AL-THAR

AL-THAR
#35. Aku Tulus Menjaga Kamu



Selamat membaca!


"Makasih ya, Yo," ucap Mira tulus saat mereka masih berada di dalam hotel, dan menuju lokasi acara yang berada di pinggir pantai.


Ryo mengusap kepala Mira. "Iya. Kamu mestinya hati-hati, Mir. Jangan sampai sendirian trus bertemu dia lagi. Karena aku melihatnya dia bukan orang yang baik."


Mira mengangguk setuju. "Dia memang gak baik, Yo. Di tuh jahat. Karena dia berniat menghancurkan Bang Athar melalui aku. Gimana aku nggak takut banget kan sama dia?"


"Jadi dia musuh Athar?"


Lagi, Mira mengangguk. "Iya. Awalnya dia baik kan sama aku, sama keluarga aku. Semuanya serba wajar dan terlihat seakan dia benar ngejar-ngejar aku. Tapi nyatanya, ada kenyataan buruk di balik sifatnya yang ramah itu."


"Tenang aja, aku gak akan biarkan dia untuk menyakiti kamu."


eh?


Senang sih, tapi kok terasa kurang pas ya?


Karena mestinya dia gak perlu sebegitunya mengingat seberapa besarnya cemburu Athar ke gue gara-gara dia.


"Makasih, Yo. Sekali lagi makasih banget," ucapnya. "Untung kamu lewat ya,"


"Aku menginap di hotel ini juga kok."


"Ha?" Mira tak menampik bahwa ia terkejut. Tapi keterkejutan itu segera ia tepis dan melanjutkan ucapannya. "Pokoknya, dengan Tuhan mengirim kamu untuk menolong aku barusan, maka aku berterima kasih. Aku bersyukur," katanya seulas senyum tulus.


"Iya ... sama-sama." Ryo membalas senyum Mira dengan tak kalah tulusnya. "Karena buatku, inilah yang aku mau, Mir."


"Hm?"


"Aku maunya kita tetap dekat kayak gini. Apapun status kamu, aku gak peduli. Karena aku bukan ingin merebut kamu dari dia. Aku hanya melakukan apa yang aku suka. Apa yang menjadi bahagiaku. Karena bahagiaku adalah berada di dekat kamu."


Mira tak tahu harus menyahut apa. Keberadaannya di sini bersama Ryo pastilah berpotensi membuat pertengkaran dirinya dengan Athar. Tapi, rasa terima kasih karena sudah diselamatkan oleh Ryo membuat Mira untuk bersikap tahu diri, dengan tidak menghempas Ryo begitu saja. Toh, Ryo memang sebaik Itu. Dan sahabatnya itu juga memang setulus itu kepadanya sejak dulu. Hanya rasa berbedalah yang menjadikan segalanya tidak menjadi indah. Mungkin Mira memiliki rasa sayang kepada Ryo, namun rasa cinta yang dimilikinya kepada Athar tentu di atas rasa sayang itu.


"Kok melamun?" Ryo membuyarkan lamunan Mira.


"Oh itu, iya, aku makasih,"


"Makasih mulu."


Mira tersenyum canggung. Dia berat untuk mengucapkan apa yang ada di pikirannya sekarang. Tapi, mau tak mau ia mesti mengutarakannya juga kan?!


"Yo ... aku ke pantainya sendiri aja ya," katanya dengan pelan dan menjaga agar suaranya tak menyinggung perasaan sahabatnya itu. Diamatinya riak wajah Ryo apakah berubah tersinggung, marah, atau terluka.


"Kenapa? Takut ketahuan dia?"


Mira mengangguk murung. Memang kenyataannya seperti itu kan?! Dia mestilah takut sekaligus menjaga perasaan sang suami.


"Gak usah takut," jawaban Ryo membuat Mira mendongak bingung. "Kita gak ngapa-ngapain, Mir. Aku tulus menjaga kamu. Dan aku pengen berada di dekat kamu."


"Tapi, Yo ..."


"Kan aku sudah bilang sama kamu. Aku gak berniat menghancurkan rumah tangga kamu sedikitpun. Aku hanya pengen egois untuk selalu berada di dekat kamu, walau tanpa status. Itu aja."


gimana sih maksudnya?


