AL-THAR

AL-THAR
#76. Masalah Panggilan



Halo semua! Maaf ya kalo updatenya lama. Sekarang otw idul fitri, sudah pasti fokus gak banyak ke novel ya, buat kalian yang mengerti aja.


Alasan lain aku updatenya lama juga karena gak semangat di NT ini. Toh, kalaupun aku up rajin kayak Almira waktu itu, aku gak dapet apa-apa juga 😭😂 Makanya, sekarang aku gak terlalu rajin tp yg penting aku bakalan selesain novel ini di sini. Entah itu cepet, atau lambat. Siap-siap aja baca tulisan end 😜


Aku nulis karena aku suka. Tapi aku juga perlu apresiasi dan motivasi untuk berkembang lebih baik lagi.


Maka buat kalian yang mau bersabar, ya bersabarlah seperti aku yang bersabar karena menulis tanpa mendapatkan apa-apa selain kesenangan semata. wkwk


...--------------------------------------------------------...


"Wah, Bang Irwan?" Mira tak menyangka siapa yang ditemuinya sekarang.


"Apa kabar, Mir?" Irwan bertanya sambil tersenyum. Ia menempati kursi di depan Mira, sehingga mereka sudah berhadapan sekarang.


"Baik, Bang, baik. Abang sendiri apa kabar?"


"Ya seperti yang Mira lihat."


Mira manggut-manggut. "Kayaknya sudah lebih tua dan lebih sejahtera nih."


Irwan tertawa renyah atas penilaian Mira yang melihatnya berdasarkan fisik semata. "Bisa aja sih!"


Memang sih, dulu sekali saat zaman ia masih kecil, Mira tak terlalu akrab dengan Irwan yang memang memiliki pergaulan sendiri. Alias merasa lebih tua lima tahun maka ia hanya bermain dengan anak seumuran saja.


Namun, sejak Mira dan Diva bersekolah menengah di dekolah yang letaknya agak jauh dari rumah, lalu setiap pergi sekolah seringkali diantar oleh kakak Diva itu, maka dengan sendirinya Mira pun menjadi akrab dengan Irwan. Walaupun tak seperti bergaul dengan teman sebayanya.


"Serius. Aku tuh pangling lihat Abang sekarang. Kayaknya udah lama banget ya kita gak ketemu?"


"Yah, cukup lama."


"Tuh kan!"


"Pangling gimana sih, Mir?"


"Ya jelas pangling. Abang dulunya nggak setua ini," guraunya.


"Kok sialan ya ..."


Mira terkekeh, lalu menggeleng. "Nggak gitu maksudku. Begini loh, jadi Bang Irwan tuh sekarang kelihatan lebih dewasa, calon suamiable banget, dan ... penuh tanggung jawab pastinya," tutur Mira sok serius.


"Sok tau!"


"Dih, gak percaya. Ngaca sana!"


Lagi-lagi Irwan tertawa karena perkataan Mira. "Yang manglingi itu Mira. Kamu,"


"Masa aku?"


"Ya iya. Udah gak dekil lagi. Gak tomboi lagi. Gak urakan lagi. Cakep sekarang. Kelihatan ceweknya. Apa karena udah nikah ya?"


"Uwaaah ... Abang bikin aku GR, melayang, dan bahagia," sahutnya dengan riang. "Ya mungkin itu naluri setelah menikah kali ya."


"Sabiiii!"


Mira tertular tertawa riang lelaki itu. Memang, baik Diva maupun sang kakak, keduanya memiliki sifat ramah dan menyenangkan. Hanya saja, seringkali Diva menyalahgunakan kemanisannya untuk berlaku sok putri, dan menjadikan Mira seperti dayang-dayang.


"Oh ya, Bang, gimana Diva?" Mira baru ingat perihal telepon Irwan kemarin. "Sudah pulang, belum?"


Irwan menggeleng. "Belum. Tapi dia ada ngabarin semalam. Dan yah ... dia di rumah sepupu kami yang ada di Bandung."


"Ya bagus dong. Malah lebih baik kabur ke rumah saudara, dari pada di tempat asing."


"Betul," dia setuju. "Tapi sayangnya Diva belum niat pulang dalam waktu dekat."


"Kenapa katanya?"


"Males. Dia bilang males," Irwan mengendikkan bahunya.


Bersamaan dengan itu, pelayan membawakan Mira minumannya. "Silakan, Bu."


"Iya, makasih. Bang Irwan mau minum kopi? Bilang aja, nanti dibikinin," Mira menawari.


"Boleh. Cold Brew satu ya." Irwan berkata kepada si pelayan.


"Baik, Pak."


