AL-THAR

AL-THAR
#10. Jujur gak ya?



Sebelumnya, aku lupa pengumuman kalo cerita ini bukan teen lagi kayak Almira ya. Ini genrenya adult-romance-comedy. So, plis ... maaf buat bocil minggir yah. Eh, kalo udah terlanjur, aku tetep bikin kayak Almira aja deh, aku sensor kalo arahnya menuju 21+ kayak yg kmrn. πŸ˜‚ aakkkkhhh tauk ah!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ada yang aneh sama Sheli," kata Ghani setelah mereka berdua masuk ke dalam kamarnya.


"Aneh gimana?" Mira mengambil bantal untuk dipeluknya sambil duduk bersila di atas ranjang adiknya.


"Pagi-pagi dia menjerit. Emangnya gak kedengeran sampai kamar lo?"


Mira menggeleng. "Nggak."


"Ah, males ah bahasnya. Lo kan sibuk sama Athar sekarang."


"Ya tadi pagi kan gue sibuk beresin baju-baju gue, kali. Serius Sheli jejeritan? Kok bisa? Trus sekarang dia kemana?"


Ghani jengah. "Kan yang ada di rumah duluan, lo bukannya? Gue baru nyampe kali."


"Ya iya. Tapi Sheli gak ada sejak gue pulang. Nah, lo sendiri dari mana? Gue chat malah gak dibalas-balas."


"Lupa."


"Dih."


Bikin hawatir aja.


"Gue lagi nongkrong di D'Caffez, trus gue lihat Sheli duduk di halte sepanjang gue nongkrong itu."


"Kenapa lo gak samperin?"


"Dia lagi nelpon seseorang selama itu. Dan iya gue gak nyamperin dia payahnya."


Mira menarik nafas. "Ya udah. Nanti bakalan gue tanyain deh ke dia," ucapnya sambil rebahan.


"Ya udah. Sana keluar!"


"Dih, gue diusir."


"Udah sana keluar, Mir. Gue mau mandi."


"Iya-iya, santuy kali." Mira bangkit perlahan dan berjalan menuju pintu untuk meninggalkan kamar adiknya itu. "Oh iya," dia menoleh lagi. "Tadi lo dicariin Kiara. Ternyata putri coklat yang selalu memasok coklat buat lo."


"Gue gak kenal."


"Ya kenalan sana. Bilang makasih. Coklatnya enak."


"Gak usah ngajarin gue! Udah sana keluar!" Ghani lalu mendorong Mira untuk segera keluar dari kamarnya.


"Tadi lo yang narik gue kesini, sekarang lo usir gue–"


Ghani tak mendengar apapun yang Mira ucapkan. Dia segera menutup pintu kamarnya, dan menguncinya.


Setelah itu Mira berjalan kembali menuju lantai bawah, dimana sang Mama ada sedang mengobrol dengan karyawannya sebelum para karyawannya itu pulang karena hari sudah hampir maghrib. Iseng, Mira melongok ke dalam kamar Sheli, kakaknya, selama beberapa saat. Tapi ia tak menemukan hal yang seharusnya dikatakan aneh seperti yang Ghani ucapkan.


"Loh udah pada pulang?" Mira bertanya kepada Mamanya yang sedang mengelap peralatan tempurnya. Padahal seingat Mira, peralatan-peralatan itu sudah dibersihkan tadi, oleh karyawan-karyawan mama.


"Iya, lah. Maghrib. Eh, Athar kapan jemput kamu? Nanti ajak makan malam dulu di sini ya."


"Tadi sih bilangnya otw sepuluh menit yang lalu. Ya nggak tahu, dia mau makan atau nggak."


"Pokoknya kalian harus makan. Ini Mama sudah masak banyak loh. Malahan Sheli gak pulang katanya."


"Kemana Sheli?"


"Di rumah temannya."


"Sheli yang bilang gitu ke Mama?"


"Ya iya. Siapa lagi?"


Kayaknya Ghani lebay deh. Gak ada yang aneh tuh dari Sheli. Ntar gue telepon dia deh.


.


.


Setelah menyempatkan makan malam di rumah Mamanya, Mira yang sudah dijemput Athar kini akan mengalami untuk yang pertama kalinya tinggal di rumah Athar sebagai istrinya. Ia menyempatkan mengobrol sebentar tadi dengan Bi Lilis dan Pak Teguh, sebelum Athar mengajaknya menuju lantai dua dimana kamar mereka berada.


Mira membuka pintu kamar dan melongok ke dalamnya.



"Kamu suka nggak?" bisik Athar di belakang telinganya. Saat ini, suaminya itu memeluk Mira dari belakang.


"Apanya?"


"Ya kamarnyalah."


"Suka aja."


Athar berdecak. "Tuh kan, sebenernya aku juga kurang suka sama warnanya. Terlalu tua untuk umuran kita. Tapi Pak Teguh sudah mengaturnya seperti ini. Tenang aja, besok aku minta ganti."


"Ih ngapain diganti segala? Nggak usahlah. Ini udah bagus kok. Lagian ... kita? Abang kali? aku kan lebih muda loh dari Abang," candanya.


"Cuma beda 2 tahun, Al,"


"Tetep aja."


Mira menatap balik Athar yang tengah menatapnya dengan gemas. Tiba-tiba dia menjerit saat Athar menggigit pipinya singkat lalu kabur ke dalam kamar.


"Abang!" serunya dengan horror. Dia mengikuti langkah Athar yang masuk ke dalam kamar. Seketika dia menghentikan langkahnya karena takjub melihat sekeliling kamar itu. "Woah, kenapa kelihatan bagus banget sih, Bang? Luas banget pula."