"Gimana, Yo?"


Ryo tersenyum geli. "Gini loh, Mir. Mulai sekarang aku gak peduli dengan semua orang, sekalipun itu adalah suami kamu. Karena aku gak berniat untuk merebut kamu. Aku hanya ingin berada di dekat kamu, dan menjaga kamu hanya sebatas sahabat saja. Cuma itu. Dan apa itu salah?"


kedengarannya sih nggak. tapi...


Mira menggeleng ragu. Masalahnya adalah Athar tidak akan pernah mengizinkan itu spai terjadi. "Tapi, Yo ... apa itu pantas?" tanyanya perlahan.


"Kan aku sudah bilang tadi. Aku gak peduli dengan pandangan semua orang. Sekalipun itu adalah pendapat suami kamu, aku benar-benar gak peduli. Aku akan melakukan apa yang aku mau, asal aku bahagia."


...* * *...


Mira baru saja bernafas lega saat akhirnya Ryo meninggalkannya karena handphonenya berbunyi. Ia menyingkir sebentar, dan Mira menggunakan kesempatan itu untuk segera menuju tempat acara makan malamnya yang masih di sekitar pinggir pantai seperti tadi siang.


Namun kelegaan nafas Mira segera terhenti ketika mendapati siapa tamu yang sedang mengobrol dengan Athar.


Cassandra.


Dia sudah mulai merasakan bete saat mendapati kenyataan bahwa Cassandra datang di acaranya, yang memang dengan undangan Athar sendiri. Alasan Athar adalah Cassandra termasuk dari bagian alumni yang mesti diundang juga, menurut Romeo. Ya udahlah, Mira sudah siap juga mendapati si ratu julid itu bakalan datang ke acaranya.


Namun, belum sempurna bete Mira, matanya sudah menangkap sosok yang membuat matanya cerah seketika.


Ferrow.


Dengan langkah berjingkrak seperti fan girl pada umumnya, Mira setengah berlari untuk menghampiri Ferrow. Tak lupa handphone adalah senjata wajib yang tak boleh dilupakannya.


"Kak Ferrow," ucap Mira sepenuh hati dan hati berdebar-debar, berbunga-bunga.


Artis tampan made in Indonesia itu menoleh dengan senyum manisnya. "Ya?"


"Boleh minta foto?"


"Boleh."


Mira tersenyum semringah. Dikeluarkannya buru-buru hp dari clutch yang dipegangnya. Namun, baru saja ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Ferrow, lalu tangannya bersiap dengan kamera handphonenya ... ternyata foto bareng idolanya kali ini masih gagal juga. Bagaimana tidak, tahu-tahu tangannya berikut dengan hpnya telah ditarik oleh Athar.


"Abang," desisnya dengan mata yang menatap kesal. Ditahannya agar suaranya tak semakin meninggi karena sudah pasti saat ini ia tengah menjadi perhatian semua tamu. "Aku mau foto."


"Nggak."


"Abang!"


"Nggak, Al."


Seketika Athar mengangguk. "Oke." dipegangnya hp Mira dan tangan Mira. Dan itu membuat Mira menjadi senang kembali.


"Oh jadi ini pengantinnya, Thar?" tanya Ferrow kepada Athar.


"Ya."


Ferrow tersenyum manis. "Eleh, pantesan aja."


Yang Mira harapkan untuk berfoto adalah dinya yang berada di dekat dengan Ferrow. Gitu kan mestinya?! Tapi ....


kenapa jadi Bang Athar yang di tengah? Gue kan mau deket sama mukanya Ferrow!


Mira melepaskan diri dari rangkulan Athar. Maksudnya sih ia hendak berpindah posisi untuk berdiri di dekat Ferrow. Tapi eh tapi, Athar menarik tangannya lagi, dan kali ini merangkul bahu Mira agar tak bisa pergi lagi.


Mira hanya mampu menatap wajah Athar dengan sebal.


ingin ku berteriak ...


"Lihat ke hp, dan senyum! Kalau gak nanti foto kamu jadi jelek," kata Athar yang langsung membuat Mira menghadap hpnya sekaligus tersenyum dengan sangat lebar.


nasib ... nasib ...