Sepeninggal si pelayan, Irwan bertanya kepada Mira; "Kok bisa diantar sih minuman kamu, Mir? Dan lagi ... 'Bu'?"


"Ini cafe punya suami Mira, Bang." Mira cengengesan. Di bukan tidak ingin menutupi, tapi Mira tidak siap dengan alasan lainnya.


Irwan membulatkan mulutnya seraya menggut-manggut paham. "Wah, keren juga suaminya Mira. Abang belum kenalan nih padahal. Jadi penasaran."


"Kapan-kapan deh ya, pasti aku kenalin."


...☁☁☁☁...


"Ngapain kamu di situ?" Athar berdiri di hadapan Mira yang berada di depan mesin kopi.


"Berenang. Ya, bikinin pesanan-lah. Masa lagi zumba–" Mira baru mengingat satu hal lain yang telah dilupakannya. "Ya ampun, aku belum sempet latihan zumba lagi, tapi udah keburu hamil," gerutunya hampir berbisik.


"Lupain zumba," balas Athar dengan tegas, tetapi nadanya tidak keras. "Dan ngapain kamu repot di situ? Keluar, ayo temenin aku makan!"


"Kok masih sore Abang udah pulang?"


Athar menarik tangan Mira dan membimbingnya agar mengikuti arah yang ia inginkan, yakni menuju meja di mana tadi siang Mira sempat tempati.


"Ya memang mestinya aku pulang jam segini, 'kan?"


"Iya tapi–"


"Udah, jangan banyak protes. Duduk aja yang manis," katanya setelah mereka menempati meja itu.


"Siapa laki-laki yang tadi ngobrol sama kamu di sini lebih dari satu jam?" Pertanyaan Athar yang to the point, bahkan setelah ia bernada lembut kini mencecar Mira dengan tidak sabaran.


Mira melongo. Dia memikirkan bagaimana bisa Athar mengetahui– ah lupa, kalau sekarang dirinya punya bodyguard yang bersembunyi di manapun Mira berada.


"Itu Abangnya Diva, Bang Irwan namanya. Dia sudah kayak Abang aku juga–"


"Abang?"


Mira mengangguk.


"Yakin manggilnya 'Abang'?"


Dia mengangguk lagi. "Kenapa emangnya?" sangat membingungkan.


"Aku nggak suka mendengar kamu memanggil orang lain sama seperti saat memanggilku, Al."


"Aku biasa aja,"


"AKU YANG NGGAK BIASA!"


Mira menoleh kanan-kiri, untungnya tak ada yang memperhatikan mereka. "Abang ih, jangan keras-keras! Malu," bisiknya.


"Ya lagian kamu,"


"Oke," sahut Athar pelan tapi tegas. "Kalau begitu, kita rubah aja panggilan kita."


"Ha? Gimana maksudnya? Abang mau aku panggil apa? Kakak gitu?"


Athar menggeleng. "Kita kan calon orang tua, gimana kalau kita mulai membiasakan–"


"Nggak mau," pungkas Mira.


"Kenapa?" nada suara Athar naik satu oktaf. Kernyitan di dahinya sudah pasti menandakan dia tersinggung walau dia belum dengar apa penjelasan istrinya itu.


"Ya nggak mau. Terlalu ketuaan kalau sudah mamah papahan sejak sekarang. Ya ampun, aku aja masih kuliah."


"Justru karena kamu sudah kuliah, dan aku sudah bekerja, maka kita sudah lebih dari pantas memakai panggilan seperti itu, Al."


Mira tetap menggeleng. "Nggak mau ah! Kayak anak SD."


"Hah?"


"Aku lihat di medsos kalau anak SD zaman sekarang sudah pacaran dan panggilannya 'mamah papah'."


"Trus apa hubungannya sama kita? Toh kamu sedang hamil. Kita bakal jadi orang tua, kita pantas begitu, Al,"


"Ntar dulu aja deh ya, Bang. Nanti kalau aku udah siap," bujuknya dengan senyuman.


Athar diam sejenak. Mesti ada yang sedang di pikirkannya. "Ya udah, kalau gitu panggil 'sayang' aja."


Refleks Mira menabok lengan berotot Athar. "Apaan ih, aku gak fasih buat ayang-ayangan, Bang." dia tertawa garing karena membayangkannya. Beberapa kali dia menyebut sayang, tapi bukan untuk sebuah kebiasaan. Karena Mira malu.


"Trus kamu panggil aku apa?"


"Ya Abang!"


"Aku gak mau!"


"Trus? Athar aja gitu?"


"Heh, sama suami," peringatan Athar membuat Mira menyengir.


"Ya lagian Abang, ribet banget. Cuma masalah panggilan aja bisa jadi satu episode ini sih."


