
Terakhir kali Mira bertemu dengan Diva itu adalah saat reuni. Bahkan saat papa Mira meninggal pun Diva tidak datang untuk melayat seperti sebagian tetangga yang lain, yang berasal dari kampungnya. Dan itu bukan sebuah masalah bagi Mira yang kini telah retak hubungannya dengan teman masa kecilnya itu.
Maka ketika dilihatnya Diva datang bersama rombongan Tante Wirda barusan, Mira cukup takjub karena tak menyangka dengan kedatangan Diva.
Seperti yang Rido dan Ilyas bilang juga kalau Diva jalan berbarengan dengan Lukman. Pertanyaan Mira cuma satu ... kok bisa? Perasaan sejak kecil Diva tuh selalu anti berteman dengan tiga cecunguk komplotan Mira. Diva bilang kalau Rido, Ilyas dan Lukman itu terlalu dekil, makanya dia enggan berteman.
"Apa kabar, Mir?" tanya Diva dengan senyumnya yang terlihat biasa saja.
Mira pun bukan orang yang akan menampakkan rasa tak suka sekalipun itu masih ada di hatinya.
"Baik. Makasih ya udah datang," ucap Mira.
"Gue tuh penasaran," kata Diva. "Beneran lo nikah sama cowok yang jemput lo waktu reuni itu? seriusan?"
Mira hanya mengangguk tanpa rasa. Kenapa tanpa rasa? Karena Mira malas untuk meladeni kesinisan Diva, dan tentu itu akan merusak moodnya yang memang tidak terlalu bagus hari ini.
"Wah gila, hebat ya lo, Mir. Gue pikir pastinya kan Sheli duluan yang bakalan merid. Eh ternyata gak disangka malah lo duluan." Diva berkata dengan ramah namun tetap menyimpan racun dibalik kata-kata ramahnya itu.
"Jodoh kan gak ada yang tahu."
"Iya sih, bener banget. Tapi, hebat juga lo dalam mencari suami. Gila, ganteng banget tau. Yang itu kan?!" Mira mengikuti arah jari Diva yang menunjuk pada Athar yang tengah mengobrol dengan tamunya juga. Yaitu, sepasang suami istri yang pernah bekerja sama dengannya setahun yang lalu.
"Iya bener."
Diva memegang lengan Mira sok akrab. "Bagi tips dong, gimana caranya biar bisa dapet cowok ganteng banget kayak gitu. Bikin iri aja deh, Mir."
"Biasa aja sih,"
"Duh, merendah ... jangan gitu dong, bagi-bagi kalo punya kenalan cakep."
sabar ... sabar ....
"Di kampus lo gak ada yang cakep emangnya?"
Diva kicep. "Ya ada sih,"
"Nah itu, nyarinya di kampus. Seriusan. Laki gue itu senior gue waktu di kampus."
"Cara ngejebaknya?"
"Tikus kali dijebak," celetukan Mira membuat Diva tertawa.
"Jangan sensi deh, Mir. Lo kan lagi berbahagia. Jangan tersinggung, gue kan cuma bercanda."
candaan lo gak asik, sumpah.
"Mimir," Lukman datang menghampiri. "Kok gue gak lihat si Rido sama Ilyas?" tanyanya sambil menikmati es buah di tangannya.
"Lo tuh ya, baru datang malahan langsung nyari makanan minuman, padahal lo belum ngucapin selamat ke gue,"
"Oh emang ya? Gue udah salaman sama Bang Athar, trus nyokap lo, trus Ghani, trus Sheli."
"Gue yang punya acara, woi" Mira berdecak sebal.
Lukman terkekeh. "Iya iya, jangan sensi deh. Ya udah selamet deh,"
Temannya itu mengulurkan tangan dan Mira menyambutnya juga dengan terpaksa. "Ngasih ucapan kok dipaksa," gerutu Mira, tapi sepertinya Lukman mengabaikan seperti biasa.
"Dua cecunguk itu kemana?"
"Ngintipin rumah Donny, upsβ" Mira lupa, kalau si Diva sebenernya masih punya rasa sama si Donny kayaknya. Diliriknya Diva yang seperti tertarik akan kalimatnya barusan.
"Rumah Donny?" ulang Lukman memastikan.
"Iya. Rumah Donny kan di samping rumah gue. Kami jadi tetanggaan udah lama."
"Wah, serius lo tetanggaan sama mantan?"
"Gak usah kenceng-kenceng kali, Man."
"Lo jadi balikan dong sama Donny waktu itu?" Diva bertanya dengan pelan. Maksudnya sudah pasti merujuk pada permintaan maaf Donny sewaktu reuni waktu itu.
Mira menggeleng. "Ya nggaklah. Kan gue udah punya pacar. Lagian gue udah gak ada rasa. Lagian juga, Donny udah punya pacar loh sekarang."
