AL-THAR

AL-THAR
#55. Rindu



Begitu keluar dari kamar mandi, Mira segera berjalan menuju tangga ke lantai dua.


"Woi! Gak mau bakso?" teriak Ghani dari sofa saat melihat Mira yang ngeloyor pergi tanpa mengamankan jatah baksonya.


"Kenyaaaang!" balas Mira yang sudah menapaki tangga.


Entah kenapa tiba-tiba dia menjadi tidak menyukai wangi dari makanan paling enak sedunia itu. Betul, menurut kamus hidup Mira, bakso dan mie ayam adalah dua makanan terenak sedunia sejak dia masih kecil hingga dewasa.


Namun entah mengapa kali ini tercium berbeda. Perasaan perutnya terasa bergejolak hanya karena mencium wangi bakso.


"Aneh," gumamnya sendiri saat sudah berada di dalam kamarnya. "Kenapa gue gak terima wangi bakso? kenapa malah kecium bau yang bikin gue eneg? padahal kan itu bakso, makanan kesukaan gue. Ya ampun ... gue gak sehat kayaknya."


Ia merebahkan tubuhnya di kasur sambil membayangkan jatah baksonya yang bakalan dilahap oleh bumil rakus. Serius, kakaknya itu rakus banget, mentang-mentang lagi berbadan dua.


"Gue merasa berkhianat dari bakso. Kenapa bisa begini ya?"


Mira mengelus perutnya yang kini berasa stabil kembali setelah gejolak eneg beberapa saat yang lalu membuatnya kepayahan.


Baru saja ia bernafas lega karena perutnya sudah dalam kondisi damai, tiba-tiba bau bakso itu menyeruak kembali ke dalam indera penciumannya, terlebih baunya telah memenuhi kamarnya.


"Lo kenapa deh? tumbenan amat–"


"Jadi lo biang keroknya!" Mira histeris sambil menutup hidungnya dengan tangannya. Dia berdiri ke atas kasurnya sambil menatap horor pada Shelia yang memasuki kamarnya tanpa permisi, sambil membawa semangkok bakso.


"Hah?"


"Ngapain lo makan bakso sambil berkeliaran?"


"B aja dong. Kenapa mesti teriak-teriak sih?" Shelia duduk di kursi yang ada di kamar Mira.


"Ngapain lo duduk di situ?" Mira semakin kesal saja.


"Kan gue lagi makan, makanya gue butuh duduk."


"Emangnya di lantai bawah gak ada bangku? meja? di kamar lo gak ada juga? kenapa mesti di kamar gue?"


Shelia menatap Mira dengan kening berkerut. "Kelebayan lo mengganggu kekhusyukan gue dalam menikmati bakso ... jatah lo."


nah kan.


"Jadi lo makan jatah gue?" tanya Mira memelan, seakan tak rela.


Kakaknya itu mengangguk santai sambil mulai melahap biji-biji bakso dengan nikmat. "Ya siapa suruh lo tinggalin gitu aja. Kan lagian tadi lo bilang udah kenyang, bukan?"


Mira yang telah menutup hidungnya dengan tangannya kini mengambil bantal untuk menggantikan tangannya itu.


"Lo kenapa sih?" tanya Shelia lagi.


"Gue eneg." Mira menjawab sambil membuka bantal dari mulutnya, tapi itu hanya sesaat. Karena setelah menyahut, dia menutup kembali mulutnya dengan bantal.


"Eneg kenapa?"


Mira menggeleng.


"Wah, sakit jiwa kayaknya lo, Mir."


"Enak aja! sakit perut kali, bukan sakit jiwa."


"Ya itu, sama aja."


"Beda, lampir!"


Shelia cuek saja dengan kekesalan adiknya itu. Dia abai, tidak tanggap, dan tidak peka. Yang ada dia hanya fokus pada baksonya. "Enak banget, gila. Rugi lo gak makan."


"Bodo amat," gumam Mira dibalik bantal. Ditariknya bantal sesaat dan berkata, "Keluar dari kamar gue, Shel!"


"Lo ngusir gue?"


"Iya."


"Tapi bodo amat. Gue gak mempan diusir."


astaga lampir bunting berwujud kakak gue, jahaaraaaaa.


"Shel!" bentak Mira.


"Apa?"


"Gue mau muntah liat dan bau-in bakso lo. Mau lo gue muntahin, hah?"


Sekarang Shelia seakan me-loading sesuatu di otak cantiknya. "Lo ngidam ya?" tuduhnya.


Lantas Mira segera menggeleng. "Mana ada. Gue suntik KB."


"Ah masa?"


"Ngapain gue bohong."


"Lah trus? kenapa lo ngidam?"


"Siapa yang ngidam?" balasnya gregetan. "Gue cuma gak enak badan, makanya mual. Jadi mending sekarang lo segera keluar dari kamar gue sebelum gue muntah di mangkuk bakso lo."