.


.


Cassandra tak seperti yang Mira ketahui sebelumnya. Malam itu, kejulidan sang ratu ular tidak nampak ke permukaan entah mengapa. Terkadang sinisnya keluar, itu masih dalam tahap kewajaran di mata Mira. Lalu selebihnya, cewek itu hanya berlaku biasa saja. Tidak baik, namun juga tidak jahat. Setidaknya Mira tak sampai bete dibuatnya atas kedatangan Cassandra ke dalam acaranya.


Lambat laun, akhirnya Mira mendapatkan jawaban mengapa cewek itu terlihat lebih jinak pada malam ini. Tentu saja, rupanya Cassandra datang bersama Ferrow sebagai pasangannya.


duh, bikin iri ... bisa deket-deket gitu sama Ferrow.


Menolak iri, kini Mira melayangkan matanya untuk mencari sosok Ryo yang sejak setengah jam lalu tak ditemuinya.


Kemana Ryo?


Ah, tapi itu sepertinya lebih baik. Dari pada nanti Ryo bersikeras untuk berada di dekat Mira dan memicu kemarahan Athar di depan para tamu, jadi lebih baik Ryo tidak nampak di tempat.


Tapi, Ryo kemana sih?


"Kamu tadi lama banget." Athar membuyarkan lamunan Mira. Saat ini mereka tengah duduk di depan sebuah meja sambil menikmati makanan yang ada.


Berkat ucapan Athar barusan, Mira jadi ingat lagi bagaimana Dennis tadi datang menemuinya dengan aura yang menyeramkan. Kontan saja keinginannya untuk segera bercerita kepada suaminya itu mendadak menggebu-gebu. "Oh iya, Bang tadi–" namun Mira mengingat sesuatu yang tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.


"Kenapa?"


"Sheli mana ya?" matanya mencari-cari sosok akan kakaknya itu. Bahkan dengan rasa penasaran, ia bangkit untuk mencari sang kakak meskipun harus mengabaikan panggilan Athar kepadanya.


...* * *...


"Aku masih di taksi."


suara Ubay di sebrang telepon membuat Shelia kegirangan. Ya, sesederhana itu ternyata mendapatkan bahagia hanya dari mendengar suara seseorang yang ditaksirnya.


"Kok lama sih, A? Masa macet?"


"Tadi saya mampir ke mini market dulu soalnya."


"Oh gitu," Shelia berjalan keluar dari kamar hotel dan masih dengan tangan yang menggenggam hp yang terhubung dengan Baihaqi.


"Saya gak apa-apa nih datang telat?"


"Santuy kali, A. Acara bebas ini malam sih."


Shelia memutuskan untuk menjalani takdirnya dengan lebih lapang dada. Apapun yang akan terjadi ke depannya nanti, maka itu biarlah terjadi nanti. Saat ini ia hanya ingin melanjutkan pertemanannya dengan ustadz muda itu.


"O**h ya syukurlah."


"Trus A Ubay nanti menginap di mana? Sudah dapat hotel?"


"Saya bakalan tidur di tempat teman. Alhamdulillah ada teman di sini, jadi ya ... lumayan lah."


"Teman?" laki-laki atau perempuan nih?


"Iya, teman. Junior saya waktu kuliah dulu. Terakhir ketemuan itu waktu ada kajian di Bandung."


oh ketemuannya di pengajian. eh, tapi bisa aja cewek kan?!


tanya gak ya?


"Asik deh sekalian reuni."


"Iya gitu deh."


Shelia yang langkahnya kini telah melewati kamar Mira kini celingukan mencari keberadaan adiknya itu. Tadi kan katanya Mira akan menunggunya untuk ke pantai bareng. Tapi ... kemana adiknya itu?


"Hallo."


Shelia tiba-tiba terpaku pada sosok yang berdiri tak jauh darinya kini.


"Hallo, Shelia."


Bahkan panggilan Baihaqi pun tak didengarnya. Fokusnya kini beralih pada Dennis yang sedsng berdiri sambil tersenyum dan menatapnya dengan lekat.


...* * *...