Mira menoleh. "Hah? kemana?"


"Mandi." Athar mengedipkan sebelah matanya menggoda.


Hal itu membuat Mira mundur selangkah dengan wajah merona yang tak mampu ditutupinya. "Abang iih ... gak boleh mesumin anak orang, tau," katanya sambil melangkah menuju sofa yang ada di sana. "Sabar kenapa sih ..." suaranya memelan.


Terdengar Athar membuang nafas kasar. "Aku sabar banget kok, Al."


Mira tersenyum lebar memperhatikan Athar yang terlihat sedang membuka bajunya. Begitu kaus yang dikenakan Athar telah terbuka, Mira melengos. Dia merasakan kalau wajahnya memanas.


"Lihat aja kali ... halal."


Mira pura-pura tak mendengar ucapan menggoda Athar. Bahkan ia masih tak menoleh hingga Athar benar-benar sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Mira berkeliling kamar untuk melihat detail tempat yang akan menjadi miliknya juga mulai malam ini. Menyadari kalau takdirnya kini telah berubah, membuat Mira secepat mungkin beradaptasi agar kehidupannya terasa nyaman. Intinya, dia hanya perlu menurut apa kata Athar, suaminya, supaya hidupnya tentram dan bahagia. Tapi, terkadang Mira gak bisa berbohong mengenai keinginannya yang bebas, seperti sebelumnya.


hufft.


Oke, Mira bakalan berusaha untuk terbiasa menjalani statusnya sebagai seorang istri. Kurang nikmat gimana lagi coba, Mira yang gak bisa masak itu mesti menjadi seorang istri yang untungnya sang suami memiliki asisten rumah tangga sekaligus koki. Kan Mira gak bakalan kelaperan jadinya.


Entah sudah berapa lama dia yang tadinya berkeliling sudut kamar berubah menjadi rebahan di ranjang yang terasa amat sangat nyaman itu. Karena pastilah harganya tidak murah.


Kemudian suara hpnya yang berbunyi membuat matanya cerah kembali setelah ia terlena akan kenyamanan ranjang dan membuatnya mengantuk. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal nampak di layar hpnya.


"Halo."


"Assalamualaikum."


"Waalikumsalam."


"Mira?"


"Ya? Ini siapa ya?"


"Saya Ubay."


"Ooohh, Bang Ubay?" setelah seruannya, Mira mengecilkan kembali suaranya. Lupa dia kalau ada Athar yang pastinya mempermasalahkan Baihaqi mengingat ucapan Athar kemarin. "Ada apa ya?"


"Kamu bisa kesini gak? Seafood Wokeh. Saya di sini. Ada Shelia yang dari tadi cuma menangis di depan saya, tapi gak ngomong apa-apa. Sekarang orangnya lagi di toilet. Kamu bisa kesini? saya gak tahu mesti apa sama kakak kamu."


"Sheli?" lah? kenapa dia nangis di depan cemcemannya?


"Iya, Mira. Plis kamu kesini ya. Bilang aja kamu gak sengaja ketemu kami."


"Oh, iya deh, Bang. Aku kesana ya."


"Alhamdulillah. Saya tunggu ya."


"Oke-oke."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah menutup telepon, Mira berfikir sejenak. Apakah dia mesti pergi sendiri? atau harus bersama Athar? pengennya sih dia pergi sendiri saja, biar nanti Sheli bisa diajak ngomong sekaligus curhat kepadanya. Tapi ...


"Siapa yang telepon?"


Jujur gak ya?


"Orang. Eh, Bang, aku pengen makan seafood tiba-tiba." lebih baik ia mengalihkan jawabannya kan.


"Ya udah kita pesan–"


"Aku maunya pergi. Makan di sana."


"Oke." semudah itu Athar menyetujui. "Aku ganti baju dulu," katanya seraya berjalan ke arah walk in closet untuk mengganti pakaian.


tuh kan, gak bisa kalo pergi sendiri. ya udah deh, dari pada gak pergi juga kan.


Athar kembali dengan jaket di tangannya untuk Mira. "Pakai ini,"


Mira menerimanya dan langsung memakainya.


"Tadi yang telepon siapa?" tanya Athar sambil menunggu Mira menggunakan jaket.


gue jujur pasti salah, pasti dia gak suka. kalo gue gak jujur juga pasti salah kan. deuhh, hidup gue serba salah.


"Temennya Sheli sih katanya. Sheli ada di seafood wokeh sana itu loh. Dia lagi curhat gitu sama temennya sambil nangis-nangis. Trus, aku jadi kepengen makan seafood juga. Hehe ..."


Athar menghela nafas sambil membelai sayang kepala Mira. "Kamu mestinya jujur aja tentang apapun sama aku. Dari pada kamu tutup-tutupin dari aku, trus nanti akhirnya aku tahu bukan dari kamu ... maka aku gak juga gak akan tahu bakal semarah apa aku sama kamu."


serba salah kan jadi diri gue.


Mira merunduk murung. Dia tersentak saat tiba-tiba Athar mencium bibirnya dari bawah. Ketika ia mengangkat wajahnya, Athar membawanya ke dalam pelukannya.


"Jangan kayak gitu lagi ya," ucap Athar dengan lembut. "Kamu mesti cerita apapun sama aku. Tanpa terkecuali."


Mira hanya mengangguk sambil membalas pelukan hangat suaminya itu.


* * *


jangan lupa like, komen, votenya ya. 😁


Cicak dan Bulan udah rilis di WP ya. Mungkin nanti juga bakalan aku rilis disini. Tergantung mood aja deh. πŸ˜…


tengkyu buat yang udah baca part ini. 😘


*