
"Kok gue gak lihat Diva ya, Mir?" Soli celingukan. Sejauh matanya mencoba mencari sosok itu tapi tak ditemukannya juga.
"Emang Pram undang dia?" tanya Rizka. "Ngapain sih dia diundang? Gak penting banget."
"Ryo kali yang undang," jawab Mira. Mendengar Mira menyebut nama Ryo, otomatis Athar menoleh ke arahnya. "Kan Diva sekelas Ryo. Jadi wajar kalo dia ada di sini."
"Mending gak ada."
Mira hanya mengendikkan bahunya. Kembali dia memakan makanan yang diambilnya tadi. Begitupun dengan Athar yang sedang menyesap minumannya, sembari mengobrol dengan pacarnya Soli dan Rizka.
Mira teringat kembali beberapa saat yang lalu, saat ia masih berdiri di dekat pengantin. Sebisa mungkin dia memang menghindari kontak mata dengan Ryo. Entah mengapa Mira takut bila Ryo akan memberikannya tatapan yang mampu membuat hatinya merasa iba. Rasa iba yang cenderung ke rasa bersalah. Pun begitu juga ketika ia mendalami mata Pram. Maka rasa bersalah jauh lebih besar lagi.
Namun semua kembali pada takdir. Ya, apapun sebab, apapun kisah yang telah mereka lalui sebagai bagian dari perjalanan kehidupan, maka semua sudah terlukiskan oleh kata yang disebut dengan takdir. Itu artinya, memang semua haruslah terjadi. Mau itu rasa pahit, manis, adil atau tidak, tetap saja semua memang seperti itulah urutannya.
Pun ketika akhirnya mereka mesti pamitan kepada Pram sejam kemudian, maka Mira mesti melalui sesuatu lagi. Sesuatu yang membuat sedikit gesekan dalam kehidupan rumah tangganya.
Ryo mengulurkan tangan kepadanya. Baik Mira dan kedua sahabatnya, terlebih Pram dan Athar kini menyaksikan itu semua. Hal remeh dan sepele namun menjadi tak biasa bila itu bersinggungan antara Mira dan Ryo.
Refleks Mira menoleh kepada Athar yang saat ini menatapnya lekat, sebagai peringatan.
"Mir," panggil Ryo yang menarik pandangannya. "Plis ... buat terakhir kalinya ...."
Mira gak paham. Apa maksudnya Ryo berkata begitu? dan lagi, ini benar-benar dilema. Seharusnya, cuma sekedar berjabat tangan, bukan? Tapi menjadi tidak sederhana bila Athar telah membuat sebuah keputusan yang Mira harus patuhi sebagai seorang istri. Maka dari itu, dia menoleh kembali kepada Athar. Meminta izin, atau lebih tepatnya meminta keputusan ... lagi.
"Gue yang mewakili." Athar menyambut tangan Ryo dan segera melepasnya.
Ryo hanya menghela nafas dalam diam. Matanya selalu teralihkan pada perut besar Mira.
Sudahkah Mira berkata-kata dalam hati kalau Ryo terlihat menakjubkan saat ini? Oh, belum ya Serius, si cowok Jepang itu amat tampan dengan jas hitamnya.
"Terimakasih, Mir, karena sudah datang. Aku harap Pram adalah benar jodohku untuk seterusnya, sampai mati," katanya sembari melihat Pram sekilas. "Kamu tenang aja, aku gak akan nakalin sahabat kamu ini."
Mau tak mau Mira menarik sudut bibirnya sebagai responnya. "Aku harap begitu. Ah, maksud aku, aku harap seperti yang Pram harapkan."
"Maksud lo, Mir?" tanya Soli.
"Ya maksud gue, gue bakal berharap apapun untuk kebahagiaan Pram. Gue mendukung Pram seratus persen. Cuma demi Pram."
"Apapun itu. Aku harap kami bahagia ... dan aku juga berharap ... kalau kamu bahagia ...."
Ryo membuat Mira menoleh kepadanya lagi.
...---...
"Mulai sekarang, gak ada alasan apapun buat kamu ketemu dia lagi," putus Athar begitu mereka tiba di rumah.
Hal itu telah Mira duga, mengingat bagaimana angkernya wajah Athar semenjak meninggalkan gedung resepsi pernikahan Pram dan Ryo, hingga mereka tiba di rumah sejam kemudian. Mira berusaha untuk tenang dan sabar menghadapi panasnya hati sang suami karena ucapan Ryo terakhir tadi. Padahal, bagi Mira, ucapan Ryo bukanlah apa-apa. Karena sudah sejak lama Mira mengatakan kepada Ryo kalau ia sudah bahagia.
Dia juga maklum dengan Athar yang mudah emosi dalam setiap hal yang tak disukainya. Maka dari itu, Mira merasa tak perlu marah-marah, dan cukup bersabar saja dalam menghadapi kemarahan Athar kali ini.
"Iya." Dia menjawab dengan singkat, padat, dan jelas.
"Kok kamu ekspresinya begitu?" rupanya Athar belum puas dengan jawaban Mira.
