
Happy reading!
Mira tak pernah menyangka bahwa sebuah impian yang bahkan baru saja ia idam-idamkan akan langsung terwujud secepat ini. Sejujurnya, belum ada bayangan atau impian apapun dalam benak Mira mengenai pesta pernikahannya di suatu hari nanti. Terhitung jomblo menahunnya yang seakan tak berujung, maka angan-angan tentang pernikahan adalah hal yang paling jauh yang akan ia bayangkan nanti. Nanti loh ya, tidak pernah terlintas sekalipun selama ini.
Nah, ketika takdir berubah menjadi indah dalam waktu secepat itu, dalam kenyataan yang tak pernah Mira sangka-sangka sebelumnya, ia mendadak seperti mendapat durian runtuh. Bagaimana tidak, paketan paripurna Athar dalam hidupnya adalah tak terbantahkan.
Sebuah pernikahan seperti apa yang Athar tanyakan belum lama ini membuat Mira tak pernah berniat untuk benar-benar berfikir akan berlangsung seperti apa. Karena memangnya mesti seperti apa? Resepsi pernikahan itu ya di rumah atau di gedung. Begitu kan yang biasanya terjadi dan ia saksikan di depan mata.
Lalu saat akhirnya ia menonton sebuah film yang memperlihatkan sebuah pernikahan di pinggir pantai, Mira merasakan tiba-tiba sebuah bayangan menyenangkan andai itu dialaminya.
Sang suami, alias Athar, yang hanya mendengar sekilas gumaman Mira saat itu, langsung menanggapi untuk mewujudkan apa yang sedang dibayang indah oleh Mira.
Maka dalam waktu singkat, hal yang tadinya selintas saja mata memandang dan kekaguman melewati benaknya, kini Mira tengah mendapati bahwa resepsi pernikahannya dilangsungkan di pinggir pantai, di Bali. Persis seperti ucapan asalnya, dan Athar langsung mewujudkannya.
"Mehong ye, acara lo mesti di Bali segala," Abay berceloteh sambil menikmati jamuan. "Kalau gak diterbangin sama laki lo, gue gak sanggup Mir, buat kondangan."
"Ya kan lo tahu ceritanya kalau gue gak mau yang kayak gini, sampai di Bali segala. Tapi Bang Atharnya yang mau," Mira membela diri. "Udahan temen-temen kampung gue pada gak bisa datang jadinya," keluhnya.
"Lah trus?" tanya Pram.
"Ya minggu depannya pada mau datang ke rumah. Gue siapin open house deh kayak lebaran."
Abay tergelak. "Lagian, laki lo tuh ya, udah tau temen-temen istrinya itu warga kampung, kaum menengah ke bawah. Ini malah bikin resepsi di Bali. Kan jadi gak banyak yang bisa datang trus kondangan. Otomatis pendapatan amplop lo berkurang, Mimir."
"Nggak ada ceritanya ngaruh sama amplop kali," sela Pram. "Bang Athar kayaknya gak mikirin hal itu ya, Mir?"
Mira mengangguk. "Iya. Dia kan udah dapat pendapatan dari tamu-tamunya dia yang kelas atas. Otomatis tamu-tamu receh gue hukumnya sunah."
"Duileee, gue jadi tamu receh dong!" seru Abay setengah menggerutu. "Ampun deh ya, kalau punya pasangan orang tajir mah gini. Padahal dulunya Bang Athar low profile banget loh. Bahkan nyaris gak nampak dia tuh orang kayak gimana. Yang ada dia itu serba misterius, dingin, nyeremin, gak berperasaan, dan sombong. Tapi ternyata eh ternyata, dia kaum sultan, Cuy!"
"Nggak segitunya kali, Bay." Mira tak terima. "Dia nggak se-wah itu. Dia cuma berusaha maksimal terhadap hal yang penting-penting aja di dalam hidupnya. Yaitu gue sebagai contoh nyatanya."
"Lo dapet durian runtuh tau, Mimir." Abay berdecak. "Beruntung banget tau gak sih lo."
"Biarin napa, Bay." kali ini Puput yang menyela. "Biarin aja si Mimir dapet pengeran setelah dia jadi upik abu selama hampir seumur hidupnya." Mira manggut-manggut setuju. "Kan Cinderella juga dapat cerita manis dalam hidupnya."
"Tapi gue bukan Cinderella, Put," pungkas Mira. "Gue tuh bawang putih."
