AL-THAR

AL-THAR
#9. Pindah



Manis-manis aja dulu. Hehehe ...


 


Mira tersenyum canggung pada Bi Lilis dan Pak Teguh yang berdiri menyambut kedatangannya. Untuk kesekian kalinya ia datang ke rumah Athar, namun kali ini dengan status yang berbeda. Setelah dua orang yang Athar suruh untuk memindahkan barang-barang yang ia bawa menuju kamar di atas, kini Mira duduk canggung di sofa ruang tamu. Athar sendiri entah kenapa belum turun juga dari lantai atas sedari tadi.


"Mbak Mira mau minum apa?" Bi Lilis bertanya. "Atau mau makan apa? biar segera saya siapkan."


Mira menggeleng. "Ntar aja, Bi. Saya belum laper," sahut Mira ramah.


"Mbak Mira gak mau menyusul Mas Athar di lantai atas?" Pak Teguh yang bertanya.


"Di sini aja dulu deh, Pak."


"Kalau Mbak Mira butuh apa saja, bisa bilang ke saya ya."


"Iya, Pak."


Pak Teguh tersenyum. "Mbak Mira jangan sungkan. Sekarang ini rumah Mbak Mira juga loh."


rumah gue? aishh, nggak ah.


"Kalau butuh makanan atau minuman bilangnya ke saya ya Mbak Mira," kata Bi Lilis. "Suruh siapapun sampaikan ke saya, gak apa-apa."


"Iya, Bi."


"Mbak Mira kok kelihatan tegang ya?"


Mira tertawa garing. "Ah nggak kok,"


"Ya sudah, saya permisi dulu ya, Mbak Mira." Bi Lilis undur diri.


"Saya juga undur diri," kata Pak Teguh. "Mbak Mira gak usah sungkan di rumah sendiri. Mari."


Mira bangkit dari duduknya setelah Bi Lilis dan Pak Teguh undur diri. Dia berjalan berkeliling dan berfikir kalau sekarang dia adalah nyonya rumah ini. Dia merasa geli sendiri saat memikirkannya.


Siang ini, Athar memaksanya untuk segera pindah. Benar-benar pindah dengan memindahkan semua pakaiannya ke rumah cowok itu. Padahal sebentar lagi dia ada kuliah. Athar bahkan tak sabar hanya untuk menunggu hari menjadi sore. Dan kepindahan Mira hanyalah membawa pakaian serta barang-barang pribadinya saja. Itu pun masih banyak yang belum dibawanya, mengingat waktu sudah mepet mengejar jam kuliah tak lama lagi.


"Kamu gak mau lihat kamar kita dulu?" Athar telah turun dari lantai dua.


kamar kita?


aishhhh, gak biasa dengan kata 'kita'. Awww!


"Ntar aja deh, Bang. Ini sekarang udah jam berapa?" Mira melirik jam tangannya.


"Ya udah kita berangkat sekarang."


"Bukannya kamar Abang di bawah ya?" tanya Mira saat mereka sudah berada di mobil. Perjalanan menuju kampus yang memang tak memerlukan waktu yang lama, seharusnya. Karena jarak baik dari rumah Mira menuju kampus, ataupun dari rumah Athar menuju kampus itu cukup dekat. Lain hal kalau dari rumah Mira menuju Athar ataupun sebaliknya yang jaraknya terasa lumayan.


"Aku mau di lantai dua gak ada orang yang berkeliaran. Khusus buat kita berdua aja." sebuah kedipan sebelah mata dilayangkan Athar kepada Mira. "Ya walaupun kalau ada kita, mereka semua gak akan menampakkan diri, tapi tetap saja, aku mau satu lantai yang khusus buat kita aja."


"Kenapa Abang mesti tinggal sama banyak orang? ya walaupun aku suka sih sama keramaian."


"Mereka tinggal sama aku adalah pekerjaan. Tugas dari Dirga. So, biarkan saja ya, asal. mereka gak ganggu."


"Tapi Abang udah bener-bener gak berniat untuk balas dendam lagi kan?!" Mira harus memastikan.


"Nggak."


"Serius?"


"Aku bakalan bilang sama kamu apa saja yang akan aku lakukan dalam hidup kita, selanjutnya," ucapnya sambil mengelus kepala Mira. "Aku janji. Fokus aku sekarang adalah kebahagiaan kita. Seperti Dirga yang akan segera memiliki keluarga kecil."


Mata Mira melebar. "Kak Sabrina hamil?"


Athar mengangguk.


"Woah! Asik bakalan punya keponakan."


"Katanya sih sudah jalan tiga bulan kurang lebih."


"Syukurlah."


"Kita juga bakalan nyusul ya ..." suara Athar terdengar bagaikan suara Om hantu yang membuat Mira bergidik.


dia berencana bikin gue hamil? wah, ini belum ada kesepakatan ya.


"Santuy aja ya, Bang," Mira berusaha menekan perasaan gugupnya. "Project bikin Athar-Athar juniornya nanti dulu ya ..."


Mira pikir Athar bakalan tidak suka dengan perkataannya. Tapi nyatanya, Athar malah tersenyum geli. "Ya santuylah, Al ... proses bikinnya aja belum mulai, apalagi hasil cetaknya? aku gak memaksa apapun kok. Kita hanya akan menjalani apa yang harusnya kita jalani kan?! Jangan dibikin pusing. Kita bikin bahagia aja."


.


Ketika mobil Athar telah sampai di depan kampus, Mira yang sedang membuka seatbelt menoleh saat Athar bersuara.