"Ah gak penting," ujar Lukman. "Yang penting itu Rido sama Ilyas yang ngapain ngintipin rumah orang?"
"Ya tadi waktu gue bilang kalo rumah Donny itu di sebelah rumah gue, eh mereka malah tertarik banget mau lihat, mau ngintip katanya."
"Dih, norak bener dua manusia itu."
"Temen lo, Man."
"Temen lo juga, Mimir."
"Serius lo gak pernah balikan sama Donny?"
Meskipun Mira sudah berkata begitu, tapi dari raut wajah Diva tetap saja masih ada keraguan.
Saat itu datanglah Athar menghampiri mereka. "Selamat ya," Diva secepat itu mengubah ekspresi wajahnya menjadi penuh senyum sambil mengulurkan tangannya kepada Athar.
Dia mau nyobain telapak tangan Bang Athar gitu? woah, liat aja, ntar di rumah gue cuci tangan Bang Athar pake air tujuh rupa.
Gue mode kesel begini malah tambah kesel.
Athar menyambut tangan Diva singkat sambil berkata, "Makasih," dengan datarnya.
ga jadi cemburu kalo dia sedingin itu sama cewek lain. Hihihi ...
eh tapi, sama gue juga dia lagi jutek banget π
"Aku teman Mira sejak kecil loh," Diva dalam mode centil di mata Mira.
Athar hanya ber'oh ria' untuk menanggapi. Tangannya diletakkan di belakang pinggang Mira.
Dalam hati Mira bersyukur juga kalau Athar sehebat itu dalam menilai perempuan. Kalau Diva secantik itu fisiknya, maka hatinya sekeruh itu juga tanpa ada orang yang tahu. Dan Athar tidak tergoda ataukah menahan godaan?
wah, mendadak gue insecure.
Saat Mira sibuk dengan pikirannya, ia tak mendengar rupanya kalau ternyata Diva tengah berusaha mengajak ngobrol Athar dengan akrab di depannya.
wah, ini gak bagus. Setelah Tania tak ada kabar dalam rumah tangga gue, masa sekarang ada jamur bernama Diva pula?
"Kamu kenapa?" pertanyaan Athar membuat Mira tersentak. "Pucat sih," Athar memeriksa kening Mira tapi terasa normal-normal saja.
"Nggak papa."
...ππ...
"Neng Mira, ada paket." Bi Nani datang menghampiri Mira yang baru saja memasuki area dapur.
"Paket?"
"Iya, sudah Bibi taruh di kamarnya ya."
"Oh oke, Bi. Makasih."
Mira yang memang hendak ke kamar untuk berganti pakaian βkarena dressnya terkena tumpahan sirup tadiβ maka ia segera menuju lantai dua. Di tangga ia berpapasan dengan Shelia yang berjalan berlawanan arah, yakni menuruni tangga.
"Mentang-mentang punya laki tajir, belanja online segede gaban. Lo pesen gajah?"
Mira gak ngerti maksud kakaknya itu. "Gue nggak pesen apa-apa tuh." Kemudian dia teringat pasal paket yang baru saja dikatakan oleh Bi Nani. "Ah ya kata si bibi ada paket buat gue. Tapi, sumpah gue gak belanja apa-apa loh."
"Kenapa nggak? Belanja dong! punya suami banyak duit ya digunain! Mau buat apa dia kerja keras kalo bukan buat bahagiain istrinya?"
"Oh gitu ya? "
"Ya iya,"
"Ya udah deh, kapan-kapan gue belanja."
"Lah kenapa kapan-kapan?"
"Masa sekarang sih, Shel? kan gue lagi banyak tamu," balas Mira.
"Oh iya ya."
"Udah turun sana, ada Kak Bryan tuh datang."
"Hah?"
Mira meninggalkan Shelia yang terbengong sesaat lalu berjalan menuruni tangga kembali gak pakai lama.
Di kamarnya, Mira tidak segera mengganti pakaiannya. Dia jauh lebih tertarik pada paket sebesar gaban yang kini ada di dekat mejanya. Persis seperti yang Shelia bilang barusan.
Karena Mira tak pernah merasa belanja online, maka ia pun sangat penasaran kira-kira siapakah yang mengiriminya. Namun tak ada nama si pengirim di kertas yang tertera di atas box. Hanya ada nama dirinya sebagai si penerima.
"Gue menang undian kali ya," gumamnya sambil melepaskan bungkusan. "Kan siapa tau aja gue beneran beruntung. Rezeki gak bakalan kemana kali. Hehe,"
Dengan perasaan riang, Mira telah berhasil melepaskan bungkusannya. Kini ia tinggal membuka box di dalamnya.
Namun,
Alangkah terkejutnya Mira saat mengeluarkan isi yang terdapat di dalamnya.
...πππ...
Makasih udah baca. Alangkah baiknya disertai juga dengan like, komen, dan hadiah. πππ