AL-THAR

AL-THAR
#89. Umi



Happy Reading!


Jangan lupa like, komennya yah. ๐Ÿ˜‰


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


Ada tiga tipe laki-laki dalam hal mencintai di dalam hidup Mira. Yang pertama, sudah pasti ada suaminya, Athar, yang mencintainya lewat jalur halal. Kedua, ada sahabat yang ternyata memiliki rasa cinta atas nama Ryosuke. Cinta yang dimiliki cowok itu adalah perasaan yang tidak bermaksud merebut, tapi dengan egoisnya memaksa untuk terus berada dalam jarak dekat dengan Mira. Lalu yang ketiga, cinta itu katanya datang atas nama Dennis. Tipe yang ini paling mengerikan diantara ketiganya. Bagaimana Dennis mengatakan suka dan cinta, sekaligus memiliki niat untuk melenyapkan bila tak berhasil memiliki. Agar dia merasa adil dengan semua orang yang tak dapat memiliki juga seperti dirinya.


Jujur saja, Mira takut hingga tak tahu mesti bagaimana menghadapi kenyataan tentang Dennis ... lagi. Dia pikir dirinya telah terbebas dari cowok jahat itu mengingat sudah tak lagi dijumpainya dalam sebulanan terakhir. Tapi ternyata, sosok mengerikan itu masih merupakan ancaman yang nyata dalam hidupnya.


"Widih ... ada yang sudah insaf rupanya, Sayang. Onty kamu bakalan jadi anak sholehah selama dua bulan ini, Tia. So, kita mesti mendukungnya. Okey?"


Mira abai meskipun jelas ia mendengar ocehan menggoda dari sang kakak dengan putri semata wayangnya yang saat ini tengah dipakaikan baju itu. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri yang melayang-layang karena perkataan Dennis beberapa hari yang lalu.


"Dapat apa aja Onty sepulang dari pengajian?" suara Shelia lagi.


"Ya dapet ilmulah," sahut Mira malas. "Lebih dari itu gue juga mendapat ketenangan bathin."


Shelia berdecak menatapnya sekilas. "Bagus deh. Berat banget ya kayaknya hidup lo."


Tubuh Mira roboh menjadi rebahan di sofa kamar kakaknya itu. "Gimana nggak berat kalo ada orang yang berniat membunuh gue, Shel."


Jawaban lesu Mira kini sukses membuat Shelia memperhatikannya. "Siapa, Mir? Jangan bilang kaloโ€“"


"Dennis. Dia bilang suka sama gue tapi pengen gue lenyap dari muka bumi. Kok bisa ya hidup gue seberat ini?"


"Dih, penjahat banget deh itu cowok. Perasaan dulu sewaktu masih ada Papa, tuh orang lucu dan humble banget. Siapa sangka kalo ternyata dia punya jiwa psycho di baliknya."


"Makanya jangan gampang tertipu sama casing dan akting orang."


"Itu lebih tepat ditunjukkan buat lo, Mimir."


Sheli benar. Mira memang terlalu naif apalagi kalau itu berhubungan dengan lawan jenis. Beda dengan Shelia yang sepak terjangnya tak dapat diragukan lagi. Tapi itu, 'kan berlaku sebelum menikah. Setelah status berubah, fokus Mira cukup untuk seorang Athar saja.


"Trus Athar," lanjut Shelia. "Lo udah kasih tahu, 'kan?!"


"Iya, udahlah. Orang gue takut banget. Dan seperti yang gue duga, bang Athar jadi lebih sibuk dan lebih protektif sama gue."


"Pantes lo bawa bodyguard ke sini kok sampai setengah lusin. Trus, sibuknya dia?"


"Ya nggak bilang jelasnya sih. Cuma dia bilang bakal mencari keberadaan Dennis secepatnya. Dan ini yang bikin gue jadi khawatir juga sama dia."


Baby Tia telah selesai dengan gaun cantiknya. Shelia menggendongnya dan membawanya untuk menghampiri Mira. Melihat sang keponakan mendekat, otomatis Mira bangun dari rebahannya dan melebarkan tangannya untuk meminta baby Tia ke dalam gendongannya.


"Kamu ucul banget sih, Dek. Cantik bingit. Jadi ratu dunia nih kayaknya." Dengan gemas Mira menciumi bayi empat bulan itu. Sejenak dia lupa dengan obrolan seriusnya barusan.


