AL-THAR

AL-THAR
#68. Teror waktu itu



Untuk pertama kalinya dalam hidup Athar, dia mengalami yang namanya mabuk kendaraan. Tak terhitung berapa kali ia pernah menggunakan pesawat terbang, baik lokal maupun internasional, dan tak sekalipun yang namanya ia mengalami hal memalukan itu. Tapi kini, ia masih tak percaya kalau ia tiga kali muntah selama perjalanan dari New York menuju bandara Soekarno-Hatta.


Mungkin ia perutnya sedang tidak baik, begitu pikirnya. Akan tetapi seluruh bagian tubuhnya terasa normal dan sehat.


Selain itu, yang membuat harga dirinya seolah tercoreng adalah karena beberapa orang anak buah yang menemaninya selama perjalanan, turut menyaksikan bagaimana deritanya dalam menghadapi mual selama berada di pesawat. Bahkan saking stresnya, ia sempat berfikiran (kalau boleh) ia ingin berada di atas pesawat saja, bukan di dalamnya.


Sungguh amat sangat norak. Kelakuan kampungan. Dan itu nyata menimpa dirinya.


"Linggar ..." ucapnya lirih pada anak buahnya itu.


"Ya, Bos?"


"Keep silent. Jangan bicara pada siapapun apa yang tadi saya alami selama di pesawat."


"Siap, Bos."


"Kasih peringatan juga pada mereka yang tadi bersama kita."


"Siap, Bos."


"Kalau sampai ada di antara kalian yang bocor, bakalan langsung saya pecat ... dari dunia."


"Iya, Bos."


Athar melangkah menuju mobilnya yang telah siap menjemputnya. Setelah Linggar membukakan pintu mobil, Athar yang baru saja kakinya hendak menaikinya, kini malah urung.


"Kenapa, Bos?"


Dia menoleh pada Linggar dan berdehem sekali. "Apa kita mesti naik mobil?"


"Maksud Bos? Masa kita jalan kaki ke Bogor dari sini?"


Sial, kenapa gue gak berminat buat terjebak di dalam kendaraan apapun lagi?


"Mana ada saya bilang begitu," elak Athar dengan tajam. Harga dirinya adalah yang paling utama dibandingkan apapun. "Ambilkan masker saya!" perintahnya pada anak buahnya itu.


"Baik, Bos."


...🍁🍁...


...🍁🍁...


"Kita mau kemana ini?" tanya Abay pada Mira yang saat ini tengah menengok kanan dan kiri.


"EmCiDi."


"Yeah, I'm lovin it. Jan lupa traktir."


"Iya sih, bawel nih Abay."


"Kalo jalan liat ke depan, Bu."


"Gue lagi cuci mata, kali. Barangkali ada makanan yang menarik mata gue."


"Tetep ya, nomor satu adalah makanan. By the way, lo gak mual makan gituan?"


"Mual gue tinggal sedikit. Lagian gue kepengen es krimnya doang kok."


"Yailah, ke Mekdi cuma mau makan es krim doang gitu? Gue ditraktir es krim doang dong?"


"Lo bawel amat sih, Bay. Tenang aja, lo mau apa silakan ambil. Tapi gak banyak-banyak juga."


"Oke deh."


Mereka telah sampai di depan sebuah lift yang akan membawa mereka menuju lantai dasar, di mana restoran cepat saji itu berada. Sedangkan saat ini mereka masih berada di lantai tiga sebuah mall.


"Lo duluan ke bawah deh, Mir. Gue mau ke toilet bentar ya. Tuh di sebelah situ barusan gue lihat ada toilet."


"Ya deh."


Abay berlalu, sedangkan Mira memasuki lift duluan. Begitu ia tiba di tempat yang ditujunya, Mira segera memesan es krim yang dia inginkan. Tak lupa dengan segelas minuman bersoda dan dua buah burger yang masuk dalam daftar pesanannya. Sisanya, biar nanti Abay yang memesan saja. Karena bagi Mira yang terutama adalah es krimnya.


Menempati sebuah meja, Mira segera meletakkan makanan dan minumannya. Langsung saja ia menikmati es krim yang telah terbayang sejak di kampus tadi.


"Hai, Mir!"


