
Seperti sebuah mimpi kejadian beberapa detik lalu yang dialaminya. Tubuhnya seakan tertarik sekaligus terlempar di waktu bersamaan. Hingga akhirnya ia merasakan guncangan itu telah mereda, kini yang tersisa hanyalah nafasnya yang terasa tersengal.
Mira bahkan masih tak berani untuk membuka mata meskipun dia merasakan detakan jantung yang saling berburu. Karena ia tahu, detakan itu bukan hanya miliknya, melainkan juga milik dari seseorang yang kini tengah mendekapnya dengan erat.
"Al ..."
Samar-samar ia mendengar seseorang menyebut namanya, atau mungkin malah sedang memanggilnya?
Namun bukannya malah menyahut, yang ada Mira malah merasakan air matanya yang runtuh seketika.
"Al ..."
Air matanya mengalir, isakkannya yang awalnya pelan segera berubah menjadi tangisan penuh rasa.
"Ssshhh, Sayang," Athar mengusap kepala Mira dengan sayang. Dekapannya malah semakin erat saja. "... kamu baik-baik aja kan?! Hm? Al?"
Mira mengangguk saja. Tangisannya masih menderu hingga beberapa saat lamanya.
Athar bangkit dari posisi mereka yang saat ini terbaring di jalan, setelah tadi ia berhasil menyeret Mira dari kemalangan, hingga keduanya tersungkur ke pinggir jalan. Nyaris saja, telat sedetik saja maka takdir buruk menimpa mereka. Maka dengan hempasan kuatnya agar tubuh Mira dapat ditarik ke arahnya, hingga keduanya jatuh berguling dan Athar terus mendekap Mira agar tak terlepas.
Tak masalah, justru Athar lega karena hampir saja ia kehilangan istrinya.
Mira yang tak juga melepaskan pelukannya pada Athar, kini masih belum mampu untuk mengangkat pandangannya. Dia terlalu syok. Maka biarlah ia merasa nyaman dengan beginu posisinya.
"Sebentar," bisik Athar sambil melepaskan tangan Mira perlahan dari tubuhnya.
Mira segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sedangkan Athar sedikit merendahkan tubuhnya untuk meletakkan sebelah tangannya di belakang lutut Mira.
Ia membopong Mira yang segera kembali menyeruak ke dalam pelukannya, menuju mobilnya.
...🌸🌸...
Mira membuka mata perlahan. Setelah beberapa saat pandangannya terbiasa dengan sekitarnya, ia menyadari sesuatu.
kamar?
jadi gue masih hidup.
"Abang ..." panggilnya pelan. Ia menoleh kanan dan kiri, lalu memindai segala penjuru kamar sejauh matanya memandang. Tapi tak ada Athar dimanapun. "Masa gue mimpi? ya ampun, buruk banget mimpi gue. Malahan truknya gede banget," seketika ia merinding dan meringkuk badannya untuk memeluk guling.
"Mimpi kok terasa nyata banget ..." lanjutnya bergumam sendiri. "Mimpi apa nyata sih? Kalo mimpi kok ya badan gue rasanya mau rontok,"
Pintu kamar yang tiba-tiba terbuka membuat Mira refleks menoleh. Didapatinya suaminya itu yang menatapnya penuh kekhawatiran yang sangat kentara.
"Kamu baik-baik aja, kan?!" Athar langsung menghampirinya dan duduk di tepi ranjang di sisinya.
Segera Mira bangkit dan memeluk Athar dengan kuat. Ditenggelamkannya wajahnya ke dada bidang suaminya itu, dan ia menghela nafas lega. "Abang, aku habis mimpi buruk yang mirip kenyataan. Aku takut banget," ucapnya langsung.
Tak ada sahutan dari Athar. Hanya usapan lembut yang kini membelai kepala hingga punggungnya.
Setelah Mira menetralkan detak jantungnya seiring dengan perasaan leganya, kini ia mendongak untuk menatap wajah tampan sang suami yang tak menyahut meski sudah berlalu beberapa menit.
"Maaf, Al. Tapi kamu bukan mimpi. Tadi kamu sempat pingsan saat masih berada di mobil." Athar berkata pelan yang sarat akan penyesalan.
Sedangkan Mira mengerjap sesaat dan mulai mengingat rentetan kejadian yang diingatnya. "Nyata?"
Athar mengangguk.
Setelah dirasanya ingatan itu telah kembali dan menyadari bahwa semua adalah nyata, Mira mendesah pelan. "Kok aku masih hidup ya?"
Athar menjawil bibir bawah Mira karena sebal. "Jangan bilang begitu. Lagian, ngapain kamu mesti nyebrang sih?"
"Kan mau nge-gep Abang. Siapa tahu Abang lagi transaksi kayak di sinetron-sinetron gitu,"
Athar mengernyit. "Transaksi apa?"
"Ya apa aja. Jamu misalnya. Masa barang haram? Abang kan bukan penjahat."
Sekarang Athar mengigit ujung hidung Mira dengan gemas. "Abang tuh suka banget sih gigit aku," gerutu Mira sambil mengusap hidungnya. Di pikirannya yang sudah travelling ke malam-malam panas mereka, memang rekam jejak di otaknya menyatakan kalau Athar akan selalu menggigitnya di kala gemas. Tapi itu bukan gigit beneran, melainkan ungkapan gemas yang seakan suaminya itu ingin memakannya.
