AL-THAR

AL-THAR
#29. Deretan Manusia Patah Hati



Setelah ciuman wajib antara dirinya dengan Athar terjadi beberapa saat yang lalu, kemudian Mira melepaskan seatbelt yang masih dikenakannya. "Abang gak mampir dulu nih ke kampus? Kali aja kangen gitu. Kayaknya udah sebulanan kan Abang gak ke kampus."


"Nggak sempat deh, Al. Aku ada janji sama Mbak Nanda di kantornya Dirga," sahut Athar seraya melongok jam tangannya.


"Abang sering banget sih ketemuan sama dia?" Mira menampakkan raut wajah tak sukanya. "Baru juga beberapa hari yang lalu kan?!"


"Ya mau gimana, Al, memang urusanku lagi sama dia terus. Kenapa? kamu cemburu?"


Mira tak menyahut.


"Kalau gak nyahut, aku cium lagi nih?"


"Iya ... aku gak suka ... sedikit," jawabnya jujur.


"Banyak aja, Al. Aku lebih suka." Athar mengedipkan sebelah matanya. Tangannya terulur untuk mengusap kepala Mira dengan sayang. "Sabar, Sayang. Urusanku sama Nanda itu gak akan lama setelah asistenku Jovan kembali dari Medan. Nanti hal yang mengharuskanku untuk bertemu dengan Nanโ€“"


"Pakai 'Mbak' aja deh nyebutnya."


Athar tersenyum. "Mbak Nanda. Nanti aku serahkan ke Jovan agar mengurus bagianku ke Mbak Nanda. Okey?"


"Berapa lama Jovan pulang?"


"Begitu pekerjaannya di Medan bereslah."


pasti lama deh.


"Udah kamu tenang aja," lagi, Athar mengecup pipi Mira dengan singkat. "Gak usah berpikiran macam-macam. Pikirkan saja resepsi kita akhir minggu ini. Kamu hanya harus memikirkan hal yang indah-indah aja."


Mengingat hari bahagia mereka sebentar lagi terjadi membuat Mira tersenyum juga. "Abang manis ya kalau gak marah-marah. Akhir-akhir ini Abang marah-marah terus sih," keluhnya di akhir senyuman.


"Ya kamunya buat masalah terus. Ya Romeo-lah, ya Dodo-lah ... ya siapa pun laki-laki yang mengusik perhatian kamu, maka aku pasti bakalan marah-marah. Kamu pasti paham itu. Benar?"


"Iya-iya," sahutnya. "Ya udah deh, aku turun dulu." tapi sebelum dia turun dari mobil, dia menoleh kembali kepada Athar. "Mereka bakalan bereaksi apa ya, Bang? Aku bakalan kena bully gak nih?"


Athar menggeleng. "Kamu tenang aja, gak bakalan ada yang berani bully kamu. Gak akan ada yang berani untuk mencari masalah dengan istri seorang Athar."


"Masa?"


"Kamu gak percaya sama aku?"


"Percaya kok." Mira mengecup singkat pipi Athar dengan senyuman, seraya membuka pintu mobil setelahnya dan turun dari mobil. "Hati-hati ya, Abang. Gak usah ngebut, gak usah salip kanan kiri, gak usah emosi kalau ada pengendara yang gak waras, dan yang terpenting ... gak usah lama-lama ketemu sama Mbak Nandanya. Oke?"


Athar tersenyum lebar. "Oke, Sayang."


.


.


Baru juga mobil Athar berlalu dari depan kampus, akhirnya tiba saat-saat Mira mestilah menghadapi reaksi dari salah seorang yang baru mengetahui fakta kalau dirinya telah resmi menikah dengan Athar.


"Serius, Mir? ternyata sudah dua bulan lebih lo merried sama Bang Athar?" Dodo dengan mata berkaca-kaca menyambut Mira. "Mata gue gak salah baca undangan kan? Kok bisa? Padahal kalau cuma status pacaran doang kan masih ada kemungkinan buat putus. Tapi kalau ternyata janur kuningnya sudah lama melengkung, gue kudu gimana?"


ternyata dia ngarepin gue putusan sama Athar. dih, si Dodo!


