AL-THAR

AL-THAR
#75. Sensi, Baperan dan Lebay.



Lanjut ah!


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Setelah berendam setengah jam lamanya, Mira kini duduk di sofa sambil menonton televisi di kamarnya. Ruangan yang terbilang cukup luas sebagai kamar itu sudah lebih dari cukup untuk di letakkan sebuah televisi besar, agar baik ia maupun Athar tak perlu repot-repot keluar dari kamar hanya untuk sekedar bersantai nonton televisi. Meskipun nyatanya benda elektronik itu cukup jarang digunakan oleh keduanya.


Masih beberapa jam lagi kewajibannya mengunjungi kampus. Kini Mira bersantai sejenak sambil menikmati jus stroberi pesannanya tadi kepada bi Lilis, sebelum ia berendam.


Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke dalam hpnya. Tanpa menimbang lama, Mira segera menjawab panggilan tersebut.


"Halo, Mira?"


"Ya? Ini siapa?"


"Ini bang Irwan, Mir."


"Oh, bang Irwan! Apa kabar?"


"Alhamdulillah baik. Mira sendiri?"


"Alhamdulillah baik juga. Abang ganti nomor ya?"


"Iya. Udah lama sih. Oh ya, maaf ya Abang gak datang ke nikahan Mira,"


"Gak papa, Bang. Santai. Kan Abang bukannya lagi keluar kota ya waktu itu? Diva sama Tante yang kasih tahu."


"Iya. Biasalah tugas dari kantor. Oh ya, Mir. Diva ada hubungin Mira gak dalam waktu dekat ini?"


"Ha?" Mira berfikir. Entah kapan terakhir kalinya ia berkomunikasi secara normal dengan mantan sahabatnya itu. Rasanya sudah lama sekali. Sebab baik dirinya maupun mantan temannya itu pun sama sekali tak ada yang berniat untuk memperbaiki hubungan pertemanan, agar dapat kembali baik seperti dulu lagi. "Kayaknya nggak deh, Bang. Emangnya kenapa?"


"Sudah dua hari Diva gak pulang, Mir. Ya emang sih habis cekcok sedikit sama mami. Tapi dia kan gak pernah begini. Mami yang kepikiran malah jadi sakit sekarang."


"Sama teman kuliahnya kali, Bang?"


"Ya semoga sih. Soalnya, beberapa temen kuliahnya yang Abang tahu dan mami juga tahu, itu gak ada yang tahu Diva di mana."


"Hm, emang cekcok apa tuh sama si tante? Diva kan bukan tipe pembangkang sama orang tua ya, Bang?"


"Gak tahu dia pengen apa, mami gak terbuka sama Abang. Yang pasti, waktu mami melarang, Diva marah banget. Gitu kata mami."


"Hm ... kemana ya kira-kira si Diva ...."


"Yah, pokoknya Abang cuma mau nanyain itu ya, Mir. Kalo Mira barangkali ada info, atau salah satu teman kalian ada yang dihubungi sama Diva, segera kabari Abang ya, Mir?"


"Iya, Bang. Nanti Mira coba-coba tanya ke beberapa temen deh." walaupun gue gak bisa janji pasti.


"Oke. Makasih ya, Mir."


"Iya, Bang."


Mira memasukkan hpnya ke dalam tas. Dia segera bersiap-siap berangkat ke kampus walau kuliah masih beberapa jam lagi. Rasanya dia pengen nongkrong di kantin sekarang juga.


...🌴🌴🌴...


"Lo bantu nyariin Diva nih ceritanya?" tanya Pram yang sejak awal sudah Mira pinta untuk berangkat ke kampus lebih awal.


"Dih, ngapain!"


"Eh ... gue kirain lo udah saling memaafkan gitu sama dia. Waktu dia datang ke rumah lo,"


"Mana ada. Malah gue yakin kalo dia iri lihat penampakan bang Athar yang jadi suami gue."


"Jelas dia iri. Kan sejak dulu yang jadi artisnya tuh dia. Lo cuma bayangan artis, Mir. Jangan menolak lupa masa lalu deh."


"Bener. Seolah dunia berporos cuma sama dia. Gue menolak inget sih ... tapi rupanya emang masih inget dengan jelas di kepala gue."


Pram mengetik sesuatu di ruang grup chat pada hpnya. "Gue nanya di grup alumni," ungkapnya pada Mira. "Barangkali dia sendiri baca, 'kan,"


Mira mengangguk saja.


"Eh btw, lo udah ceritain perihal si Dennis yang gila itu?"


"Udah. Kemarin."


"Trus bang Athar bilang apa?"


"Dih, pantes tuh orang ngeliatin lo aja sih," ucapan Pram membuat Mira menoleh pada arah yang sedang ditengok oleh sahabatnya itu. "Dia pengawal lo, 'kan?!"


"Gak tahu," sahut Mira santai. "Ya kali!"


"Kok gak tahu sih?"


