuang waktu si dosen itu untuk memarahinya. Ditambah moodnya sedang tidak baik sejak tiba di kampus. Selalu ada saja junior yang membuatnya kesal karena berharap perhatian darinya. Apakah semua cewek zaman sekarang kodratnya telah berubah? Mengapa mereka tidak tahu malunya mengejar-ngejar cowok yang jelas-jelas tidak tertarik pada mereka?
Dasar murahan!
Larinya semakin dipercepat saat mendekati belokan. Sebab setelah belokan ada tangga yang menuju lantai dua, dimana kelas untuk mata kuliah selanjutnya diadakan.
Namun, sesuatu menghantam dadanya dengan keras saat ia berbelok. Athar tidak jatuh seperti seseorang yang saat ini terjatuh di depannya, setelah menghantam tubuhnya. Tapi masalahnya, kejadian ini merupakan hambatan bagi dirinya yang sedang terburu-buru. Kekesalan dan mood buruknya semakin menjadi. Dia bahkan tidak peduli seseorang yang jatuh itu sedang meringis, mungkin, karena merasakan sakit.
Dia tidak peduli.
"MAKANYA KALO JALAN ITU PAKAI MATA!" semburnya dengan keji. Pelototan matanya turut mendukung raut wajahnya yang sudah pasti tak ada baiknya itu. Bagaimana bisa ada saja yang menambah kekesalannya hari ini? Adegan payah, dengan cewek yang nampak payah pula. Ugh, sangat-sangat mengesalkan!
Si cewek yang –tidak termasuk dalam cewek yang kemungkinan diliriknya– itu hanya menampakkan raut wajah tercengang dan menganga.
Cewek bloon.
"Awas sampai gue lihat muka lo lagi," ancamnya seraya berbalik pergi.
Sudah tak ada waktu, ia mesti bergegas memasuki kelasnya.
Tepat setelah ia duduk di kursi yang telah di siapkan oleh Romeo, sang dosen memasuki kelas mereka.
"Nyaris telat, bro." Romeo menyambutnya dengan cengiran. "Lo makan dulu di kantin?"
"Mana ada. Banyak rintangannya gue menuju kelas ini. Apa mestinya tadi gue cabut aja ya?"
"Tumben. 'Kan lo anak rajin bukannya?" ledek Romeo.
Athar hanya mengendikkan bahunya. Memang, ia tidak pernah bolos kuliah bila tidak ada hal yang mendesak menghalanginya. Andai ia sedang 'tidak mampu' hadir di kampus pun maka ia akan melakukan kuliah secara online. Semua dapat dengan mudah diaturnya, termasuk sang dosen.
"Rintangan apa sih? Palingan barisan fans lo," Romeo lebih memelankan suaranya sekarang.
Dan Athar tak menyahut lagi seiring sang dosen yang telah mulai mengeluarkan suaranya.
...----...
"Thar, aku nanti mampir sebentar ke kampus kamu ya,"
suara di seberang membuat Athar tersenyum samar. "Mau ngapain? Kamu gak kuliah?"
"Oh jadi aku gak boleh mampir nih?"
"Ya boleh banget lah, Tan."
"Apa sih? Kayak aku tante kamu aja. Jangan panggil 'Tan', 'Nia' aja gitu."
Athar terkekeh pelan. "Iya, Nia. Kamu boleh ke sini. Kabarin aja kalo sudah di depan kampus. Nanti aku keluar."
"Ok**ay. See you there."
Athar memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.
"Cie ... cie ... tembak aja kali, buruan. Sebelum diembat sama yang lain." Romeo yang sedang nongkrong bersama Athar itu menggoda.
"Belum yakin."
"Why?"
Athar mengendikkan bahunya. Dia memang jelas menyukai dan naksir pada Tania. Hubungan keduanya pun sudah demikian dekat dan serba berduaan. Tapi entah mengapa Athar belum juga ingin mengucap kejelasan kedekatan mereka.