Mira menatap datar Dodo. "Lo kudu bersabar. Jodoh lo pasti akan datang suatu hari nanti." nada suara Mira sih biasa saja, gak ada kesan sombong sedikitpun. Karena memang Mira gak berniat untuk menyakiti hati siapapun.


"Mira ..." suara Dodo berubah lirih. "Ini pertama kalinya gue jatuh cinta, dan sekaligus pertama kalinya juga gue patah hati ...."


lah trus? gue kudu apa, Do?


"Iya, Do. Maaf ya ..." kenapa gue mesti minta maaf coba?


Dodo menggeleng. "Maaf gak akan menyelesaikan masalah."


Lah, masalahnya kan ada di lo, bukan gue.


Mira tak tahu mesti menyahut gimana lagi.


"Gue tuh setulus itu sama lo, Mir. Kenapa mesti Bang Athar yang lo pilih sih,"


"...."


Tiba-tiba Kiara sudah menarik lengan Dodo, namun Dodo bersikeras berada di tempatnya. "Maaf ya, Kak," ucap Kiara dengan senyum tak enaknya kepada Mira. "Gak usah dengerin si Dodo."


"Enak aja jangan dengerin gue," pungkas Dodo kepada Kiara. "Mira mesti tahu isi hati gue-lah."


"Ya trus setelah itu apa? Masa lo masih ngejar-ngejar bini orang? Jangan gila dong!" balas Kiara. Lalu ia menoleh lagi kepada Mira. "Maaf ya, Kak. Maaf banget."


Mira tersenyum ramah. "Gak apa-apa."


Segera Kiara menarik lengan Dodo sekuat tenaga agar mereka segera menjauh dari sana. Dan Mira menatap reaksi pertama dari kenyataan tentang pernikahannya yang dua bulan ini hanya diketahui oleh segelintir orang saja.


Kini ia melangkah saja menuju lantai dua dimana kelasnya biasa diadakan. Semoga Prof. Broto datang. Karena kalau tidak, Mira tak ada alasan untuk berlama-lama berada di kampus. Entah kemana semangatnya tadi sewaktu masih berada di rumah, sewaktu masih berbincang dengan Shelia. Karena saat ini mendadak ia merasa khawatir dengan ....


Tuh kan, bisik-bisik tetangga sudah dimulai ...


Mira menyadari saat warga kampus yang dilaluinya terlihat melirik ke arahnya sambil berbisik-bisik. Padahal, ia sendiri tidak mengenal mereka dengan jelas. Namun rupanya dirinyalah yang kini sudah terkenal berkat status barunya.


Abaikan, Mir ... abaikan ...


Ketika sebuah undangan yang ia yakini kalau itu adalah undangan miliknya tergeletak menimpa kakinya secara tiba-tiba, maka Mira langsung menghentikan langkahnya. Ia berjongkok untuk memungutnya, lalu setelah ia berdiri kembali, dan nampaklah pelaku yang baru saja menistakan undangan pernikahannya.


"Di situ tertulis akad nikah kalian tertanggal dua bulan yang lalu, apa itu benar?"


satu, dua, tiga, empat ... ah banyak!


Mira tak mengenal satupun diantara cewek-cewek yang saat ini berdiri di hadapannya dengan tatapan yang jelas membenci. Sama sekali.


"Benar," jawab Mira tegas.


"Jadi Bang Athar idola kami selama ini malah memiliki istri macam lo?"


oke, fans Bang Athar rupanya.


"Iya." Mira tak gentar meskipun nada suara cewek-cewek sudah sangat jelas tak suka, julid, nyinyir, dan tajam.