"Emang gue gak tahu yang mana yang lagi ngikutin gue. Kan bang Athar gak ada bilang siapa yang giliran jagain gue. Lagian, dia udah janji kalo yang ngikutin gue itu bakalan jaga jarak. Alias gak akan mencolok dan membuat gue risih. So, terserahlah siapa. Asal gue gak lihat."


"Dih, cinderella hamil begini nih, jadi kayak putri raja yang mesti dijaga."


Mira menatap datar cewek itu. "Apa sih!"


Seseorang tiba-tiba telah duduk mengisi kursi kosong di sisi kanan Mira. Keadaan kantin seketika seakan terfokus padanya.


"Kok Abang kesini?" tanya Mira tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, saat Athar telah duduk dengan nyaman bersamanya dan Pram. Sekotak pizza telah diletakkannya di meja, di hadapan mereka.


"Kenapa? Nggak boleh? Aku kan alumni sini yang paling populer. Jadi kenapa aku gak boleh ada di sini?" Athar balik tanya dengan nge-gas, ciri khasnya yang tak sabaran.


"Aku gak ada bilang Abang gak boleh kesini," Mira membela diri. "Aku cuma nanya, Abang kok bisa ada di sini? tapi Abang malah nge-gas duluan."


"Ya karena aku pengen makan siang sama kamu."


"Tapi ini baru jam 11 loh. Berarti Abang dari kantor sekitar jam 10 an. Ya, 'kan?!"


"Iya. Mendadak aku kepengen banget makan siang sama kamu," ucap Athar setengah drama. "Rasanya kalo aku gak segera kesini, aku bakalan mati."


fix, dia drama. lebay. Ampuuun deh.


"Sinetron," gumam Pram yang dapat di dengar baik oleh Mira maupun Athar.


"Lo buruan nikah, trus hamil. Gue bakalan tepuk tangan saat lo ngidam melebihi sinetron, bahkan telenovela." Athar berkata dengan datarnya kepada Pram.


"Jadi kalian ngidam bareng-bareng?" tuduhnya dengan mata menatap Mira dan Athar bergantian.


Mira hanya mencoba untuk tersenyum, sedangkan Athar membalas menatap Pram dengan tajam. "Lo pikir gue suka keadaan gak jelas kayak gini? Dan lo pikir kalo orang hamil itu mudah dalam melewati masa ngidamnya? Jangan mencela sebelum mengalami,"


"Emangnya Bang Athar hamil?"


"Pram, udah," Mira menyela. "Abang juga udah–"


Athar menyuap sepotong pizza dan segera mengunyahnya dengan kasar. Lalu dia berdiri dan menatap Mira. "Al, aku ke sini itu sungguh bukan hal yang mudah. Karena apa? kamu pasti tahu jawabannya. So, aku mau langsung balik ke kantor aja sekarang gara-gara teman kamu itu merusak moodku buat makan." ia mengecup pipi Mira singkat, lalu berlalu begitu saja.


"Abang hati-hati ya!" seru Mira saat Athar telah melangkah. Dan suaminya itu hanya menoleh sesaat dengan senyumnya.


Pram melongo. "Laki lo kenapa deh? Barusan dia ngapain? Gak jelas banget sih!"


"Ya gitu deh. Dia kena efek kehamilan gue juga kayaknya. Dia jadi mual, muntah, sensitif, baperan, dan ... lebay. Agak melenceng dari bang Athar yang biasanya. Perkara remeh pun bisa dibuat besar sama dia. Percaya gak percaya ya itulah yang terjadi," tutur Mira. "Sorry deh kalo lo kaget." Mira tak dapat menahan perasaan gelinya saat melihat Pram yang melongo karena tingkah Athar.


...🌳🌳🌳...


"Selamat siang," sambut seorang pelayan di cafe saat Mira berniat memesan minuman.


"Eh, Bu Almira?" sela salah seorang pelayan yang lain.


"Kenal saya?" Mira menatap pada pelayan cowok yang sepertinya seumuran dengan dirinya.


"Jelas, Bu. Kan waktu itu saya ikut briefing, agar menjaga kursi Ibu dari orang asing."


gue inget jelas kejadiannya yang mana. Tapi gue udah lupa muka pelayan itu.


"Oh, gitu ya." Lantas Mira segera memesan leomn tea kepada pelayan wanita di depannya.


"Ini bu Almira, istrinya pemilik cafe ini, Nana." si pelayan cowok memperkenalkan Mira kepada temannya itu. "Dia pegawai baru, Bu. Namanya Nana. Saya sendiri Revan."


Mira tersenyum saja. "Oke, Nana, Revan, saya istirahat dulu, ya. Nanti saya bakalan bantu-bantu deh."


"Sip, Bu. Nanti minumannya saya antar," sahut Revan penuh hormat.


Memang niat awal Mira adalah untuk mengetahui apa saja yang dilakukan mereka yang bekerja di cafe. Termasuk ia ingin mencoba untuk membuat kopi juga, walaupun ia tidak boleh meminumnya.


Meja yang Mira tempati sekarang berada di sisi pinggir, di dekat jendela. Baru saja ia hendak membuka hpnya, terdengar suara seseorang menyebut namanya, "Mira?"


...****...