
...Happy Reading ๐๐๐...
...๐๐๐...
Senyum penuh kepuasaan nampak tersungging di bibir Athar. Tak dapat disembunyikan kalau kebahagiaan itu tengah ia rasakan.
"Masih bisa berubah loh."
Kalimat Mira barusan tak menyurutkan senyum suaminya sedikitpun. Dalam hatinya, semoga itu tidak akan pernah berubah hingga anaknya lahir nanti. "Insyaa Allah nggak."
Mau tak mau Mira tertular senyum bahagia itu. Walaupun dirinya sedikit berharap kalau anak yang dalam kandungannya berjenis kelamin perempuan, tapi ia tetap bahagia karena hasil dari USG nampak puncak monas yang menurut dokter akan berjenis kelamin laki-laki.
Sejujurnya, apapun jenis kelaminnya, Mira tetap bahagia. Lebih dari pada itu, yang paling penting adalah segalanya dimudahkan, nanti persalinannya dilancarkan, dan ... tidak sakit. Itu doanya.
Athar merangkul bahunya dan membawanya ke dalam pelukan lelaki itu. "Mau laki-laki ataupun perempuan, aku tetap bersyukur dan bahagia kok, Sayang."
"Iya, aku juga."
"Tapi kalau benar-benar lahir sesuai hasil USG yaitu laki-laki, maka itu bonus untukku. 'Kan kalau keinginan pertama gak sesuai, masih banyak kesempatan request di kedua, ketiga, keempat ..."
"Stop. Emangnya Abang mau punya anak berapa sih? Kok aku jadi merinding ya."
"Kamu sanggupnya berapa?"
Hah? Mira menggeleng. "Nggak tahu."
"Berarti terserah aku dong."
"Oh tentu. Berarti Abang aja yang hamil. Silakan."
"Kok gitu?"
Mira memutar bola matanya. Itu membuat Athar menjawil pipinya. "Hey, gak sopan ya."
"Lagian, Abang ..."
Athar membukakan pintu mobil untuk istrinya itu. Namun sebelum Mira memasuki mobil, suaminya itu berkata, "Kamu yakin mau ke rumah Pram? Apa nggak sebaiknya kamu biarkan Pram menenangkan diri?"
"Kasihan dia, Bang. Takutnya depresi. Aku gak bisa diam aja melihat sehabatku sebegitu stresnya."
"Tapi kamu janji gak boleh ikut campur masalah mereka, oke?"
"Iya ..."
"Jangan berani bicarakan ke orang tua Pram."
"Iya, Sayang. Udah yuk, ah. Nanas!" Mira memasuki mobil, disusul oleh Athar yang segera duduk di balik kemudi. Sudah berlalu masa-masa ngidam Athar yang mual saat berada di dalam kendaraan. Sekarang ia sudah pulih seperti sedia kala.
"Kamu mau nanas? Yakin? Bukannya kamu gak doyan nanas?" tanyanya setelah menghidupkan mesin mobil.
Mira menatap Athar sesaat dengan datar. "Maksud aku, panas, Bang. Mataharinya mentereng. Panas. Nanas ..."
"...."
Athar tak menyahut lagi. Dia mulai menjalankan mobilnya dan hendak mengantar Mira menuju rumah Pram.
"Aku tungguin aja ya di rumah Pram? 'Kan aku bisa duduk di terasnya," pinta Athar sambil sesekali melirik, tanpa menghilangkan fokusnya pada jalan raya.
"Hah? Ih, ngapain sih, Bang? Masa cewek-cewek curhat ditungguin? gak asik banget deh!"
"Tapi cewek yang ini sedang mengandung anakku. Aku gak mau kandungannya yang besar jadi terganggu karena tangisan temannya."
Mira berdecak pelan. "Jangan lebay deh. Udah ah, Abang jangan gangguin aku sebentar. Katanya mau ketemu Bang Dirga?"
"Iya sih. Ya udah, nanti kalau kamu sudah selesai, telepon aku. Nanti aku jemput."
"Siap, juragan."
...---...
Sesi curhat Pram tidak berlangsung lama. Hal itu dikarenakan Pram yang sudah muak menangis sejak kemarin, dan memiliki rencana untuk mencari keberadaan Ryo saja, agar dapat menyelesaikan masalah mereka.
Hanya satu setengah jam saja Mira berada di rumah Pram. Saat ia hendak menelpon Athar agar menjemputnya, namun ibunya Pram keburu menawarkan tumpangan kepadanya.
"Bareng Tante aja, Mir. Butik yang mau Tante kunjungi searah rumah kamu kok."
"Ah iya, makasih, Tante. Tapi akuโ"
"Udah jangan sungkan. Ayuk ke mobil!"
Walaupun Mira sudah janji kepada Athar bahwa ia tidak berniat ikut campur dengan bicara langsung kepada orang tua Pram, tapi Mira tetap saja penasaran kenapa rencana pernikahan itu bisa dilanjutkan. Ada apa sebenarnya? Maka dengan tawaran tumpangan dari ibunya Pram, sepertinya itu akan Mira gunakan untuk sedikit membahasnya. Sekali lagi, dia bukan ingin ikut campur, melainkan hanya penasaran bagaimana hal itu bisa terjadi.