"Kok bisa?" seru salah seorang yang lain. "Dilihat dari sudut manapun, jelas cantikkan gue dibandingkan lo!"


"Jangan-jangan Bang Athar dipelet tuh sama dia!" sahut yang lain lagi.


"Gak mungkin banget kan level kak Cassandra bisa lewat gitu aja dan malah jadi parah begini selera Bang Athar?"


sahut-sahutan itu membuat Mira mendadak tuli. Ia enggan memasukkannya ke dalam hati. Buat apa? toh hanya bakalan menyakiti hatinya sendiri. Mira pikir, kalaupun ia akan mendapat kecaman dari statusnya yang telah sah menjadi istri Arhar, maka kecaman itu tak akan separah seperti hal yang mungkin akan dilakukan oleh Cassandra dan Belva. Secara, kedua senior ratu ular yang julid itu telah wisuda. Alias tamat dari kampus ini. Jadi gak mungkin dong keduanya bakalan membully Mira hingga sedemikian rupa.


Namun pikiran Mira rupanya salah besar. Ternyata masih banyak jenis Cassandra dan Belva dalam versi yang lain, yang tak kalah mengerikannya dengan versi originalnya.


Mira hanya bisa mendesah.


Mereka ini angkatan berapa sih? perasaan angkatan gue gak ada yang sebar-bar mereka.


"Udah belum?" Mira akhirnya mengeluarkan suara juga. "Kok kalian bisa dapat undangan gue ya? Perasaan gue gak ada undang kalian deh."


Raut kesal nampak dari wajah-wajah di hadapannya. Dan sedikit banyak Mira menikmatinya. Sudah cukup ia menerima dan merasakan bullyan tanpa ada kemampuan untuk membalas. Tapi Mira yang sekarang sudah berbeda. Dirinya sudah tak segan-segan untuk membalas tiap kata-kata yang menyakitkan hatinya.


"Kalaupun kita-kita diundang, sorry deh, gak sudi tuh buat datang!"


"Tapi gue gak kenal kalian. Dan kalian gak gue undang!" balasnya langsung.


"Ada apa sih?" suara Ghani tiba-tiba mengiterupsi mereka semua, termasuk Mira.


Ghani yang langsung berdiri di dekat Mira kini menatap cewek-cewek yang tengah mencegat Mira.


"Satu fakta buruknya karena betapa beruntungnya dia yang memiliki adik sempurna," gumam salah seorang dari cewek tadi.


"Kenapa ya Kakak-kakak semua? Ada apa?" ulang Ghani.


"Gak apa-apa, Ghan," seorang yang sejak tadi diam tapi tetap berdiri dalam barisan penjahat kini yang menyahut seraya berjalan menghampiri Ghani. "Kita-kita cuma gak terima aja sama kenyataan. Kirain Bang Athar bakalan jadian sama Kak Cassandra. Tapi ternyata malah sama kakak lo."


"Trus salahnya di mana?"


"Yaa ... Gimana ya jawabnya? Ya udah deh, gitu aja sih. Udah ya, gue cabut dulu. Babay Ghani!"


Satu spesies itupun segera pergi lalu diikuti oleh spesies-spesies yang lainnya hingga semuanya lenyap dari depan hidung Mira.


"Lawan aja mereka! Jangan diam aja," ucap Ghani saat komunitas bar-bar tadi telah berlalu. "Kebiasaan kalau didiemin."


"Apa sih, Ghan? Lawan dalam wujud apa nih? Kalau baku hantam gue versus mereka itu gak mungkin banget ya. Yang ada namanya pengeroyokan. Tapi kalau lawan mereka dengan balasan kata, udah gue lakuin. Dah ah, gak penting! Gue mau mencari teman-teman gue."


Mira meninggalkan Ghani yang masih berdiri di tempatnya.


.


.


Sekali lagi saat Mira menyadari bahwa ia berpikiran salah, bahkan salah besar. Ketika dirinya baru saja tiba di tangga lantai dua, di hadapannya sudah berdiri Belva yang sepertinya sudah menunggunya sedari tadi.