Tania itu cewek yang sempurna di matanya. Cantik, cerdas, pengertian, feminim, dan dewasa di usia mudanya merupakan paketan lengkap standar pacar bagi Athar yang memiliki selera tinggi dalam memilih pasangan. Hanya saja, seperti ada sesuatu yang kurang menurut perasaannya. Entah itu apa. Bersama Tania sudah pasti hubungannya berjalan mulus dan ... biasa. Oke, mungkin karena rasa 'biasa' itulah yang membuat Athar masih bertahan dengan hubungan pertemanan yang mesra ini.
Tadi, Tania hanya mampir sebentar. Ada urusan pribadi dengan bu Dena, katanya. Cewek itu memang akrab dengan mantan dosennya. Setelah itu, Tania memberikan Athar roti di dalam sebuah paper bag. Lantas Athar menerimanya meskipun hatinya tak terlalu bahagia, ataupun sebaliknya. Entahlah, yang pasti saat ini ia memang tengah bimbang dalam menghadapi hubungannya dengan Tania. Hingga gadis itu pergi, Athar hanya bersikap baik seperti biasanya.
Kesialan terjadi lagi dalam hidup Athar. Kalau kemarin ia bertubrukan dengan cewek bloon yang sudah pasti ia tidak ingat wajahnya, –saking nggak pentingnya–, maka sekarang ia merasa sial bertuburkan kembali dengan cewek yang sama. Sumpah, ia yakin kalau itu cewek bloon yang kemarin. Secara otomatis maka sekarang ia mengingat wajah itu. Wajah cewek di bawah standarnya.
Sudah pasti Athar melebarkan matanya dan bersiap untuk memuntahkan amarahnya pada cewek tidak tahu diri itu. Namun belum juga ia membuka mulutnya, si cewek malah sudah lari terbirit-birit dengan teriakan anehnya, setelah mengambil paper bag miliknya dengan cepat.
Bagus dan tidak. Bagus karena Athar tidak perlu menyiksa matanya dengan pemandangan cewek yang sudah jelas meminta dimaki-maki itu. Tapi tidak bagus, karena ia tak dapat menyalurkan amarahnya dengan segera.
Tidak sampai situ rupanya, kesialan berlanjut saat ia sudah ikut ke kosan Romeo. Begitu ia berniat memakan roti pemberian Tania, maka yang ia temukan bukanlah roti, melainkan sebuah benda buruk terkutuk yang super duper laknat karena telah menggantikan rotinya.
Sendal jepit.
...----...
Athar membuka matanya perlahan. Ia mengerjap dan memperhatikan langit-langit serta melirik sebentar ruangan yang sudah dapat ia pastikan kalau ia berada di rumah sakit. Sebab kamarnya tidak seperti ini.
Selain melirik kamar, maka kini matanya menangkap sosok yang sedang menunduk menatap kakinya.
Kaki? Kenapa kaki?
Begitu ia melihat pergerakan dari sosok cewek itu yang sepertinya hendak melihat wajahnya, maka buru-buru Athar memejamkan matanya kembali.
"B–bang Athar ... Abang belum bangun, 'kan ya ... gue pamit dulu, ya ... jaga diri Abang baik-baik, ya ... Besok, –gak janji sih–, gue bakalan balik lagi," Athar mendengar kalimat cewek itu.
Ia merasakan tepukan pelan ujung kakinya sebagai akhir dari kalimatnya. Sudah pasti, Athar ingat dan yakin kalau cewek bloon itulah yang sudah bertubrukan dengannya sebanyak dua kali, dan memberikan benda laknat sialan pengganti rotinya.
Ketika ia merasakan kalau si cewek jelek itu hendak meninggalkannya, maka Athar pun segera membuka mata lalu memanggilnya dengan pelan, "Sendal jepit ...."
...***...
Sorry for typo.
Bersambung dulu ya.
Ini part flashback dari sisi Athar. Jadi kita bakal tau, kok bisa Athar jadi sebucin itu ke Mira yang mukanya biasa-biasa aja?
Kita menjelajah isi hati Athar dulu ceritanya ... 😆 sekalian aku menemukan kembali feelnya
Althar, biar bisa lanjut secepatnya.
Oke segini dulu.
Nanti masih lanjut ya.
😉