"Makasih ya, kamu sudah dampingi Pram yang sedang berada di masa sulitnya." Ibunda Pram sudah lebih dulu memulai obrolan, saat mobil telah bergerak meninggalkan rumahnya.
Sebuah senyuman sopan Mira layangkan sebagai jawaban ketika wanita itu menengok sesaat.
"Tante bukan sengaja membuat hidup anak Tante sulit. Bukan, bukan seperti itu. Tapi entah kenapa Tante yakin kalau mereka berjodoh, terlepas dari Ryo yang pernah naksir sama kamu ya, Mir."
Rupanya ibunda Pram mengetahui โtentang Ryo yang memiliki rasa kepada Miraโ dari Pram, saat anak gadisnya itu berupaya menolak mati-matian perjodohannya.
Ada rasa tidak enak menyergap hati Mira saat mendengarnya. Sehingga ia bingung mesti menjawab apa. Dan lagi-lagi hanya sebuah senyum getir yang mampu ia terbitkan.
Namun Mira mencoba peruntungannya, "Tapi 'kan Pram sama Raihan ..."
"Tante tahu. Tante cuma merasa kalau Pram dengan Raihan itu, untuk menuju arah keseriusan hubungan mereka sepertinya terasa masih lama. Karena Raihan masih muda, juga memiliki dua orang kakak perempuan yang belum menikah. Sedangkan Om sama Tante ingin Pram segera menikah."
"Kenapa, Tante? 'Kan Pram sama Ryo juga masih muda."
"Betul, mereka memang masih muda. Tapi ada hal lain juga yang membuat Tante memaksa Pram begini." Ibunda Pram menyodorkan sebotol air mineral kepada Mira, lalu melanjutkan, "Kesepakatan dalam perjodohannya adalah, bila keduanya menolak maka perjodohan tidak akan terjadi. Tetapi bila salah satu menerimanya, maka perjodohan tetap akan berlanjut. Bahkan menurut dengan kemauan pada pihak yang menyetujuinya. Dalam hal ini Ryo. Walaupun pada awalnya keduanya menolak, tapi sekarang Ryo menerima. Bahkan dia menginginkan pernikahan yang segera. Oh ya, sudah dirubah, bukan minggu besok acaranya, melainkan dua minggu lagi agar persiapannya bisa lebih baik."
Mira gatal ingin mengucapkan apa yang sedang dipikirkannya, sebagai sahabat yang ingin menyuarakan perasaan sahabat baiknya. Itu egois banget, 'kan?! Pram jelas berada dj pihak yang paling dirugikan. Mira gak bisa membayangkan gimana hancurnya hati Pram.
"Kok kayak perjanjian bisnis sih, Tante?" tanya Mira dengan sedikit nada bercanda. Karena lagi-lagi Mira mesti mengingat bahwa ia tidak berhak untuk ikut campur.
"Sebenarnya Ayumi mengalami depresi, Mir."
iya tahu.
"Tante care dengan Ayumi sejak lama. Tante tulus menjadi sahabatnya seperti kamu dengan Pram. Sejak pertemuan kami pada pernikahan kamu, kami menjadi dekat lagi seperti dulu. Dia menceritakan segala perasaannya dan hubungannya dengan Ryo, anaknya. Sebuah rahasia akan Tante beri tahu tapi kamu mesti janji tidak bilang kemana-mana. Bisa, Mir?"
"Rahasia?"
Ibunda Pram mengangguk. Dia menepikan mobilnya di pinggir jalan yang tak jauh darinya terdapat sebuah lapangan sepakbola, berikut dengan anak-anak yang sedang bermain di sana.
"Ayumi sakit, Mir." wanita itu tak mampu menahan air mata yang meluncur di pipinya. Itu sebab ia menepikan mobilnya, agar tak tangisannya tak mengganggu konsentrasinya dalam berkendara. "Jantungnya bermasalah. Entah berapa lama lagi dia bisa bertahan. Dia merahasiakan penyakitnya itu dari anaknya, karena takut dengan bermacam-macam kemungkinan yang akan terjadi apabila Ryo mengetahuinya."
Mira tercengang. Dia hanya tahu kalau ibunya Ryo memang mengalami depresi pasca perceraian. Tapi kalau penyakit? ini benar-benar mengejutkan.
"Dia bilang," lanjut wanita itu. "Ryo sudah berubah. Putranya itu tidak penurut lagi seperti dulu."
Pada detik ini, Mira merasakan nafasnya memberat. Gugup, dia merasa kalau perubahan Ryo adalah salahnya. Atau setidaknya, ia turut andil dalam perubahan Ryo itu.
Namun, saat tangannya menyentuh perut buncitnya, Mira berupaya mengendalikan perasaan bersalah itu. Demi anak dalam kandungannya, ia mesti bisa mengatasi kegelisahan hatinya.
