
Ya, udah eps seratus aja ...
Btw, pasti blm ada yang tau nama anaknya Mira sama Athar nih ya?
...Happy Reading!...
...***...
Mira tahu kalau seharusnya dia cukup diam saja sembari berdoa dan menunggu di rumah. Akan tetapi, menunggu di rumah untuk sebuah kabar yang mengkhawatirkan? No, rasa-rasanya Mira nggak akan sanggup begitu.
Dengan penuh tekad dan keyakinan, serta berupaya keras untuk memaksa dan meyakinkan beberapa orang anak buah Athar agar mengizinkannya turut serta, maka akhirnya Mira berangkat juga menuju Jakarta dengan perut besarnya.
Tempat yang Mira tuju bukanlah pusat kota Jakarta, melainkan di pinggiran kota Jakarta, yang masih terdapat banyak lahan penuh pohon. Karena memang saat ini tujuan Athar ke sana adalah untuk meninjau sebuah lokasi yang rencananya hendak ia bangun sebuah rumah kedua untuk mereka tempati manakala sedang berada di Jakarta.
Mira sempat menyarankan untuk membeli rumah siap huni saja. Tapi Athar menginginkan rumah yang berdiri sesuai dengan keinginannya. Sedangkan Mira, terserah saja. Dia tidak terlalu antusias dalam membayangkan mesti bertema apa rumah tersebut. Baginya, cukup terlihat indah dan terasa nyaman maka Mira sudah bahagia.
"Non masih bisa berubah pikiran," kata Roy mengingatkan tanpa mengurangi rasa hormat saat Mira akhirnya telah duduk nyaman di dalam mobil.
Tidak benar-benar nyaman, karena hati Mira riuh sekali dengan degupan jantung saat ini. Rasa khawatir yang ingin melihat sang suami dengan segera, walau andai itu adalah kesempatan terakhirnya. Tuh 'kan, pikiran Mira udah buruk banget!
"Saya tetap ikut, Roy. Kamu tenang aja, saya akan menjaga diri saya dengan baik." masa bodo dengan pikiran Roy atas jawabannya. Perempuan hamil besar mampu menjaga diri? serius?
Mira sendiri tetap merasa takut juga, mengingat seberapa jahatnya Dennis.
Mama Pertiwi mengetahui kepergian Mira hanya untuk pulang ke rumahnya, bukan seperti niat Mira yang sebenarnya hendak berangkat ke Jakarta. Hal itu tentu saja ia lakukan agar sang mama tidak cemas apalagi sampai berpikir yang tidak-tidak, melihat seberapa besar perut Mira sekarang.
"Tapi nanti Mas Athar–"
"Nggak apa-apa. Saya akan bela kalian semua nanti kalau beliau marah. Kamu tenang aja, Roy."
Salah seorang kepercayaan Athar itu tak menyahut lagi. Atau lebih tepatnya tak mampu melawan kekerasankepalaan istri dari bosnya itu. Padahal diam-diam Roy menghubungi asisten Athar yang saat ini ikut bersama bosnya itu. Namun belum ada balasan.
Jangan salah, Mira juga sedari tadi sibuk berusaha menghubungi hp Athar yang tak jua ada balasan.
"Coba kamu hubungi Bang Athar deh, Roy, barangkali bisa. Atau kamu hubungi yang lainnya, yang ikut Abang ke Jakarta hari ini." Mira merasa cemas. Rentetan doa di dalam hatinya tak henti-henti ia panjatkan.
...---...
Sementara itu ...
Athar tak menunjukkan ekpresi keterkejutannya. Walau sejujurnya dalam hatinya dia amat terkejut. Entah siapa yang berkhianat di sini. Info mentah dari anak buahnya, ataukah memang sengaja ada pengkhianatan di antara orang-orang kepercayaannya itu. Namun, sejauh ini tak ada laporan ke arah sana. Maka itu artinya, dia dan orang-orangnya yang telah tertipu dengan mudah. Dia merasa bodoh karena mengabaikan firasat kecilnya waktu itu.
Orang-orang dari keluarga Garin sudah benar-benar menyatakan ke-valid-an akan kematian Dennis. Bukti jenazah, prosesi pemakaman pun sudah dengan jelas terpampang di hadapannya kala ia turut menghadirinya. Bukan seperti kasus kematian dirinya yang dibuat oleh Dirga dulu, dimana tidak sedikitpun jenazah ditampakkan.
Lalu apakah jenazah waktu itu adalah seseorang yang mirip dengan Dennis? Ataukah seseorang yang "disengaja" terlihat seperti Dennis sesuai dengan permintaan keluarga Garin?
