AL-THAR

AL-THAR
#23. Pram



"Kenapa lo ada di sini?" Mira bertanya tak terima saat melihat Pram yang sudah duduk manis di kursi. Dia cukup tercengang bahkan cenderung melongo mengingat bayangan Pram yang sudah terbang ke Osaka memenuhi benaknya. Tapi, kenapa sahabatnya itu malah ada di sini?


Setengah jam lagi kuliah segera dimulai, dan Mira sudah berkumpul dengan Pram dan Puput seperti biasanya.


"Ya kuliahlah," sahut Pram enteng.


"Trus WA lo semalam apaan? halu? hilaf? mabok?"


"Santuy dong! Pesawat gue terbang masih ntar siang, Mir. Jadi gue masih bisa kuliah dulu sebentar."


"Semalam lo bilang pagi?"


"Gue kirain pagi, gak taunya yang pesen tiket itu dapetnya penerbangan siang."


"Siapa yang pesan tiket emangnya?"


"Raihan."


"Raihan siapa?"


"Pacarnya Pram," sela Puput. "Kalian lagi ngomongin apa sih? tiket apa? Lo mau pergi kemana, Pram? Gue ikut dong! ya? ya? ya? boleh ya?"


Pram menghela nafas pelan, sedangkan mata Mira melebar. "Lo punya pacar? Raihan siapa? Kok gue gak tahu? Kok lo gak cerita?" tanyanya kepada Pram.


"Jawab pertanyaan gue dulu dong," protes Puput.


"Pram mau ke Jepang." Mira yang mewakilkan cepat. Karena dia lebih terdesak penjelasan. "Jawab pertanyaan gue, Pram!"


"Raihan seangkatan Ghani. Tapi aslinya dia adalah cuma beda setahun dari kita. Dan dia adalah adik kelas kita dulu yang kuliahnya sekarang sekampus sama Donny."


Mira mencerna apa yang barusan dikatakan oleh Pram. "Adik kelas kita?"


Pram mengangguk.


"Seangkatan Ghani?"


"Kuliahnya telat setahun, jadi sekarang dia baru masuk seangkatan Ghani. Tapi aslinya dia adik kelas kita dulu yang cuma beda setahun sama kita, dan kakak kelas buat Ghani."


"Kok bisa? Kapan lo kenalnya? Di mana? pedekatenya kapan? Kenapa tiba-tiba udah jadi pacar aja?"


"Dia mengajar di tempat les bahasa Inggris adik gue. Jadi ya ... udah kebayang dong gimana ceritanya." Pram menjelaskan. Sebelum Mira membuka suara protesnya lagi, Pram sudah melanjutkan kalimatnya. "Gue gak kasih tau kalian karena gue ... ya belum ngasih tau aja."


Pram mengangguk saja. Dia memang berniat untuk mengenalkan Raihan kepada teman-temannya segera.


"Udah selesai kan cerita asal-usul si Raihan itu?" Puput yang masih penasaran pun menyela. "Sekarang kasih tau gue, kenapa lo mau ke Jepang, Pram?"


"Nengokin Ryo."


Mira menarik nafas dengan keras. "NAH! Itu cepetan cerita, Pram, kenapa Ryo? Kenapa bisa kritis? Dia sakit apa?" ia mengungkapkan rasa penasaran yang tertahan di hatinya dengan tak sabar. Kebetulan karena masalah Sheli belakangan ini, hingga membuatnya lupa akan cerita tentang Ryo yang hendak dicari tahu oleh Pram bagaimana detailnya.


Pram yang delapan puluh persen selalu berekspresi datar itupun menjawab, "Ryo sakit."


"Itu mah gue tahu!"


"Sakit hati."


"Karena gue?" Mira murung menyalahkan diri. "karena gue merried kan?! Pasti begitu,"


"Hati itu adalah liver. Jadi, Ryo sakit hati dalam artian yang sebenarnya," jelas Pram. "Sedikit banyak lo juga andil sih bikin hati dia tambah parah."


"Jadi ..."


"Iya, dia beneran sakit ternyata. Magh akut awalnya, trus sekarang terkena liver ..."


"...." Mira tak mampu berkata-kata. Dari sekian banyaknya kebahagiaan yang didapatnya bersama Athar, entah kenapa sekarang malah ada banyak juga kepedihan-kepedihan yang datang dalam hidupnya. Masalah Shelia saja masih sebesar gunung mesti dihadapi dia dan keluarga. Kini, mau tak mau keadaan Ryo sedikit banyak menyita sebagian ruang otaknya juga. Apa mau dikata kalau Athar tak akan pernah mengizinkannya untuk menjenguk sahabatnya itu. Terlebih, setelah statusnya adalah istri sah yang membuatnya wajib untuk menurut apa kata suami.


"Kasihan banget sih Ryo ..." gumamnya lirih. Bagaimana caranya ia bisa menjenguk Ryo berikut dengan restu dari Athar? rasa-rasanya itu terlalu mustahil.


"Masih muda gitu ya," Puput menanggapi. "Masa penyakitnya udah berat aja. Emang pola hidup dia kayak gimana sih? Pola makannya gimana juga? Ini sih stres di pikiran salah satu faktor juga," Puput dan ke sok tahuannya. "Mikirin lo, Mimir. Ya gak, Pram?"


Pram mengangguk santai. "Tapi bohong,"


suara Pram membuat Mira mengangkat pandangannya. "Hah?" dia mengerjap seraya memperhatikan wajah Pram yang lempeng-lempeng saja.


***


Maaf aku sibuk 😁


*