AL-THAR

AL-THAR
#31. Bahagia?



Happy reading!


"Mira."


Suara itu membuat Mira dan Athar menoleh. Sosok tampan yang telah lama tak dilihatnya, membuat Mira sedikit pangling juga. Ryo semakin tampan. Ya, Mira gak bisa membohongi matanya. Namun bila dibandingkan dengan Athar, tentu saja suaminya itu adalah tertampan di seluruh dunia.


"Ryo,"


Ada pegangan erat di pinggangnya secara otomatis, mengingat siapa tamu yang ada di hadapannya tentu Mira tak heran bila Athar bereaksi demikian.


Ketika Ryo mengulurkan tangan sambil menatapnya dengan hangat, cengkraman di pinggangnya terasa semakin erat saja.


Namun Mira mesti berfikir positif, baik, dan damai. Ia tak ingin ada perseteruan diantara siapapun, mengingat tadi saja dengan kedatangan wanita seksi itu membuat moodnya buruk terhadap Athar. Ia tersenyum manis sambil menerima uluran tangan Ryo.


"Gak pakai senyum, dan salamannya dua detik aja."


Mira melirik protes kepada Athar. "Abang,"


"Itu sudah aku kasih tambahan. Mestinya cuma satu detik maka aku tambah jadi dua detik."


Ryo tersenyum tipis melihat keduanya. Setelah Mira menarik tangannya, ia melihat sahabatnya itu bertanya, "Apa kabar, Yo?"


"Baik."


"Makasih udah bisa datang kesini," ucap Mira tulus.


"Yah, kebetulan aku memang ada perlu di sini," Ryo dengan suara datarnya. Lalu dia mengulurkan tangannya kepada Athar yang langsung disambut oleh Athar dengan singkat saja tanpa ada satu katapun yang meluncur dari bibir kedua lelaki itu. Athar dengan segala keangkuhannya yang telah lama mengibarkan bendera perang kepada sahabat istrinya itu, tentulah tak berniat untuk memulai kata lebih dulu. Dan entah mengapa Ryo pun sama diamnya.


Ada yang berbeda ... entah itu apa.


Athar menarik tangan Mira untuk beralih kepada tamunya yang lain, yang saat ini terlihat baru saja datang. Tamu penting yang saat ini sedang berbincang dengan Dirga. Dia adalah seorang konglomerat relasi Dirga yang sudah lama sekali menjalin kerjasama. Dan baru beberapa waktu ini ia mengetahui kalau Nanda adalah putri tunggal orang penting itu.


Mira menoleh sesaat kepada Ryo sebelum melangkah. Bibirnya menyunggingkan senyum yang ia rasa tak berlebihan kalau hanya untuk seorang Ryo yang adalah sahabatnya. "Makan yang banyak ya," ucapnya pelan.


Ryo hanya mengangguk singkat dengan senyum dan tatapan matanya yang selalu hangat saat menatap Mira.


Maaf, Yo ... gue bener-bener gak bisa lama-lama ngobrol sama lo ....


Maaf banget.


...* * *...


"Apa kabar?" Pram tak berniat mengulurkan tangan sedikitpun. Seperti biasa, ia memang begitu sikapnya kepada teman-teman yang berlainan jenis.


Ryo yang sejak Mira tinggali tadi sedang berdiri menikmati minumannya dalam diam pun menoleh. "Baik. Lo sendiri?"


"Gue sih baik banget. Terlepas dari rencana jahat orangtua kita. Eh, ini pertama kali ya kita bertemu setelah kabar sialan itu."


Seulas senyum sinis nampak di bibir Ryo. "Biarkan mereka dengan urusannya, Pram. Kita hanya menjalani apa yang kita mau."


"Setuju. Toh gue sudah bahagia sama pacar gue."


"Good." ditenggaknya lagi minumannya selama beberapa saat dalam keheningan.


Pram mencari bahan pembicaraan lagi sebelum Raihan kembali dari toilet. "Lo serius kan buat menolak perjodohan kita?"


Ryo tak langsung menyahut. Setelah beberapa saat terdiam lagi, baru ia membuka mulutnya. "Lo juga tahu pasti kan siapa yang gue mau dalam hidup ini?"


Pram langsung menoleh kepada Ryo. Ia mencerna dan paham. Dilihatnya temannya itu nampak lebih diam dan tak bersahabat. Berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu.


"Berpikirlah apa yang mau lo pikirin di otak cantik lo, Pram. Gue gak akan mampu merubah dan mengatur pikiran lo seperti yang gue mau. Karena gue gak berniat begitu."


Pram terdiam. Dia tak mengerti apa kiranya yang berbeda dari sosok Ryo yang ia kenali selama ini.


"Ternyata ngga baik buat kesehatan kalau kita selalu menjadi orang baik."


"Maksudnya?"


"Manusia itu pastilah memiliki sifat egois dalam dirinya. Ketika kita memilih sisi baik dalam diri kita, lalu ternyata tak mampu membuat kita meraih bahagia, lantas kenapa buat apa bertahan dalam kesengaraan? Kenapa kita tidak memanfaatkan sisi egois kita, ya kan? Baik dibalas baik. Dan buruk dibalas buruk. Begitu mestinya teorinya. Ya, kan?!"