"Lagian kamu suka jauh banget mikirnya. Dan yang paling penting dari itu adalah, emangnya kamu gak tengok kanan kiri kalau mau nyebrang? Di pelajaran sekolah SD kamu dulu itu belum diajarin?"
"Abang suka pedes gitu ya ngomongnya, persis Ghani. Ya aku–"
tadi gue nengok kanan kiri gak ya?
"... lupa." Mira menyengir lebar. Tapi tak lama karena kemudian ia meringis merasakan tubuhnya nyeri.
"Mana yang sakit?" Athar nampak khawatir karena ringisan Mira.
"Seluruh badan. Rasanya kayak abis jatuh dari jurang. Jurang kematimpp–" mulut Mira terbungkam oleh telapak tangan besar milik Athar.
"Jaga ucapan! Gak boleh sembarangan," ucapan Athar membuat Mira mengangguk paham. Lalu Athar melepaskan tangannya. "Kita ke dokter ya?" bujuknya lembut.
"Nggak mau ah. Abang gak sakit badannya? Kita kan abis guling-guling gitu kayak film India."
Athar menggeleng. "Aku panggil dokter Rama kesini lagi aja?"
"Kenapa?"
"Aku pengen dipijat aja."
"Salon? Spa?"
Mira tersenyum lebar. "Aku punya langganan tukang pijat perempuan di Jakarta."
"Ya udah nanti aku suruh orang buat bawa kesini,"
"Ehhh jangan!"
"Kenapa lagi?"
"Aku maunya kesana."
"Kapan?"
"Besok? Mumpung aku masih libur kuliah."
Athar terlihat berfikir sebentar. "Aku usahakan besok bisa antar kamu,"
"Aku sama pengawal aja gak papa kok, Bang."
"Nggak boleh. Mesti denganku," putus Athar dengan tegas.
...🌿🌿...
"Apa keputusan kamu sudah berubah?"
"Tidak pernah."
"Ry ..."
"Tolong Mama sekali ini saja mengerti apa mauku. Karena kalau tidak, maka aku lebih memilih untuk tinggal bersama Papa."
"Dia bukan Papa kamu,"
"Meskipun secara biologis, ya. Tapi aku tetap menganggapnya sebagai Papaku. Begitupun sebaliknya.
"Dan kamu tega untuk meninggalkan aku seorang diri?"
"Bukankah beberapa minggu ini Mama bisa hidup sendiri tanpa aku?"
"Ryo!"
"Ma," sela Ryo sebelum sang Mama mengeluarkan kekeraskepalaannya. "Aku tetap tidak berniat untuk menikah dengan siapapun, termasuk Pramita. Kalaupun suatu hari aku akan menikah, maka aku hanya akan menikahi seorang saja."
"Dia sudah menjadi istri orang lain, Ryo! Sadarlah!"
"Aku sadar, Ma. Aku benar-benar sadar kepada siapa hatiku selalu menoleh. Hanya dia, Ma. Hanya dia yang kumau."
"Jangan bodoh! Masih banyak wanita di dunia ini. Yang satu negara dengan kita, atau bahkan di negara lain sekalipun. Mengapa kamu mesti menjadi anak laki-lakiku yang terlampau bodoh, Ry?"
Ryo bergeming.
"Jangan gila karena dia! Kamu–" nyonya Ayumi frustasi karena wajah sang putra yang nampak dingin tak berperasaan. Dia sudah menyadarinya dalam beberapa bulan, kalau putra tunggalnya telah berubah.
"Jangan menangis," ucap Ryo datar saat diliriknya sang mama menitikkan air mata.
"Aku sudah tidak mengenali anakku sendiri."
"Aku sudah berubah."
"Ya! Kamu memang telah berubah menjadi tak berperasaan. Kamu bahkan sudah tidak memikirkan aku lagi sebagai ibumu."
"Sudah waktunya Mama memikirkan diri Mama sendiri. Jangan libatkan aku, jangan campuri urusanku. Aku hanya ingin mencari kebahagiaanku." Ryo beranjak dari kursi.
"Jadi kamu pulang hanya untuk meninggalkan aku?"
"Aku di sini, Ma. Aku tetap di sini terlepas Mama setuju atau tidak dengan jalan hidupku sekarang. Dan satu hal lagi, jangan ganggu kehidupan Pram. Biarkan dia bahagia dengan pasangannya–"
"Maka kamu sebaiknya jangan campuri kehidupan Almira! Biarkan dia bahagia dengan pasangannya, Ry."
"Kalau itu ... aku tidak bisa."
"Ry ... please dengarkan aku sebagai Mama kamu. Aku tidak akan pernah menyukai apapun bentuknya orang ketiga dalam sebuah rumah tangga. Itu menyakitkan, Ry. Tolong jangan kamu rusak kebahagiaan mereka."
"Lalu kalian semua boleh merusak kebahagiaanku, begitu?"
"Bukan, Ry ... bukan begitu ...."
Ryo yang sejak tadi membelakangi sang mama kini berbalik dengan pelan dan menatap mamanya kembali. "Aku hanya mencari keadilan, Ma. Aku hanya ingin sekali saja egois dalam hidupku. Cukup selama ini aku mengalah. Tapi kali ini ... aku tidak mau kalah lagi. Aku akan mendapatkan apa yang aku mau. Kalaupun akhirnya aku tetap tidak berhasil memilikinya, maka aku akan memastikan kalau siapapun juga tidak ada yang boleh memilikinya."
...***...