Seseorang itu tiba-tiba saja telah duduk di kursi kosong di depan Mira. Sungguh itu membuat Mira amat terkejut dan hampir saja tersedak.


"Pelan-pelan dong,"


"B-bang Den ..."


"Berapa lama ya kita gak ketemu ..." Dennis seolah tengah berfikir. Senyum jenakanya menghiasi bibirnya sejak pertama menyapa Mira. "Oh terakhir itu di Bali."


"Iya ..." ucap Mira lirih. Sekarang ia selalu merasa takut bila Dennis hadir di hadapannya.


"Kamu apa kabar?"


"Baik ..."


"Syukurlah," senyum Dennis semakin manis namun terlihat menyeramkan untuk Mira.


Refleks Mira memegang perutnya yang masih datar itu.


"Ehm ... kamu suka nggak sama boneka yang waktu itu pernah aku kirim?" pertanyaan Dennis itu sekonyong-konyong langsung membuat otak Mira berfikir cepat.


jangan-jangan ...


Dennis mengangguk pelan. "Iya, betul. Waktu kamu resepsi di rumah orang tua kamu itu loh. Sorry kalo bonekanya agak horror ya. Aku cuma bermaksud bercanda aja kok sama kamu, Mir."


Es krim tak mampu lagi Mira telan. Kepalanya mendadak pusing. Mual yang sejak kemarin terasa mereda, kini seolah sedang berkumpul lagi. Semua bergerak menuju tenggorokan untuk segera keluar dari mulut. Maka refleks Mira menutup mulutnya.


Jadi dia?


"Kamu kenapa?" tanya Dennis terlihat khawatir.


Mira menggeleng. "Nggak papa. Ja-jadi Bang Den yang kirim teror itu ... buat aku?" sampe gue sakit tipes waktu itu kan. Bau darah dan menyeramkan, ya ampun–


"Itu bukan teror, Mir. Serius, aku tuh cuma bercanda." Dennis tertawa ringan. "Pasti kamu ketakutan banget, kan?! Aku yakin ekspresi muka kamu saat itu lucu banget."


sakit jiwa ini orang.


ya ampun, Abay. Lo lama banget sih?


"Becanda apanya sih, Bang? Itu teror, bukan candaan," tegas Mira. Sekuat tenaga ia masih berupaya menahan mualnya.


"Hm," Dennis kini menatap mata Mira dengan seksama. "Terserah kamu anggap apa. Aku cuma mau nakut-nakutin kamu doang, kok. Kayak semacam permainan hantu-hantuan gitu. Atau kejahilan sewaktu masa-masa remaja, kan?!"


orang gila.


"Bang Dennis itu kenapa jahat banget sih? Waktu itu aku jatuh sakit karena saking takutnya sama teror Abang, tau."


"Hm ... jadi yang pertama itu sudah termasuk jahat? Kok aku gak setuju ya."


"Pertama?" Mira merasa semakin berdebar dadanya. "Memangnya ... akan ada berapa? Atau mungkin sudah ada berapa?"


Dennis menopang dagunya dengan tangan di atas meja dan berlagak berfikir lagi. "Berapa ya? Niatnya sih banyak ..."


Mira menelan saliva.


"... tapi baru tiga." Dennis tersenyum jenaka lagi.


Sekarang Mira merasakan bulu kuduknya berdiri. Memangnya hal apa lagi yang telah diperbuat Dennis kepadanya? Untuk sekedar menakut-nakuti atau apa? Rasanya Mira gak sanggup membayangkan apa saja yang telah terjadi dalam hidupnya.


Dennis tiba-tiba bangkit sambil melongok pada jam tangannya. "Aku masih pengen banget ngobrol sama kamu, Mir. Tapi aku bener-bener gak bisa. Ya ampun, aku hampir telat. Aku pergi dulu ya. Ada urusan penting pake banget. Bye, Mira."


Mata Mira memperhatikan sosok Dennis yang sudah melangkah terburu-buru dan menjauh. Kini ia merasak kalau sekujur tubuhnya tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin kalau teror boneka itu ternyata adalah atas kiriman Dennis? Apa maunya dia?


"Mir ... lo kenapa?" Abay telah tiba dan menduduki kursi yang tadi ditempati oleh Dennis. "Lo pucat sih?"


Mira menggeleng. "Bay, kita pulang yuk!"


...* * *...