Athar menghela nafas pelan.
Wajah Athar menegang ketika istrinya disebut dalam kalimat sampah musuhnya itu. Tangannya mengepal keras di sisi tubuhnya. "Kenapa lo nggak mati beneran aja?" suara dingin Athar yang terdengar lempeng tapi sarat akan kebencian.
Dennis terkekeh mengejek. Baginya, mempermainkan Athar itu menyenangkan. Kalau dahulu dia mesti sembunyi-sembunyi dan berlagak sebagai sahabat baik, maka setelah jati dirinya terungkap dia bahkan jadi lebih semangat lagi karena semua terasa menyenangkan.
"Jangan dong," balasnya santai. "Perasaan gue belum dibalas sama Mira."
"Brengsek."
Dennis terpingkal. Bahkan dia berpegangan pada sebuah pohon besar di dekatnya berdiri. Ia tak sanggup menahan rasa gelitik di perutnya karena orang di depannya itu. Mantan sobat karibnya.
Athar melirik sekeliling. Tanah luas yang masih memiliki beberapa pohon pada bagian sisi perbatasan dengan rumah lainnya itu kini telah dipenuhi oleh orang-orang dari keluarga Garin yang datang bersama Dennis. Sedangkan anak buahnya sendiri saat ini hanya ada tiga orang saja. Tentunya kejadian ini tak pernah ia duga akan terjadi pada lokasi dimana ia hendak membangun sebuah rumah lagi.
Athar yakin kalau tak lama lagi orang-orang kepercayaannya akan segera tiba dari Bogor. Namun sampai semuanya tiba, maka ia harus mampu bertahan meskipun kalah jumlah dibanding dengan musuhnya.
"Lo kenapa sih, Thar? Jangan salahin gue kalau ternyata gue beneran naksir sama Mira. Itu di luar kendali gue, bro. Hati gue yang mau."
Lagi, Athar mendapati kegilaan dari laki-laki lain terhadap istrinya. Baru saja lepas dari yang satu, kenapa si monster ini masih hidup?
"Gak usah omong kosong, Den. Sekarang lo bilang, lo mau apa di sini? Lo dan semua anak buah Garin mau apa dari gue? Sampaikan ke Yudistra Garin, kalau gue udah gak berniat saingan bisnis lagi sama dia."
Dennis melebarkan matanya secara dibuat-buat. "Masa? Wow, lo takut nih ceritanya karena dikepung sama anak buah gue? ckck ... lima belas lawan empat memang bukanlah sebuah keadilan. Tapi yah, mau gimana lagi. Emang ini yang gue suka," dia tertawa lagi.
"Gak usah banyak omong lagi, lo kesini mau apa, Den?"
...---...
Sudah berapa lama ya Mira dalam perjalanan menuju tempat di mana suaminya berada? Karena setelah perjalanan yang membuatnya frustasi itu kini sudah berakhir. Mobilnya telah tiba di Jakarta. Perlahan dan dengan sangat hati-hati Mira turun dari mobil pada sebuah jalan sempit. Dia mengeluarkan hpnya dari dalam tas karena ingin mengecek apakah Athar sudah menjawab pesannya atau belum. Bahkan saat tadi dia menelpon suaminya itu masih tak juga dijawab.
Ya Allah, semoga Bang Athar baik-baik aja...
Setelah mengecek ponsel yang nyatanya belum ada balasan sama sekali, kini mata Mira beralih untuk memindai pada lingkungan yang baru pertama kali ia datangi itu. Masih beberapa meter lagi kata Roy, untuk menuju lokasi yang diyakini suaminya berada. Namun, sempitnya jalan di tambah dengan keberadaan banyak mobil yang parkir pada jalan sempit itu, maka mau tak mau Mira turun dan memutuskan untuk berjalan pelan saja. Tak apa, dokter bilang, di usia kandungan Mira sekarang yang nyaris saja brojol, lebih disarankan untuk memperbanyak berjalan. Maka dari itu Mira tidak keberatan untuk turun.
"Bang Athar balas kalian gak, Roy?" tanyanya pada lelaki yang telah berdiri di sisi Mira itu.
Roy hanya menggeleng pelan. Entah jujur tidak tahu atau sedang menyembunyikan sesuatu. Entahlah, Mira malas bertanya lagi. Dia fokus pada matahari yang terasa mulai menyengat di tubuhnya.
Namun ...
Baru saja kakinya bergerak selangkah, tiba-tiba suara keras terdengar memekakkan telinganya.
DOR DOR!
...****...