
"Siapa pelakunya?" tanya mama dengan suara bergetar.
Meskipun telah berlalu tiga jam setelah pengakuan Sheli, mama masih belum ingin keluar dari kamar juga saat Mira akhirnya kembali ke rumah bersama Athar. Keduanya memutuskan untuk tidur di rumah itu malam ini. Athar mendukung upaya Mira yang mendampingi keluarganya di saat badai sedang melanda.
"Bryan, Ma," jawab Mira pelan. "Sheli bilang itu anak Bryan walaupun mereka sudah putus lama."
Mama terisak pelan. "Gimana bisa itu anak Bryan kalau mereka sudah putus lama?"
Mira tak langsung menyahut. Dia membiarkan sang mama yang mengelap air matanya dengan tissue untuk yang ke sekian jumlahnya. "Mereka masih berteman. Karena Bryan yang masih deketin Sheli terus-terusan."
"Teman dalam maksiat gitu?" suara mama meninggi.
Mira bungkam. Memang seperti itulah pengakuan dari kakaknya sendiri. Kebiasaan Sheli yang berteman dengan Bryan yang sudah terbiasa untuk melalukan hubungan intim, dan menyebutnya kalau semua itu adalah ... just s*x. Dia sendiri tak heran dengan pergaulan orang-orang luar yang umumnya melakukan hal itu. Bukankah itu memang sudah menjadi rahasia umum?
"Jadi dia menganut paham pergaulan bebas selama di luar negeri? Suka berbuat zina dengan banyak orang? Gak takut kena penyakit dia ya?"
Mira menggeleng keras. "Nggak, Ma. Sheli cuma begitu sama Bryan doang," katanya sih,
"Memangnya kamu lihat kalau dia begituan cuma sama si Bryan doang?" tuduh mama.
Maka sekarang Mira menggeleng lemah.
"Nggak ada yang tahu seberapa parah pergaulan dia di sana, Mir. Sekarang kalau sudah dapat musibahnya kayak gini, maka kita sekeluarga yang kena batunya! Kita yang malu juga! Dia sudah bikin aib buat Mama di dunia dan akhirat!"
Mira mengelus dada pelan, Istighfar. Dalam hati dia bersyukur juga telah menikah dan memiliki pasangan yang halal. Kalaupun belum, dengan kejadian ini sepertinya akan membuatnya untuk sangat sangat berhati-hati dalam pergaulan dengan lawan jenis.
"Ampunin Sheli, Ma ..."
"Gimana bisa, Mir? Gimana bisa? Anak perempuan yang diberi sejuta harapan sama orang tuanya, sekarang malah memberi aib bagi orang tuanya. Bagaimana bisa Mama ampunin dia?"
"Astaghfirullahalazim," gumam Mira. Sangat mengerikan apa yang baru saja diucap oleh seorang ibu untuk anaknya. Mira hanya menunduk karena merasa dirinya pun sudah banyak dosa kepada orang tuanya.
"Mama mesti gimana, Mir? punya cucu yang gak ada bapaknya. Mama harus merasa apa?"
Entah mengapa Mira ikut melelehkan air matanya lagi. "Tapi lima hari yang lalu Sheli berniat bunuh diri, Ma," ungkapnya dengan pelan. Dilihatnya wajah sang mama yang tercengang dengan kenyataan yang baru saja diucapkannya.
"Apa?"
Mira menangis saat mengingat kejadian itu. "Aku hampir terlambat saat menemukan Sheli di kamar mandi dengan ... dengan banyak darah. Dia ... pisau ... tenggelam ..."
"Yang benar, Mir ..."
"Sheli memotong pergelangan tangannya ... trus dia menenggelamkan bagian atas tubuhnya di bathtub yang penuh darah ..."
Mira lemas mengingat hal itu lagi. Diliriknya sang mama yang menangis pilu sambil memegangi dadanya. "Sheli ... kenapa bisa begini ..."
"Ma," Mira menyentuh tubuh sang mama yang bergetar dalam tangisnya. Ini memilukan. Menyaksikan betapa terlukanya mama karena apa yang menimpa Shelia. "Sabar ..."
"Kenapa dia jadi begini nasibnya ..." mama meraung.
"Makanya, Ma ... Sheli juga sangat hancur dengan ini semua. Dia sudah pendek akal saat tahu dirinya hamil padahal dia suka sama ustadz Ubay,"
Tangis mama terjeda. "Apa?"
"Iya, Sheli naksir Ustadz Ubay. Tapi dengan keadaannya yang begini, dia patah hati. Dan aku baru pertama kali melihat Sheli yang patah hati sampai sebegitunya."
"Itu akibat dari ulahnya juga, Mir."
"Iya, Ma. Aku mengerti. Kita semua mengerti seberapa besar dosa Sheli. Tapi, bayinya nggak berdosa, Ma."
"Ya udah, ambil bayinya buat kamu sama Athar. Seenggaknya bayi itu punya ayah saat nanti lahir.
Mira sangat tercengang dengan pemikiran mama. "Gimana bisa, Ma? ya nggak mungkinlah! Kasihan Sheli, Ma,"
"Kamu kan bukan orang lain. Gak jauh juga. Jadi gak masalah buat dia sering-sering bertemu kamu, Mir. Bertemu anaknya."