"Gue gak ngerti."


"Semua manusia itu berhak bahagia, Pram. Bukan cuma orang tua kita, lo, atau siapapun mereka. Karena gue juga berhak untuk bahagia, Pram. Kalau diam tidak mampu membuat gue berhasil meraih kebahagiaan itu, maka sekarang sudah saatnya gue bergerak dan berupaya agar dapat meraih bahagia seperti yang gue mau. Seperti yang lo mau dengan kebahagiaan lo, seperti yang setiap orang mau dengan kebahagiaannya. Begitu juga dengan gue ... ya, kan,"


"Yank!"


Pram menoleh dan tersenyum menyambut kedatangan Raihan. Diulurkannya tangannya agar Raihan dapat menggandengnya. Sudah ia jelaskan kepada pacarnya itu kalau perjodohannya dengan cowok Jepang yang adalah teman masa sekolahnya dulu ditentang oleh dirinya sendiri dan Ryo. Kini demi membuktikan perkataannya, Pram berniat memperkenalkan Raihan dengan Ryo.


Namun belum juga ia bersuara, ternyata Ryo telah lebih dulu memperkenalkan dirinya kepada Raihan. "Gue Ryo. Gue juga gak ada niatan buat terima perjodohan konyol nyokap gue. So, lo tenang aja sama Pram."


Raihan menilai sesaat cowok Jepang di hadapannya kini. Ia menyambut uluran tangan itu dengan sikapnya yang santun. "Raihan."


"Tenang aja, Bro. Yang gue harapkan dapat gue raih itu bukan Pram, pacar lo," Ryo dengan suara dalamnya serta tak ada senyum sedikitpun yang tertoreh di bibirnya. "Lo mau tau siapa cewek yang gue harapkan?"


Raihan tak menyahut.


"Pengantin perempuan yang saat ini tengah berbahagia."


...* * *...


Mira melipir sebentar untuk memilah kue dan minuman. Padahal dia bisa saja minta diambilkan oleh pelayan, tapi enggan melakukannya. Dia akan lebih puas kalau memilih sendiri apa saja yang hendak disantapnya.


"Jangan banyak-banyak kali, malu sama tamu." suara Shelia yang saat ini sedang memilih kue di sisi Mira. "Pengantin kok rakus!"


Mira memutar bola matanya jengah. "Lo juga kelles. Mentang-mentang udah gak mual, dan makannya buat berdua, bukan berarti maruk ya. Malu," balasnya dengan suara setengah berbisik. Tentunya baik Mira dan keluarga tak ada yang menghendaki kalau orang lain sampai tahu keadaan Shelia yang sedang berbadan dua.


"Baju gue udah longgar kan?!"


"Longgar. Perut lo juga longgar."


Shelia cengengesan. "Bodo amat. Yang penting gue dan anak gue bahagia." dia berlalu meninggalkan Mira yang masih bingung hendak memilih makanan mana yang akan ia bawa ke meja untuk bergabung dengan sahabat-sahabatnya.


Setelah berhasil melepaskan tangannya dari penjagaan Athar, Mira yang memang beberapa saat yang lalu perlu ke toilet karena kebanyakan minum, kini mencoba makanan sambil memeperhatikan pestanya yang masih berlangsung. Dilihatnya, Athar tengah serius mengobrol dengan beberapa pengusaha yang dikenalnya, sekaligus terlibat dengan beberapa usahanya sendiri.


Ada Ghani yang asik berbincang dengan teman-temannya. Begitupun dengan Shelia yang sudah bergabung dengan Donny dan Gladys. Serta mama Pertiwi dengan genk arisan kompleknya yang terlihat seru di sudut sana.


Kini tatapan Mira entah kenapa malah beralih pada laut nun jauh di sana. Deburan ombaknya yang ringan membuat perasaannya tentram seketika. Begitu banyak yang ia syukuri dalam hidupnya selama setahun terakhir. Semua terasa bagai mimpi walau nyatanya Tuhan sebaik itu memberikan ia kebahagiaan setelah sekian lama betapa gersangnya kehidupannya.


Hikmah dibalik tragedi Shelia pun kini terlihat lebih nyata. Tentunya masalah kakaknya itu belumlah selesai begitu saja. Tapi satu yang pasti, bahwa hari ini ia melihat wajah Shelia yang nampak bahagia bahkan setelah kepahitan yang melanda.


Mira membuang nafas pelan. Kedamaian hatinya sekarang amatlah berharga. Hidup yang indah, masalah yang tak seberapa adanya, rumah tangga yang bahagia ... lalu apa lagi? Itu semua sudahlah cukup baginya.


Mungkin inilah yang disebut dengan happy ending. Akhir dari segala deritanya, dan yang tersisa adalah hanya yang manis-manisnya saja. Hingga tanpa ia sadari bibirnya menyunggingkan senyum dalam lamunannya.


"Akhirnya ada kesempatan untuk bicara sama kamu berdua saja."


...* * *...