
"Maksud lo, Pram?" Mira mengulang pertanyaan yang belum juga dijawab oleh sahabatnya itu.
Bukan Pram juga namanya kalau tidak santai, datar, dan tenang dalam menjawab segala sesuatu. "Apa?"
"Dih, malah balik tanya lagi." Mira kesal sudah pasti. "Barusan lo bilang apa?"
"Yang mana?"
"Santet Puput dosa gak ya?"
Orang yang disebut namanya malahan bingung, "Kenapa jadi gue? Yang ngeselin si Pram, yang disantet kok gue?" gerutunya.
"Bohong apa, Pram? Bohong yang mana maksud lo?" ulang Mira dengan lebih mendesak lagi.
Pram menarik kedua sudut bibirnya. "Bohong yang tadi gue bilang kalau itu beneran terjadi sama Ryo. Kita semua ketipu. Nggak deh, lebih tepatnya lo sama gue yang ketipu. Jadi,"
"Lanjut, Pram?" desak Mira tak sabaran.
"Sabar, woi! Jadi tuh ya, sakit yang dimaksud sama si Ryo dan si Tante Ayumi Yumi itu semacam spoiler doang,"
"Spoiler?"
Dia mengangguk. "Iya. Tau gak, Si Ryo teman kita itu sekarang sudah jadi artis loh. Aktor. Emang sih baru second male, belum jadi lead male-nya. Tapi itu sangat sangat mengejutkan gak sih? Ya, kan?"
Seperti biasa, Mira mesti mencerna atas segala sesuatu yang baru diketahuinya. "Jadi ..."
"Iya. Maksud Ryo mau chat lo waktu itu ya karena dia mau kasih tahu lo, kalau dia dapat peran di sebuah film Jepang. Gila, gak nyangka kan?! hebat ya dia."
"Ta-tapi waktu itu nyokapnya bilang kalau Ryo sakit trus dibawa ke rumah sakit,"
"Itu sih beneran dia sakit. Dia kena typhus. Tapi ternyata dua hari setelah itu dia dapat kabar kalau dia dapat peran di film yang udah lama dia casting," jelas Pram. "Dan sakit yang tadi gue kasih tau ke lo itu adalah penyakit dia di dalam sebuah film yang akan diperaninya. Eh, kayaknya udah mulai syuting deh."
"Pram, gue titip tanda tangan Ryo kalau lo ke Jepang ya," itu suara Puput menyela.
"Hm."
Sedangkan Mira terdiam sambil menopang dagunya.
"Kenapa lo diam?" itu malah membuat Pram bingung.
"Gue lagi mikir dan berfikir,"
Pram memutar bola matanya. "Apa bedanya sih, juminten?"
"Itu artinya Ryo gak sakit beneran?" tanyanya yang dijawab dengan gelengan oleh Pram. Sampai situ, Mira menghela nafas lega karena hilang sudah khawatirnya terhadap Ryo. Lalu, "Cuma buat akting?"
Sahabatnya itu mengangguk singkat.
"Ya ampun, lo bikin hp gue dilempar Athar tau gak semalam?"
"Sensi pasti dia gara-gara berita tentang Ryo."
"Bukan cuma itu, lo udah ganggu acara suami istri dalam menjalankan kewajibannya main dokter-dokteran–"
"Halah, bilang aja lo lagi mantab–" Mira yang ucapannnya disela kini membungkam mulut Pram dengan tangannya.
"Sensor, Pram!" desisnya dengan pelototan tajam.
"Ih gue gak dengar ya," celetuk Puput yang menyeruput minumannya. "Bukan usia gue. Eh btw– asik deh kalau gue punya kenalan artis ya. Hehe ..."
"Gue sih udah biasa," Mira menanggapi. "Kalau di Indonesia gue punya Ferrow, trus di Korea gue punya Taehyung, maka sekarang di Jepang gue punya Ryo." Mira berdecak. "Ini benar-benar pilihan yang sulit."
"Lo gak ditakdirkan buat memilih, Mir. Karena suami lo sudah lebih dari mereka yang lo sebutin barusan. Maka ... bersyukurlah." Jawaban bijak Puput membuat Mira dan Pram menoleh. "Kenapa? kata-kata gue bener kan?!"
"Bener banget." Pram setuju. "Tumben lo waras!"
"Dih!"
