
"Bang ..."
"Hm ..."
Athar menoleh dan menunggu kalimat apa yang hendak diucapkan oleh istrinya itu. Namun Mira hanya menggeleng dan menyengir lebar.
Akhirnya Athar kembali menekuni layar pintarnya. Dia perlu memeriksa beberapa hal terkait pekerjaan maupun hubungan sosial dengan teman-temannya.
"Abang ..."
"Kenapa, Al?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari smartphonenya.
"Hm ... gak jadi deh."
Mira bersandar lagi di kepala ranjang. Pikirannya sedang menjelajah terbang jauh kemana-mana. Dia bimbang, apakah melanjutkan pertanyaan yang sedang membebani pikirannya sejak kemarin, ataukah tidak usah dan menyimpan pertanyaan itu di dalam kepalanya saja?
"Abaβ"
Athar menoleh tajam dan menatap Mira dengan tidak sabar. "Apa, Al? Kenapa? Kamu mau bilang apa? Mau bicara apa? Mau bertanya apa, hah?" cecarnya.
Mira tahu kalau ia tengah menguji kesabaran Athar atas sikap keragu-raguannya. Maka sebelum suaminya itu lebih marah karena hilang sabar, ia mesti segera mengutarakan pemikirannya.
"Abang santuy dong,"
"Lagian kamunya,"
Mira mengusap pelan kepala suaminya itu. Pikirannya berkelana tentang hari kemarin.
"Uhm, Abang bukan mafia, 'kan?!"
Satu kalimat tanya darinya itu sukses membuat Athar terdiam dan menguap amarahnya. Sudah tak ada alasan lagi baginya untuk marah. Karena hal yang akan didengar selanjutnya sudah pasti adalah hal-hal ajaib.
"Semacam Vincenzo ..."
Nah, 'kan.
"...."
krik krik
Tak ada sahutan sedikitpun dari Athar. Suaminya itu hanya menatap Mira tanpa ekspresi, yang lambat laun mengalihkan pandangan karena jengah. Ya, Athar sejengah itu mendapati sang istri yang seringkali berpikiran absurd. Well, dia sudah biasa.
"Kamu habis nonton drama pasti?" tebaknya.
"Iya," sahut Mira langsung. "Makanya aku pikir kalau ... kalau yang aku ..." dia ragu lagi untuk mengatakannya.
"Apa? Kamu lihat apa?" Athar sesantai itu menanggapinya. "Pasti kamu lihat koleksi aku, 'kan?!"
"Koleksi?"
"Hm. Senjata-senjata itu adalah koleksiku," ujarnya masih dengan tenang. Dan tatapannya masih sama, yakni ke arah ponselnya.
wah!
Jadi senjata-senjata yang gue lihat di ruangan kemarin itu koleksi bang Athar?
"Kok horor sih, Bang," katanya dengan jujur. "Koleksi kok senjata, tembakan ..."
Athar terkekeh geli menoleh kepadanya. "Tembakan?"
Mira mengangguk.
"Mainan kali tembakan!"
"Lah emang iya tembakan. Pistol atau apalah itu namanya. Yang pasti mereka adalah keluarga tembakan."
"Revolver."
"Hah?"
Athar tersenyum. "Gak usah ke rumah samping, 'kan aku bilang. Nanti kamu bakalan gak bisa tidur kalau melihat apa yang ada di sana."
"Bener. Aku jadi gak bisa tidur gara-gara lihat Ferrow di sana," sahut Mira bermaksud menggoda.
Lantas Athar segera menggigit sebelah pipi Mira dengan gemas. "Aww!"
"Berani ya kamu mikirin Ferrow."
Dia memberikan cengiran. Keduanya sudah sama tahu kalau Mira hanya dalam mode fangirl saat melihat Ferrow atau artis lainnya.
"Bang, serius itu senjata cuma buat koleksi? Abang gak lagi terlibat dunia hitam, 'kan?! Bukan mafia, 'kan?! Bukan Vicenzo Cassano, 'kan?! Bukan pedagang senjata ilegal, 'kan?!"