"Bawang Putih itu versi lokal. Kalau versi bulenya ya Cinderella."
"Oh iya aja deh."
"Trus ini si Soli sama Rizka belum sampai-sampai juga," kata Pram kepada Mira. "Acara lo kan udah mau mulai."
"Santuy kali, Pram. Dua jam waktu resmi plus tambahan dua jam di malam hari menurut gue udah lebih dari cukup. Nanti malam kita ngerumpi yuk!" Mira mulai cekikikan karena sudah membayangkan bagaimana dia akan berkumpul dengan genk di masa SMAnya dulu, dan mengukir kenangan lagi setelah lama berpisah. Eh, setelah acara reuni beberapa waktu lalu deh.
"Woi, pengantin lama!" Abay berseru. "Honeymoon kali, bukan ghibah! Jauh-jauh resepsi ke Bali kok cuma buat ghibah? Dasar ciwi-ciwi ya."
"Kalo lo gak mau gabung ya udah, gak usah julid!"
"Silakan, mangga ... kalau mau ghibah! gue mah maunya cari bule. Kali aja ada yang kecantol." Abay langsung bangkit setelah berkata begitu. Dia menghampiri Romeo dan cowok-cowok sekampus yang sudah mampu terbang buat kondangan.
"Trus Diva lo undang gak?" tanya Pram penasaran.
"Dih, ngapain? Bikin eneg aja."
"Bagus kali," sambar Puput. "Kalau menurut gue sih Mira tepat banget udah undang si Dipa itu. Biar dia lihat kan gimana suksesnya si bayangannya yang dulu terlihat dekil, eh sekarang malahan dapat pengeran. Biar si Dipa melotot. Kalah. Gue walaupun belum pernah ketemu orangnya langsung, udah benci duluan aja baru nyebut namanya doang padahal."
"Iya juga sih," Pram setuju sama Puput. "Tapi itu juga kalau dia mau repot-repot terbang ke sini ya kan?!"
Mira mengangguk. "Ya terserah sih. Yang penting gue udah ngundang. Masalah dia mau datang atau nggak ya terserah."
"Atau mungkin nanti dia bareng temen-temen layangan lo, Mimir?" tebak Puput.
Mira mengendikkan bahu. "Entahlah."
...* * *...
Acara sudah berlangsung selama sejam. Mira menikmati mengobrol dengan tamu-tamunya dan tak jarang Athar mengajaknya untuk berkenalan dengan tamunya, teman maupun relasinya. Ketika akhirnya seorang wanita datang untuk menyalaminya, Mira melotot saat melirik pada gaun yang digunakan si Mbak Seksi, Nanda.
pengen gue lakban mata Bang Athar biar gak lihat ke arah paha tuh cewek.
"Abang ngobrolnya gak usah lama-lama," bisik Mira saat Nanda berpaling sejenak ke orang lain. "Kalau gak, mulai besok aku bakalan pakai baju seksi kayak gitu setiap hari ke kampus."
Kontan saja Athar langsung menarik tangannya dan menjauhi Nanda. Oke, hati Mira lega. Yang namanya kucing, walaupun sholeh, tapi kalau dikasih ikan asin ya nengok. Gitu istilahnya.
"Awas aja kamu berani," desis Athar setelah mereka hanya berdua.
Mira memicing. "Ya lagian Abang ... doyan ...."
"Sshh, ya nggaklah. Bukan gitu, Al. Aku tuh cuma bersikap sopan aja sama dia yang datang sebagai tamuku."
"Eleh,"
"Apa sih kamu? Nggak percaya?"
Mira mengendikkan bahunya. Dia terdiam tak acuh saat Athar menatapnya. "Kamu tuh udah cantik banget tau gak?" bisik Athar di dekat telinganya.
Mira melihat gaun pengantin yang sedang digunakannya saat ini.
"Walaupun sebenernya aku pengen selimutin bahu kamu, tapi, okelah sekali ini aja."
Mira udah kebal. Makanya saat Athar memujinya, ia masih berwajah datar-datar saja.
"Udahan ngambeknya," Athar membujuknya. "Kalau gak kita langsung ke kamar ajalah. Gak usah ada di sini."
Mira tahu tiada gunanya ia marah perihal tamu suaminya yang seksi itu. Mau gimana lagi, ia cuma bisa menahan panas dalam hati saja.
"Mir."
suara seseorang menyebut namanya, membuat dirinya dan Athar segera menoleh.
* * *