"Siapa dulu bundanya," Shelia jumawa. "Bibit Daddy-nya juga udah jelas sebagus apa."


Mira berdecak pelan. "Padahal tadinya bunda kamu gak mau loh, Ti, di sah'in sama Daddy kamu. Eh, sekarang dia malah bangga yeuh,"


Sheli tak menanggapi. Dia kembalikan topik pada masalah adiknya itu. "Semoga Athar bisa dapetin si Dennis secepatnya deh," katanya setelah menghela nafas. "Gue juga jadi takut sama tuh orang. Secara, sekarang gue punya anak yang mesti gue lindungi sekuat tenaga."


"Trus kalo udah dapet orangnya, mau diapain?"


"Ya di penjaralah. Masa dibikin mati?"


"Kasusnya?"


"Gue rasa Athar punya banyak kasus buat bikin Dennis masuk penjara. Ya, 'kan?!"


Mira mengangguk. "Iya kayaknya."


"Mending sekarang lo lebih berhati-hati deh, Mir. Seriusan, gue khawatir sama lo."


"Iya. Gue tahu kok, Shel. Di dunia ini gak semua orang menyukai kita. Sekalinya orang gak suka sama kita, maka sebaik apapun kita menghadapinya, tetap aja dia gak bakalan suka. Emang sih, ada yang manusia mudah berubah hatinya. Tapi gak sedikit juga yang bertahan dengan kebenciannya."


...----...


"Tia, Abi kamu datang tuh," bisik Mira kepada keponakannya yang bahkan gak mengerti apa-apa itu.


"Sembarangan," Shelia yang berjalan di sampingnya balas berbisik.


"Lah 'kan kalo lo jodoh sama dia, Shel, udah pasti Tia bakalan punya Abi sama Umi. Ya, Tia, ya?!"


"Jangan gosip."


"Ini doa, bukan gosip, wahai Ummi! Jodoh nggak ada yang tahu, Umi ..."


"Nyebut 'Umi' lagi gue ambil jatah makan lo ya."


"Jeh mengancam bumil!"


Shelia tak menyahut lagi. Mira melirik kakaknya yang sudah tersenyum sembari melangkah menuruni tangga. Arah senyumnya sudah pasti kepada Ubay alias Baihaqi yang saat ini sudah datang menunggunya.


Sudah beberapa kali laki-laki yang biasa mereka kenal dengan Ustadz Ubay itu datang ke rumah mereka. Memang ada sedikit pekerjaan antara Shelia dengan Ubay, yang mengharuskan mereka bertemu beberapa kali.


Shelia sudah tidak bekerja di restoran. Dia mencoba hal baru dalam pekerjaannya sebagai asisten dari sahabatnya yang memiliki WO cukup ternama. Kebetulan, kakak dari Baihaqi yang menggunakan jasa WO sahabatnya itu. Maka itulah mengapa Shelia sedang berhubungan dengan Ubay untuk beberapa waktu ke depan.


"Maa syaa Allah lucu banget," ucap Ubay sembari melihat ke arah Tia yang berada dalam gendongan Mira.


"Iya, dong, Abiโ€“" Mira merasakan cubitan di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan sang kakak pelakunya. "Ehโ€“ Om, ehโ€“ paman," aneh banget gak sih kalo manggil 'paman'? kayak paman ladusingh jadinya.


Mira hanya cengengesan karena tak menemukan panggilan yang pas untuk Tia kepada Ubay.


"Om aja nggak apa-apa." akhirnya Ubay menyahuti dengan lembut.


Ubay tersenyum saja.


Setelah berpamitan dengan putrinya, Shelia memberi beberapa wejangan kepada Mbak Maya โ€“baby sitter Tiaโ€“ seperti biasanya, lalu dia berangkat bersama Ubay.


"Dadah Abi ... Umi ..." Mira melambaikan tangan kecil Tia ke arah Shelia dan Ubay yang sudah pergi.


Beberapa menit setelah kakaknya itu pergi, sang mama Pertiwi pulang. Beberapa hari ini wanita yang melahirkannya itu memang jarang ada di rumah kalau siang hari. Pun ketika Mira bolak balik ke sana, palingan hanya beberapa menit saja pertemuannya dengan sang mama.


"Sheli sudah berangkat?" tanya wanita itu saat mendapati cucunya berada dalam gendongan Mira, dan tak melihat keberadaan putri sulungnya.


