AL-THAR

AL-THAR
#54. Kayaknya



Happy reading!


...πŸ’—...


"Akhirnya lo kembali menjalani masa muda ya, Mir?" Puput yang sedang mengunyah permen karet itu menoleh sesaat ke Mira sebelum meletakkan hpnya di meja.


"Jalan-jalan sih jalan-jalan, tapi gak sama pasukan kali." Pram memutar-mutar sedotan di dalam gelas minumannya.


Mira yang baru saja bergabung dengan kedua sahabatnya itu tak terlalu menganggap ucapan mereka. Dia masih sibuk membalas chat dari Athar yang saat ini masih berada di bandara.


"Cuma Linggar sama Roy."


"Bisa gitu lo ke mall bawa pengawal. Udah kayak anak presiden aja," celetuk Pram. "Anak menteri bukan, pejabat bukan, sultan apalagi."


"Istrinya sultan, Pram." ide Puput. "Bang Athar turunan Sultan bukannya?"


"Mana ada." Mira tak setuju. "Bang Athar gak setajir itu deh."


"Gak tajir sih ... tapi kalo lo minta sendal jepit dari emas kayaknya bakalan terjadi tuh," sangkal Pram.


Mira hanya menghela nafas. "Hayalan kalian itu terlalu tinggi. Bang Athar itu manusia paling realistis. Katakanlah, walaupun dia kelihatannya bucin sama gue, tapi logika dan kecerdasan dia di atas rata-rata. Permintaan gue yang gak masuk akal seolah sedang mengucap permintaan sama jin, udah pasti dia gak bakalan ngabulin. Yang ada dia bakalan emosi dan berakhir dengan bentak-bentak gue."


"Dia masih suka bentak-bentak lo juga?" Puput tidak percaya.


Mira mengangguk. "Kalo pikiran ajaib gue sedang dominan."


"Gak heran," sahut Pram. "Saat pikiran aneh lo berkembang biak, gue juga rasanya jadi pengen makan orang." Pram lalu menoleh kepada Puput, "Lo juga termasuk manusia yang memiliki ciri khas pikiran ajaib."


"Pikiran ajaib?" Puput belum nyambung.


"Istilah lain yang lebih kerennya adalah bodoh, oon, be go, lemot dan sejenisnya."


Puput mencebik.


"Lo sih pake nanya!" Mira menyalahkan Puput.


Pram menggebrak meja. "Ini OOT udah kejauhan dari pertanyaan awal gue. Kenapa lo bisa diikutin bodyguardnya Bang Athar, hah?"


"Mereka menjalankan perintah Tuannya, Pram. Gue mah apa? Mereka cuma dengerin apa kata Juragan."


"Trus jadinya mulai sekarang lo boleh nyusul gue sama Puput nongki-nongki di mall sambil bawa tukang pukul gitu syaratnya?"


Mira menggeleng. "Nggak. Ini pengecualian aja. Soalnya Juragan lagi mau terbang ke Surabaya selama empat hari. Ini sekarang dia udah lagi di bandara. Nah, gue dibolehin deh pergi main sama kalian."


"Tapi bawa tukang pukul?"


"Jelek banget sih, Pram, bahasa lo. Emangnya gue ketua mafia gitu?"


"Untung mereka tampilannya manusiawi loh, Pram," kata Puput setelah melirik singkat ke meja di mana Linggar dan Roy berada. "Jadi gak serem atau lebay kayak di sinetron gitu."


Memang Mira sendiri yang meminta syarat kalau memang dirinya mestilah dijaga oleh pengawal maka orang-orang itu haruslah bertingkah seperti pengunjung lainnya. Yaitu dengan duduk memesan makanan seperti dirinya dan kedua sahabatnya.


"Mereka juga makan ternyata," tambah Puput sambil berbisik.


"Karena mereka masih manusia, Put. Bukan robot," ucap Mira jengah.


"Walaupun udah bertingkah seperti pengunjung lainnya, tapi mereka tetap aja melirik ke kita melulu," protes Pram. "Kayak takut banget si Mimir raib dalam sekejap. Emangnya siapa yang mau nyulik lo ya, Mir? Suka heran gue sama bucinnya Athar yang gak manusiawi. Emang sih dia realistis, tapi terkadang di luar nalar manusia normal loh."