"Itu artinya, lo bohong juga kalau pesawat lo mau terbang ntar siang?" tanya Mira lagi. "Nah trus si Raihan-Raihan itu pacar halu apa pacar ghoib?"
"Mau ngapain lo?"
"Ya liburanlah. Sekalian nonton Ryo syuting, kalau bisa.
"Kok lo dibolehin liburan berdua sama cowok lo?"
"Bolehlah. Nanti deh sepulang dari sana gue bakalan ceritain."
"Tentang?"
"Ya tentang pacaran gue-lah!"
Mira berdecih. "Kirain apa."
Puput manggut-manggut. "Tau nih si Mimir, mentang-mentang dia udah lepas perawan masa gak percaya lo udah punya pacar ya, Pram?"
"Emang lo nggak?" pertanyaan ambigu Mira membuat Puput melebarkan matanya.
"Maksud lo?"
Mira yang sudah mendapat pengetahuan tentang hubungan pacaran anak zaman sekarang dari kakaknya, kini sudah paham seberapa jauh perkembangan dunia anak muda masa kini. Mungkin memang masih banyak yang berpikiran dan mengambil jalan polos, lugu, atau pacaran sehat macam dirinya, tapi di sebagian besar yang lain hubungan pacaran sudah lumrah dengan ke arah yang lebih jauh. Apalagi dengan kehidupan di luar negeri macam yang Shelia turut terbawa di dalamnya. Sudah menjadi rahasia umum, kalau tidak kuat-kuat iman maka kita akan terbiasa dengan budaya mereka juga.
Kini, dalam pikiran Mira, dia sudah tidak heran lagi andaikan salah satu dari sahabat dekatnya sekalipun bakalan memiliki hubungan pacaran yang seperti itu.
Mira hanya menatap Puput dengan tatapan yang ... dia gak yakin kalau Puput akan mengerti maksudnya. Namun ternyata, rupanya dia salah.
"Maksud lo gue udah gak suci kayak lo?" desis Puput mendekat ke arah Mira. Dan tanpa Mira menyahut, gadis itu langsung melanjutkan, "Enak aja! Gue masih suci."
Mira mengendikkan bahunya. "Hanya lo dan Tuhan yang tau."
Puput mencubit keras pipi Mira hingga temannya itu mengaduh. "Ah gila, Put. Sakit!"
Saat Mira sedang mengusap-usap pipinya yang lumayan melar akibat perbuatan jari lacknut Puput, matanya menangkap sosok dengan jaket yang amat sangat dihapalnya, meskipun dari arah belakang.
Segera Mira bangkit dari kursi dan berlari menuju seseorang itu. Maksudnya sih pengen kasih kejutan, ngagetin, dan ala-ala romantis yang tumben-tumbenan kepengen ia umbar di depan umum. Maka dengan kekuatan penuh dia langsung melompat ke arah punggung cowok yang diduga dan diyakininya adalah Athar.
Hop!
"Coba teb ... ak ..."
Mira yang saat ini posisinya tengah berada di dalam gendongan belakang orang itu sangat terkejut saat melihat si pemilik tubuh menolehkan wajahnya.
Rupanya ... si terduga Athar itu bukanlah Athar. Melainkan ....
"B-bang Romeo ..."
"Mira?"
"Kyaaaaaaa!" sontak saja Mira lompat melepaskan diri dari Romeo. "Kenapa Bang Romeo pakai jaket Bang Athar, hah?" protesnya tak terima.
Romeo mengerjap. "Nggak tuh. Ini jaket gue, Mir."
Mira menggeleng keras. Nggak mungkin dia salah kan?! Beneran kok, itu jaket yang biasa dipakai oleh Athar. Tapi,
Bisa aja mereka punya jaket yang sama kan?! mampus aja,
Belum selesai rasa malu Mira yang asal nemplok di gendongan orang, kini matanya tertuju pada sosok Athar yang tengah berdiri terpaku tak jauh darinya sedang menatap ke arahnya. Tentunya tatapan mata cowok itu adalah tatapan yang paling membuat nyali Mira ciut seketika.
glek.
Kesialan macam apa ini?
* * *
Makasih buat yang masih setia komen di lapak ini, meskipun komennya gak aku balas satu- persatu. Tapi itu aku tunggu-tunggu seperti kalian yg nunggu updetan ini. 😊 semoga terus di sini ya, novel ini.