"Baru aja," sahut Mira yang masih asik bermain dengan keponakan cantiknya. "Lagian Mama betah banget sih di rumah Tante Renata? perasaan dari kemarin bolak balik ke sana terus deh."


"Jelas Mama sibuk," sahutnya seraya menempati sofa di sisi Mira. "Donny, 'kan mau acara tunangan dua minggu lagi. Jadi Jeng Renata minta Mama buat bantuin dia nyiapin keperluannya."


Mira terkejut juga. Sang mantan yang kabar terakhirnya sudah putusan dengan pacarnya, kok sekarang malah ada acara lamaran. "Donny mau nikah sama siapa, Ma?" tanyanya penasaran.


"Ya sama pacarnya."


"Namanya?"


"Evira."


"Hah? Siapa tuh?"


"Dih, kamu kepoin mantan sampai segitunya. Awas suami kamu dengar loh."


"Cuma penasaran, Ma. Kali aja, 'kan aku kenal. Tapi kayaknya nggak kenal deh."


"Satu kampus katanya. Nikahnya sih belum tahu kapan tepatnya. Yang pasti mereka sudah serius dan mesti bertunangan secepatnya. Tapi ceweknya lebih tua dari Donny loh."


"Kok bisa, Ma?"


"Kenapa nggak bisa?"


Baby Tia menangis tiba-tiba. Mira menyodorkan keponakannya itu kepada mbak Maya. "Kayaknya Tia ngantuk deh, Mbak."


"Bawa ke kamarnya, May," suruh mama Pertiwi.


Setelah Tia dan babby sitternya berlalu, Mira melanjutkan kekepoannya. "Tua berapa tahun, Ma?"


Pertiwi mengerutkan keningnya sedikit. "Masih aja kepo."


Mira melebarkan cengirannya. "Biarin. Cuma iseng."


"Kayaknya dua tahun deh. Makanya, nikahnya nanti kalo si cewek udah wisuda."


"Masa nanti suaminya masih kuliah, sedangkan istrinya udah kerja?" begitu kira-kira pemikiran Mira. "Gimana tuh nasibnya Donny?"


"Ya terserah mereka, Mir. Udah deh, kamu keponya ngalahin Mama."


Mira merebahkan tubuhnya lagi. "Gabut, Ma. Gak ada bahan gosip."


"Mendadak gak punya teman gitu?"


"Punya. Tapi aku lagi gak ada kuliah, trus gak boleh berangkat ke kampus sama Bang Athar. Mau jalan-jalan pun gak boleh." Tentu saja itu karena Athar khawatir perihal Dennis di luar sana yang dapat membahayakan Mira.


"Suruh aja teman kamu ke sini kalau begitu."


"Teman-teman aku gak ada yang pengangguran, Ma. Semua punya kesibukan."


Mama terlihat berpikir sejenak. Apa kiranya yang dapat dilakukan putrinya yang sedang hamil besar itu, selain bergosip. "Gimana kalau kamu senam hamil aja, Mir? Kayak Sheli waktu ituโ€“"


"Males, Ma."


"Jangan males! Biar lahirannya nanti gampang."


"'Kan masih dua bulanan lagi."


"Ya terus? โ€“ah, atau gak main congklak aja sama salah satu bodyguard kamu itu?"


"Mama tuh idenya 'briliant' banget," sahutnya datar. Antara serius dan nggak saat Mira melihat ekspresi sang mama barusan.


"Trus kamu mau ngapain jadinya sampai suami kamu pulang?"


"Mama mau ngapain?" Mira malah balik bertanya.


"Mau mandi. Habis mandi mau ke rumah Donny lagi,"


Mira tersenyum sekarang. "NAH! Ya udah aku ikut ke rumah Donny. 'Kan letaknya cuma di sebelah rumah, nggak jauh juga."


Pertiwi menatap anaknya jengah. "Hm, mau kepoin mantan nih pasti."


"Nggak mantan dong, Ma, nyebutnya. Gak baik kalo didengar keluarganya. Donny itu tetangga kita. Dan aku bukannya mau kepo, aku cuma mau berburu makanan aja. Hehe ..."


"Jangan bikin Mama malu deh, Mir."


...****...


sorry for typo.


Ini kapan endingnya sih? ๐Ÿ˜‚