"Mulai sekarang, aku minta cium setiap kali kamu turun dari mobil, sedangkan aku nggak."


Karena Athar mesti masih ada urusan di tempat lain, bukan kampus pastinya. Jadi hanya Mira yang akan turun dari mobil.


"Hah?"


"Di manapun," tambah Athar.


Belum sempat Mira mencerna, tangan Athar telah lebih dulu meraih tengkuknya, dan bibirnya mendaratkan sebuah ciuman yang singkat tapi panas.


Athar hanya membalas dengan senyum manisnya.


***


Mira berlari kesana kemari di area dalam kampus. Tujuannya hanya satu, yakni segera menemukan Abay yang hilang sesaat setelah kuliah berakhir tadi. Bukan hanya dirinya yang memburu cowok itu, melainkan dengan Pram dan Puput juga. Juga Nurdin, pacar Puput. Cowok itu sekarang bergabung dengan geng mereka seiring statusnya yang telah resmi menjadi pacar Puput beberapa waktu yang lalu.


Hp Abay tidak bisa dihubungi. Akhirnya, hanya ini cara satu-satunya agar dapat menemukan cowok itu. Yakni, dengan berlari-larian mencari kesana kemari, siapa tahu ada manusia lainnya yang mengetahui jejak si Abay. Sepenting apa? karena hari ini Abay berulang tahun, dan Abay mestilah wajib mentraktir ketiga sahabat ceweknya.


Saat Mira berlari di lantai dua, dia tak menyadari sejak kapan tepatnya Dodo bergabung dengannya. Seketika ia menghentikan larinya dan menoleh kesana kemari dengan khawatir, takut-takut ada Athar melihatnya.


"Loh, ngapain, Do? Kok lo ngikutin gue lari-lari?"


"Lo larinya sendirian sih, Mir. Makanya gue temenin."


"Gak usah, Do. Gak usah repot-repot nemenin gue. Soalnya gue cuma lagi nyari si Abay."


"Gue gak repot, Mira."


"Yakin?"


"Iya, yakin."


"Ya udah, lo bantuin gue cari Abay ke lantai tiga, mau?"


Tak butuh pikir panjang saat Dodo langsung menyahut, "Mau."


"Oke. Gue lanjut ke sana dulu ya," ucap Mira sambil menunjuk arah kirinya.


"Siyap, Mira. Gue ke lantai tiga dulu ya. Dadah."


"Dah."


Mira lega dengan kepergian Dodo. Sekarang dia hanya perlu melanjutkan larinya. Tapi, baru saja dia hendak melangkah, sebuah suara menghentikannya.


"Kak Almira?"


"Ya?"


Di hadapan Mira kini ada seorang gadis berkuncir dua, dengan senyum lebar yang terkembang di bibirnya. Mira gak kenal. Tapi anehnya gadis itu mengenalnya. Apa dia seterkenal itu sekarang?


"Aku Kiara." Gadis itu mengulurkan tangannya. "Aku mau berterima kasih karena Kakak sudah mau menyampaikan coklat aku untuk Ghani."


Oooohhh


Mira menyambut uluran tangan Kiara. "Oh jadi kamu yang namanya Kiara."


"Iya."


Mira seakan melihat dirinya di masa lalu saat melihat bagaimana Kiara berpenampilan. Cuek, polos, dan apa adanya. Hanya bedanya, kalau dulu Mira merasa tidak beruntung dengan wajahnya yang pas-pasan, maka berbeda dengan Kiara. Mira dapat melihat kalau dibalik kacamata itu, ada sosok gadis yang akan terlihat cantik bila tersentuh perawatan.


"Ghani kapan pulang ya, Kak?"


"Emang Ghani kemana?"


"Loh, masa Kakak yang Kakaknya Ghani sendiri malahan gak tau?"


"Emang gak tahu." Mira menggeleng pelan. Karena dia terlalu fokus pada Athar yang kini mendominasi hidupnya, dan tidak sempat untuk kepoin adiknya yang memang tidak suka dikepoin oleh saudara-saudaranya.


"Kalau Kakak aja gak tahu, apa lagi aku? Ya udah deh, makasih ya, Kak." Kiara terlihat murung, dan kini berbalik langkah untuk meninggalkan Mira.


"Emang si Tayo pergi kemana sih?" gumamnya sendiri sambil mengeluarkan hpnya. Setelah mengirim chat kepada Ghani, Mira melanjutkan pencariannya akan si Abay yang mendadak kabur disaat ia wajib mentraktir teman-temannya.


.


.


"Ghan, lo kok gak bales chat gue sih?" Mira mengekori adiknya yang baru pulang itu.


Sepulang dari kampus, Mira memang langsung menuju rumah keluarganya sambil menunggu malam saat Athar akan menjemputnya setelah banyak urusannya yang dibereskan hari ini. Gak mungkin dia menghabiskan waktu di rumah Athar sementara suaminya itu bahkan belum pulang. Dan tentunya semua sudah dengan persetujuan Athar melalui telepon tadi.


Sepanjang lantai dua, Mira mengekori Ghani yang menuju kamarnya.


"Ghani."


Adik Mira itu menghentikan langkahnya mendadak dan membuat Mira menubruk punggung lebarnya. "Aduh! Lo kalo mau ngerem, bilang-bilang dong."


Ghani menangkap tangan Mira dan membawa Mira menuju kamarnya sendiri.


"Loh, Ghan? Kenapa?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Manisnya-manisnya udah belom ya? 😆


*



(Ghani-Kiara)


Coming soon. 😉


*******