"Setidaknya, bila Ayumi melihat Ryo telah menikah, maka kewajiban terakhirnya sebagai orang tua telah ia tunaikan. Begitu katanya."
"Ya tapi kenapa mesti Pram, Tan? 'Kan di sana ada Hinata. Atau bisa cari cewek lain yang satu negara." kenapa mesti Pram yang dihancurkan hatinya?
"Karena Ayumi percaya kepada Pram. Dia bilang, dia mesti mencarikan wanita yang baik untuk anaknya. Dan ketika melihat Pram, dia begitu setuju dengan rencana spontan kami saat itu." wanita itu berkaca-kaca lagi matanya. "Tapi saat Ryo dan Pram menolak perjodohan itu, Ayumi menyerah, walau tidak menampakkannya di depan Ryo. Dia pasrah. Namun beberapa hari yang lalu ternyata anaknya itu tiba-tiba berubah pikiran. Ryo berkata ingin menikah dengan Pram secepatnya."
"Dan Tante percaya begitu aja?" Mira heran dengan wanita di dekatnya ini. Kok bisa hanya melihat dari sudut pandang orang lain tanpa melihat sudut pandang anaknya sendiri? kok bisa? Andai itu Mira yang mengalami, entah apa Mira masih berniat untuk pulang ke rumah atau nggak.
Ibunda Pram tersenyum tipis. "Sayangnya Tante percaya, Mir. Tante berharap Pram dapat menikah dengan Ryo suatu hari nanti. Om sama Tante sudah terlanjur berangan menjadikan Ryo menantu."
"Tanpa Tante kenal dulu bagaimana sikap Ryo ke Pram?"
"Ryo anak yang baik, Mir. Sopan dan menyenangkan. Sikap dia kepada Om dan Tante amat baik. Begitupun kepada Pram, dia baik. Malah Tante yang melihat Pram bersikap kasar kepada Ryo."
ya iyalah, jelas Pram gak suka sama Ryo.
"Tante gak tanya apa alasan Ryo tiba-tiba berubah pikiran untuk menerima perjodohannya?"
Wanita itu mengangguk pelan. "Tante sudah tanya. Ryo bilang, dia ingin menyengkan ibunya. Satu alasan yang Tante cukup terima. Karena memang sudah saatnya Ryo kembali menjadi anak yang penurut dan sayang kepada ibunya. Dan semoga ... Ryo dan Pram memang berjodoh, Mir. Doa 'kan ya."
...----...
Mira memandang sesaat pada mobil ibunda Pram yang sudah menjauh. Dia telah sampai di depan rumahnya dengan selamat. Rumahnya dengan Athar pastinya.
Mengingat kembali apa saja yang tadi ia bicarakan dengan ibu dari sahabatnya itu. Benar-benar sebuah pemikiran yang Mira belum bisa terima. Dan andai Pram pasrah lalu menerima, maka otak Mira tak mampu lagi berpikir untuk mencari jawaban dari pertanyaan; kok bisa?
Ya ampun, nasibnya Pram.
Mira menghela nafas sesaat. Ah tau ah.
"Mas Athar ada di rumah samping, Non."
Seorang keamanan memberitahu Mira yang sedang melewatinya. Itu membuat Mira tersadar kalau ia lupa memberitahu Athar perihal kepulangannya yang tanpa jemputan. Segera ia berjalan langsung menuju rumah samping dan ...
"Wow," desisnya pelan. Matanya menatap lekat pada lapangan basket yang ada di hadapannya kini. "Daebak." tangannya mengelus perutnya secara berulang-ulang, hingga ia menemukan sebuah kursi di bawah pohon, lalu mendudukinya.
Yap, Mira menonton cogan-cogan yang sedsng bermain basket saat ini. Ada Athar, suaminya, tentu saja. Sebagai juragan pemilik kekuasaan dua rumah ini beserta isinya, sudah pasti Athar akan berada di sana. Oke, selain Athar yang yang merupakan cogan nomor wahid bagi Mira, dan bagi warga sekampus pada masanya, di sana ada juga Ferow, idola Mira.
"Astaga, Ferow ... keringetnya pengen gue lap deh," gumamnya sambil terus mengusap-usap perut. "Calon anak ganteng, nanti kamu tingginya kayak Ferow ya. Soalnya Ferow lebih tinggi 1 centi dari Papah kamu. Serius, 1 centi itu berharga loh."
Lanjut, Mira menatap satu persatu cogan-cogan lain yang sedang bermain dengan Athar dan Ferrow. "Kenapa nggak ada yang jelek ya? haduh, ini sih mata Mamah bahagia, Nak. Mamah yakin, nanti kamu bakalan sangat-sangat tampan bin ganteng. Karena gabungan dari ketampanan semua cogan-cogan yang ada di siniโ"
"Enak aja! Anakku ya cuma mirip aku. Ngapain gabungan sama orang lain? Bikinnya aja cuma kita berdua. Jangan ngarang deh, Al!"
waduh, sejak kapan dia teleportasi dari lapangan ke sini?
...-******-...
sorry for typo.