Kali ini Athar menarik pipi Mira dengan jarinya dan menjawilnya gemas. "Aku bukan penjahat, Al. Suami kamu ini masih taat hukum. Percaya deh,"
"Iya, percaya. Tapi, 'kanβ"
"Percaya kok pake tapi."
"Ya abisnya, Abang ..."
"Tenang aja, aku punya itu semua cuma demi penjagaan diri. Kamu 'kan tahu musuhku siapa. Mereka itu orang-orang berbahaya, Al. Aku bakalan berusaha melindungi sebisa mungkin semua yang aku miliki, terutama kamu. Semua yang berharga dalam hidupku, bakalan aku jaga sekuat tenaga. Itu janjiku."
Perkataan tulus Athar disertai dengan tatapan hangatnya membuat Mira ikut menghangat juga.
"Iya, aku percaya sama Abang ..." ucapnya.
"Aku rela mati loh demi kamu, demi anak kita,"
Seperti Athar tadi, maka sekarang Mira yang menarik pipi Athar. Hanya saja ...
"Sakit, Al," Athar mengusap pipinya yang baru saja dicubit Mira. "Kamu mah beneran. Aku tadi gak beneran loh," protesnya.
"Ya lagian, Abang. Ngomong kok sembarangan. Kenapa mesti ngomongin mati segala. Coba ganti katanya jadi hidup gitu. Kan perkataan itu sebagian dari doa, Bang. Aku gak mau ah denger Abang bilang kayak gitu lagi."
"Iya, Sayang. Sorry ..." Athar segera memeluk Mira dan memberikan kecupan bertubi-tubi di pipinya.
"Selain Ferrow sama senjata, emangnya di rumah samping ada apa lagi?" tanya Mira sekonyong-konyong, setelah kecupan-kecupan yang dilayangkan Athar kepadanya.
"Ada banyak orang-orangku di rumah itu."
"Iya, tahu. Selain itu?"
"Apa lagi? Nggak ada. Selain gym itu dan koleksi-koleksiku, ya gak ada lagi. Cuma ya ..."
"Cuma apa?"
"Selain Ferrow, ada beberapa artis lain yang langganan ke gym aku, Al. Makanya, aku gak mau kamu kesana. Nanti kamu lupa diri, trus lupain aku."
Mata Mira melebar. "Artis lain? Taehyung ada?"
...πππ...
Sebulan kemudian ...
"Ya ampun, Shel, kok cepet banget sih?" tanya Mira khawatir. Dia baru saja tiba, setelah tadi mendapat kabar dari Ghani bahwa sang kakak akan melahirkan dan ia langsung meluncur dari kampus menuju rumah sakit. "Perasaan belum tanggalnya deh,"
"Ya mana gue tahu! Emang perkiraannya masih dua mingguan lagi. HPL nya itu awal bulan depan. Tapi anak gue maunya keluar sekarang," Shelia yang sedang merasakan mulas karena kontraksi, kini tengah siap menuju kelahiran bayinya.
Dia berjalan mondar-mandir di salah satu ruangan di sebuah rumah sakit, di mana ia akan melahirkan buah hatinya yang sepertinya akan lahir lebih cepat dari tanggal perkiraan.
"Berarti anak lo udah gak sabar ya. Keponakan gue bener-bener gak sabar lihat gue sebagai aunty-nya yang wow. Eh btw, Mama kemana nih?"
"Mama lagi beli minuman. Dia gugup mau dapat cucu pertama."
"Oh. Perut lo terasa mulas ya, Shel?"
Shelia menggeleng. "Sedikit. Masih pembukaan tiga, makanya masih agak jarang rasa mulasnya."
"Ooh ..." Mira manggut-manggut. Dalam pikirannya, kalau hanya masalah mulas sih gak terdengar menyeramkan. Yang membuat Mira kepikiran saat melahirkan nanti itu adalah kemungkinan adanya suntikan. Hiiiy, jangan sampai itu terjadi!
"Nikmat bener deh."
