
...happy reading!...
Mira terdiam selama beberapa saat. Mendengar suara Diva yang lagi-lagi berbeda, ia merasa kalau sesuatu telah terjadi, atau mungkin sudah terjadi dengan cewek itu.
"Gue bener-bener minta maaf ... dengan tulus."
Masih dalam proses mencerna dan menduga, Mira hanya mampu bergumam sebagai jawaban. Entah dia mesti percaya atau tidak. Kalaupun sudut hatinya berusaha untuk percaya, lantas alasan apakah yang menjadikan alasannya?
Diva? Insaf, gitu? Habis kejedot tembokkah?!
'Kan gak lucu!
"Mir ... lo dengerin gue, 'kan?!"
"Iya, gue denger."
"Jangan kaget, Mir. Gue gak maksa lo buat percaya atas penyesalan gue ini. Dan alasan yang bikin gue begini adalah mami."
"..."
"Mami denger obrolan gue sama Belva kemarin. Dan lo tau apa reaksinya?" Diva menghela nafas sebelum melanjutkan. "Mami mengalami serangan jantung. Sekarang gue lagi di rumah sakit."
apa?
"Rasanya jantung gue juga pengen berhenti, Mir ... gue takut banget lihat mami kayak begini. Sumpah, gue gak siap lihat mami yang gak berdaya ..."
Diva terdengar menangis di seberang sana. Mira masih diam mendengarkan saja. Sebab dia juga masih memiliki ketidakpercayaan yang begitu besar, karena melihat ke belakang apa saja yang telah Diva lakukan kepadanya. Cewek bermuka dua, atau berwajah ganda, begitulah kira-kira sebutan yang pantas untuk mantan sahabatnya itu. Ralat, mantan majikan. Setelah semua yang Mira lakukan untuk Diva, tapi cewek itu malah membalasnya dengan berbagai keculasan dan ujaran kebencian yang menyakiti hati.
"Mami semarah itu sama gue ..."
"Karena mendengar omongan lo dan Belva yang benci sama gue?" tanya Mira dengan suara yang dingin. Sedikit banyak –kalau saja benar– keadaan tante Dewi begitu, maka Mira merasakan kekhawatiran yang tak dibuat-buat. Hanya saja, lagi-lagi dia mencoba untuk tenang agar tak mudah tertipu.
"Lebih dari itu, Mir ..."
"Maksud lo?"
"Gue sama Belva ... punya rencana. Bukan gue sih, Belva lebih tepatnya. Itu rencana dia sama pacarnya,"
Dalam hati Mira kesal karena belum mengerti maksud ucapan Diva itu.
Pacarnya Belva?
"Selama ini, semenjak gue tahu kalo lo sekampus sama Belva, sepupu gue, gue jadi punya banyak niatan buruk terhadap lo. Ya, karena gue merasa menemukan jalan bagaimana cara menyakiti lo, tapi gue nggak sendirian. Intinya, selama ini perbuatan gue sama Belva terhadap lo itu, kami saling mengetahui dan memberi saran."
wah, soulmate dalam kejahatan begini nih...
"Gue sama dia emang udah sejahat itu sama lo, Mir. Dan Mami ... kecewa sama gue. Mami gak menyangka kalau gue– ya, gue ... adalah anaknya yang memiliki hati jahat." Diva mewek lagi. "Mami mendengar semua ucapan jahat gue. Mami bener-bener kecewa punya anak kayak gue ..."
Mira masih merasa hanya cukup dengan mendengarkan saja. Seberapa jauh penyesalan Diva? Benarkah dia menyesal? Ini bukan akting, apalagi prank?
Tapi dari suara tangisannya, Mira merasa percaya. Atau Diva memang sudah sejago itu dalam menangis?
"Gue itu sebenernya cuma iri sama lo ... setelah semua yang keberuntungan yang gue mililki, dan lo bukanlah apa-apa dibandingkan gue. Tetiba, Donny memulai segala sakit hati gue sama lo. Gimana bisa, lo yang jauh tampilannya dibandingkan gue, malahan lo yang dipilih Donny. Harga diri gue hancur waktu itu. Temen-temen gue meledekin gue karna kalah dari lo padahal jelas-jelas lo lebih jelek dibandingkan gue. Iya ... gue sejahat itu, Mir. Hati gue Bener-bener penuh iri dengki terhadap lo. Segala cara gue bikin supaya Donny semakin benci sama lo. Bahkan, setelah lo pindah, hidup lo lebih beruntung lagi dari gue. Semua cerita Belva bikin hati gue tambah iri, sakit, dan gak terima. Gue gak mau lo bahagia, gimanapun caranya."