Berasa jadi orang penting.


"Oh jadi kabar burung dua bulan yang lalu benar adanya."


Oke, Mira berniat melayani, alias mendengarkan apa maunya si senior julid nomor dua itu. Maka Mira melipir ke dinding terdekat untuk bersandar. Dan Belva memindai Mira dengan matanya.


"Iya, Kak Belv. Gue beneran sudah merried dan sah menjadi istrinya Bang Athar."


"Gak pantas sih," sahut Belva santai dengan langkah pelan mendekati Mira. "Tapi mau gimana lagi kan? Atharnya yang emang bodoh."


"Iya, Bang Athar bodoh. Gak papa, gue juga suka sama orang bodoh karena gue sendiri udah bodoh."


Belva berdecak. "Gak usah sok merendah kalau sebenernya lo sedang meninggi."


"Oh nggak boleh ya?"


"Nggak boleh dong, itu nggak baik."


Baik suara Mira maupun Belva sama-sama halus namun tajam. Mira hanya mengikuti permainan yang sedang dimainkan oleh cewek julid itu.


"Tapi gue mau tuh."


Belva tersenyum sinis. "Entah kenapa sejak awal melihat lo, gue amat sangat gak suka sama lo. Bahkan hingga detik ini."


"Makasih, Kakak."


"Nikmatin aja deh kebahagiaan lo sekarang-sekarang ini. Semoga gak cepat berlalu ya." senyum Belva sekarang berubah seakan memiliki banyak arti. Atau bisa dikatakan sedang menyimpan berbagai racun yang tersembunyi di baliknya. Kemudian ia berbalik dan melangkah pergi. Tapi, baru beberapa langkah ia kembali menoleh pada Mira lagi.


"Jangan terlalu bahagia, takutnya kalau nanti berduka lo malah gak sanggup menjalaninya."


...* * *...


"Serius?" Romeo mengulang pertanyaannya saat Athar tak juga menyahut. "Serius dia datang lagi?"


Athar mengangguk singkat. Matanya masih menerawang jauh tentang berbagai kemungkinan yang akan terjadi.


"Tapi nanti resepsi lo?"


"Kalau dia mau datang ya datang aja. Gue udah cukup banyak melakukan persiapan kelancaran acara gue, dan gue gak pernah takut sedikitpun."


"Gue cukup syok sih atas kenyataan-kenyataan yang baru lo ceritain ke gue sebulan yang lalu, tapi sekarang gue paham kenapa lo begini, kenapa lo begitu. Tapi ... kedatangan dia ke pesta lo sebaiknya gak terjadi deh, Thar."


Athar tak menyahut.


"Gue khawatir juga sama Mira, ya kan?!"


Sekarang Athar mendelik. "Lo gak perlu khawatirin istri gue. Cukup gue aja yang peduli, yang punya rasa khawatir, dan segalanya."


"Ya ya ya ..." Romeo jengah. "Gue ngerti benget aelah."


Suara pintu diketuk menginterupsi keduanya. Ketika seorang wanita cantik memasuki ruang kerja Athar, Romeo melirik nakal ke arah sahabatnya itu.


Namun Athar mengabaikan isyarat mata Romeo. "Ah silakan duduk, Mbak Nanda!" Athar berjalan menuju sofa. "Aku sudah menunggu dari tadi."


"Okey." Wanita cantik yang sempurna dengan keseksiannya itu pun menempati sofa dimana Athar telah mendahului. Sesekali ia melihat ke arah Romeo dan tersenyum sopan yang manis.


"Jadi gue harus pergi nih?" Romeo bertanya canggung kepada Athar. Wanita cantik itulah yang menyebabkan dirinya menjadi bodoh seketika.


"Sebaiknya sih iya. Nanti gue hubungi lo lagi."


...* * *...


Makasih sudah baca ๐Ÿ˜Š