Shelia bergidik ngeri. "Ih, jorok banget ya lo." dia mengangkat mangkuknya dan segera berjalan untuk keluar dari kamar adiknya itu.


...🍳🍳...


"Cari angin. Butuh udara segar."


"Masuk ke kamar, Al. Banyak angin kan?!"


"Nggak juga. Enak malah, adem."


Mira sedang melakukan sesi video call bersama sang suami tercinta di taman samping rumahnya. Setelah tadi dia merasa kalau bau bakso di kamarnya tidak juga menghilang, maka saat Athar menelponnya ia memutuskan untuk pergi ke taman saja.


"Abang lagi ngapain?" tanyanya bernada iri. Mendadak dia jadi kepengen menyusul ke Surabaya, dimana Athar berada kini. Tapi itu tidak mungkin. Karena besok ia mesti pergi kuliah, dengan tugas-tugas penting yang menantinya di kampus.


"Rebahan. Kamu emang lihat aku lagi ngapain?"


"Enaknya."


"Kamu mau ke sini? kan aku udah bilang ikut aja, tapi kamu malah nolak."


"Tapi kan tugas kuliah aku? besok mesti presentasi. Kalo nggak, aku bisa dapet D."


"Ya kalau begitu kamu mesti belajar."


Mira mencebik. "Gak bisa kalo kebanyakan materinya. Gak ada Abang yang bantuin,"


"Ya udah ... sabar aja. Tiga hari lagi aku pulang."


"Tiga hari itu lama banget ya, Bang?"


Sumpah, Mira menyesal karena tidak ikut Athar ke Surabaya. Kalau bukan karena presentasi dengan profesor Bro yang maha wajib untuk dilakukannya besok, maka sudah pasti Mira akan ikut kemanapun Athar berkelana.


"Kamu jangan bikin aku 'pusing' dong."


"Kok gitu?" Mira tersinggung.


"Kalau aku 'kepengen' sedangkan kamunya di situ, kan aku bisa pusing, Al."


"Oh iya ya." bener juga. Jangan sampai dia jadi nyari pelampiasan di sana. Gue gak bakalan ridhoooo. "Abang jangan nakal loh ya,"


"Ya nggaklah. Justru aku yang khawatir kali kamu melakukan yang aneh-aneh."


"Aku nggak ngapai-ngapain kok. Kalo gak percaya tanya aja ke Linggar sama Roy. Tadi siang aku di mall ngapain aja."


"Mereka sudah laporan kok,"


"Tuh kan, Abang lebih tahu aku lagi ngapain dibanding aku yang gak tahu Abang lagi ngapain."


"Apa sih, Al?"


Mira mencebik. Pengennya dia bercerita tentang perutnya hari ini, tapi urung ia lakukan. Karena Mira gak mau sampai Athar mengkhawatirkannya, padahal suaminya itu sedang ada pekerjaan penting di Surabaya.


"Abang tidur di hotel kan ya?"


"Hm ... sepi. Lebih enak kalo ada kamu."


Entah kenapa tiba-tiba Mira merasa pengen mewek. Sebegitunya hatinya yang merasakan rindu secara mendadak, dan berpotensi banjir air mata.


Tapi gak boleh. Dia gak boleh menangis di depan Athar sekarang.


"Abang, udah dulu ya," ucapnya buru-buru.


"Kenapa? Baru sebentar."


"Aku mules, hehe ..." Mira masih mampu memberikan cengiran lebarnya, sebelum air matanya tak mampu ia tahan lagi. Sebagai bukti dari perkataannya, Mira segera bangkit dari sana dan berjalan menuju dalam rumah.


"Ya udah, nanti sambung lagi kalau kamu udah mau tidur."


"Oke."


"Bye, Sayang."


"Bye, Sayangkuuuu."


Mira segera mematikan hpnya dan saat itu jjga air matanya luruh. Ya, entah kenapa ia mendadak melow dan merasakan rindu yang teramat kepada sang suami.


Ingin rasanya dia menyusul Athar sekarang juga. Ingin memeluk dan tidur dalam dekapan hangat suaminya itu seperti biasanya. Tapi apa daya, jarak membuatnya hatinya merindu setengah mati.


Mira menangis keras sebelum benar-benar memasuki rumah. Katakanlah ia lebay. Tapi serius, hatinya terasa amat perih saat ini karena rindu.


"Dih, kenapa lo mewek di sini?" Shelia yang datang tiba-tiba membuatnya segera menghapus jejak air matanya.


"Gue kangen Bang Athar."


"Yailah, cengeng. Belum ada sehari semalam tapi udah lebay kayak apa."


"Biarin."


emang nyatanya gue sekangen itu. Gak tahu kenapa berasa sakit banget karena harus berada dalam jarak jauh begini.


"Udah lap dulu itu muka," kata Shelia lagi. "Bersihin yang bener. Trus keluar sana, ada yang nyariin lo."


"Siapa?"


"Ryo."


...***...