"Begitu gimana? Aku gak gimana-gimana kok. Aku nurut sama Abang. Kalau mau pergi kemanapun bukannya aku selalu izin sama Abang dulu, ya, 'kan?! Jadi ya, aku nggak gimana-gimana."
"Pokoknya aku gak akan pernah kasih izin kamu buat ketemu dia, tanpa terkecuali."
"Iya. Tapi kalo Pram–"
"Iya." kali ini Mira menjawab dengan anggukkan.
"Aku sebagai laki-laki, paham betul bagaimana cara dia melihat kamu, Al. Dia masih sama seperti saat aku memukulnya di pantai. Tatapan dia masih sama seperti itu. Bahkan setelah melihat perut kamu sebesar ini pun, matanya tidak berubah. Sekarang kamu paham kenapa aku bisa merasa marah begini?"
benarkah? Ryo masih ada rasa sama gue? wah, ini bener-bener buruk.
"Iya, aku paham. Malahan aku jadi merasa marah juga, Bang. Itu artinya dia jahat sama Pram. Kenapa dia mesti nikahin Pram kalau gak punya rasa?" Mira bersandar di sofa dengan kedua kakinya yang ia angkat dan luruskan di atas sofa.
Begitu juga dengan Athar yang membanting tubuhnya di sofa tunggal lainnya. Sembari memijat keningnya, dia berkata, "Kenapa harus ada dia yang punya rasa berlebihan sama kamu, Al. Bikin aku frustasi aja."
Bagaimana Mira bisa menjawab, itu di luar kendalinya.
"Aku gak akan pernah membiarkan kamu ketemu dia, Al. Jangan pernah ..."
"Iya, Abang sayang ... aku juga gak pernah berharap begitu kok."
Athar mendekati Mira dan duduk setelah mengangkat kedua kaki Mira untuk diletakkannya dalam pangkuannya. Dia mengusap kaki-kaki Mira dengan gerakan memijat yang membuat Mira merasa nyaman seketika.
gimana gue bisa berpaling, kalo dia semanis ini, 'kan?!
"Besok aku ke Jakarta pagi-pagi sekali. Malam ini kita ke rumah mama ya." Syukurlah Athar telah berganti topik pembicaraan.
"Abang ke Jakarta lagi? Berapa hari?" Akhir-akhir ini Athar memang sering keluar kota. Selain karena ada Nanda yang hampir selalu bersama suaminya itu, entah kenapa Mira merasakan cemas bila Athar berada jauh darinya. Mungkin itu efek dari kehamilannya yang sudah semakin tua. Sedikit banyak ia khawatir bila terjadi sesuatu kepada dirinya disaat Athar berada jauh darinya.
"Cuma sehari. Pulang malam. Dirga buka restoran cabang baru di sana. Dan segalanya mesti kami siapkan sebelum benar-benar berjalan. Lihat minggu depan, kalau kamu kuat, kamu bisa ikut hadir. Tapi kalau aku merasa kamu gak bisa, maka gak perlu."
"Oh ... trus kalo aku gak datang, Abang tetap bakalan datang?"
Athar belum menjawab tapi Mira sudah lebih dulu melanjutkan, "Kalo aku gak mau Abang jauh-jauh dari aku, gimana?"
"Ya aku gak bakalan pergi." semudah itu Athar menjawab untuk dirinya. Sedikit kecemasan mereda seketika. Mira tersenyum hangat menanggapinya.
"Mama 'kan gak kemana-mana besok. Acara Donny kapan emangnya?"
Entah bagaimana juga, Donny sudah seperti menjadi bagian dari keluarga Mira. Acara penting keluarganya selalu melibatkan mama di dalamnya. Seringkali hal itu membuat Mira bersyukur. Sebab Mama yang memang tidak memiliki keluarga lagi seakan mendapat keluarga baru dengan keberadaan tante Renata. Terlebih lagi semenjak kepergian papa, maka kekosongan yang dirasakan oleh ibunya itu nampak nyata.
"Tiga hari lagi sih katanya."
"Aku gak mau ninggalin kamu tanpa salah seorang keluarga kamu, Al."
"Ada Ghani."
"Ghani lagi ada di gunung."
"Masa? Kok aku gak tahu?" Mira heran, kenapa adiknya itu gak pernah bisa terbuka dengan dirinya. Apa-apa dia gak pernah tahu. Dan sekarang, kenapa mesti Athar yang lebih mengetahui keberadaan adiknya, sedangkan dia sebagai kakak malahan tidak tahu? "Nggak jadi heran deh. Ghani 'kan emang gitu." apalagi semenjak masalah dengan Kiara, sepertinya Ghani sedikit menjaga jarak dengan keluarga.
"Dia nendang, Al," bisik Athar yang barusan usapannya berpindah ke perutnya.
"Dia hampir siap hadir ke dunia kita, Papah."
Athar tersenyum manis. "Mau tau namanya?"
Mira mengangguk semangat. Dia gemas sekali pada suaminya yang benar-benar menyembunyikan nama untuk anak mereka kelak. Katanya, setelah mereka melihat benar jenis kelaminnya saat telah lahir nanti, maka nama itu barulah Athar sebutkan. "Siapa?"
"Rahasia."
...****...