"Ya tapi nggak asal mutusin begini, Ma. Sheli yang mengandung, Sheli juga yang bakal melahirkan. Mana ada kan seorang ibu yang tegaβ"
"Tapi demi kebaikan semuanya, Mir! Sampai Sheli mendapatkan jodoh yang mampu menerima dia apa adanya, juga anaknya, maka biarkan anaknya kamu yang asuh."
"Yakin Mama tega sama cucu pertama Mama?"
"Tega mana sama dia yang membuat aib sebegini besarnya buat Mama? Mama gak sanggup, Mir. Mama gak sanggup!"
...****...
"Kok melamun?"
Mira menoleh dan mendapati Athar yang telah berbaring menghadap ke arahnya. "Bingung."
"Masa kita disuruh rawat anak Sheli nanti,"
"Siapa yang suruh?"
"Mama."
"Shelinya?"
"Ya belum tahu. Aku belum sempat bilang ke dia. Gak kuat juga sih," katanya. "Menurut Abang gimana?"
"Sebaiknya jangan,"
"Tuh kan sama kayak pikiran aku."
"Bukannya apa, Al. Aku rasa Sheli juga pasti keberatan. Apalagi dengan kondisi dia yang sedang rapuh begini, trus kalau kamu malah bahas masalah anaknya nanti sama siapa, itu bakal nambah-nambah beban pikirannya kan?! Dia masih mau melanjutkan hidup sekaligus kehamilannya aja itu sudah bagus. Jadi, sebaiknya jangan kamu bebani dia lagi dengan masalah nanti anaknya mesti pisah sama dia."
Mira mengangguk. "Iya. Aku juga gak sampai hati buat bahas masalah itu sama dia. Trus yang aku pikirin juga, mana ada kan seorang ibu yang mau pisah sama anaknya. Apalagi setelah ini semua mampu dia lalui, pastinya anaknya adalah hal terbaik yang dia miliki nantinya," tambah Mira. "Malahan anaknya bule lagi. Korea-Amerika. Bisa jadi idol di Korea tuh kalau sudah besar nanti. Ganteng atau cantik banget pastinya."
"Dih, kok mikirnya kesitu?"
"Ya iya. Kan kalau ditelusuri andai anaknya Sheli jadi Idol nanti, ujung-ujungnya aku bakalan kecipratan keberuntungan," Mira cengengesan. "Bisa ketemu Taehyung ...."
"Siapa?"
"Yang ada di wallpaper aku itu loh,"
"Oh belum kamu hapus?"
"Udah, tapi aku download lagi."
"Trus anaknya Sheli jadi artis itu tahun berapa? idola kamu sudah jadi kakek-kakek pastinya."
Mira tertegun. "Oh iya ya."
Athar menarik sebelah pipi Mira dan memainkannya dengan gemas. "Dari pada sibuk mikirin calon anaknya Sheli yang masih lama lahirnya, mendingan kita buat sendiri anak kita. Gimana?" kedua alisnya bergerak-gerak memberikan kode.
Mira yang merona kini mengusap balik rambut Athar. "Serius nih kita bikin anak?"
"Kenapa nggak? tinggal bikin aja."
"Ih maksud aku tuh kita punya anak. Emang Abang udah siap punya anak?"
"Ya siaplah, Al. Se-dikasihnya aja sama Tuhan aku sih."
Mira tersenyum manis. "Iya deh, aku juga. Asal Abang mau tanggung jawab nanti, ya aku mau-mau aja dihamilin," guraunya.
"Kamu ngomong apa sih?" Athar menarik pipi Mira lagi. Kemudian dikecupnya ujung hidung Mira dengan gemas dan sedikit terkekeh. "Ya pastilah aku tanggung jawab sama anakku. Masa nggak?"
Mira terkekeh geli juga. "Maaf ya, Bang. Kayaknya kita belum bisa resepsi deh dalam waktu dekat." dia menyesali keadaan ini. Keadaan dimana ia tidak bisa berbahagia di atas derita sang kakak.
Namun Athar mencoba mengerti. "Iya ... kita tunda sebentar lagi. Tapi ada baiknya nanti kamu bilangin ke Shelia secara pelan-pelan dan baik-baik. Aku sih sudah pernah kasih tahu ke Sheli, Mama, sama Ghani tentang ini. Tapi mungkin mereka sudah lupa gara-gara masalah Sheli."
Mira mengangguk. "Iya, deh. Nanti kalau sudah pas waktunya aku bakal bilang ke Sheli."
Athar tersenyum manis membalas senyum Mira. "So, sekarang kita sudah boleh mulai ronde pertama?" tanyanya dengan kedipan sebelah mata.
Lantas tanpa menunggu jawaban Mira, Athar segera melakukan serangan pertama di bibir Mira.
Namun rupanya Hp Mira yang berbunyi notifikasi malah membuyarkan fokus Mira. Sebab bunyi notif itu tak hanya sekali mengeluarkan suara, melainkan beberapa kali. Maka refleks tangan Mira segera menyambar hpnya yang berada di sisi tubuhnya.
^^^Pram^^^
^^^Mir!^^^
^^^Ryo kritis.^^^
^^^Gue terbang ke Osaka^^^
^^^Besok pagi^^^
...* * *...
Makasih buat yg udah kasih vote, like, komen, dan hadiah-hadiah. ππ
*