"Ya kamunya, susah banget diajak romantisnya."


Memang, Mira bukan tipe cewek romantis. Tumbuh sebagai gadis tomboi yang tertindas, Mira bahkan tidak mengenal apa itu romantis. Jangan 'kan romantis, pacar pun gak punya 'kan selama ini?


"Gimana kalo 'Mas' aja?" idenya.


Jeda dua detik sebelum Athar menyahut datar, "Aku serasa dipanggil sama bi Lilis."


Mira mencebik. "Bisa gitu ya. Gimana kalo 'Aa'? Kayak si Ghani 'kan maunya dipanggil 'Aa' sama yang lebih tua."


Athar menghela nafas. "Terserah kamu deh, Al. Nanti bila tiba waktunya aku panggil kamu sebelum membiasakan dengan keberadaan anak, maka mau gak mau kamu harus siap."


Mira mengangguk saja. Dia meminum air mineral yang Athar sodorkan kepadanya.


"Hm ... gimana kalo aku panggil Abang dengan 'Juragan'?"


...🌹🌹🌹...


Mira mengetuk pintu sebelum memasukinya. Di sana hanya ada Sabrina dan Dirga, tanpa ada keluarga yang lain, yang mestinya ada di sana juga.


"Kamu sendirian, Mir?" tanya Sabrina.


"Lah ini di belakangku emangnya apa ... an?" tak ada Athar di belakangnya. Padahal sejak tiba di rumah sakit, Athar selalu bersamanya. Hanya ketika memasuki ruang inap Sabrina, maka Athar berjalan di belakang Mira. "Loh, kemana dia?" tanyanya pada diri sendiri. Lalu Mira menoleh pada Sabrina, "Bang Athar kemana ya?"


"Kan aku lagi nanya sama kamu, Mir."


"Oh iya,"


"Mungkin dia di depan," sela Dirga yang tengah mengusap-usap kepala Sabrina.


Mira pun mengangguk. Dia segera mendekati kedua kakak iparnya itu. "Kak Sab melahirkan secara normal, itu sakit gak sih?" tanyanya penuh rasa penasaran.


"Pake banget," bisik Sabrina yang jelas-jelas ingin menggoda Mira. "Sakitnya wow ... luar biasa. Nih, Mas Dirga aja sampai gak sanggup lihat aku kesakitan."


Mira berusaha untuk tersenyum. Padahal dalam hatinya ia sudah mulai terpengaruh akan rasa was-was. Bagaimana bila nanti tiba gilirannya melahirkan? Bakalan sesakit apa kira-kira?


"Tapi ..." lanjut Sabrina. "Semua rasa sakit itu terbayar saat melihat si kecil yang baru saja kamu lahirkan, Mir. Semua rasa sakit bukanlah apa-apa dibandinkan dengan rasa bahagia karena melihat bayi mungil itu."


"Oh gitu ... Trus sekarang bayinya mana?"


"Masih di ruang bayi. Barusan aku habis menyusui."


"Kok bayinya di pisah? Kenapa nggak di sini juga sama ibunya?"


"Ntar, suster mau mandiin dia dulu. Habis mandi baru deh bayiku dibawa kesini."


Mira manggut-manggut.


"Kamu mau makan, Mi?" suara Dirga menawari Sabrina.


"Itu aja, apel. Aku mau apel deh, Pi."


Dirga mengambilkan sebuah apel dan mengupaskannya untuk sang istri.


"Mi? Pi?" Mira membeo yang membuat kedua kakak iparnya itu menoleh kepadanya.


"Kenapa, Mir?" tanya Sabrina dengan senyum jenakanya. "Kamu sudah memikirkan mau dipanggil apa sama anak kamu nanti?"


Mira menggaruk keningnya yang tak gatal. "Belum sih, Kak."


"Ya udah, dari sekarang putuskan kamu maunya dipanggil apa sama anak kamu nanti."


Entah kenapa dengan memikirkan hal itu membuat wajah Mira terasa panas. Sumpah, rasanya dia terlalu muda untuk menjadi seorang ibu, maupun dipanggil 'ibu'.


"Dari mana lo?" Mira melihat Dirga yang ternyata bertanya kepada Athar, yang baru saja memasuki kamar inap Sabrina.


"Nengokin keponakan gue-lah." Athar telah merangkul pinggang Mira dan berdiri berdampingan.


"Gimana? Mirip gue banget, 'kan?!"


"Ya mirip maminya lah. Cantik kayak maminya."


"Sialan, anak gue laki, woi!"


...****...


Ini update terakhir sebelum Idul Fitri ya. Besok aku mau mudik ke Jakarta. 😆


---------


Selamat Idul Fitri buat yang merayakan! 😊😘


.........