"Iya ya ..."
"Nanti lo juga bakal rasain ..."
"Masih lama, kali. Baru juga tiga bulanan."
"Yeh, sembilan bulan itu cepet loh. Gak berasa. Tau-tau udah mau brojol aja."
"Lo jangan nakutin gue dong,"
"Jadi lo takut melahirkan gitu?"
"Ya bukan gitu. Udah deh ah, lo gak bakalan ngerti. Gak bisa gue jelasin dengan kata-kata."
"Aduh-duh-duh ..." Shelia memegangi perutnya.
Refleks Mira mendekat karena khawatir. "Sakit banget, Shel?"
Shelia mengernyitkan keningnya menahan sesuatu. Rasa yang Mira belum pernah mampu menduganya seperti apa.
"Kak Sheli!"
Suara seseorang membuat Mira dan sang kakak menoleh. Di sana Kiara beserta Ghani datang bersama.
"Kakak belum lahiran? Kirain udah,"
"Lo gak lihat perut dia masih gede?" Ghani yang menyahut dengan ketus.
"Mau aku usapin, Kak?" Kiara mengabaikan Ghani dan lebih fokus mengkhawatirkan sang calon kakak ipar. "Waktu kakak sepupu aku melahirkan, aku bantu usapin punggung dia loh. Katanya, jadi nyaman."
Shelia menggeleng. "Gak usah, makasih ya. Mama kok lama banget ya, Mir?" tanyanya kepada Mira.
"Kalian di sini dulu ya, temenin Sheli," kata Mira kepada Ghani dan Kiara. "Gue mau susul Mama ke kantin."
Mira pikir, Sheli membutuhkan mama mereka sekarang. Keadaan Sheli yang akan melahirkan tanpa seorang pendamping alias suami, adalah hal yang tak akan diinginkan oleh wanita manapun, seharusnya. Maka sosok ibu adalah satu-satunya pengganti yang tepat untuk menggantikan sosok suami yang belum ada saat ini dalam hidup seorang Shelia.
Setelah tiba di kantin rumah sakit, Mira mendapati sang mama yang tengah duduk meminum air mineral di tangannya. Segera ia menghampiri wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ma, kok di sini sih? Sheli nyariin Mama tuh,"
"Iya, Mir. Tapi Mama deg-degan loh. Mama agak takut gimana gitu. Kamu aja deh yang temenin Sheli,"
"Aku lebih takut, Ma. Aku gak mungkin nemenin Sheli di saat aku gak berani lihat proses oramg melahirkan." Mira menggeleng-geleng. "Nggak mau, Ma. Takut ih,"
"Yah, kamu mah ..."
"Mama kenapa?" tanya Mira saat melihat tangan mama mengusap pipinya dengan cepat. "Kok Mama nangis sih?"
"Mama kasihan sama kakak kamu, Mir. Dia gak punya suami yang mestinya ada untuk menemani dia saat melahirkan begini." Benar, mama telah terisak.
Tangan Mira bergerak untuk mengusap pelan punggung mama.
"Dia gak punya, Mir ... dia gak punya suami .... anak yang akan dilahirkannya adalah anak yatim, Mir. Dan itu yang bikin Mama merasa perih. Dulu, sewaktu Mama melahirkan kalian, Papa selalu ada di dekat Mama. Bahkan saat Papa datang hanya terlambat sedikit aja, Mama sudah gak karuan rasa di hati. Makanya Mama gak kebayang gimana perasaan Sheli sekarang. Dari pada Mama menangis di dekatnya, kan lebih baik Mama di sini dulu."
"Tapi Sheli udah pembukaan tiga, Ma."
"Masih tujuh lagi, Mir."
"Owh ... gitu ... tapi Sheli butuh Mama, Ma. Karena nggak ada suami itulah yang membuat dia lebih membutuhkan Mama dibanding siapapun. Percaya deh sama aku ...."
Tanpa butuh waktu lama Mira mendengar jawaban Mama. "Iya ... ayo kita kembali ke kamarnya!"
...*****...