"Gue nggak tersinggung kok, Pram," sahut Mira santai.


"Tapi gue maunya lo tersinggung. Emangnya lo seberharga itu ya sampai Athar takut lo diculik orang jahat?"


Mira mengendikkan bahunya acuh. "Tumben sih, Pram, obrolan lo gak berfaedah. Jarang-jarang gue bisa ngumpul di luar kampus sama kalian, kok malah ngomongin yang gak penting."


Pram menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Iya juga. Gue hilaf."


Mira berdehem. Dia menyesap minumannya yang baru tiba, dan bertanya, "By the way lo sama Ryo gimana kelanjutannya?"


"Nggak gimana-gimana. Mungkin nyokap gue udah batalin ke nyokapnya Ryo kali," jawab Pram cuek. Dia memang sudah tak terlalu memusingkan perihal perjodohan konyol itu. Dia hanya fokus menjalani hidupnya dan setia kepada Raihan. "Soalnya udah beberapa lama ini gak ada kabar apa-apa lagi tuh."


"Trus lo?"


"Gue kenapa?"


"Perasaan lo?"


"Gue? Gue ya biasa aja kali. Malahan kesel cenderung marah pastinya. Kalo ternyata udah batal rencana gila nyokap gue itu, ya baguslah. Gue pribadi pasti lega banget." Pram menilik ekspresi wajah Mira, dan sekarang ia memicing kepada sahabatnya itu. "Kenapa? Lo tergoda?"


"Mana ada!" seru Mira langsung. "Justru gue lega kalo lo gak berakhir dengan jatuh cinta sama dia."


"Ya nggak bakalan lah, Mir, Pram cinta mati sama Raihan," sambar Puput.


Pram mengangguki ucapan Puput. "Emang kenapa sama Ryo?"


Mira tak lantas menyahut. Dia sedikit murung saat mengingat lagi bagaimana Ryo yang dulu ia kenal, dengan Ryo yang sekarang ada dalam hidupnya. "Aneh. Dia udah berubah banget, Pram, dibanding zaman kita sekolah dulu."


"Ya iya sih. Gue juga bisa melihatnya kok. Dia yang sekarang seolah terobsesi sama lo. Beda sama dia yang dulu. Baik, cengengesan, care, dan menyenangkan sebagai teman."


Mira mengangguk setuju. Memang benar, Ryo yang sekarang sudah di luar kendalinya. Kalau waktu dulu dia masih memiliki kesempatan membuat hubungan baik, kalau sekarang rasanya sudah tidak mungkin lagi. Dengan kekeraskepalaanya Ryo yang tetap ingin memasuki hidupnya, dan tentu saja itu berbenturan dengan batasan yang dimiliki oleh Mira karena sebuah status yang jelas. Rasa-rasanya Mira buntu, tidak tahu mesti apa agar Ryo tidak berakhir dengan luka. Masalahnya, Ryo sendiripun seolah sudah tak melihat baik buruk lagi imbas dari perbuatannya. Dan sungguh itu di luar kendali Mira.


"Kayaknya dia masih suka deketin lo pasti nih?"


"Iya ..." Mira juga bingung bagaimana menceritakannya kepada Pram. Terlebih ini seperti menceritakan masalah rumah tangganya yang terdapat orang ketiga sebagai pengganggunya. Namun, biar bagaimana dia haruslah bercerita kepada Pram, agar hatinya terasa lega.


"Waktu itu–"


Kalimat Mira terpotong dengan tiba-tiba Puput yang berdiri sambil mengotak-atik hpnya agar tegak dengan baik di meja. Mira dan Pram langsung menatap horror kepada teman mereka yang satu itu.


"Plis deh kalian," protes Puput.


"Jangan joget di depan gue, Puput!" bentak Mira dan Pram berbarengan.


...🌺🌺...


Mira terbangun dari mimpi buruk. Tak jarang, saat ia tidur di kamarnya maka bayangan boneka teror sebulan yang lalu kembali hadir dalam mimpinya.


Ia mengusap peluh yang ada di dahinya. "Apa perlu gue rukyah ini kamar ..." gumamnya pelan.


Karena pagi tadi Athar telah berangkat ke Surabaya untuk urusan bisnisnya, maka Mira yang sepulang dari mall langsung menuju rumah sang mama.