Entah Mira harus merasa apa atas pengakuan Diva ini. Diusapnya pelan perut buncitnya yang terasa ... kurang nyaman. Memang di usia kehamilan yang sudah bulannya itu seringkali Mira merasakan ketidak nyamanan.
"Mir?"
"Gue masih mendengarkan lo, Div."
"Oh oke ..."
"Tante Dewi ... gimana keadaannya?" akhirnya Mira mengutarakan juga kekhawatirannya. Pada bagian itu, dia tidak akan melewatkannya. Masih dengan jelas dalam ingatannya seberapa perhatiannya tante Dewi waktu dulu, ketika mama Mira butuh pertolongan. Dengan tulusnya tante Dewi berada mendampingi Mira sekeluarga. Lalu bila hari ini keadaan wanita baik itu memang sedang tidak baik, maka sudah sepantasnya Mira merasa khawatir yang tulus juga.
"Masih lemah. Tapi sudah ditangani dokter. Gue harap mami baik-baik aja."
"Semoga tante Dewi baik-baik aja."
"Gue menyesal amat sangat, Mir. Gak seharusnya hati buruk gue malah bikin mami kayak gini. Ya ampun, gue udah jahat sama mami ..."
"Tadi lo bilang, Belva punya rencana. Rencana apa?"
"Ah iya. Gue telpon lo sekarang karena ada yang mau gue kasih tau ke lo, Mir. Tentang rencana Belva sama pacarnya, Dennis. Mereka–"
"Dennis?" ulang Mira. Apakah itu nama yang sama? Ataukah Mira cuma salah mendengar saja?
"Iya, Dennis. Mereka sekarang pacaran. Tepatnya setelah berhasil bikin suami lo percaya kalo Dennis telah meninggal. Setidaknya, itu yang Belva bilang ke gue."
Seketika jantung Mira terasa berdetak lebih cepat. Mengapa harus Dennis yang kenyataannya hidup kembali? Kenyataan bahwa kematiannya adalah palsu membuat Mira tiba-tiba merasakan khawatir. Bagaimana bisa? Apa rencana laki-laki jahat itu sebenernya?
"Jadi ... Dennis masih ... hidup?"
"Seratus persen, Mir. Percaya sama gue. Dan rencana mereka hari ini adalah mencelakai suami lo, Mir."
"Apa?"
"Iya. Hari ini suami lo pergi ke Jakarta, 'kan?! Gue tahu ini dari Belva. Sebab dia sama Dennis bakalan menjalankan rencananya. 'Orangnya' Dennis banyak banget, Mir. Mending lo suruh orang banyak juga buat selametin suami lo. Cuma ini yang bisa gue lakuin sebagai rasa penyesalan gue karena selalu jahat sama lo. Maafin gue, Mir. Gue bener-bener minta maaf sama lo. Dan juga, doain mami gue ya,"
Kegugupan di hati Mira sebisa mungkin ia tahan agar ia bisa berfikir sejenak. Ditambah dengan kontraksi palsu yang kini terasa menyerangnya, membuat Mira merasa campur aduk dalam dadanya.
"Iya, Div, ehm ..." Mira terbata. "Beneran Dennis mau celakain Bang Athar? 'Kan bisa aja, sebenarnya ini merupakan rencana lo yang mau menjebak gue untuk pergi. Lalu di sana akan ada orang-orang yang bakalan jahatin gue. Begitu, Div?"
"Mana ada. Gak salah sih kalo lo gak percaya sama gue. Iya kalo hati gue masih memikirkan buat bikin hidup lo susah, Mir. Tapi nyatanya sekarang di pikiran gue cuma satu, yaitu mami. Dan saran gue, lo gak perlu nyusulin suami lo, Mir. Biar orang-orang kepercayaan kalian aja yang pergi kesana. Gue gak berharap kehamilan lo kenapa-kenapa, Mir. Plis, lo jaga diri ..."
...***...
Ada aja rintangannya buat nulis. Ayo semangat dirikuuhh!!
...***...