"Atau ini karena gue ketiduran pas maghrib ya makanya gue jadi mimpi buruk?" tanyanya pada diri sendiri sambil melirik jam di dinding.


Segera ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Maghrib baru saja tiba lima menit yang lalu, maka segera ia menunaikan kewajibannya.


.


"Mau dong," pinta Mira pada kakaknya yang sedang meminum jus jambu merah dengan nikmatnya.


Shelia mengernyit. "Bukannya lo gak doyan ya jus jambu?"


"Abis warnanya pink sih, cakep. Gue jadi kepengen. Minta sedikit, Shel."


Shelia merelakan gelas jus jambunya untuk diminum sang adik. Maka Mira menerimanya dengan sumringah dan langsung mencicipinya.


"Enak ih!"


"Kemana aja lo? Selama dua puluh tahun lo baru tahu kalo jus jambu itu enak rasanya? Dulu aja, lo kayak lihat najis."


"Terserah deh, Shel. Ini tuh enak banget ternyata. Warnanya manis pula, semanis rasanya."


Shelia berdecak. "Lebay amat sih!"


Mira cengengesan dan meminum habis minuman sang kakak.


"Ya ampun, lo minta bikinin sana sama bi Nani! Punya bumil dihabisin. Resek banget sih lo!" Shelia yang kesal kini hanya bisa melotot kepada Mira.


"Iya ntar gue minta dibikinin sebanyak lima liter sama bi Nani. Trus nanti buat lo yang seliter. Dan sisanya buat gue seorang diri."


"Minum sana! Seember kalo perlu minta dibikininnya. Lagian aneh banget sih lo, biasanya juga gak doyan sama jus jambu. Ini malahan rakus."


"Gak tahu. Mungkin gue telat menyadari kalo jus jambu itu enak bingit. Ya ampun, tahun-tahun yang sia-sia dalam hidup gue, karena berlalu tanpa sekalipun gue menikmati yang namanya jus jambu."


"Eh busyeeeet, lebay tingkat dewa!"


Mira rebahan di sofa panjang. Ia turut menyaksikan apa yang sedang ditonton Shelia di televisi. Sesekali diliriknya kakaknya itu yang sedang mengelus perutnya. Entah kenapa refleks dia juga mengelus perutnya.


"Kenapa lo? Laper? sana makan! mumpung belum gue habisin yang ada di meja makan."


Mira tersadar dan segera melepaskan tangannya dari perutnya sendiri. "Ntar ah."


Shelia kembali menatap layar televisi, sedangkan Mira terpikirkan sesuatu. "Ustad,z Ubay apa kabar deh, Shel?"


"Kenapa lo tiba-tiba–"


"Yailah, langsung jawab aja kenapa sih? gak mesti harus curiga dan nanya balik deh."


"Dia baik kayaknya."


"Kok kayaknya?"


"Gue udah jarang chat-an sama dia. Ya palingan gue ngintipin status medsos dia doang."


"Jadi serius nih waktu lo terima lamaran Bryan?"


"Hm ..."


"Kenapa nggak nikah sekarang aja sih, Shel? takutnya Bryan berubah pikiran loh."


"Biarin aja dia berubah pikiran. Itu artinya gue sama dia emang gak berjodoh."


"Ya tapi kenapa mesti nunggu sampai habis lahiran juga? Gak kelamaan?"


"Ubay bilang gitu mestinya," ucap Shelia pelan. "Mesti melahirkan dulu, baru menikah. Karena kalo sekarang gue nikah pun, maka setelah anak ini lahir gue mesti nikah ulang."


"Rumit amat sih!"


"Iya dong. Hidup gue itu gak bakalan serba biasa kayak lo. Hidup gue mestilah wah, rumit, dan luar biasa."


"Iya-iya ... lagian beberapa bulan lagi juga lo brojol."


"Nah kan."


Tiba-tiba indera penciuman Mira tersengat sesuatu. Sebuah bau yang berasal dari ...


"Gue bawa bakso," kata Ghani yang baru saja datang dari luar. Dia duduk setelah meletakka bakso yang dibawanya di meja.


Shelia bergegas bangkit untuk berjalan ke dapur dan mengambil mangkuk kesayangannya. Sedangkan Mira juga bangkit sambil menutup mulutnya, seraya bergegas menuju kamar mandi terdekat.


...🍎🍎🍎...


ehehehe πŸ™ˆ